Kisah Para Rasul 10:34–35: Allah yang Tidak Memihak

Kisah Para Rasul 10:34–35: Allah yang Tidak Memihak

I. Pendahuluan: Sebuah Momen Teologis yang Mengubah Dunia

Kisah Para Rasul pasal 10 merupakan salah satu titik balik paling penting dalam sejarah keselamatan. Di sini, untuk pertama kalinya Injil diberitakan secara eksplisit kepada bangsa non-Yahudi melalui pertemuan Petrus dengan Kornelius, seorang perwira Romawi. Dua ayat ini — Kisah Para Rasul 10:34–35 — menandai momen pencerahan rohani bagi Petrus. Setelah melihat bagaimana Roh Kudus turun atas orang kafir, ia akhirnya menyadari bahwa kasih karunia Allah tidak dibatasi oleh etnis, bangsa, atau latar belakang sosial.

Ungkapan Petrus, “Sekarang aku benar-benar mengerti bahwa Allah tidak menunjukkan keberpihakan,” adalah deklarasi radikal pada zamannya. Dunia Yahudi terbiasa dengan batas-batas kesucian etnis dan hukum yang memisahkan mereka dari bangsa-bangsa lain. Tetapi Allah sendiri sedang memperluas horizon keselamatan — bukan dengan mengubah Injil, melainkan dengan menyingkapkan keluasan kasih karunia yang telah direncanakan sejak kekekalan.

Dalam terang teologi Reformed, bagian ini menunjukkan kedaulatan Allah dalam pemilihan bangsa-bangsa, dan bagaimana keselamatan yang universal dalam jangkauannya tetap partikular dalam pelaksanaannya: hanya mereka yang “takut akan Dia dan melakukan apa yang benar” — yaitu yang menanggapi panggilan kasih karunia — yang berkenan di hadapan-Nya.

II. Latar Belakang Historis dan Teologis

a. Dunia Yahudi dan Pandangan Eksklusif

Bagi orang Yahudi, bangsa mereka adalah umat pilihan Allah (Ulangan 7:6–8). Mereka benar: Allah memang memilih Israel sebagai saluran berkat. Namun, banyak di antara mereka keliru menafsirkan pemilihan itu sebagai hak istimewa etnis, bukan tanggung jawab misi. Mereka lupa janji Allah kepada Abraham: “Olehmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat” (Kejadian 12:3).

b. Kornelius: Simbol dari Bangsa-Bangsa

Kornelius, seorang perwira Romawi yang saleh, menggambarkan orang-orang non-Yahudi yang “takut akan Allah.” Ia bukan proselyte penuh (belum disunat), tetapi hatinya mengarah kepada Allah Israel. Kornelius mewakili mereka yang Allah tarik dengan kasih karunia, walau masih di luar pagar Israel.

c. Penyingkapan Allah kepada Petrus

Sebelum bertemu Kornelius, Petrus menerima penglihatan tentang kain berisi binatang haram (Kis. 10:9–16). Allah berkata, “Apa yang telah dinyatakan halal oleh Allah, jangan engkau nyatakan haram.” Penglihatan itu bukan hanya soal makanan, tetapi simbolisasi penerimaan Allah terhadap bangsa non-Yahudi. Maka ketika Roh Kudus turun atas Kornelius (ay. 44–46), Petrus memahami maknanya sepenuhnya: Allah tidak memihak bangsa manapun.

III. Eksposisi Kisah Para Rasul 10:34: “Sekarang aku benar-benar mengerti bahwa Allah tidak menunjukkan keberpihakan.”

a. “Sekarang aku benar-benar mengerti” – Ep’alēthen katalambanomai

Ungkapan ini menyiratkan realisasi yang mendalam. Petrus, seorang Yahudi taat, mengalami perubahan paradigma teologis. Ia menyadari kebenaran yang selama ini tertulis dalam nubuat-nubuat Perjanjian Lama, namun kini disingkapkan dengan nyata.

John Calvin menulis dalam komentarnya:

“Petrus tidak menemukan hal baru, tetapi kini memahami dengan lebih jelas apa yang telah diajarkan oleh para nabi, bahwa Allah tidak memandang muka. Kasih karunia-Nya bebas dari semua batasan manusia.”

Calvin menekankan bahwa Petrus bukan mengubah teologi Allah, melainkan menyingkapkan rencana Allah yang sejak semula universal.

b. “Allah tidak menunjukkan keberpihakan” – Ou estin prosōpolēmptēs ho Theos

Secara harfiah berarti “Allah tidak menerima muka (appearance).” Dalam konteks dunia kuno, hakim sering “menerima muka” — yaitu menghakimi berdasarkan status sosial, etnis, atau kekayaan. Petrus menyatakan bahwa Allah tidak seperti manusia; Ia tidak menilai berdasarkan asal-usul, tetapi berdasarkan kasih karunia dan kebenaran hati.

R.C. Sproul mengomentari ayat ini:

“Ketidakberpihakan Allah bukan berarti Ia tidak membeda-bedakan antara benar dan salah, tetapi bahwa Ia tidak mengizinkan faktor manusiawi apa pun menghalangi kedaulatan kasih karunia-Nya.” (The Holiness of God)

Dalam teologi Reformed, ini sejalan dengan prinsip sola gratia: keselamatan bukan hasil etnis, moralitas, atau ritual, tetapi semata-mata anugerah Allah.

IV. Eksposisi Kisah Para Rasul 10:35: “Namun, di setiap bangsa, orang yang takut akan Dia dan melakukan apa yang benar, berkenan kepada-Nya.”

a. “Di setiap bangsa” – En panti ethnei

Ungkapan ini menandai dimensi global dari Injil. Allah bukan hanya Allah Israel, tetapi Allah seluruh bangsa.
Namun perlu ditegaskan, ayat ini tidak mengajarkan pluralisme atau keselamatan melalui perbuatan baik. Paulus menegaskan bahwa hanya melalui Kristus manusia dibenarkan (Roma 3:22–24).

Petrus sedang berbicara tentang ketersediaan Injil untuk semua bangsa, bukan kriteria keselamatan di luar Kristus.

John Stott menjelaskan:

“Ayat ini bukan tentang keselamatan tanpa Kristus, melainkan tentang penerimaan Allah terhadap siapa pun yang merespons kasih karunia-Nya dengan iman yang sejati, apa pun asal bangsanya.” (The Message of Acts)

b. “Orang yang takut akan Dia” – Ho phoboumenos ton Theon

Rasa takut di sini bukan ketakutan servil, tetapi rasa hormat dan penyembahan sejati.
Dalam konteks Reformed, “takut akan Tuhan” adalah tanda regenerasi hati oleh Roh Kudus. Tidak ada manusia secara alami takut akan Allah (Rm. 3:18). Jadi, jika seseorang benar-benar takut akan Dia, itu adalah bukti anugerah yang bekerja.

Matthew Henry berkata:

“Ketakutan akan Tuhan adalah akar dari kesalehan; dan di mana hal ini ada, Allah melihat bukti kehidupan yang berasal dari-Nya sendiri.” (Commentary on the Whole Bible)

c. “Melakukan apa yang benar” – Ergazomenos dikaiosynēn

Tindakan benar di sini bukan dasar keselamatan, melainkan buah dari iman sejati.
Reformed theology menegaskan bahwa perbuatan benar tidak mendahului pembenaran, melainkan mengalir dari hati yang telah dibenarkan.

John Calvin kembali menulis:

“Kita tidak menjadi benar karena melakukan kebenaran, melainkan kita melakukan kebenaran karena telah dibenarkan.”

Dengan demikian, “orang yang melakukan apa yang benar” adalah mereka yang, setelah mengalami kasih karunia Allah, menunjukkan imannya melalui ketaatan.

d. “Berkenan kepada-Nya” – Dechton autō estin

Ungkapan ini berarti “diterima oleh Allah.” Dalam konteks keseluruhan kitab Kisah Para Rasul, “penerimaan Allah” ini bukan berarti keselamatan otomatis, melainkan undangan kepada persekutuan Injil.
Allah sedang membuka pintu bagi bangsa-bangsa untuk datang kepada Kristus tanpa harus terlebih dahulu menjadi Yahudi.

V. Teologi Reformed dan Prinsip Kedaulatan Kasih Karunia

Dalam teologi Reformed, perikop ini bukan sekadar kisah sosial tentang inklusivitas, melainkan manifestasi kedaulatan kasih karunia Allah.

  1. Pemilihan Allah Tidak Berdasarkan Etnis, tetapi Kasih Karunia.
    Allah tidak memihak bangsa Israel karena mereka layak, melainkan karena janji-Nya kepada Abraham. Demikian juga, bangsa-bangsa lain kini disertakan bukan karena kebaikan mereka, tetapi karena kasih karunia yang sama (Roma 9:15–16).

  2. Keselamatan Bersifat Universal dalam Cakupan, tetapi Partikular dalam Aplikasi.
    Injil diberitakan kepada semua bangsa (universal offer), tetapi hanya mereka yang dipilih dan dilahirkan kembali oleh Roh Kudus yang akan menanggapinya dalam iman (particular redemption).

  3. Iman Sejati Menampakkan Diri dalam Rasa Takut dan Ketaatan.
    Reformed theology menolak dikotomi palsu antara iman dan perbuatan. Iman sejati selalu bekerja melalui kasih (Galatia 5:6).

VI. Kristus, Penggenapan dari Ketidakberpihakan Allah

Ayat ini menemukan puncaknya dalam pribadi Yesus Kristus.
Dialah gambar Allah yang sempurna, yang datang untuk menebus orang Yahudi dan non-Yahudi (Efesus 2:14–16). Di dalam Kristus, dinding pemisah dirobohkan.

Ketika Petrus berkata, “Allah tidak memihak,” ia sedang menegaskan bahwa salib Kristus adalah pusat kesetaraan rohani.
Di salib, semua manusia berdiri di tanah yang sama — sama berdosa, sama membutuhkan kasih karunia.

B.B. Warfield, teolog Reformed besar, berkata:

“Salib Kristus menghancurkan semua bentuk keangkuhan manusia. Tidak ada bangsa, ras, atau status yang memiliki keistimewaan di hadapan kasih karunia Allah.”

VII. Aplikasi Teologis dan Praktis bagi Gereja Masa Kini

1. Gereja Dipanggil Menjadi Komunitas Tanpa Diskriminasi

Gereja harus mencerminkan karakter Allah yang tidak memihak.
Kasih karunia yang kita terima menuntut kita untuk membuka tangan kepada semua orang tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, atau etnis.

2. Injil Harus Diumumkan kepada Segala Bangsa

Kisah Kornelius menegaskan mandat misi universal.
Teologi Reformed menekankan bahwa Allah berdaulat dalam pemilihan, tetapi juga memerintahkan Gereja untuk memberitakan Injil kepada semua orang.

3. Ketaatan Adalah Bukti Iman yang Hidup

“Melakukan apa yang benar” bukanlah syarat keselamatan, melainkan tanda bahwa kasih karunia telah bekerja.
Seorang yang benar-benar takut akan Tuhan akan hidup dalam kebenaran yang nyata.

4. Rendahkanlah Diri di Hadapan Kasih Karunia Allah

Ketika Petrus berkata “sekarang aku benar-benar mengerti,” itu menandakan pertobatan intelektual dan rohani.
Kita pun perlu terus dibaharui dalam pengertian kita tentang luasnya kasih Allah.

VIII. Kesimpulan: Injil untuk Semua Bangsa, tetapi Hanya oleh Anugerah

Kisah Para Rasul 10:34–35 adalah pengingat abadi bahwa Allah bekerja melampaui batas manusia.
Ia tidak terikat oleh etnis, budaya, atau status sosial. Namun, Ia tetap kudus dan benar — hanya mereka yang merespons kasih karunia-Nya dalam iman dan ketaatan yang “berkenan kepada-Nya.”

Dalam teologi Reformed, ayat ini memperlihatkan keindahan keseimbangan Injil:

  • Kasih karunia yang universal dalam undangan,

  • namun efektif hanya bagi orang pilihan.

Seperti kata Jonathan Edwards:

“Kasih karunia Allah adalah samudra tanpa batas; hanya mereka yang dijangkau oleh tangan kasih Kristus yang akan menikmati kedalamannya.” (The Religious Affections)

Next Post Previous Post