Lectures on Reformed Theology (Part 1-8)

Pdt. Muriwali Yanto Matalu, Phd (Cand). 
Pertanyaan: Apakah Allah penyebab (pencipta) adanya dosa?

Jawaban: Tidak, namun ini perlu penjelasan yang teliti dan dalam.

Pertanyaan: Kalau begitu, siapa penyebab (pencipta) adanya dosa?

Jawaban: Para malaikat yang jatuh yang dipimpin Lucifer dan manusia yang diwakili oleh Adam.

Pertanyaan: Apakah adanya dosa dikehendaki oleh Tuhan?

Jawaban: Tidak! Karena Tuhan itu suci maka Dia tentu tidak menghendaki adanya dosa. Dosa bertentangan dengan naturNya yang kudus.

Pertanyaan: Nah, kalau Tuhan itu suci dan tidak menghendaki adanya dosa, mengapa dosa eksis?

Jawaban: Walaupun Tuhan tidak menghendaki adanya dosa karena naturNya itu suci, tetapi Dia mengijinkan apa yang tidak dikehendakiNya itu untuk sesuatu tujuan yang mulia yang intinya adalah "bagi kemuliaan Allah sendiri."

Pertanyaan: Jadi, dosa terjadi oleh karena diijinkan oleh Tuhan?

Jawaban: Benar, memang demikian, karena kalau dosa tidak diijinkan oleh Tuhan maka hanya ada dua kemungkinan: 1) Tuhan tidak sanggup untuk menghalangi adanya dosa (atau tidak berkuasa untuk mengontrol dosa) dan oleh karenanya dosa eksis, 2) Tuhan tidak peduli dengan eksistensi dosa. Kedua kemungkinan ini menista dan merendahkan kedaulatan dan kemuliaan Allah.

Pertanyaan: Kalau begitu, Allah bukan penyebab (pencipta) adanya dosa tetapi Dia hanya mengijinkan itu terjadi. Bukankah dengan memberi ijin, maka secara tidak langsung Allah juga menjadi penyebab? Ini membingungkan, bisakah dielaborasi lebih dalam mengenai hal ini?

LECTURES ON REFORMED THEOLOGY (PART 2)

Penyebab Adanya Dosa dan Ketetapan Allah

Rony, seorang mahasiswa Arminian): Kalau begitu, Allah bukan penyebab (pencipta) adanya dosa tetapi Dia hanya mengijinkan itu terjadi. Bukankah dengan memberi ijin, maka secara tidak langsung Allah juga menjadi penyebab? Ini membingungkan, bisakah dielaborasi lebih dalam mengenai hal ini? 

Jawaban (Muriwali Yanto Matalu): Pertanyaan ini memiliki jawaban yang cukup kompleks, jadi kita taruh di bagian akhir part 2 ini, bagaimana? Nah, jika ada hal lain yang ditanyakan sebelum saya menjawab pertanyaan kompleks ini silahkan!

Rony: Baik, di bagian terdahulu anda berkata bahwa Tuhan tidak menghendaki adanya dosa karena naturNya suci, tetapi dia mengijinkan apa yang tidak dikehendakinya demi sebuah tujuan yang mulia. Bukankah di sini juga melibatkan kehendak Tuhan, yakni bahwa Dia berkehendak mengijinkan dosa yang tidak dikehendakiNya karena naturNya suci? Di sini terlihat seperti ada satu benturan kehendak, hampir seperti sebuah kontradiksi.

Muriwali Yanto Matalu: Anda benar. Di jawaban saya di bagian terdahulu, saya harus memberi penegasan terlebih dahulu bahwa menurut naturNya yang suci, TUHAN TIDAK MENGHENDAKI ADANYA DOSA. Saya harus menegaskan hal ini terlebih dahulu, karena jika tidak, maka mungkin anda menuduh Dia sebagai pencipta dosa. Namun benar kata anda, bahwa Dia menghendaki untuk mengijinkan sesuatu hal yang tidak dikehendakiNya untuk terjadi. Maka teologi Reformed membedakan dua aspek kehendak Alllah.

1) Kehendak perintah atau dapat juga disebut sebagai kehendak yang memberikan wawasan atau juga kehendak yang dinyatakan (the perceptive will of God/ the revealed will of God) yang sudah dinyatakan dalam Alkitab. Mengenai dosa, di Alkitab sudah jelas, bahwa kita tidak boleh melakukanNya (e.g. 10 Perintah Allah), namun kehendak perintah Tuhan ini tidak harus terjadi. Misalnya, Tuhan berkata "Jangan mencuri," namun ada saja orang (termasuk orang Kristen) yang mencuri. Oleh karena kehendak ini bersifat perintah untuk dilaksanakan, maka itu melibatkan kebebasan moral manusia sehingga dimungkinkan pada banyak aspek tidak terwujud.
2) Kehendak dekrit Allah atau dapat juga disebut sebagai kehendak rahasia Allah (the decretive will of God/ the secret will of God). Kehendak ini berkaitan dengan apa yang aktual (yang eksis di luar Diri Allah dan yang akan/harus terjadi). Karena kehendak ini bersifat dekrit, maka harus terjadi/terwujud. Nah, adanya dosa yang tidak dikehendaki Allah (dalam kehendak perintahNya) oleh karena naturNya yang suci sebagaimana sudah dinyatakan di dalam Alkitab, itu bersesuaian dengan kehendak dekritNya. Atau dapat dikatakan bahwa adanya dosa itu sudah tercakup dalam dekrit atau ketetapanNya.

Rony: Ok, tapi dengan menetapkan/mendekritkan adanya dosa, walaupun itu tidak dikehendakiNya karena naturNya yang suci, di sini Allah toh juga menjadi pengambil keputusan yang sangat penting apakah dosa itu "harus ada" atau "harus tidak ada." Dan dengan demikian menurut saya, Anda secara tidak sadar menuduh Allah sebagai penyebab adanya dosa karena Dia mendekritkan itu.

Muriwali Yanto Matalu: Tidak! Ketika Allah berkehendak (di dalam decretive will) memutuskan untuk mengijinkan dosa yang tidak dikehendakiNya (di dalam preceptive will), Dia sama sekali bukan pembuat dosa. Tujuan Tuhan menciptakan manusia BUKAN "supaya manusia berbuat dosa," TETAPI "supaya manusia memuliakan Tuhan." Saya kasih contoh sederhana (perhatikan bahwa ini cuma contoh yang terbatas), jika saya dan isteri memutuskan untuk membelikan sepeda motor kepada anak lelaki kami, maka tujuan kami adalah supaya anak itu memiliki kendaraan sendiri yang sifatnya tetap untuk dipakai ke sekolah, ketimbang setiap hari diantar atau naik angkutan umum. Apakah keputusan kami melibatkan resiko kemungkinan terjadinya kecelakaan? Jawabannya ya! Nah, apakah karena kami tahu ada resiko kecelakaan, maka kami membatalkan hal itu? TIDAK, karena tujuan kami BUKAN "agar anak itu kecelakaan" TETAPI "supaya memudahkan dia ke sekolah." Jika seandainya, suatu saat anak itu mengalami kecelakaan maka apakah kami dapat dituntut dengan alasan bahwa kami sudah tahu resiko kecelakaan namun mengapa masih membeli motor untuk anak itu? Saya kira tidak, karena kalau demikian, maka tidak satu pun orang tua yang akan membelikan motor untuk anaknya.

LECTURES ON REFORMED THEOLOGY (PART 3)

Muriwali Yanto Matalu: Baik, di sini saya akan meminjam konsep Aristoteles mengenai empat jenis penyebab. 1) Penyebab material, 2) penyebab bentuk, 3) penyebab efisien, 4) penyebab final. Untuk menjelaskan mengenai keempat jenis penyebab ini saya akan menggunakan ilustrasi sebuah pensil. 1) Penyebab material sebuah pensil adalah kayu dan sejenis bahan untuk menulis (campuran grafit dan tanah liat). 2) Penyebab bentuk adalah bentuknya yang seperti pensil. Nah, kalau cuma sebuah kayu gelondongan atau papan tidak dapat disebut pensil. Sebuah pensil disebut pensil karena bentuknya seperti pensil pada umumnya. Inilah penyebab bentuk.

3) Penyebab efisien terjadinya sebuah pensil adalah orang yang membuatnya (di pabrik tentunya) serta membentuknya menjadi sebuah pensil.

4) Penyebab final dari sebuah pensil adalah tujuan pembuatannya. Tujuan pembuatan pensil adalah untuk menulis. Nah, karena dibutuhkan untuk menulis inilah maka pensil dibuat, dan persis inilah penyebab finalnya.

Seandainya suatu saat sebuah pensil tertentu memiliki kandungan racun yang dapat membunuh, maka di antara keempat penyebab pensil tersebut, penyebab manakah yang dapat dituntut untuk bertanggungjawab secara moral? Jawabannya jelas, hanya pembuatnya atau pabrik yang membuatnya yang dapat dituntut. Anda tidak dapat menuntut penyebab materinya, juga tidak dapat menuntut penyebab bentuknya, dan juga tidak dapat menuntut penyebab finalnya. Penyebab efisienlah, yakni orang yang membuatnya yang harus bertanggungjawab.

Mengambil ilustrasi ini, maka mari kita terapkan di dalam hal eksisnya dosa.

1) Penyebab material terjadinya dosa (khusus dalam kehidupan manusia yang diwakili oleh Adam) adalah adanya pohon pengetahuan yang baik dan jahat.

2) Penyebab bentuknya adalah adanya perintah Tuhan, sehingga pohon yang biasa ini sekarang menjadi pohon khusus karena ada perintah untuk tidak memakannya.

3) Penyebab efisiennya adalah Adam, melalui Hawa, yang mengambil buah pohon itu dan memakannya.

4) Penyebab finalnya adalah Tuhan, dimana tujuan Tuhan memberikan perintah agar Adam tidak memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat BUKAN "supaya Adam dapat berdosa" TETAPI "supaya Adam belajar taat perintah Tuhan."

Di antara keempat penyebab di atas, penyebab manakah yang harus bertanggungjawab secara moral? Hanya penyebab efisien yaitu Adam. Penyebab material tidak dapat dituntut, demikian juga dengan penyebab bentuk, serta penyebab final yaitu Tuhan.

Sebuah contoh lain, jika seseorang menonton film porno, maka jelas itu adalah dosa.

1) Penyebab material "dosa menonton film porno" adalah CD porno, alat memutar video, komputer, dll.

2) Penyebab bentuk adalah kandungan yang ada dalam CD atau komputer tersebut yang merupakan film/video porno.

3) Penyebab efisien dosa itu terjadi adalah mereka yang membuat video porno tersebut beserta bintang-bintang porno di dalamnya, serta mereka yang menonton film porno tersebut dan juga Iblis yang menggoda manusia untuk membuat dan menonton materi-materi tersebut.

4) Penyebab final mengapa seseorang Kristen tertentu bertemu dengan materi-materi porno (yang mungkin pada akhirnya membuat dia jatuh) itu adalah karena ada ijin Tuhan. Tuhan bertujuan menguji kesetiaan orang Kristen tersebut terhadap Dia dengan mengijinkan dia bertemu dengan materi-materi porno tersebut. Nah, apakah orang itu akan membuang atau membakar materi-materi tersebut ataukah dia menikmati dosa tersebut? Ini berada sepenuhnya dalam tanggungjawabnya. Ketika dia memutuskan untuk berbuat dosa dengan menonton, maka dia harus bertanggungjawab di hadapan Tuhan. Tetapi, ketika dia memutuskan untuk taat, maka dia akan bersekutu dan mengalami Tuhan dengan lebih dalam lagi dan kemuliaan Tuhan terpancar dari hidupnya dengan lebih baik lagi. Inilah penyebab final mengapa Tuhan ijinkan itu.

Nah, saudara Rony, saya tertarik untuk menjelaskan lebih dalam mengenai ketetapan Allah khususnya dalam hal eksistensi dosa, dimana beberapa orang sekarang mengatakan bahwa istilah "ketetapan" itu tidak dapat diterima dan yang seharusnya kita tekankan adalah bagaimana kita membicarakan Allah yang berdaulat untuk "mengijinkan," "membiarkan," "mengintervensi," dll

LECTURES ON REFORMED THEOLOGY (PART 4)

MYM: Terlalu sulit bagi kita untuk mengatakan bahwa ada satu atau dua hal yang terjadi di luar kehendak Allah. Bahkan Kitab Amsal dengan berani mengatakan bahwa orang fasik dibuat oleh Tuhan untuk hari malapetaka (lih. Amsal. 16:4). Jadi orang jahat yang berlaku jahat di dalam kebebasannya, tidaklah berada di luar kehendak dan rencana Allah. Lagi, "Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada Tuhan" (Amsal. 16:1). Perhatikan bahwa manusia menimbang-nimbang dalam hati, lalu kemudian berkata sesuai dengan kebebasannya, tetapi itu tidak lepas dari kehendak Tuhan. Jawaban lidahnya yg muncul hanyalah yg dikehendaki oleh Tuhan, itu sebab dikatakan, "tetapi jawaban lidah berasal daripada Tuhan." Dengan lebih tegas lagi Amsal 16:33 berkata, "Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada Tuhan." Perhatikan bahwa orang yg membuang undi, membuangnya di dalam kebebasan, dan juga bahwa undi itu berputar-putar dengan bebas sesuai dengan sifat dan kekuatan lemparan yg dilakukan dengan bebas tadi. Tetapi hasilnya ditentukan oleh Tuhan. Injil Matius menyatakan bahwa seekor burung pipit tak akan jatuh di luar kehendak Bapa (Matius. 10:29). Ada yg berkata bahwa ayat ini tidak berbicara kedaulatan Allah yg bersifat detail, tetapi bicara pemeliharaan Allah bagi orang percaya pada saat ada penganiayaan. Ini salah kaprah yg luar biasa. Benar bahwa ayat ini bicara pemeliharaan Tuhan pada kita saat ada penganiayaan dan bukan bicara bagaimana kedaulatan kehendakNya terjadi pada burung pipit. Tetapi ilustrasi burung pipit di sini muncul oleh karena pemeliharaan Tuhan itu sifatnya berdaulat dan terjadi secara detail. Lagi, karena bersifat detail maka muncullah ilustrasi mengenai burung pipit dan juga rambut di kepala (ay. 30).

Kesimpulannya, tidak ada satu pun hal yang terjadi di luar kehendak Allah. Nah, berkaitan dengan dosa, itupun terjadi di dalam kehendak Allah, tetapi kehendak yang bersifat mengijinkan. Jika itu tidak terjadi dalam kehendak Allah, maka dosa eksis di luar kehendakNya dan konsekwensi logisnya adalah bahwa Allah tidak berdaulat. Ini salah! Allah berdaulat sepenuhnya untuk menghendaki, apakah dosa harus eksis atau tidak! Di dalam Keluaran (mis. 7:3) dikatakan bahwa Tuhan mengeraskan hati Firaun dan akibatnya Firaun berbuat dosa. Ini berarti bahwa ber-dosa-nya Firaun tidak terjadi di luar kehendak Allah. Tetapi ini tidak berarti bahwa Allah adalah penyebab efisien dari dosa Firaun dan harus bertanggung jawab. Tidak! (Lihat kembali pelajaran part 3). Di sini Tuhan hanya membiarkan Firaun keras kepala di dalam dosanya sendiri, dan oleh karenanya dia berbuat dosa atas kemauannya sendiri, sehingga dia harus bertanggung jawab atas dosa tersebut. Jadi, anda melihat di sini bahwa Tuhan hanya mengijinkan atau membiarkan Firaun melakukan dosa karena kekerasan hatinya sendiri.

Rony: Lalu apa hubungannya dengan pernyataan anda bahwa dosa ditetapkan oleh Allah?

MYM: Bagus. Nah, jika Allah berkehendak untuk mengijinkan adanya dosa (mis. dosa Firaun), maka tidak ada kata lain selain mengatakan bahwa itu sudah ditetapkan Allah. Artinya, mengijinkan dosa terjadi, atau membiarkan dosa terjadi, melibatkan satu keputusan atau ketetapan. Allah haruslah membuat keputusan apakah mengijinkan adanya dosa atau tidak. Tanpa adanya keputusan atau ketetapan untuk mengijinkannya, maka dosa tidak akan eksis. Dengan demikian, maka eksistensi dosa masuk dalam dekrit atau ketetapan Allah.

LECTURES ON REFORMED THEOLOGY (PART 5)

PREDESTINASI

Reformed Gadungan: Saya mendengar dari Sdr. Rony mengenai ceramah-ceramah anda. Sekarang dia lagi berpikir untuk menjadi orang Reformed, namun butuh waktu katanya. Nah, anda tentunya menerima dan percaya doktrin predestinasi. Banyak orang menolak doktrin ini karena mereka tidak memahami bahwa Allah itu mahatahu. Seharusnya, jika Dia mahatahu, maka tentu saja Dia tahu secara mutlak siapa yang akan percaya kepada Tuhan Yesus dan siapa yang akan menolak, dan berdasarkan pengetahuanNya yang mutlak ini Dia memilih mereka yang akan percaya dan menolak mereka yang tidak percaya. Sederhana kan?

MYM: Menarik, tetapi doktrin predestinasi anda terdengar aneh di telinga saya. Menurut anda, pemilihan dan penolakan Tuhan berdasarkan kemahatuanNya akan siapa yang percaya dan siapa yang tidak percaya? Jadi, yang percaya akan menjadi umat pilihan, dan yang tidak percaya akan menjadi kaum reprobat? Benarkah demikian?

Reformed Gadungan: Ya, kurang lebih seperti itu.

MYM: Ini bukan doktrin predestinasi yang dipercaya teologi Reformed. Teologi Reformed percaya bahwa karena Tuhan memilih seseorang sebelum dunia dijadikan, maka orang itu pada akhirnya Tuhan beri anugerah untuk menjadi percaya kepada berita injil Yesus Kristus. Jika Tuhan tidak memilih seseorang maka mustahil dia menjadi orang percaya. Bandingkan dengan Roma 8:29-30. Efesus 1:4 menyatakan bahwa Allah memilih kita dalam Yesus Kristus sebelum dunia dijadikan (baca juga ayat 5), lalu kemudian Efesus 2:8-9 menegaskan bahwa keselamatan adalah pemberian Allah dan bukan usaha manusia. Ini berarti bahwa Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan dan setelah kita sudah ada dalam dunia ini maka Dia jugalah yang menganugerahkan keselamatan itu pada kita. Hal ini bahkan diteguhkan oleh perkataan Tuhan Yesus sendiri yang berkata bahwa tidak seorang pun yang datang kepada Dia jika tidak ditarik oleh Bapa (Yoh. 6:44). Ini berarti bahwa semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus adalah mereka yang sudah dibawa oleh Bapa kepada Yesus. Jika bukan Bapa yang memilih dan membawa mereka kepada Yesus, maka mereka tak mungkin bisa percaya oleh karena usaha mereka sendiri. Jadi, pemilihan Allah tidak berdasarkan pada kemahatahuanNya akan siapa yang nantinya percaya dan siapa yang nantinya menolak. Yang anda percayai itu justru adalah ajaran Arminian.

Reformed Gadungan: Hmm, saya sudah lama memikirkan ini. Saya tiba pada kesimpulan tersebut karena ini jauh lebih aman dan kita tidak menjadikan Allah sebagai Allah yang pilih kasih. Baiklah, ide anda tadi terdengar baru di telinga saya. Namun saya akan mencoba untuk merenungkannya.Semoga kita bisa saling belajar sebagai sesama saudara Reformed.

MYM: Salah!

1) Ide saya ini bukanlah ide yang baru. Bacalah semua pengakuan iman Reformed, misalnya, Tiga Pasal Keesaan dari tradisi Reformed Belanda, atau Pengakuan Iman dan Katekismus Westminster dari tradisi Reformed berbahasa Inggris, atau pun Pengakuan Iman Baptis Reformed (The London Baptist Confession of Faith - 1689).

2) Jika ide anda adalah ide Arminian, maka kita bukan “sesama saudara Reformed.”

Reformed Gadungan: Wah, anda keras sekali???

MYM: Mungkin saya keras, tapi posisi kita harus jelas kan? Nah, kalau mau terus berdiskusi dengan saya silahkan, kita dapat menggali lebih dalam mengenai doktrin predestinasi.

LECTURES ON REFORMED THEOLOGY (PART 6)

PREDESTINASI: PEMILIHAN DAN PENOLAKAN

Reformed Gadungan: Bagaimana pendapat anda mengenai mereka yang tidak selamat? Apakah mereka juga ditetapkan untuk tidak dipilih, ataukah Allah hanya membiarkan mereka?

MYM: Ketetapan Allah di dalam hal predestinasi memiliki dua sisi yakni MENETAPKAN untuk memilih sebagian orang untuk mendapatkan anugerah dan kemurahanNya dan oleh karenanya diselamatkan (band. Efesus. 1:4) dan juga MENETAPKAN untuk tidak memilih/menolak sebagian yang lain dan oleh karenanya membiarkan mereka binasa (band. Yohanes. 17:12).

Reformed Gadungan: Wah, jika demikian, kejam benar pemahaman anda mengenai pemilihan dan penolakan. Bukankah di sini anda sedang menyajikan satu konsep mengenai Allah yang kejam?

MYM: Tuduhan anda tidak beralasan karena:

1)Tidak satu pun manusia yang berhak untuk selamat, karena semua manusia sudah berdosa (Roma. 3:23), lagi pula semua manusia sudah rusak di dalam dosa dan tak satu pun yang benar (Roma. 3:10-12; lih juga Mazmur. 14:1-3; 53:2-4), sehingga upah yang pantas untuk manusia berdosa hanyalah maut (Roma. 6:23). Jika tak satu pun dari kita yang berhak untuk selamat oleh karena dosa, maka ketika Tuhan menetapkan untuk menyelamatkan sebagian saja dari mereka, itu sudah merupakan satu tindakan yang sangat mulia sekali.

2) Harta keselamatan adalah milik Tuhan sepenuhnya, dan jika Dia memberikan harta itu kepada sebagian orang dan menahannya kepada sebagian yang lain apakah Dia tidak adil? Sama sekali tidak. Dia berhak untuk menggunakan harta milikNya dengan bebas, sama seperti jika anda menggunakan harta anda dengan bebas, misalnya, saat anda memutuskan untuk memberikan uang anda kepada pengemis A dan memutuskan untuk tak memberi pada pengemis B. Apakah anda di sini curang dan tak adil? TIDAK! Anda berhak penuh atas harta anda. Silahkan anda baca Matius 20:1-16, bagaimana Tuhan dengan bebas menggunakan hartaNya. Perhatikan perkataanNya, "Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?" (ay. 15).

3) Orang yang tidak dipilih (atau yang ditolak) akan binasa oleh karena dosa-dosa mereka (band. Wahyu. 20:12-13) dan BUKAN BINASA oleh karena tidak dipilih. Jika mereka binasa karena tidak dipilih, maka Tuhan sudah berlaku tidak adil dan harus bertanggungjawab.

Reformed Gadungan: Yah, itu pendapat anda, dan saya kira terlalu keras dan kaku. Saya sih hanya mau menjadi orang Reformed yang tidak kaku.

MYM: Ya, silahkan! Tetapi yang anda percayai itu bertentangan dengan banyak bagian dari ajaran Alkitab dan juga tidak didukung oleh pengakuan-pengakuan iman Reformed. Saya boleh katakan bahwa anda ini Reformed abal-abal.

LECTURES ON REFORMED THEOLOGY (PART 7)

Kerusakan Manusia yang Bersifat Total (Total Depravity) dan Anugerah Keselamatan

JACK (seorang dosen teologi Arminian): Pak MYM, teologi Reformed selalu menekankan kerusakan manusia yang bersifat total. Tetapi ini berkontradiksi dengan fakta bahwa masih terdapat banyak orang yang tidak percaya yang memiliki kebaikan-kebaikan yang bahkan lebih baik dari orang Kristen.

MYM: Pertama, kerusakan total manusia tak berarti bahwa manusia itu mati secara total. Kerusakan total yang dimaksud adalah ketidakmampuan total utk melakukan kehendak Allah yakni apa yang benar (band. Kejadian. 6:5; Roma 3:10-11). Tentu saja manusia masih dapat melalukan kebaikan-kebaikan secara umum, mis. seorang ibu yang tidak pernah dengar injil, masih dapat mengurus bayinya dengan baik dan bertanggungjawab. Tetapi kebaikan umum semacam ini tidak dapat memenuhi standar kebaikan Allah.

Kebaikan yg sejati haruslah:

a) Dilakukan dalam iman, karena apa saja yang dilakukan di luar iman adalah dosa (band. Roma 14:23).

b) Harus sesuai dengan cara Tuhan yang sudah dinyatakan dalam Alkitab. Itu sebabnya kita harus membaca, mempelajari, dan merenungkan Alkitab agar jalan kita dapat benar (band. Yos. 1:7-8; Mazmur. 1; 2Tim. 3:16).

c) Tujuan semua yg kita lakukan adalah utk kemuliaan Allah (band. 1Korintus. 10:31), karena kemuliaan hanya layak bagi Allah saja (band. Roma. 11:36).

Nah, apakah seorang ibu yang tidak percaya yg melakukan kebaikan pada bayinya memenuhi ketiga prinsip Alkitab ini? SAMA SEKALI TIDAK! Maka kebaikannya tidak memenuhi standar Allah dan oleh karenanya hanya seperti kain kotor (band. Yesaya. 64:6). Istilah kain kotor yg dipakai Yesaya di sini merujuk pada kain pembalut wanita yang digunakan saat datang bulan. Coba selidiki kata aslinya dalam bahasa Ibrani. Bayangkan, betapa menjijikkan!

Kedua, kerusakan total ini, di samping adalah ketidakmampuan total untuk melakukan kehendak Allah, maka itu juga adalah satu ketidakmampuan total untuk mencari Allah. Saya menantang anda untuk memberikan pada saya ayat-ayat Alkitab yang menyatakan bahwa orang tidak percaya dapat mencari Allah oleh kemampuannya sendiri. Tidak ada! Justeru sebaliknya, Allahlah yg mencari manusia. Bandingkan bagaimana Allah mencari Adam di Taman Eden saat Adam sudah jatuh ke dalam dosa lalu bersembunyi dari hadapan Tuhan (Kejadian. 3:7-9). Bacalah Kejadian 6:1-7 dimana manusia begitu bejat dan tidak mencari Tuhan. Bahkan Nuh menjadi orang baik dan benar karena Tuhan beranugerah kepadanya (Kejadian 6:8), dan jika Tuhan tak beranugerah maka dia pun pasti rusak. Bahkan keturunan Nuh pun juga akhirnya rusak dan melawan Tuhan (lih. Kejadian. 11:1-9). Dan lihatlah betapa rusaknya Sodom dan Gomora sampai harus dibakar dan juga betapa rusaknya bangsa-bangsa Kanaan. Bahkan orang Israel sendiri, yang oleh anugerah Tuhan dikeluarkan dari perbudakan Mesir, juga tetap saja rusak. Seluruh generasi yang keluar dari Mesir dibunuh habis di padang gurun oleh Tuhan karena mereka tegar tengkuk, bahkan Musa pun tidak boleh masuk Kanaan karena pernah melawan Tuhan (lih. Ulangan. 33:48-52). Lebih jauh, setelah masuk ke Kanaan, bangsa Israel bolak-balik jatuh ke dalam dosa dan bolak balik dihukum oleh Tuhan. Sampai di buang ke Babel (Yehuda) dan dihancurkan oleh Asyur (Israel Utara). Setelah kembali dari pembuangan, mereka hanya sebentar saja beribadah di bawah Nehemia dan Esra. Tidak lama kemudian mereka rusak lagi dengan munculnya ahli-ahli taurat, orang-orang Farisi, serta Saduki. Mereka inilah yang menyalibkan Tuhan Yesus.

Adakah manusia yg baik? SAMA SEKALI TidAK ADA! Maka tidak ada kata lain, kita mutlak butuh anugerah Tuhan saja. Tanpa anugerah tidak mungkin kita selamat (Band. Ef. 2:8-9).

Bahkan setelah menjadi Kristen pun kita tetap tidak luput dari dosa, dan terus hanya mengandalkan anugerah Tuhan saja untuk menopang kita agar dapat hidup dengan benar.

Apakah anda, yang sudah menjadi Kristen, bahkan menjadi seorang dosen teologi, sudah sepenuhnya baik Pak Jack? Saya berani berkata bahwa dalam pikiran anda saat ini saja terdapat kejahatan, dan itu sebabnya anda harus mengaku dosa setiap saat, harus menghadap wajah Tuhan, dan harus mengemis anugerahNya. Saya juga demikian.

JACK: Tetapi kita kan harus mau menyambut anugerah Tuhan kalau mau diselamatkan. Kalau tidak bagaimana kita mendapat anugerah itu?

MYM: Bahkan ketika engkau berespons menerima anugerah Tuhan, Dia terlebih dahulu menganugerahkan kerelaan dalam hatimu untuk menerima anugerah itu (band. Flp. 2:13).

JACK: Jadi, semua karena anugerah?

MYM: Ya!

Ronny: Cukup sudah sekarang bagi saya, semua sudah jelas. Mulai saat ini saya akan menjadi orang Reformed. Puji Tuhan. Mata saya dicelikkan.

JACK: Hei tunggu dulu. Jika semua karena anugerah, maka tidak ada gunanya bagi kita untuk berusaha melalukan yang baik. Bukankah usaha kita sendiri tidak ada gunanya? Lalu bagimana dengan perintah Alkitab yang menyuruh kita melakukan kebaikan, mis. Roma 12:17; Kolose. 3:23, dll?

MYM: Saya akan beri respons untuk pertanyaan ini dalam pelajaran selanjutnya. 

LECTURES ON REFORMED THEOLOGY (PART 8)

IMAN: APAKAH TUHAN BISA MENYELAMATKAN SESEORANG TANPA MELALUI IMAN?

BERNARD (mahasiswa di STT yang beraliran liberal): Pak MYM, beberapa waktu yang lalu setelah kematian Billy Graham, ada banyak kritikan terhadap dia karena satu pandangannya di dalam satu wawancara sepertinya percaya bahwa seseorang dapat saja diselamatkan walaupun tidak mengenal nama Yesus. Bagi saya, mereka yang mengkritiknya adalah tidak memahami bahwa Allah bebas saja menyelamatkan seseorang dan tidak diikat oleh sarana tertentu.

MYM: Pertama-tama, saya harus mengatakan bahwa Billy Graham adalah seorang hamba Tuhan yang sudah dengan setia memberitakan Injil keselamatan Yesus Kristus. Hidupnya juga bersih dari skandal, misalnya, sex dan keuangan, seperti yang biasa terjadi pada pendeta-pendeta Kharismatik yang besar. Pada intinya, saya percaya bahwa Billy Graham adalah hamba Tuhan sejati.

Namun, pernyataannya dalam wawancara itu adalah salah dan menyesatkan. Jika pernyataannya dalam wawancara itu bukan karena kepikunan atau alpa karena sudah tua, maka saya kira dia bersalah dan harus bertanggungjawab kepada Tuhan atas kesalahan tersebut.

BERNARD: Lho Pak, kenapa harus salah? Anda sebagai orang Reformed seharusnya paham bahwa Allah itu berdaulat, dan bebas menggunakan cara apa saja untuk menyelamatkan manusia walaupun tanpa melalui nama Yesus Kristus. Di sini saya meragukan jika anda sungguh-sungguh orang Reformed.

MYM: Anda salah! Kedaulatan Allah tidak dapat diartikan sebagai satu kebebasan mutlak untuk lakukan apa saja walaupun itu bertentangan dengan naturNya atau juga melawan ketetapan dan janji-janjiNya. Kedaulatan Allah dibatasi oleh:

1) Natur atau sifat-sifatNya. Allah tidak dapat melakukan hal-hal yang bertentangan dengan sifatNya. Misalnya, Allah tidak mungkin menipu karena natur Allah itu suci dan benar. Allah juga tidak dapat menciptakan sebuah segitiga yang berbentuk bulat. Yang namanya segitiga, pasti memiliki tiga sudut dan tidak mungkin bulat/bundar. Mengatakan bahwa Allah berdaulat dan oleh karenanya dapat membuat segitiga berbentuk bulat, adalah sama dengan mengatakan bahwa Allah dapat melakukan hal-hal yang irasional atau ilogical. Tidak! Allah tidak dapat melakukan hal-hal yang bertentangan dengan naturnya yang rasional.

Nah, di dalam konteks ini, sarana iman adalah satu-satunya sarana yang rasional yang sudah diberikan oleh Tuhan dimana melalui iman kita dapat diselamatkan. Mengapa disebut satu-satunya sarana rasional? Karena manusia sudah rusak total di dalam dosa (band. Kej. 6:5; Rm. 3:10-11) dan tidak mungkin mencari Allah, maka cara satu-satunya untuk menyelamatkan manusia adalah melalui pengorbanan Yesus Kristus. Tanpa pengorbanan Kristus manusia tidak mungkin diselamatkan. Dan, keselamatan yang disediakan Kristus ini hanya dapat diterima melalui iman. Tidak ada cara lain. Maka tak beriman kepada Kristus tak selamat. Ini adalah satu-satunya cara yang rasional.

2) Ketetapan dan janji-janjiNya. Allah tidak dapat melanggar ketetapan dan janji-janjiNya yang sudah ditulis dalam Alkitab. Nah karena iman adalah satu sarana yang sudah ditetapkan oleh Allah dimana melalui iman seseorang dapat dibenarkan dan diselamatkan (selidiki baik-baik Ibrani 11:1-40; dan Galatia 3:1-14), maka ketetapan ini mengikat sehingga Tuhan tidak dapat dengan sewenang-wenangmenggantinya dengan hal lain.

Kesimpulan saya: Tanpa iman kepada Yesus Kristus, tidak ada keselamatan.

BERNARD: Oke, tapi tunggu dulu! Bagaimana dengan orang-orang yang sangat baik, agung, dan memiliki standar moral yang sangat tinggi di dalam sejarah, misalnya Sokrates atau Konfusius. Masakan orang sebegitu baik tidak diselamatkan?

MYM: Tentu saja saya tidak dapat mengatakan bahwa mereka sudah masuk ke surga atau sebaliknya mereka sudah masuk ke neraka, karena saya tidak tahu secara langsung apakah Kristus (YHWH) di dalam PL yang sudah mencari Adam di Taman Eden, sudah menyelamatkan Nuh dan keluarganya, sudah memanggil Abraham dan Israel, lalu kemudian sudah berinkarnasi mengambil natur manusia, JUGA SUDAH BERTEMU DENGAN KEDUA ORANG YANG ANDA SEBUT ITU. Memang ada contoh di Alkitab PL dimana Tuhan bertemu dan menyelamatkan orang-orang non-Yahudi misalnya Ayub (baca Kitab Ayub). Tetapi apakah Dia juga bertemu dengan Sokrates dan Konfusius? saya tidak tahu jawabannya!

TETAPI ini yang berani saya katakan, jika konteksnya PL maka apakah orang yang dianggap agung dan sangat baik ini sudah bertemu dan sudah beriman kepada Yesus di dalam PL? Jika tidak, mereka TAK MUNGKIN SELAMAT! Dan di dalam konteks PB, seberapa pun baik dan agungnya seseorang, jika Dia belum pernah mendengar Injil keselamatan dan belum pernah beriman kepada Yesus Kristus, maka TAK MUNGKIN SELAMAT! Saya harap jawaban saya clear di sini.

BERNARD: Anda rupanya seorang fundamentalis! Nah, yang ini anda tidak bisa jawab lagi! Jika iman adalah satu-satunya sarana, maka bagaimana dengan bayi-bayi dan anak-anak kecil yang meninggal? Apakah mereka semua akan masuk ke neraka karena tidak bisa beriman seperti orang-orang dewasa?

MYM: Saya bukan seorang fundamentalis. Sebutan ini lebih cocok untuk DR. Suhento Liauw. Tetapi saya hanyalah orang yang sedapat mungkin mau setia kepada Alkitab. Apa pun yang diajarkan Alkitab, saya terima dan saya percaya.

Nah, bagaimana dengan bayi-bayi atau anak-anak yang meninggal dan belum bisa beriman? Apakah mereka selamat? Jika kita percaya bahwa para bayi dan anak kecil pun adalah manusia seutuhnya, maka kita harus percaya bahwa mereka juga memiliki seluruh elemen dari jiwa, misalnya, pikiran, kehendak, emosi, dll, sebagaimana yang dimiliki orang dewasa. Jika anda percaya bahwa mereka tidak berpikiran, berkehendak, beremosi, dll (terutama para bayi), maka pertanyaan anda tidak relevan di sini. Mengapa? Karena bagi bayi yang tidak berpikiran, berkehendak, dan beremosi, mereka tidak akan dapat merasakan sukacita surga atau pun siksaan neraka. Hanya pikiran, emosi, kehendak, dll, yang menjadikan seseorang dapat merasakan entah siksaan neraka atau sukacita surga. Nah, masuk surga atau neraka di dalam konteks para bayi tidak berpikiran, beremosi, dll. ini sama saja karena mereka tidak dapat merasakan apa-apa.

Tetapi menurut saya, para bayi dan anak-anak ini (bahkan janin dalam kandungan) adalah manusia seutuhnya (band. Mazmur. 8:3; 139:13-16), sehingga mereka memiliki pikiran, emosi, kehendak dll. dalam segala keterbatasan. Dan oleh karenanya, bayi-bayi pilihan akan diukirkan iman dalam kadar tertentu oleh Tuhan dan melalui iman ini mereka diselamatkan. Mengapa mereka perlu iman? Karena mereka pun sudah mewarisi dosa asal Adam sejak dari kandungan (band. Mazmur. 51:7), dan oleh karenanya bayi pun tidak akan selamat jika tidak diselamatkan oleh anugerah Tuhan melalui iman.

BERNARD: Wah Pak, sudahlah, nanti saya tanyakan lagi kepada dosen dogmatika saya.

Lectures on Reformed Theology (Part 1-8)

TAMBAHAN 

LECTURES ON REFORMED THEOLOGY

ALLAH TRITUNGGAL SELALU “SATU DAN TIGA”

Muriwali Yanto Matalu

Keunikan Allah Kristen yang diajarkan Alkitab adalah bahwa Dia adalah satu di dalam hakekat-Nya dan tiga di dalam pribadi-Nya. Allah tak pernah hanya eksis sebagai satu Allah yang esa tanpa ketigaan pribadi-Nya, atau hanya eksis dalam ketigaan pribadi-Nya tanpa keesaan hakekat-Nya. Allah selalu “satu dan tiga” atau “tiga dan satu.”

Membicarakan hakekat atau substansi Allah, itu merujuk pada kualitas keilahian yang Allah miliki, dan kualitas keilahian ini dinyatakan oleh sifat-sifat-Nya. Maka membicarakan hakekat Allah adalah membicarakan sifat-sifat-Nya. Ketika kita membahas sifat-sifat-Nya bahwa Dia adalah roh, mahakuasa, mahahadir, kekal, independen, dsb., sejatinya kita sedang membicarakan hakekat-Nya.

Membicarakan pribadi Allah, itu merujuk pada seluruh kualitas keilahian Allah yang eksis dengan pikiran (dengan demikian juga emosi dan kehendak) dan juga eksis dengan kesadaran (consciousness) dan kesadaran akan diri (self-consciousness). Kesadaran adalah berkaitan dengan kesadaran satu subyek terhadap obyek (obyek-obyek) di luar subyek, sedangkan kesadaran akan diri adalah kesadaran satu subyek terhadap dirinya sendiri, dengan demikian subyek dan obyek adalah diri sendiri. Shedd berkata bahwa di dalam diri Allah, antara kesadaran dan kesadaran akan diri itu bertindik tepat atau bersifat identical. Allah sepenuhnya sadar akan segala obyek di luar diri dan secara simultan Allah sadar akan dirinya sendiri secara penuh dan sempurna. Ini berbeda dengan manusia, dimana jika kesadarannya terhadap obyek di luar diri sedang aktif, maka kesadaran akan diri menjadi pasif dan sebaliknya. (Lihat William G.T. Shedd, Dogmatics Theology [Phillipsburg: P&R, 2003] 169-173).

Ketigaan pribadi Allah ditandai oleh “opera ad intra” (karya Allah dalam diri-Nya) yakni bahwa Allah Bapa memperanakkan Allah anak secara kekal, dan bahwa Allah Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak secara kekal. Dengan demikian, hakekat yang dimiliki Bapa, juga dimiliki Anak dan dimiliki Roh Kudus secara indentik.

Tetapi yang harus dipahami di sini adalah, apakah jika seluruh kualitas keilahian yang dimiliki Bapa, dimana juga dimiliki Anak dan Roh Kudus secara sama dan identik, maka itu berarti bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus hanya memiliki satu pikiran, satu kehendak, satu emosi, satu roh, satu kesadaran tanpa perbedaan atau distingsi apapun? Di dalam interaksi/diskusi saya yang panjang dgn Pdt. Billy Kristanto, beliau menjawab ya! Tidak ada perbedaan apapun. Pada poin ini saya berbeda pendapat dengan beliau. Saya meyakini bahwa Allah Tritunggal memiliki satu pikiran, satu kehendak, satu kesadaran dll. oleh karena kesatuan hakekat-Nya, namun pikiran atau kehendak atau kesadaran yang satu itu eksis atau berada secara berbeda di dalam diri masing-masing pribadi Tritunggal.

Dengan demikian, pikiran ketiga pribadi walaupun satu oleh karena kesatuan hakekat-Nya, namun karena eksis secara unik di dalam masing-masing pribadi, maka dapat dikatakan bahwa pikiran Bapa walaupun merupakan bagian pikiran Tritunggal yang satu itu bukanlah pikiran Anak dan bukanlah pikiran Roh Kudus. Demikian juga pikiran Anak yang adalah pikiran Tritunggal yang satu itu, oleh karena berada secara unik di dalam diri Anak, maka dapat dikatakan bahwa pikiran Anak bukanlah pikiran Bapa, dan bukanlah pikiran Roh Kudus. Hal yang sama juga demikian jika membicarakan pikiran Roh Kudus. Di dalam perspektif ini, komunikasi, relasi inter-personal (relasi intra-trinitarian), dan perwujudan kasih menjadi intelligible atau menjadi rasional di dalam Tritunggal. Kita hanya memahami percakapan intra-trinitarian dalam Kejadian 1:26, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita …,” bandingkan juga dengan Matius 3:16-17 dari sudut pandang ini.

Berdasarkan telaah ini, saya tak perlu takut ketika mengatakan bahwa Allah memang selalu “satu dan tiga.” Dia adalah satu pikiran, kehendak, dan emosi oleh karena Dia memiliki hanya satu hakekat, tetapi sekaligus satu pikiran, kehendak, dan emosi tersebut eksis secara unik dan berbeda (ada distingsi) di dalam masing-masing pribadi. Maka pikiran, kehendak, dan emosi Tritunggal adalah selalu “satu dan tiga.” Demikian juga dengan kesadaran-Nya yang selalu “satu dan tiga.”

Mengatakan bahwa Allah hanya satu pikiran, kehendak, kesadaran, dll. (dimana ini benar) tanpa perbedaan apapun dalam hal eksistensinya pada masing-masing pribadi (bagi saya, ini bermasalah), akan menuju pada konsep yang salah dari Sabelianisme, dan kalau dipepet secara ekstrim dapat jatuh pada posisi panteisme yang memandang segala sesuatu sebagai satu dan sama.

Sebaliknya, menekankan hanya pada perbedaan (keunikan/distingsi) eksistensi pikiran, kehendak, kesadaran Allah, dll. dalam masing-masing pribadi dan mengabaikan bahwa secara hakekat itu hanyalah satu pikiran yang eksis secara berbeda (secara unik) dalam masing-masing pribadi, akan menuju pada konsep yang salah dari Erastus Sabdono (paling tidak dalam hubungan Bapa dan Anak), dimana dia berkata bahwa pribadi Anak keluar dan terputus dari Bapa. Jika dipepet secara ekstrim, maka akan menuju pada konsep triteisme (tiga Allah yang terpisah).

LECTURES ON REFORMED THEOLOGY

ALLAH TRITUNGGAL: APA ITU HAKEKAT DAN PRIBADI?

Muriwali Yanto Matalu

Inti perbedaan saya dengan Pdt. Billy Kristanto adalah di dalam memahami apa itu yang dimaksud dengan pribadi di dalam Tritunggal. Sejauh ini, beliau sangat setia pada apa yang dinyatakan di dalam dogma gereja, yakni bahwa istilah pribadi merujuk pada tindakan ad intra dan ad extra Allah. Di dalam opera ad intra, Bapa melahirkan Anak secara kekal, Anak dilahirkan secara kekal oleh Bapa, dan Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak secara kekal. Dalam opera ad extra perbedaan Tritunggal dinyatakan melalui karya-Nya, mis. dalam karya keselamatan, Bapa adalah inisiator, Anak adalah penggenap/pelaksana, dan Roh Kudus adalah aplikatornya (yang mengaplikasikan itu pada orang percaya). Tindakan ad intra dan ad extra inilah yang menjadi pembeda bagi masing-masing pribadi. Tetapi, bagi saya, jika berhenti hanya di sini, maka istilah pribadi itu menjadi satu istilah yang tidak jelas. Masakan seseorang harus menjawab bahwa pribadi itu adalah “opera ad intra Allah” ketika ditanya mengenai apa itu pribadi?

Sejauh ini, saya tidak mengatakan beliau salah atau sesat, oleh karena dogma gereja juga mengajarkan itu. Dalam satu tanggapannya terhadap satu pertanyaan di wall-nya mengenai bagaimana beliau mendefinisikan pribadi, Pak Billy mengatakan bahwa itu adalah pertanyaan besar dan dia akan mencoba membahas itu. Saya kira jika beliau benar-benar membahas definisi istilah pribadi, maka dugaan saya, perbedaan kami akan semakin menipis. Saya setuju dengan beliau bahwa perbedaan kami bukanlah bersifat esensial, walaupun menurut saya tetap perlu untuk didiskusikan.

Para teolog sudah melihat kesulitan definisi istilah pribadi yang melulu hanya bersandar pada “opera ad intra” dan “opera ad extra.” Maka mereka mencoba memberikan definisi yang lebih jelas mengenai istilah pribadi. Semua teolog yang saya kutip di sini adalah teolog Reformed terkemuka. Beberapa di antaranya:

GEERHARDUS VOS:

In order to arrive at clarity regarding this matter one first needs to make clear demands that a theological definition of person must satisfy. These are:

1. It may not detract from the unity of the being of God. If one says, for example, “Person is what does not exist in another nature,” that appears to exclude the persons of the Trinity. These persons surely do not exist in themselves but in the divine nature.

2. It must have an element in itself that is common to divine and human personality. In Christology, specifically the divine person of Christ serves to represent the human person of the elect in the justice of God. If a point of likeness does not exist, then this could not happen.

3. It must be Reformed in that it allows the human nature of the Mediator to be impersonal. If I say, “Person is a being with self-consciousness and self-determination (free-will),” then the human nature of the Savior is included.

In order to satisfy these three conditions at the same time, one can now formulate approximately in the following manner, “Person is an independent entity, indivisible, rational, incommunicable, not sustained by another nature but possessing in itself the principle of its operation.” (Geerhardus Vos, Reformed Dogmatics [Translated and edited by Richard B. Gaffin, Jr. with Kim Batteau, Associate Editor Annemie Godbehere Roelof van Ijken], Kindle Electronic Edition: Location 46-47.

Saya tidak akan menterjemahkan semua pendapat Vos di sini (tak ada waktu). Saya memberikan intinya saja. Menurut Vos, di poin 1: Ketiga pribadi eksis di dalam satu esensi Allah. Poin 2 dan 3: Bahwa harusnya ada elemen yang umum/common bagi pribadi ilahi dan pribadi manusia, sehingga di dalam kristologi, pribadi Kristus menjadi cocok untuk mewakili pribadi-pribadi manusia pilihan di dalam keadilan Allah. Lalu, (ini saya parafrase) jika kemanusiaan Yesus tidak memiliki pribadi tersendiri, maka harusnya Pribadi Logos Ilahi memiliki “kesadaran akan diri” dan “kemampuan untuk memutuskan (self-determination)” sehingga kemanusiaan Yesus dapat mengambil bagian di dalam pribadi Logos ilahi, karena kemanusiaan Yesus hanya layak mengambil bagian di dalamnya jika aspek kepribadian Logos memiliki “kesadaran akan diri” dan “kemampuan untuk memutuskan.”

Berdasarkan 3 poin ini, maka pribadi adalah entitas independen, tidak terbagi, rasional, tidak dapat dikomunikasikan, tidak ditopang oleh natur yg lain, tetapi memiliki di dalam dirinya sendiri prinsip operasinya.

WILLIAM G.T. SHEDD:

“And the three persons are so real and distinct from each other that each possesses a hypostatic or trinitarian consciousness different from that of the others. The second person is conscious that he is the Son and not the Father, when he says, “O Father, glorify me” (John 17:5). The first person is conscious that he is the Father and not the Son, when he says, “You are my Son, this day I have begotten you” (Heb. 1:5). The third person is conscious that he is the Spirit and neither the Father nor the Son, when he says, “Separate me Barnabas and Saul for the work whereunto I have called them” (Acts. 13:2). These three hypostatic consciousness constitutes the one self-consciousness of divine essence. By reason of and as the result of these three forms of consciousness, divine essence is self-contemplative, self-cognitive, and self-communing.” (Lih. William G.T. Shedd, Dogmatic Theology [Phillipsburg: P&R, 2003], 239).

Penekanan Shedd di sini adalah bahwa setiap pribadi tritunggal itu memiliki trinitarian consciousness-Nya (kesadaran-Nya) masing-masing. Konsekwensi dari tiga bentuk kesadaran ini adalah bahwa esensi ilahi bisa menjadi self-contemplative, self-cognitive, dan self-communing.

HERMAN BAVINCK:

In the Christological struggle against Nestorianism and Monophysitism the church was forced to come forward with a clearer definition of ‘nature’ and ‘person’; hence arose the definition of ‘person’ as ‘the individual substance of a rational nature.’ Cf. the work ‘de duabus naturis et una persona Christi’ the authorship of which is ascribed to Boethius. According to this definition the word ‘person’ indicates two things: self-existence and rationality of self-consciousness. This is the meaning of the word in the works of scholastic and the older Roman Catholic, Lutheran, and Reformed dogmaticians. (Herman Bavinck, The Doctrine of God, trans by William Hendriksen [Grand Rapids: Baker Book House, 1977], 299-300).

Menurut Bavinck di sini, istilah pribadi merujuk pada “substansi individual dari satu natur yang rasional.” Jadi ini meliputi pikiran karena kita tak dapat membicarakan perihal rasionalitas tanpa pikiran.

LOUIS BERKHOF:

Saat membicarakan pribadi Kristus Berkhof berkata: The term person denotes a complete substance endowed with reason, and, consequently a responsible subject of its own actions. Personality is not an essential and integral part of a nature, but it is as it were, the terminus to which it tends. (Louis Berkhof, Systematic Theology: New Combined Edition [Grand Rapids: Eerdmans, 1996], 321).

Berkhof di sini menegaskan bahwa istilah pribadi menunjuk pada sebuah substansi yang komplit yang diperlengkapi dengan akal (reason), dan konsekwensinya adalah menjadi subyek yang bertanggungjawab atas tindakan-tindakannya.

Bandingkan dengan definisi saya di postingan yang lalu yang tak jauh berbeda dengan definisi Bavinck dan Berkhof:

Membicarakan pribadi Allah, itu merujuk pada seluruh kualitas keilahian Allah yang eksis dengan pikiran (dengan demikian juga emosi dan kehendak) dan juga eksis dengan kesadaran (consciousness) dan kesadaran akan diri (self-consciousness).

Lalu, mengenai kecurigaan pak Christian Johan Lasut bahwa saya merancukan antara hakekat dan pribadi, saya kira saya jelas di dalam mendefinisikannya.

Ini definisi saya tentang hakekat Allah (sebagaimana saya tulis dalam postingan yang lalu): Membicarakan hakekat atau substansi Allah, itu merujuk pada kualitas keilahian yang Allah miliki, dan kualitas keilahian ini dinyatakan oleh sifat-sifat-Nya. Maka membicarakan hakekat Allah adalah membicarakan sifat-sifat-Nya. Ketika kita membahas sifat-sifat-Nya bahwa Dia adalah roh, mahakuasa, mahahadir, kekal, independen, dsb., sejatinya kita sedang membicarakan hakekat-Nya.

Tetapi saya harus memberikan penjelasan lanjutan di sini berdasarkan pergumulan saya sendiri. Hakekat Allah sebagai roh tak bisa disamakan begitu saja dengan hakekat Allah yang lainnya, misalnya, mahakuasa, mahahadir, kekal, dsb. Mengapa? Istilah roh itu merujuk kepada sesuatu yang bersifat riil dimana tak bisa dipisahkan dari fakta bahwa roh itu berpikiran, beremosi, berkehendak, dan berkesadaran. Sedangkan istilah mahakuasa, mahahadir, kekal, independen dan lain-lain merujuk kepada hal-hal yang bersifat abstrak. Jadi, roh itu riil dan yang lainnya itu bersifat abstrak.

Berdasarkan perspektif di atas, maka saya melihat bahwa istilah roh yang memiliki mind, emotion, will, dan consciousness itu sangat dekat dengan pribadi. Itu sebab, di satu sisi, saya setuju pendapat pak Billy bahwa mind, will, consciousness adalah properti natur oleh karena roh yang berpikiran, beremosi, berkehendak, dan berkesadaran adalah hakekat Allah. Tetapi di sisi lain, saya menerima bahwa itu juga merujuk pada properti pribadi karena pribadi haruslah memiliki mind, will, and consciousness. Dari perspektif ini saya tidak takut untuk mengatakan bahwa Allah itu adalah satu roh, dimana roh yang satu itu eksis secara berbeda di dalam masing-masing pribadi. Demikian juga, bahwa Allah itu hanya memiliki satu mind, will, dan consciousness dimana properti-properti ini eksis secara berbeda di dalam masing-masing pribadi.

Tetapi saya tidak pernah berkata bahwa ada satu kemahakuasaan Allah dan satu kemahakuasaan Allah itu eksis secara berbeda di dalam ketiga pribadi. Pernyataan ini terdengar aneh dan lucu, dan saya tidak pernah mengatakan hal aneh semacam itu. Jika saya menyatakan hal, maka saya melawan butir ke-14 dari Pengakuan Iman Athanasius (Athanasian Creed), “And yet they are not three almighties but one almighty.” Sejatinya, kemahakuasaan, kemahahadiran, independensi, kekekalan Allah dsb, hanya satu. Bukan satu dan tiga. Saya hanya bicara satu dan tiga sejauh itu menyangkut roh Allah yang satu itu, yang memiliki mind, will, dan consciousness.

Memang pendapat saya ini terlihat bersifat Van Tillian, dimana Van Til juga berkata “God is one consciousness and three consciousness” atau yang lebih provoking dia berkata “God is one person and three persons.” Banyak orang men-cap pandangannya ini sebagai sesat, tetapi teolog Reformed yang sangat disegani saat ini, John Frame, seorang murid Van Til, mengatakan bahwa itu hanyalah satu terobosan yang lebih dalam terhadap penjelasan mengenai Tritunggal.

Ralph Allan Smith menulis artikel tentang hal ini, saya kira penjelasannya mengenai konsep Van Til ini menarik:

“To state the doctrine of the Trinity in terms that bring its offense clearly to the fore, Van Til claims that we must not merely confess that God is one Being and three Persons, we must also affirm that God is one Person and three Persons. The challenge to the Gospel in our day is the attempt to claim an ultimate impersonalism, to find the unity of the world in an impersonal principle or formula (or to deny unity altogether). To show the Christian God to our generation, we need to make the full implications of Nicene transparent. God is not “one Being” in the sense that there is some sort of impersonal substratum underling and unifying the three Persons. God’s being cannot be thought of as an impersonal principle without denying the reality of the God of the Bible. He is thoroughly personal. Thus Van Til claims,

We do assert that God, that is, the whole Godhead, is one person. We have noted how each attribute is co-extensive with the being of God. We are compelled to maintain this in order to avoid the notion of an uninterpreted being of some sort. In other words, we are bound to maintain the identity of the attributes of God with the being of God in order to avoid the specter of brute fact. In a similar manner we have noted how theologians insist that each of the persons of the Godhead is co-terminous with the being of the Godhead. But all this is not to say that the distinctions of the attributes are merely nominal. Nor is it to say that the distinctions of the persons are merely nominal. We need both the absolute cotermineity of each attribute and each person with the whole being of God, and the genuine significance of the distinctions of the attributes and the persons (Van Til, An Introduction to Systematic Theology [Phillipsburg, NJ: Presbyterian and Reformed, 1971], 229).”

Di sini saya tak akan memberikan pembelaan tentang pandangan Van Til, walaupun saya tidak melihat bahwa pandangannya sesat. 

LECTURES ON REFORMED THEOLOGY

KEBEBASAN MANUSIA DAN KEDAULATAN ALLAH

apakah free will masih berlaku sampe sekarang? Mohon penjelasannya.

MYM:

Saya mau tanya anda: Utk membuat pertanyaan ini dan mengirimkannya ke sini, anda dipaksa orang atau anda buat menurut kebebasan anda? Jika anda menjawab ini dgn benar, maka pertanyaanmu juga terjawab. (Tanya jawab di group "STUDI REFORMED bersama MYM")

Adanya kedaulatan Allah yang menetapkan segala sesuatu, tidak pernah meniadakan adanya free will atau kebebasan kehendak manusia. Ketika manusia berpikir dan bertindak, dia melakukan semua hal itu dengan bebas. Tetapi semua yang manusia lakukan dengan bebas itu sudah masuk dalam ketetapan Allah oleh karena Dia adalah Allah yang berdaulat mutlak atas segala hal.

Juga free will manusia bukanlah free will yang bebas sebebas-bebasnya.

1) Free will kita sudah dibelenggu oleh dosa, dan oleh karenanya dosa memperbudak dan mengarahkan kehendak kita utk menginginkan dan melakukan dosa. Kita sering berdoa dan berharap utk hidup selalu benar, tetapi sering kehendak kita disetir oleh dosa utk melakukan hal-hal yang salah secara moral.

2) Free will kita juga ditentukan oleh motif-motif tertentu dalam hati kita yang disetir oleh kesenangan, hobby, kebiasaan dan lain-lain. Jika anda mau membeli kue atau roti, maka walaupun anda punya kebebasan utk membeli roti apa saja, tetapi anda pasti disetir oleh kesenangan anda akan roti-roti tertentu saja yang memang anda sukai. Di dalam konteks ini, free will kita tidak bebas mutlak.

3) Free will kita juga dibatasi oleh keterbatasan alamiah kita sebagai manusia. Ketika anda berada jauh dari orang-orang yang anda kasihi, dan dalam sekejap ingin bertemu dgn mereka, keinginan itu sulit terlaksana oleh karena masalah jarak dan faktor-faktor lain misalnya tuntutan pekerjaan. Jika anda mahahadir seperti Tuhan, maka keinginan itu dapat saja terwujud seketika. Tapi manusia terbatas secara alamiah, dan keterbatasan ini menjadikan free will kita tak bebas mutlak.

4) Free will kita takluk pada kehendak Allah. Artinya, apa yang anda pikirkan atau lakukan dgn bebas hanya bisa terjadi dalam ijin Tuhan. Tanpa adanya ijin Tuhan, mustahil kita melakukan sesuatu hal. Tetapi ketika Tuhan mengijinkan, maka apa yang kita pikirkan atau lakukan, kita lakukan dengan bebas (bebas tidak mutlak), dan kita tentu harus bertanggungjawab atas semuanya itu.

LECTURES ON REFORMED THEOLOGY

(ALLAH TRITUNGGAL DAN KEMAHAHADIRAN-NYA)

Alkitab dengan sangat jelas mengajarkan mengenai kemahahadiran Allah yang memenuhi segala tempat dan ruang. Mazmur 139:7-12 sangat jelas menggambarkan hal ini. Bahkan ayat 8b menyatakan bahwa Tuhan juga hadir di neraka, “If I make my bed in hell, behold you are there” (NKJV). Bandingkan juga dengan ayat-ayat lain (1Raj. 8:27; Yesaya 66:1; Kis. 17:27-28).

Salah satu pemahaman Pdt. Erastus Sabdono yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab di atas adalah keyakinannya bahwa pribadi Allah Bapa dan Allah Anak berada di surga, dimana kedua pribadi ini hanya hadir dalam jagat raya “melalui” Roh Kudus (Roh Bapa yang melekat pada Bapa). Walaupun, menurut dia, Bapa dan Anak sewaktu-waktu dapat hadir secara pribadi jika dibutuhkan.

Memang istilah “roh-Mu” dalam Mazmur 139:7a, “Ke mana Aku pergi menjauhi roh-Mu,” merujuk pada pribadi ketiga; Roh Kudus, namun itu tidak berarti bahwa Bapa dan Anak tidak hadir secara pribadi. Di dalam alam semesta ini, Bapa dan Anak BUKAN HANYA hadir MELALUI Roh kudus, TETAPI hadir di dalam dan bersama-sama dengan Roh Kudus, oleh karena ketiga pribadi ini adalah pribadi-pribadiAllah yang tidak terbatas dan mahahadir. Itu sebabnya, di dalam ayat 7b dikatakan, “ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu.” Di sini tidak dikatakan “ke mana aku dapat lari dari hadapan Roh Kudus-Mu” tetapi “dari hadapan-Mu” yang merujuk pada kehadiran Allah Tritunggal yang utuh. Itu sebab, sebagaimana saya sudah tulis, bahwa para teolog mengajarkan kehadiran Allah yang bersifat “per essentiam et naturam” (di dalam esensi dan natur-Nya), dan oleh karenanya kehadiran-Nya di seluruh jagat raya ini juga “bersifat penuh dan secara pribadi” oleh masing-masing pribadi Tritunggal.

Sebagian orang yang lain berkeberatan jika dikatakan bahwa Allah mahahadir dan memenuhi segala ruang, dimana konsekwensi logisnya adalah bahwa Dia hadir juga di neraka, di dalam diri orang durhaka, di tempat-tempat yang dianggap najis dan kotor, e.g. tempat pelacuran, dll. Apakah sulit bagi Allah untuk hadir di neraka dan tempat pelacuran? Jawabannya tidak! Apakah kedudusan Allah bisa tercemar jika hadir di tempat-tempat semacam itu? Tidak! Jika kekudusan Allah dapat dicermari oleh setan, pelacur, neraka, dan orang-orang durhaka, maka Dia sama sekali bukanlah Allah, karena kekudusan-Nya masih berada pada tataran atau wilayah ciptaan. Justru kekudusan Allah adalah melampaui ciptaan sehingga tak satu pun ciptaan dapat mencemarinya. Ketika kita berkata bahwa Allah tidak mungkin berdiam di dalam tempat yang najis dan kotor, itu hanya bermaksud bahwa Allah tidak mungkin hadir dengan anugerah dan berkat-Nya di tempat-tempat semacam itu, dan sebaliknya Dia hadir dengan murka-Nya yang menyala-nyala. Maka, kehadiran Allah di neraka adalah kehadiran-Nya dengan murka yang menyala-nyala, sedangkan kehadiran-Nya di surga adalah kehadiran yang penuh dengan berkat, sejahtera, dan segala kebaikan-Nya.

Bavinck berkata, “He (God – dari saya) is present in hell as well as in heaven, in the wicked as well as in the pious, in places of filth and darkness as well as in palaces (places? – dari saya) of light” (Dia hadir di dalam neraka sama seperti di surga, di dalam diri orang durhaka sama seperti di dalam diri orang saleh, di dalam tempat-tempat yang najis dan gelap sama seperti di dalam istana-istana [tempat-tempat? – dari saya] terang) – Herman Bavinck, “The Doctrine of God,” trans. by William Hendriksen (Grand Rapids: Eerdmans, 1979), 162.

Tetapi yang harus dibedakan adalah cara kehadiran-Nya. Di dalam surga Allah hadir dengan cara yang berbeda dengan cara kehadiran-Nya di neraka. Demikian juga cara kehadiran-Nya pada orang percaya berbeda dengan cara kehadiran-Nya pada orang tidak percaya. Jika di surga Allah hadir dengan segala berkat, sukacita, dan kebaikan-Nya, maka di neraka Allah hadir dengan murka-Nya yang menyala-nyala sebagai manifestasi keadilan-Nya yang tidak tertandingi. Demikian juga, jika Dia hadir dengan segala anugerah, damai, dan sukacita-Nya pada orang percaya, maka Dia hadir dengan segala amarah-Nya kepada orang-orang durhaka.


Mari kita melihat satu ayat saja dalam Kitab Wahyu yang membantu kita memahami apa yang saya katakan di atas. Wahyu 20:10 berkata, “… dan Iblis, yang menyesatkan mereka, di lemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya.” Di sini dinyatakan bahwa Iblis dihukum di dalam neraka selama-lamanya. Di situ dia disiksa. Siapakah yang menyiksanya? Tentu Tuhan. Jadi Tuhan berada di neraka untuk menyiksa Iblis dengan murka-Nya yang menyala-nyala. Anda mungkin berkata, “Bukankah neraka itu sendiri adalah tempat siksaan, sehingga Tuhan tak perlu hadir di sana untuk menyiksa Iblis? Bukankah neraka itu sendiri dapat menyiksa Iblis?” Tetapi saya bertanya, “Siapakah yang menopang eksistensi neraka?” Jawabannya, tentu Tuhan dan oleh karenanya Dia hadir di sana. Jika neraka tidak ditopang oleh Tuhan, maka neraka akan hancur lebur seketika. Jadi, beranggapan bahwa Tuhan tidak hadir di neraka adalah anggapan yang mustahil.

Next Post Previous Post