Pertanyaan yang Mengejutkan dari Allah

Pendahuluan: Allah yang Bertanya
Alkitab adalah kitab yang penuh dengan pertanyaan. Namun, yang paling menggugah bukanlah pertanyaan manusia kepada Allah, melainkan pertanyaan Allah kepada manusia.
Sejak halaman pertama Kejadian hingga Injil, Allah berulang kali bertanya — bukan karena Ia tidak tahu jawabannya, tetapi karena Ia ingin menyingkapkan isi hati manusia.
Pertanyaan-pertanyaan Allah adalah cermin rohani.
Ia bertanya bukan untuk memperoleh informasi, melainkan untuk mengundang refleksi, pertobatan, dan pembaruan hati.
Dalam tradisi Reformed, hal ini dipahami sebagai inisiatif anugerah Allah — kasih karunia yang mengejar manusia bahkan ketika manusia bersembunyi dari-Nya.
Teolog Reformed besar John Calvin pernah berkata:
“Allah berbicara kepada kita bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu, tetapi untuk menundukkan kita di bawah terang-Nya.”
(Institutes of the Christian Religion, I.xvii.13)
Melalui pertanyaan-Nya, Allah membentuk kesadaran diri manusia, menyingkapkan dosa, dan menuntun pada keselamatan yang hanya ada dalam Kristus.
Dalam eksposisi ini, kita akan merenungkan beberapa pertanyaan Allah yang mengejutkan dan menggugah hati manusia dari berbagai bagian Alkitab — pertanyaan yang terus berbicara kepada kita sampai hari ini.
I. “Di manakah engkau?” — Kejadian 3:9
(Pertanyaan tentang dosa dan keterpisahan)
“Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: ‘Di manakah engkau?’” — Kejadian 3:9 (AYT)
Ini adalah pertanyaan pertama Allah kepada manusia setelah kejatuhan.
Adam baru saja memakan buah terlarang, dan untuk pertama kalinya, ia bersembunyi dari Allah.
a. Allah tahu, tetapi tetap bertanya
Pertanyaan ini bukan ekspresi ketidaktahuan, tetapi tindakan kasih.
Allah tahu di mana Adam berada, tetapi Ia ingin Adam menyadari keberadaannya sendiri — terpisah dari Allah karena dosa.
John Calvin menafsirkan:
“Allah tidak mencari Adam karena Ia tidak tahu di mana ia berada, tetapi karena Adam tidak tahu betapa jauh ia telah tersesat.” (Commentary on Genesis)
b. Dosa membuat manusia bersembunyi
Kata “bersembunyi” dalam Ibrani (chaba) menggambarkan tindakan aktif menghindar.
Inilah kondisi spiritual manusia berdosa — berusaha menutupi diri dari hadirat Allah dengan daun-daunan moralitas dan alasan.
Teologi Reformed menyebut ini “total depravity”: dosa bukan hanya perbuatan salah, tetapi kondisi batin yang membuat manusia lari dari Allah.
R.C. Sproul menjelaskan:
“Manusia berdosa bukan netral terhadap Allah; ia adalah pelarian yang bersembunyi dari kasih karunia.” (The Holiness of God)
c. Kasih karunia yang mencari
Pertanyaan “Di manakah engkau?” adalah pertanyaan Injil pertama dalam Alkitab.
Allah tidak berkata, “Mengapa engkau lari?” tetapi “Di manakah engkau?” — ini adalah panggilan untuk kembali.
Pertanyaan ini menggema kepada setiap orang percaya:
“Di manakah engkau — dalam imanmu, dalam kasihmu, dalam ketaatanmu?”
II. “Apakah yang telah kauperbuat?” — Kejadian 4:10
(Pertanyaan tentang tanggung jawab moral)
“Berfirmanlah TUHAN: ‘Apakah yang telah kauperbuat? Darah adikmu itu berseru kepada-Ku dari tanah!’” — Kejadian 4:10 (AYT)
Setelah dosa Adam, dosa Kain memperlihatkan dampak sosial dari kejatuhan — dosa tidak hanya memisahkan manusia dari Allah, tetapi juga manusia dari sesamanya.
a. Allah bertanya untuk membangunkan nurani
Kain telah membunuh Habel, tetapi ia masih menyangkal tanggung jawabnya: “Apakah aku penjaga adikku?”
Allah tidak langsung menghukum, tetapi bertanya.
Pertanyaan ini dimaksudkan untuk membangunkan hati nurani yang telah tumpul.
Charles Spurgeon menulis:
“Allah sering kali tidak menuduh secara langsung, tetapi menembus hati melalui pertanyaan. Karena hati nurani manusia sering lebih keras dari batu, dan hanya kasih yang bertanya bisa melembutkannya.”
b. Tanggung jawab dalam terang Allah
Pertanyaan ini menegaskan bahwa setiap tindakan manusia memiliki dimensi moral dan teologis.
Tidak ada dosa yang tersembunyi dari mata Allah, karena bahkan darah Habel “berseru dari tanah.”
Dalam teologi Reformed, ini adalah dasar bagi doktrin keadilan Allah.
Louis Berkhof menulis:
“Keadilan Allah berarti bahwa Ia secara moral konsisten, tidak membiarkan dosa tanpa hukuman, tetapi menghukumnya sesuai dengan kekudusan-Nya.” (Systematic Theology)
c. Suara darah yang berbicara
Penulis Ibrani mengontraskan darah Habel dengan darah Kristus:
“... dan kepada darah pemercikan yang berbicara lebih kuat daripada darah Habel.” (Ibrani 12:24)
Jika darah Habel berseru menuntut keadilan, darah Kristus berseru untuk pengampunan.
Pertanyaan Allah kepada Kain hanya menemukan jawabannya di salib — di mana keadilan dan kasih bertemu sempurna.
III. “Siapakah yang akan Kuutus?” — Yesaya 6:8
(Pertanyaan tentang panggilan dan pengutusan)
“Kemudian aku mendengar suara Tuhan berkata: ‘Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?’ Maka aku berkata: ‘Ini aku, utuslah aku!’” — Yesaya 6:8 (AYT)
Setelah dua pertanyaan Allah kepada manusia berdosa, kini kita melihat pertanyaan kepada orang yang ditebus.
a. Pertanyaan dari takhta kemuliaan
Yesaya melihat visi kemuliaan Allah — takhta tinggi dan serafim yang berseru: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN!”
Ketika ia menyadari kekudusan Allah, ia berteriak:
“Celakalah aku, sebab aku najis bibir!”
Pertanyaan “Siapakah yang akan Kuutus?” datang setelah anugerah.
Yesaya baru bisa menjawab setelah bibirnya disentuh bara api — simbol penyucian oleh Allah sendiri.
John Calvin menulis:
“Tidak ada seorang pun yang layak menjadi utusan Allah kecuali ia terlebih dahulu dibakar oleh kesadaran akan kekudusan-Nya.”
b. Panggilan dan anugerah yang memampukan
Dalam pandangan Reformed, panggilan Yesaya adalah contoh dari effectual calling — panggilan efektif yang bukan hanya mengundang, tetapi juga memampukan.
R.C. Sproul menegaskan:
“Ketika Allah berkata ‘Pergilah’, Ia juga memberi kekuatan untuk pergi. Anugerah memerintahkan dan sekaligus memampukan.”
c. Aplikasi rohani
Pertanyaan ini masih menggema di setiap zaman:
“Siapakah yang akan Kuutus?”
Allah tidak menunggu jawaban dari mereka yang paling berbakat, tetapi dari mereka yang telah disentuh kasih karunia.
IV. “Mengapa engkau takut?” — Markus 4:40
(Pertanyaan tentang iman dan ketakutan)
“Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?’” — Markus 4:40 (AYT)
Pertanyaan ini muncul setelah Yesus menenangkan badai. Para murid panik, berpikir mereka akan binasa, sementara Yesus tertidur di perahu.
a. Ketakutan yang lahir dari ketidakpercayaan
Yesus tidak menegur mereka karena berteriak, tetapi karena takut tanpa iman.
Ketakutan dalam konteks ini bukan sekadar reaksi alamiah, melainkan bukti kegagalan untuk mempercayai kehadiran Kristus.
Martyn Lloyd-Jones berkata:
“Akar dari setiap ketakutan adalah kegagalan untuk percaya bahwa Yesus benar-benar ada di dalam perahu kehidupan kita.”
b. Iman yang sejati melihat melampaui badai
Dalam teologi Reformed, iman bukanlah kekuatan psikologis, tetapi pemberian Allah yang membuat kita memandang kepada Kristus bahkan dalam kekacauan.
John Owen menulis:
“Iman adalah mata rohani yang memandang Kristus ketika semua yang terlihat menakutkan.” (The Glory of Christ)
Pertanyaan Yesus “Mengapa engkau takut?” adalah undangan untuk beriman di tengah krisis.
Ia mengajar bahwa iman tidak diukur oleh tenangnya laut, melainkan oleh keyakinan akan hadirat Allah yang berdaulat.
V. “Apakah engkau mengasihi Aku?” — Yohanes 21:15
(Pertanyaan tentang pemulihan dan kasih)
“Sesudah mereka sarapan, Yesus berkata kepada Simon Petrus: ‘Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?’” — Yohanes 21:15 (AYT)
Pertanyaan ini muncul setelah kebangkitan Yesus, ketika Petrus yang pernah menyangkal Dia tiga kali sedang dipulihkan di tepi Danau Galilea.
a. Pertanyaan yang menyembuhkan luka
Yesus tidak menegur Petrus dengan kata-kata keras. Ia hanya bertanya tiga kali — sejajar dengan tiga kali penyangkalan.
Pertanyaan ini menyelidiki hati, bukan hanya pikiran.
Charles Spurgeon menulis:
“Tidak ada yang lebih lembut daripada pertanyaan Kristus ini, namun juga tidak ada yang lebih menusuk.”
b. Kasih yang menjadi dasar pelayanan
Yesus tidak bertanya, “Apakah engkau sanggup?” atau “Apakah engkau setia?”
Ia bertanya: “Apakah engkau mengasihi Aku?”
Dalam pandangan Reformed, kasih kepada Kristus adalah buah dari pembenaran dan karya Roh Kudus.
Jonathan Edwards menjelaskan:
“Kasih kepada Kristus adalah bukti regenerasi sejati. Jiwa yang telah dilahirkan baru akan mencintai Kristus bukan karena manfaat, tetapi karena keindahan-Nya.” (Religious Affections)
c. Dari kasih lahir ketaatan
Setelah Petrus menjawab, Yesus berkata: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Kasih sejati kepada Kristus selalu diwujudkan dalam ketaatan dan pelayanan.
VI. Pertanyaan dan Tujuan Allah dalam Wahyu
Pertanyaan-pertanyaan Allah bukan acak; semuanya terarah pada wahyu progresif tentang Injil.
Mari kita lihat garis besar teologisnya:
| Pertanyaan | Tujuan Teologis | Penggenapan dalam Kristus |
|---|---|---|
| “Di manakah engkau?” | Menyingkap dosa manusia | Kristus datang mencari yang hilang |
| “Apakah yang telah kauperbuat?” | Menegakkan keadilan Allah | Kristus menanggung hukuman dosa |
| “Siapakah yang akan Kuutus?” | Menunjukkan anugerah panggilan | Kristus adalah Utusan Allah yang sempurna |
| “Mengapa engkau takut?” | Menumbuhkan iman | Kristus menenangkan badai dan hati |
| “Apakah engkau mengasihi Aku?” | Memulihkan hubungan | Kristus memampukan kasih sejati melalui Roh Kudus |
Dalam terang Injil, setiap pertanyaan Allah menemukan jawabannya di dalam Kristus.
Dialah Firman yang bukan hanya bertanya, tetapi juga menjawab dengan hidup-Nya sendiri.
VII. Pandangan Reformed tentang Pertanyaan Allah
a. Pertanyaan Allah menunjukkan inisiatif kasih karunia (Sola Gratia)
Dalam setiap peristiwa, Allah selalu yang pertama berbicara.
Ia mencari Adam, menegur Kain, memanggil Yesaya, menguji murid, dan memulihkan Petrus.
Manusia tidak pernah mencari Allah terlebih dahulu.
R.C. Sproul menulis:
“Kita tidak bisa datang kepada Allah kecuali Ia lebih dahulu mendekat kepada kita. Pertanyaan Allah adalah langkah pertama dari kasih karunia.” (Chosen by God)
b. Pertanyaan Allah menyingkap total depravity
Setiap kali Allah bertanya, manusia menunjukkan ketidakmampuannya:
Adam bersembunyi, Kain berbohong, Yesaya gemetar, murid-murid takut, Petrus gagal.
Ini menegaskan bahwa manusia tidak bisa membenarkan diri di hadapan Allah.
c. Pertanyaan Allah menegaskan solus Christus
Semua pertanyaan itu menuntun kita kepada satu jawaban tunggal: Kristus.
Ia adalah “Adam yang kedua,” “Utusan sejati,” “Peneguh iman,” dan “Kasih yang menyelamatkan.”
VIII. Aplikasi bagi Orang Percaya
-
Izinkan Allah bertanya kepada hatimu.
Pertanyaan Allah bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk menyembuhkan.
Biarkan Firman menyingkapkan dirimu di hadapan-Nya. -
Jangan bersembunyi dari terang-Nya.
Seperti Adam, kita sering menutupi diri dengan alasan. Namun kasih karunia tidak bisa bekerja di balik topeng. -
Jawab panggilan-Nya dengan ketaatan.
Ketika Allah berkata, “Siapakah yang akan Kuutus?”, jawablah dengan iman yang bergantung kepada kuasa-Nya. -
Biarkan iman mengalahkan ketakutan.
Dalam badai kehidupan, dengarkan pertanyaan Yesus: “Mengapa engkau takut?” — dan temukan damai dalam kehadiran-Nya. -
Kasihi Kristus lebih dari segalanya.
Seperti Petrus, biarlah jawaban kita sederhana namun tulus:“Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.”
IX. Penutup: Ketika Allah Masih Bertanya
Allah masih bertanya hari ini — bukan dengan suara yang mengguntur dari langit, tetapi melalui Firman-Nya yang hidup.
Ia bertanya bukan karena Ia tidak tahu, tetapi karena Ia ingin menemukan hati yang siap untuk dijamah.
Dari taman Eden hingga pantai Galilea, dari manusia pertama hingga kita hari ini, pertanyaan-pertanyaan Allah tetap sama, tetapi jawabannya kini jelas dalam Injil:
“Di manakah engkau?” — Aku di dalam Kristus.
“Apakah yang telah kauperbuat?” — Dosa-dosaku telah dihapus oleh darah-Nya.
“Siapakah yang akan Kuutus?” — Aku, utuslah aku.
“Mengapa engkau takut?” — Karena Engkau ada bersamaku.
“Apakah engkau mengasihi Aku?” — Ya Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.