Nasihat bagi Pencari Kebenaran: Jalan Menuju Kristus

Pendahuluan: Jiwa yang Mencari
Dalam setiap zaman, selalu ada manusia yang mencari arti hidup, kedamaian, dan kebenaran yang sejati. Mereka mungkin belum mengenal Kristus, tetapi hatinya gelisah. Itulah yang disebut “seekers” — para pencari.
Charles Haddon Spurgeon, pengkhotbah Reformed terbesar abad ke-19, menulis Advice for Seekers (Nasihat bagi Pencari) untuk menolong jiwa-jiwa yang rindu diselamatkan, namun masih terhalang oleh kebingungan, rasa bersalah, atau kesalahpahaman tentang Injil.
Dalam teologi Reformed, pencarian manusia terhadap Allah tidak dimulai dari kehendak manusia sendiri, melainkan merupakan tanggapan terhadap panggilan anugerah Allah yang mendahului (gratia praeveniens). Seperti tertulis dalam Roma 3:11,
“Tidak ada seorang pun yang mencari Allah.”
Namun ketika Roh Kudus bekerja di hati seseorang, ia mulai merasakan kehausan akan kebenaran. Artikel ini akan mengeksposisi prinsip-prinsip utama dari Advice for Seekers, menguraikan bagaimana teologi Reformed menjelaskan perjalanan seorang pencari dari kebingungan menuju keselamatan, dari usaha manusia menuju anugerah Allah.
I. Allah yang Mencari Lebih Dahulu
Spurgeon memulai dengan prinsip mendasar:
“Engkau tidak akan pernah datang kepada Kristus kecuali Kristus terlebih dahulu datang kepadamu.”
Ini mencerminkan doktrin pemilihan dan panggilan efektif (effectual calling). Dalam pandangan Reformed, Allah adalah pihak pertama yang bergerak. Ia bukan hanya menunggu manusia mencari-Nya, melainkan aktif menarik hati manusia menuju diri-Nya.
Yesus berkata:
“Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa yang mengutus Aku tidak menarik dia.” (Yohanes 6:44)
John Calvin menulis dalam Institutes of the Christian Religion (II.3.1):
“Pencarian manusia terhadap Allah hanyalah bayangan dari pencarian Allah terhadap manusia. Setiap gerak jiwa menuju Kristus adalah hasil karya Roh Kudus yang lebih dahulu.”
Dengan demikian, setiap pencari sejati sebenarnya adalah orang yang sedang dicari oleh Allah. Ini bukan sekadar refleksi psikologis, tetapi kenyataan rohani yang berakar dalam kedaulatan anugerah.
II. Kesadaran Akan Dosa: Langkah Pertama Menuju Anugerah
Spurgeon menulis bahwa banyak orang mencari keselamatan, namun tidak sungguh-sungguh menyadari keberdosaan dirinya. Mereka ingin kedamaian tanpa pertobatan, ingin surga tanpa salib.
Ia berkata:
“Tidak ada seorang pun yang pernah datang kepada Yesus dengan benar sebelum ia terlebih dahulu melihat dirinya layak binasa.”
Dalam pandangan Reformed, kesadaran akan dosa adalah pekerjaan awal Roh Kudus — yang disebut convicting grace (anugerah yang menegur). Roh Kudus membuka mata manusia untuk melihat bahwa ia bukan hanya berdosa karena perbuatannya, tetapi karena natur dosanya.
Jonathan Edwards menulis dalam A Treatise on Religious Affections:
“Orang berdosa sejati bukan hanya menyesali dosa yang ia lakukan, tetapi membenci dirinya karena dosa itu menjadi bagian dari dirinya.”
Kesadaran ini sering kali menyakitkan. Spurgeon menggambarkan proses ini seperti seorang tahanan yang menyadari bahwa borgol di tangannya bukan hanya di luar, tetapi juga di hatinya.
Namun justru di situlah anugerah mulai bekerja. Karena tidak ada pertobatan sejati tanpa rasa hancur. Mazmur 51:19 berkata:
“Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kau pandang hina, ya Allah.”
III. Kesalahan Umum Para Pencari: Mencari di Tempat yang Salah
Spurgeon memperingatkan bahwa banyak orang yang mencari keselamatan melalui perbuatan, bukan melalui iman.
“Mereka mencoba memperbaiki dirinya terlebih dahulu, baru datang kepada Kristus. Padahal Kristuslah satu-satunya yang dapat memperbaiki mereka.”
Inilah peringatan terhadap legalisme — usaha manusia untuk membenarkan diri di hadapan Allah melalui moralitas atau ritual. Dalam teologi Reformed, semua usaha manusia untuk meraih keselamatan adalah sia-sia karena manusia telah total depraved — rusak total dalam natur dan kehendaknya.
Efesus 2:8–9 menegaskan:
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, bukan hasil pekerjaanmu.”
R.C. Sproul menjelaskan:
“Kita diselamatkan bukan oleh iman plus perbuatan, melainkan oleh iman yang bekerja karena anugerah.” (Chosen by God)
Banyak pencari tersesat karena mencoba “menjadi cukup baik” sebelum datang kepada Kristus. Tetapi Injil berkata sebaliknya: datanglah apa adanya.
Spurgeon menulis dengan penuh kelembutan:
“Kristus tidak meminta engkau mencuci tanganmu sebelum datang kepada-Nya. Ia sendirilah yang akan mencucinya.”
IV. Kegelisahan yang Kudus: Tanda Kehadiran Roh Kudus
Bagi sebagian orang, masa pencarian disertai kegelisahan yang mendalam—tidak tenang, takut akan murka Allah, atau merasa jauh dari keselamatan. Spurgeon menegaskan bahwa kegelisahan itu bukan kutuk, tetapi kasih karunia.
“Bila hatimu tidak dapat beristirahat tanpa Kristus, itu karena Kristus sedang mengetuk pintumu.”
Menurut teologi Reformed, inilah proses regenerasi yang sedang bekerja. Roh Kudus membangunkan hati yang mati secara rohani agar mulai peka terhadap kebutuhan akan Kristus.
John Owen dalam The Holy Spirit menulis:
“Tanda pertama dari kehidupan rohani adalah ketidakpuasan terhadap dunia dan kerinduan akan Allah.”
Kegelisahan ini, walau menyakitkan, adalah rahmat tersembunyi. Spurgeon menasihati para pencari agar tidak lari dari rasa bersalahnya, tetapi membiarkan rasa itu menuntunnya kepada salib.
V. Jalan Menuju Iman: Melihat Kristus Sebagai Juruselamat yang Cukup
Setelah menyadari dosa dan kebutuhannya, seorang pencari sering kali bertanya, “Apa yang harus aku lakukan untuk diselamatkan?” (Kis. 16:30).
Spurgeon menjawab:
“Tidak ada yang perlu kaulakukan selain percaya kepada Yesus Kristus. Ia telah melakukan segalanya untukmu.”
Inilah inti doktrin pembenaran oleh iman saja (sola fide) — bahwa manusia dibenarkan di hadapan Allah bukan karena usaha, melainkan karena iman kepada karya Kristus yang sempurna di salib.
Roma 5:1:
“Sebab kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita Yesus Kristus.”
John Stott dalam The Cross of Christ menulis:
“Salib adalah titik di mana Allah menunjukkan keadilan dan kasih-Nya sekaligus. Kita hanya dapat berdiri di bawah salib itu dengan iman yang sederhana.”
Spurgeon menegaskan bahwa iman bukanlah kerja keras mental, melainkan kepercayaan sederhana pada Kristus yang sudah cukup. Ia berkata:
“Percaya adalah berhenti dari usahamu sendiri dan bersandar sepenuhnya pada Yesus yang disalibkan.”
VI. Kesederhanaan Injil yang Sulit Diterima
Ironisnya, banyak pencari gagal karena Injil terlalu sederhana bagi mereka. Mereka ingin ritual, bukan iman; ingin sistem, bukan hubungan pribadi.
Spurgeon menulis:
“Manusia lebih suka merangkak di atas tangga buatan sendiri menuju surga daripada diangkat oleh anugerah.”
Ini mencerminkan keangkuhan rohani alami manusia. Martin Luther pernah berkata bahwa natur manusia cenderung ingin menjadi “sebagian penyelamat bagi dirinya sendiri.”
Namun Injil adalah undangan bagi yang tidak mampu. Yesus berkata:
“Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum.” (Yohanes 7:37)
Bagi teologi Reformed, kesederhanaan Injil justru menonjolkan keagungan kasih karunia Allah. Tidak ada ruang bagi kebanggaan manusia, karena segala kemuliaan hanya bagi Tuhan (soli Deo gloria).
VII. Perjuangan Terakhir: Ketidakpastian Iman
Banyak pencari berkata, “Aku ingin percaya, tapi aku tidak tahu apakah imanku cukup.” Spurgeon menjawab dengan bijak:
“Jangan lihat kepada imanmu, lihatlah kepada Kristus. Iman bukan yang menyelamatkan, melainkan Kristus yang disalibkan.”
Ini adalah koreksi terhadap kesalahan umum — menjadikan iman itu sendiri sebagai objek keselamatan. Dalam teologi Reformed, iman adalah alat, bukan alasan keselamatan.
John Piper menjelaskan:
“Iman bukanlah kebajikan yang Allah upah, tetapi saluran di mana kasih karunia mengalir.”
Spurgeon menegaskan bahwa kekuatan iman tidak diukur dari besar kecilnya iman itu, tetapi dari objeknya. Bahkan iman sekecil biji sesawi memiliki kuasa karena tertuju pada Kristus yang besar.
VIII. Kasih Karunia yang Menjemput
Setelah semua upaya manusia gagal, di titik keputusasaan itu, kasih karunia bekerja. Spurgeon menggambarkannya dengan indah:
“Ketika engkau tidak bisa datang kepada Kristus, Kristus datang kepadamu.”
Inilah doktrin irresistible grace — anugerah yang tak dapat ditolak. Ketika Allah berkehendak menyelamatkan seseorang, tidak ada kekuatan di bumi atau di hati manusia yang dapat menahan-Nya.
Yesaya 55:1 berkata:
“Hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah!”
Allah tidak menunggu orang sempurna untuk datang; Ia memanggil orang yang haus dan lemah.
B.B. Warfield menulis:
“Kasih karunia Allah bukan sekadar undangan; ia adalah kekuatan yang mengubah hati manusia untuk menanggapi undangan itu.”
Spurgeon percaya bahwa setiap pencari sejati akhirnya akan menemukan Kristus karena Roh Kudus akan menuntunnya sampai akhir.
IX. Ketaatan Iman: Tanda Bahwa Pencarian Telah Berakhir
Ketika seseorang sungguh percaya kepada Kristus, pencariannya berakhir bukan karena ia menemukan sesuatu, melainkan karena ia ditemukan oleh Kristus.
Spurgeon menulis:
“Keselamatan bukanlah hasil dari pencarian panjang, tetapi dari tunduknya hati pada Juruselamat.”
Namun iman yang sejati selalu diikuti oleh ketaatan. Dalam teologi Reformed, iman yang menyelamatkan tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu disertai buah.
Yakobus 2:17 berkata:
“Iman tanpa perbuatan adalah mati.”
John Murray menjelaskan:
“Kita tidak dibenarkan oleh perbuatan, tetapi iman yang membenarkan selalu menghasilkan perbuatan.” (Redemption Accomplished and Applied)
Ketaatan bukanlah cara untuk memperoleh keselamatan, tetapi bukti bahwa kasih karunia telah bekerja di dalam hati.
X. Penghiburan Bagi Mereka yang Masih Mencari
Spurgeon sangat peka terhadap jiwa-jiwa yang bergumul. Ia tidak menghakimi mereka yang masih mencari, tetapi menghibur mereka dengan sabda ini:
“Jika engkau rindu kepada Kristus, itu sudah bukti bahwa Kristus lebih dahulu rindu kepadamu.”
Bagi teologi Reformed, kerinduan rohani adalah tanda panggilan efektif yang sedang bekerja.
Philippians 2:13 menegaskan:
“Allah-lah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”
Artinya, bahkan keinginan untuk mencari Tuhan adalah hasil karya Tuhan sendiri. Tidak ada pencari sejati yang akan dibiarkan tersesat.
A.W. Pink menulis:
“Tidak ada satu jiwa pun yang sungguh mencari Tuhan yang tidak akhirnya menemukan-Nya, karena Allah yang menanamkan kerinduan itu akan menuntunnya sampai bertemu dengan sumbernya.”
XI. Nasihat Akhir Spurgeon: Datanglah Sekarang
Spurgeon menutup Advice for Seekers dengan seruan penuh kasih:
“Jangan tunggu lagi. Kristus tidak menunggu engkau menjadi layak, karena Ia datang justru untuk orang yang tidak layak.”
Seruan ini mencerminkan panggilan Injil yang universal, sekaligus mengandung ketegasan Reformed: waktu keselamatan adalah sekarang, karena kita tidak tahu berapa lama anugerah mengetuk.
Ia menulis:
“Engkau tidak akan pernah siap datang kepada Kristus kecuali engkau datang sekarang. Karena hanya dengan datanglah engkau disiapkan.”
Ini menegaskan bahwa pertobatan sejati bukan hasil perasaan tertentu, melainkan tindakan iman yang sederhana — datang kepada Kristus.
XII. Teologi Kasih Karunia: Sintesis Reformed
Seluruh ajaran Advice for Seekers dapat dirangkum dalam lima pilar teologi Reformed (The Five Solas):
-
Sola Scriptura — Kebenaran dan keselamatan ditemukan dalam Firman Allah saja.
-
Sola Fide — Dibenarkan hanya oleh iman.
-
Sola Gratia — Diselamatkan hanya oleh kasih karunia.
-
Solus Christus — Kristus saja adalah Juruselamat.
-
Soli Deo Gloria — Segala kemuliaan hanya bagi Allah.
Bagi para pencari, inilah jalan keselamatan sejati: bukan sistem manusia, bukan emosi religius, tetapi percaya kepada Kristus yang telah mati dan bangkit.
XIII. Refleksi Spiritualitas: Dari Pencari Menjadi Penyembah
Ketika pencari akhirnya menemukan Kristus, ia tidak berhenti mencari. Ia kini mencari bukan untuk diselamatkan, tetapi untuk mengenal Dia lebih dalam.
Mazmur 27:8:
“Hatiku berkata kepadamu: ‘Carilah wajah-Ku!’ Wajah-Mu, ya TUHAN, kucari.”
Spurgeon menulis:
“Kristus tidak hanya menjadi jalan keselamatan, tetapi juga tujuan dari setiap pencarian rohani.”
Di sinilah pencarian sejati berakhir dalam penyembahan — ketika jiwa berkata, “Yesus cukup bagiku.”
XIV. Penutup: Panggilan Anugerah bagi Pencari Masa Kini
Bagi pembaca yang masih mencari makna hidup, nasihat Spurgeon tetap relevan hari ini:
“Engkau mungkin berpikir sedang mencari Kristus, tetapi sebenarnya Kristuslah yang sedang mencari engkau.”
Kristus memanggil bukan mereka yang sempurna, tetapi mereka yang sadar akan ketidaklayakannya. Ia berkata:
“Datanglah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28)
Spurgeon menulis:
“Jangan biarkan dirimu mati di ambang pintu keselamatan. Salib itu cukup untukmu.”