1 Korintus 13:4–8: Kasih yang Tidak Pernah Berakhir

1 Korintus 13:4–8: Kasih yang Tidak Pernah Berakhir

I. Pendahuluan: Kasih Sebagai Inti dari Kekristenan

1 Korintus 13:4-8 sering disebut sebagai “Mazmur Kasih” atau “Himne Kasih Kristen.” Di tengah surat yang menegur kekacauan rohani jemaat Korintus—yang dipenuhi persaingan karunia, kesombongan, dan perpecahan—Paulus menulis puisi surgawi ini untuk menempatkan kasih sebagai mahkota dari semua karunia rohani.

Dalam pandangan Reformed, kasih bukan hanya perasaan manusiawi, melainkan buah Roh Kudus (Galatia 5:22) dan refleksi dari karakter Allah sendiri.
Kasih bukan sekadar etika moral, melainkan realitas teologis yang mengalir dari kasih Allah yang kekal kepada umat pilihan-Nya di dalam Kristus.

John Calvin menulis:

“Kasih adalah ikatan yang menghubungkan kita dengan Allah dan sesama. Di mana kasih sejati berkuasa, di situ seluruh hukum dipenuhi.”
(Commentary on 1 Corinthians 13)

II. Latar Belakang dan Tujuan Paulus

Jemaat Korintus sangat menonjol dalam karunia rohani (1Korintus 1:7), tetapi miskin dalam kasih. Mereka mengejar karunia spektakuler seperti nubuatan dan bahasa roh, namun melupakan roh kasih yang harus mengarahkan semua karunia itu.
Karunia tanpa kasih adalah simbol kosong (1Korintus 13:1–3).

Oleh sebab itu, Paulus menulis pasal ini untuk mengajarkan bahwa kasih bukan hanya salah satu karunia, tetapi jalan yang jauh lebih utama (1Korintus 12:31).

Menurut Louis Berkhof, kasih di sini bukan sekadar kasih manusiawi (eros atau philia), tetapi kasih ilahi yang berasal dari Allah, yang dalam Perjanjian Baru disebut agapē:

“Kasih agape adalah kehendak aktif untuk kebaikan orang lain, terlepas dari kelayakan mereka.” (Systematic Theology)

III. Eksposisi Ayat demi Ayat

1 Korintus 13:4 — “Kasih itu bersabar dan bermurah hati…”

a. Kasih yang Bersabar (makrothumei)

Kata Yunani makrothumei berarti “menahan amarah untuk waktu yang lama.”
Kasih sejati memiliki kekuatan menanggung kesalahan tanpa segera membalas.
Inilah kasih yang mencerminkan kesabaran Allah terhadap manusia berdosa.

John Calvin berkata:

“Kasih menunda penghukuman, tidak karena tidak tahu kesalahan, tetapi karena berharap akan pertobatan.”

Dalam konteks jemaat Korintus yang sering saling menuntut, Paulus menekankan bahwa kesabaran adalah tanda kedewasaan rohani.
Kasih tidak bereaksi cepat terhadap luka, tetapi berakar pada pengharapan akan karya Allah dalam orang lain.

b. Kasih yang Bermurah Hati (chresteuetai)

Kata ini berarti “berbuat baik secara aktif.”
Kasih bukan hanya tidak membalas kejahatan, tetapi membalas dengan kebaikan.

Charles Spurgeon berkata:

“Kasih sejati tidak hanya duduk diam menahan amarah, tetapi keluar untuk menyembuhkan dan memberkati.” (The Treasury of David)

Kasih tidak menunggu perlakuan baik untuk bertindak baik—ia adalah inisiatif aktif dari hati yang telah disentuh oleh kasih Allah.

1 Korintus 13:4b–5 — “Kasih itu tidak cemburu, tidak memegahkan diri, dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak pantas, tidak mencari kepentingan diri sendiri, tidak mudah marah, tidak memperhitungkan kesalahan orang lain.”

a. Kasih Tidak Cemburu (ou zeloi)

Kecemburuan adalah akar dari banyak perpecahan di Korintus. Mereka iri terhadap karunia orang lain, mengukur nilai diri berdasarkan prestasi rohani.
Kasih sejati justru bersukacita atas keberhasilan orang lain.

R.C. Sproul menulis:

“Kecemburuan adalah bentuk ketidakpuasan terhadap kedaulatan Allah. Kasih percaya bahwa Allah membagikan karunia sesuai dengan hikmat-Nya.” (The Holiness of God)

b. Tidak Memegahkan Diri (ou perpereuetai)

Kata ini berarti “membanggakan diri dengan ucapan.”
Kasih sejati tidak mencari perhatian atau pujian.
Paulus menyindir mereka yang menggunakan karunia untuk memperlihatkan kehebatan rohani.

c. Tidak Sombong (ou phusioutai)

Secara harfiah berarti “menggelembung.”
Kasih tidak membesar-besarkan diri, karena ia sadar bahwa semua yang dimiliki berasal dari kasih karunia.
Dalam teologi Reformed, ini menegaskan prinsip Soli Deo Gloria — kemuliaan hanya bagi Allah.

d. Tidak Melakukan yang Tidak Pantas

Kasih memiliki kepekaan etis. Ia tidak berperilaku kasar atau merendahkan orang lain, terutama dalam konteks ibadah dan persekutuan.

e. Tidak Mencari Kepentingan Diri Sendiri

Kasih menolak egoisme.
Calvin menulis:

“Tidak ada yang lebih bertentangan dengan kasih selain keinginan untuk mengutamakan diri di atas sesama.”

Kasih sejati selalu memandang diri sebagai pelayan, bukan pusat perhatian.

f. Tidak Mudah Marah

Kasih memiliki kendali diri (self-control). Ia tidak bereaksi berdasarkan emosi, tetapi berdasarkan prinsip rohani.

g. Tidak Memperhitungkan Kesalahan Orang Lain (ou logizetai to kakon)

Ini adalah bahasa akuntansi: “tidak mencatat kesalahan.”
Kasih sejati tidak menyimpan catatan dosa masa lalu.
Ia mencerminkan Allah yang “tidak memperhitungkan pelanggaran kita” (2Korintus 5:19).

Spurgeon menulis:

“Kasih tidak membawa buku dosa orang lain. Ia membuangnya ke laut, seperti Allah membuang dosa kita ke dalam laut pengampunan.”

1 Korintus 13:6 — “Tidak bersukacita atas ketidakbenaran, melainkan bersukacita bersama kebenaran.”

Kasih sejati tidak netral terhadap dosa. Ia tidak menutup mata terhadap kejahatan, melainkan berpihak pada kebenaran.

a. Kasih dan Kebenaran Tidak Bertentangan

Dalam pandangan Reformed, kasih dan kebenaran adalah dua sisi dari satu realitas ilahi.
Kasih tanpa kebenaran adalah sentimentalitas,
sementara kebenaran tanpa kasih adalah legalisme.

John Stott (teolog Reformed Injili) menulis:

“Kasih sejati tidak menoleransi kesalahan, tetapi memanggil kepada pertobatan dengan kelembutan.”

b. Sukacita dalam Kebenaran

Kasih bersukacita ketika kebenaran dinyatakan, ketika dosa diakui, dan ketika keadilan ditegakkan.
Ia menemukan kebahagiaan bukan dalam kejatuhan orang lain, melainkan dalam pemulihan mereka.

1 Korintus 13:7 — “Kasih itu menanggung segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, dan sabar menanggung segala sesuatu.”

Empat frasa ini menggambarkan ketekunan kasih.

a. Menanggung Segala Sesuatu (stegō)

Kata ini berarti “menutupi,” bukan dalam arti menyembunyikan dosa, tetapi melindungi dari penghukuman yang cepat.
Kasih menutup kesalahan orang lain dengan kasih karunia.

b. Mempercayai Segala Sesuatu

Kasih tidak sinis. Ia memilih untuk percaya yang terbaik tentang orang lain selama belum terbukti sebaliknya.
Namun, ini bukan naif, melainkan percaya kepada karya Allah dalam orang lain.

John Calvin berkata:

“Kasih lebih mudah tertipu daripada mencurigai. Ia lebih suka salah dalam kepercayaan daripada benar dalam kecurigaan.”

c. Mengharapkan Segala Sesuatu

Kasih selalu berorientasi pada masa depan, karena ia berdiri di atas pengharapan Injil.
Kasih tidak menyerah terhadap seseorang, sebab ia percaya Allah sanggup memulihkan siapa pun.

d. Sabar Menanggung Segala Sesuatu (hypomenei)

Kata ini mengandung ide bertahan di bawah tekanan.
Kasih sejati setia di tengah penderitaan.

Martyn Lloyd-Jones menulis:

“Kasih yang sejati bukan diuji oleh momen bahagia, tetapi oleh keteguhan di tengah badai.”

1 Korintus 13:8 — “Kasih tidak pernah berakhir.”

Inilah puncak dari seluruh pasal.
Semua karunia rohani akan berlalu: nubuatan, bahasa roh, pengetahuan.
Namun kasih tetap untuk selamanya.

Kasih adalah refleksi dari Allah yang kekal.
Karena Allah adalah kasih (1Yohanes 4:8), maka kasih tidak bisa berakhir, sebab kasih adalah hakikat ilahi yang ditanamkan ke dalam hati orang percaya.

John Owen menulis:

“Kasih adalah partisipasi dalam kehidupan Allah sendiri. Oleh sebab itu, ia tidak dapat musnah seperti karunia lain.” (Communion with God)

Dalam kekekalan nanti, kita tidak lagi membutuhkan iman (karena kita melihat) atau pengharapan (karena sudah tergenapi), tetapi kasih akan tetap ada selamanya.

IV. Prinsip Reformed: Kasih sebagai Bukti Regenerasi

Dalam teologi Reformed, kasih sejati hanya mungkin karena Roh Kudus memperbarui hati manusia.
Tanpa kelahiran baru (regeneration), manusia hanya mampu mencintai diri sendiri.
Kasih agape adalah buah dari anugerah yang mengubah hati batu menjadi hati daging (Yehezkiel 36:26).

Louis Berkhof menulis:

“Kasih Kristen adalah manifestasi dari kehidupan baru di dalam Kristus. Ia bukan hasil pendidikan moral, melainkan hasil penciptaan ulang oleh Roh Kudus.”

Karena itu, kasih adalah tanda orang pilihan dan bukti keselamatan sejati.

V. Kristus Sebagai Wujud Kasih yang Sempurna

Semua deskripsi kasih dalam ayat 4–8 menemukan pemenuhannya dalam pribadi Yesus Kristus.
Jika kita menggantikan kata “kasih” dengan “Kristus,” maka teks ini menjadi penggambaran yang sempurna tentang Dia:

Kristus itu bersabar dan bermurah hati,
Kristus tidak cemburu, tidak memegahkan diri, dan tidak sombong.
Kristus tidak mencari kepentingan diri sendiri,
Kristus menanggung segala sesuatu, percaya segala sesuatu, dan mengharapkan segala sesuatu.
Kristus tidak pernah berakhir.

Jonathan Edwards berkata:

“Kasih Allah mencapai puncaknya dalam salib Kristus; di sanalah keadilan dan kasih bertemu, dan dari sanalah semua kasih sejati mengalir.” (Charity and Its Fruits)

Melalui Kristus, kita bukan hanya melihat kasih, tetapi diperlengkapi untuk mengasihi.

VI. Aplikasi Praktis bagi Orang Percaya

  1. Kasih harus menjadi dasar semua pelayanan.
    Tanpa kasih, bahkan karunia terbesar menjadi kosong (1Korintus 13:1–3).

  2. Kasih sejati bukan perasaan, tetapi tindakan yang lahir dari ketaatan.
    Kasih aktif menolong, memberi, memaafkan, dan menanggung.

  3. Kasih menuntun pada kerendahan hati.
    Kesadaran akan kasih karunia meniadakan kesombongan rohani.

  4. Kasih menuntun kita kepada pengampunan.
    Kita tidak dapat menuntut balas ketika kita sadar bahwa kita telah diampuni lebih besar oleh Allah.

  5. Kasih tidak pernah gagal.
    Dunia berubah, manusia mengecewakan, tetapi kasih yang bersumber dari Allah tidak akan pernah hilang.

VII. Kesimpulan: Kasih sebagai Mahkota dari Iman dan Pengharapan

Dalam teologi Reformed, kasih adalah buah tertinggi dari pembenaran oleh iman.
Kasih tidak menyelamatkan kita, tetapi orang yang diselamatkan pasti mengasihi.

Kasih adalah bukti hidup dari pekerjaan Roh Kudus,
dan satu-satunya hal yang akan tetap kekal dalam kekekalan.

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini: iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1Korintus 13:13)

Next Post Previous Post