Kisah Para Rasul 10:39–41: Saksi dari Kebangkitan

Kisah Para Rasul 10:39–41: Saksi dari Kebangkitan

Pendahuluan: Dari Pembunuhan kepada Kesaksian

Kisah Para Rasul 10 merupakan salah satu titik balik dalam sejarah keselamatan. Di rumah Kornelius, seorang perwira non-Yahudi, rasul Petrus menyampaikan Injil yang menembus batas etnis dan kebudayaan. Dalam Kisah Para Rasul 10:39–41, Petrus merangkum inti Injil — kematian, kebangkitan, dan kesaksian tentang Yesus Kristus.

Perikop ini adalah miniatur dari kerygma apostolik (berita utama para rasul), yang menegaskan tiga hal fundamental dalam iman Kristen:

  1. Kematian Yesus sebagai karya Allah untuk penebusan.

  2. Kebangkitan Yesus sebagai pengesahan ilahi atas karya salib.

  3. Kesaksian para saksi pilihan Allah sebagai sarana pewartaan Injil.

Teologi Reformed menafsirkan bagian ini bukan sekadar narasi sejarah, melainkan pernyataan teologis mendalam tentang sovereign grace (anugerah berdaulat Allah) yang bekerja melalui peristiwa salib dan kebangkitan.

1. Kematian Kristus: Kesaksian atas Dosa dan Keadilan Allah (Kisah Para Rasul 10:39)

“Kami adalah saksi-saksi dari semua hal yang telah Yesus lakukan, baik di daerah orang Yahudi maupun di Yerusalem. Mereka telah membunuh Yesus dengan menggantung-Nya di atas kayu salib.”

a. Realitas historis dan kesaksian saksi

Petrus berbicara dari posisi saksi mata (martys). Ia menegaskan bahwa peristiwa salib bukan mitos atau legenda spiritual, melainkan peristiwa historis yang nyata.
Yesus benar-benar disalibkan di bawah otoritas Romawi, dan umat Yahudi turut berperan dalam penolakan terhadap-Nya.

John Calvin menulis:

“Petrus menyebut dirinya saksi bukan untuk mengagungkan dirinya, tetapi untuk menunjukkan bahwa iman Kristen berakar dalam sejarah nyata, bukan dalam spekulasi manusia.”
(Commentary on Acts, Vol. II)

Dalam teologi Reformed, iman tidak terpisah dari fakta sejarah. Allah menyatakan karya penebusan-Nya melalui tindakan konkret dalam waktu dan ruang.

b. Makna teologis salib

Frasa “menggantung-Nya di atas kayu salib” menggemakan kutipan dari Ulangan 21:23 — “terkutuklah orang yang digantung pada kayu.”
Dengan demikian, Petrus menyatakan bahwa Yesus menanggung kutuk hukum Taurat atas dosa umat manusia.

John Owen, dalam bukunya The Death of Death in the Death of Christ, menjelaskan:

“Salib adalah titik di mana kasih dan keadilan Allah bertemu. Keadilan menuntut hukuman, kasih menyediakan pengganti.”

Kematian Yesus bukanlah tragedi, melainkan rencana kekal Allah (Kis. 2:23). Dalam pandangan Reformed, ini disebut penebusan partikular (particular redemption) — Kristus mati secara efektif bagi umat pilihan-Nya.

c. Ketaatan Kristus yang aktif dan pasif

Kristus tidak hanya mati, tetapi Ia juga hidup dalam ketaatan sempurna kepada hukum Allah sebelum kematian-Nya.
Kematian-Nya adalah ketaatan pasif (menanggung hukuman dosa), sedangkan hidup-Nya adalah ketaatan aktif (memenuhi tuntutan hukum).

Louis Berkhof menulis:

“Keselamatan orang percaya bukan hanya karena dosa mereka dihapuskan, tetapi karena ketaatan Kristus diperhitungkan kepada mereka.”
(Systematic Theology, hlm. 384)

Maka, ayat 39 adalah fondasi doktrin pembenaran oleh iman (justification by faith): Allah memperhitungkan kebenaran Kristus kepada kita, dan dosa kita kepada-Nya.

2. Kebangkitan Kristus: Bukti Kuasa dan Kedaulatan Allah (Kisah Para Rasul 10:40)

“Namun, Allah membangkitkan-Nya pada hari yang ketiga dan memperkenankan Dia untuk menampakkan diri.”

a. Tindakan aktif Allah

Kata “namun” (de dalam Yunani) adalah kontras tajam antara tindakan manusia dan tindakan Allah:
Manusia membunuh, tetapi Allah membangkitkan.

Ini adalah inti dari Injil — kuasa Allah yang meniadakan akibat dosa dan kematian.
Kebangkitan bukan sekadar bukti bahwa Yesus hidup kembali, tetapi deklarasi Allah bahwa karya penebusan di salib telah selesai dan diterima.

Herman Bavinck menulis:

“Kebangkitan adalah meterai Allah atas pekerjaan Kristus. Di dalamnya, Allah sendiri menyatakan bahwa kematian Kristus cukup untuk menebus dunia.”
(Reformed Dogmatics, Vol. 3, hlm. 442)

b. Kemenangan atas maut

Kebangkitan Kristus adalah pembalikan total terhadap kuasa maut.
Kematian — upah dosa — telah dikalahkan oleh kehidupan yang kekal.

Martyn Lloyd-Jones berkata:

“Kebangkitan adalah pengumuman terbuka bahwa dosa telah dikalahkan dan hukum Taurat telah dipenuhi.”
(The Cross, The Resurrection, and the Spirit)

Teologi Reformed melihat kebangkitan sebagai permulaan ciptaan baru (new creation).
Kristus adalah “Anak Sulung dari antara orang mati” (Kolose 1:18), artinya kebangkitan-Nya menjamin kebangkitan semua orang percaya.

c. Anugerah pewahyuan pasca-kebangkitan

Ayat ini menekankan bahwa Allah “memperkenankan Dia untuk menampakkan diri.”
Kebangkitan Kristus bukan peristiwa pribadi, tetapi wahyu yang disaksikan secara nyata oleh banyak orang.

Dalam konteks Reformed, ini menunjukkan bahwa iman tidak bertumpu pada pengandaian mistis, melainkan pada penyataan ilahi yang nyata dan dapat diverifikasi.

R.C. Sproul menulis:

“Allah tidak meminta iman buta. Ia memberikan bukti historis dan rasional dari kebangkitan Kristus, supaya iman memiliki dasar yang teguh.”
(Defending Your Faith, hlm. 119)

3. Saksi yang Dipilih: Instrumen Anugerah Allah (Kisah Para Rasul 10:41)

“Bukan kepada semua orang, tetapi kepada kami, saksi-saksi yang telah dipilih oleh Allah sebelumnya, yang makan dan minum bersama-Nya setelah Ia bangkit dari antara orang mati.”

a. Pemilihan saksi oleh Allah

Frasa “dipilih oleh Allah sebelumnya” menggemakan tema pemilihan (election).
Para saksi kebangkitan tidak muncul secara kebetulan, tetapi dipilih secara khusus oleh Allah untuk menyaksikan dan memberitakan kebenaran Injil.

John Calvin menulis:

“Pemilihan para saksi merupakan cerminan dari pemilihan keselamatan itu sendiri. Seperti mereka dipilih untuk bersaksi, demikian pula kita dipilih untuk percaya.”
(Institutes of the Christian Religion, III.21.5)

Dalam teologi Reformed, pemilihan bukan hasil usaha manusia, melainkan keputusan kekal Allah yang bertujuan memuliakan Kristus.

b. Pengalaman nyata kebangkitan

Petrus menegaskan bahwa para saksi “makan dan minum bersama-Nya.”
Ini bukan hanya simbol keakraban, tetapi bukti kebangkitan fisik Kristus.

Yesus bukan roh atau penglihatan, tetapi sungguh-sungguh hidup dalam tubuh yang telah dimuliakan.
Hal ini menolak pandangan Gnostik yang menganggap tubuh sebagai jahat atau fana.

B.B. Warfield menulis:

“Tubuh kebangkitan Kristus bukanlah roh halus, tetapi tubuh sejati yang telah dimuliakan — bukti bahwa penebusan mencakup seluruh keberadaan manusia, roh dan tubuh.”
(The Person and Work of Christ, hlm. 211)

c. Saksi sebagai alat pewartaan Injil

Para saksi ini menjadi dasar misi gereja.
Mereka bukan hanya pengamat, tetapi instrumen anugerah Allah dalam menyebarkan kabar baik kepada bangsa-bangsa.

Jonathan Edwards menyatakan:

“Allah menggunakan saksi manusia untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Injil disampaikan bukan oleh malaikat, tetapi oleh manusia yang telah ditebus, supaya anugerah Allah makin nyata.”
(The History of the Work of Redemption)

4. Perspektif Teologi Reformed: Kristus sebagai Titik Sentral Sejarah Penebusan

Kisah Para Rasul 10:39–41 adalah cermin kecil dari keseluruhan ordo salutis (urutan keselamatan) dalam Reformed theology:

  1. Penebusan oleh kematian Kristus (ay. 39) — karya objektif keselamatan.

  2. Kebangkitan sebagai pembenaran (ay. 40) — pengesahan ilahi atas penebusan.

  3. Pewartaan melalui saksi yang dipilih (ay. 41) — aplikasi keselamatan kepada dunia.

Herman Bavinck merangkum:

“Seluruh sejarah keselamatan adalah karya Allah Tritunggal: Bapa menetapkan, Anak menebus, Roh Kudus menerapkan.”
(*Reformed Dogmatics, Vol. 4, hlm. 255)

Dengan demikian, Petrus tidak hanya mengisahkan sejarah, tetapi memberitakan Injil Trinitarian, di mana setiap tindakan Allah memiliki tujuan kekal — menyatakan kemuliaan-Nya dalam keselamatan umat manusia.

5. Implikasi Bagi Orang Percaya Masa Kini

a. Hidup sebagai saksi yang dipilih

Kita tidak melihat Kristus secara fisik seperti Petrus, tetapi kita dipanggil menjadi saksi kebangkitan secara rohani — hidup dalam kuasa hidup baru.

Martyn Lloyd-Jones berkata:

“Kesaksian sejati bukan hanya kata-kata, tetapi kehidupan yang diubah oleh kuasa kebangkitan.”
(The Christian Warfare)

b. Mengandalkan kuasa kebangkitan

Kebangkitan Kristus bukan hanya peristiwa lampau, tetapi realitas yang bekerja dalam kehidupan orang percaya.
Roh yang membangkitkan Kristus dari kematian kini tinggal dalam diri umat-Nya (Roma 8:11).

c. Iman yang teguh dalam janji Allah

Kematian dan kebangkitan Kristus menjamin kepastian iman.
Dalam dunia yang penuh skeptisisme, dasar iman Kristen tetap teguh karena berakar pada karya Allah yang nyata dan historis.

R.C. Sproul menulis:

“Kepastian iman bukanlah perasaan, tetapi pengetahuan yang didasarkan pada fakta bahwa Allah telah bertindak di dalam sejarah.”
(Chosen by God, hlm. 67)

Kesimpulan: Dari Salib ke Kemuliaan

Kisah Para Rasul 10:39–41 memperlihatkan perjalanan dari salib ke kebangkitan, dari kematian ke kehidupan, dari penolakan ke pengutusan.
Yesus yang dibunuh oleh manusia telah dibangkitkan oleh Allah, dan kesaksian itu kini menjadi dasar iman kita.

Bagi teologi Reformed, bagian ini adalah ringkasan Injil itu sendiri:

  • Allah yang berdaulat menebus umat-Nya melalui Kristus.

  • Kebangkitan Kristus adalah jaminan kemenangan atas dosa dan maut.

  • Para saksi dipilih untuk memberitakan karya itu kepada dunia.

Oleh sebab itu, setiap orang percaya adalah perpanjangan dari saksi-saksi itu, dipanggil untuk hidup dan bersaksi bahwa Kristus hidup — bukan hanya dalam sejarah, tetapi dalam hati dan kehidupan yang diubahkan oleh kasih karunia-Nya.

Next Post Previous Post