Kejadian 11:5–9: Ketika Allah Turun

Kejadian 11:5–9: Ketika Allah Turun

I. Pendahuluan: Menara Babel dan Kejatuhan Kolektif Manusia

Kisah Menara Babel adalah salah satu peristiwa paling simbolis dalam Kitab Kejadian. Setelah air bah, manusia kembali berkembang biak dan mengisi bumi sebagaimana perintah Allah kepada Nuh (Kejadian 9:1). Namun, di tengah pertumbuhan itu muncul kembali kecenderungan lama: pemberontakan terhadap Allah.
Manusia yang seharusnya tersebar untuk memenuhi bumi justru memilih untuk berkumpul dan membangun kota besar dengan menara yang mencapai langit (Kej. 11:4).

Motivasi mereka jelas: “Marilah kita membuat nama bagi kita sendiri.” (Kejadian 11:4)
Inilah akar dosa: manusia ingin memuliakan diri sendiri, bukan Allah.

Kejadian 11:5–9 mencatat respon Allah terhadap kesombongan manusia. Bagian ini menunjukkan paradoks yang sangat indah: manusia ingin “naik ke langit”, tetapi Allah justru “turun” untuk melihat mereka.

Dalam perspektif teologi Reformed, peristiwa ini memperlihatkan tiga hal besar:

  1. Kedaulatan Allah atas sejarah manusia.

  2. Kerusakan total (total depravity) dari hati manusia yang ingin mandiri dari Allah.

  3. Kasih karunia Allah yang memelihara rencana penebusan melalui penghakiman yang redemptif.

II. Konteks Historis dan Teologis

Menara Babel dibangun di tanah Sinear (Kej. 11:2), yang kelak menjadi Babel atau Babilonia — simbol dari kebanggaan dunia sepanjang sejarah Alkitab.
Dalam budaya Mesopotamia kuno, menara seperti itu disebut ziggurat, yaitu tempat yang dipercaya sebagai tangga antara surga dan bumi, di mana dewa-dewi turun dan manusia naik untuk bersekutu dengan mereka.

Namun, proyek Babel bukan sekadar arsitektur monumental. Ia merupakan manifestasi dari teologi palsu: manusia ingin mencapai ilahi dengan kekuatannya sendiri, tanpa perantaraan kasih karunia.
Dengan kata lain, Babel adalah agama keselamatan oleh perbuatan manusia.

III. Eksposisi Ayat per Ayat

Kejadian 11:5 — “Akan tetapi, TUHAN turun untuk melihat kota dan menara yang telah dibangun oleh anak-anak manusia itu.”

Ungkapan “TUHAN turun” merupakan bahasa antropomorfis — Allah tidak membutuhkan tindakan turun secara fisik untuk melihat. Namun, penulis menggunakan metafora ini untuk menegaskan kontras antara kebesaran Allah dan kecilnya usaha manusia.

John Calvin menulis:

“Ini adalah ironi ilahi. Ketika manusia berpikir mereka telah membangun sesuatu yang menjulang tinggi sampai ke langit, Allah harus ‘turun’ untuk melihatnya, seolah-olah itu terlalu kecil untuk dilihat dari surga.”
(Commentary on Genesis 11:5)

Kata “anak-anak manusia” menegaskan identitas mereka sebagai makhluk ciptaan yang terbatas, namun berani menantang Pencipta.
Kesombongan manusia menjadi begitu besar, tetapi dalam pandangan Allah, semua itu hanyalah mainan kecil dari makhluk fana.

R.C. Sproul menambahkan dalam Chosen by God:

“Setiap kali manusia mencoba naik ke surga dengan kekuatan sendiri, Allah harus turun—bukan karena Ia tidak melihat, tetapi untuk menunjukkan betapa mustahilnya manusia mencapai Allah tanpa kasih karunia.”

Kejadian 11:6 — “TUHAN berkata, ‘Lihat! Mereka ini adalah satu bangsa dan mereka memakai bahasa yang sama, dan ini baru awal dari yang dapat mereka lakukan. Mulai sekarang, segala yang mereka rencanakan untuk dilakukan, tidak ada yang tidak terlaksana.’”

Allah mengakui bahwa manusia memiliki kemampuan luar biasa ketika bersatu dalam tujuan yang salah.
Persatuan mereka bukanlah dosa; motivasinya lah yang jahat.
Mereka bersatu bukan untuk memuliakan Allah, melainkan untuk menyaingi-Nya.

Dalam teologi Reformed, ini menggambarkan doktrin Total Depravity (kerusakan total): bahkan kemampuan terbaik manusia pun dapat menjadi alat pemberontakan terhadap Allah.

John Calvin menulis:

“Pikiran manusia adalah bengkel berhala yang tidak pernah berhenti bekerja. Bahkan kebaikan manusia yang tampak, bila dipisahkan dari Allah, menjadi sumber kejahatan yang lebih besar.” (Institutes II.1.8)

Tindakan Allah bukanlah takut kepada manusia, tetapi menyelamatkan manusia dari kebinasaan diri. Jika Allah tidak campur tangan, ambisi mereka akan membawa kehancuran lebih dalam.

Herman Bavinck menafsirkan:

“Intervensi Allah di Babel bukanlah hukuman murni, melainkan tindakan pemeliharaan. Allah menghalangi manusia agar mereka tidak membangun kerajaan tanpa Allah.” (Reformed Dogmatics, Vol. 2)

Kejadian 11:7 — “Ayo, Kita turun dan mengacaukan bahasa mereka supaya mereka tidak dapat memahami satu sama lain.”

Perhatikan penggunaan kata “Kita.” Ini merupakan bentuk jamak yang juga muncul di Kejadian 1:26 (“Baiklah Kita menjadikan manusia...”).
Ini menunjuk kepada keberadaan Allah Tritunggal.
Dalam tindakan penghakiman ini, ketiga Pribadi Ilahi bertindak bersama.

Tindakan “mengacaukan bahasa” bukan hanya perubahan linguistik, melainkan penghalangan rohani terhadap kesombongan manusia.
Ketika bahasa dipecah, kesatuan manusia yang salah arah pun hancur.
Namun di balik itu, terdapat kasih karunia tersembunyi: Allah sedang menyebarkan manusia untuk memenuhi bumi, sesuai perintah-Nya semula (Kejadian 9:1).

R.C. Sproul mengomentari:

“Apa yang tampak seperti penghukuman, sebenarnya adalah penegakan kembali tujuan Allah yang semula. Allah membubarkan rencana manusia agar rencana-Nya sendiri digenapi.” (Essential Truths of the Christian Faith)

Kejadian 11:8 — “Lalu, TUHAN mencerai-beraikan mereka ke seluruh bumi. Mereka pun berhenti membangun kota itu.”

Ayat ini menandai klimaks dari penghakiman Babel.
Yang menarik, kata “mencerai-beraikan” (pūts dalam Ibrani) digunakan juga dalam konteks penghakiman lain — menunjukkan bahwa Allah berdaulat atas pergerakan sejarah bangsa-bangsa.

Manusia ingin menciptakan unity without God — kesatuan tanpa Allah. Namun Allah justru menghendaki diversity under God — keberagaman di bawah pemerintahan-Nya.

Proyek Babel gagal, bukan karena kekurangan kemampuan, tetapi karena tidak ada berkat Allah.
Tanpa restu-Nya, setiap usaha manusia untuk membangun surga di bumi pasti runtuh.

Matthew Henry menulis:

“Ketika manusia menolak untuk menyebar sebagaimana Allah perintahkan, Allah memaksa mereka dengan tangan-Nya sendiri. Lebih baik kita taat secara sukarela daripada dipecah oleh hukuman.”

Kejadian 11:9 — “Karena itu, tempat itu disebut Babel karena di sana TUHAN mengacaukan bahasa seluruh bumi, dan dari tempat itu TUHAN mencerai-beraikan mereka ke seluruh muka bumi.”

Nama Babel berasal dari akar kata Ibrani balal yang berarti “mengacaukan.”
Namun, secara ironis, dalam bahasa Babilonia, Bab-ilu berarti “Gerbang Allah.”
Manusia ingin membangun “gerbang menuju Allah,” tetapi hasilnya justru kekacauan total.

Babel menjadi simbol dari sistem dunia yang menentang Allah.
Dalam Wahyu 17–18, “Babel besar” digambarkan sebagai pusat pemberontakan rohani — simbol kesatuan manusia yang menolak Kristus.
Namun, sebagaimana Babel kuno dihancurkan, Babel akhir zaman pun akan jatuh di bawah penghakiman Allah.

Augustinus, dalam The City of God, menulis:

“Sejarah manusia adalah sejarah dua kota: Kota Allah dan kota manusia. Babel adalah lambang dari kota manusia — dibangun atas cinta diri sampai kebencian terhadap Allah, sementara Yerusalem dibangun atas cinta kepada Allah sampai penyangkalan diri.”

IV. Tema Teologis Utama dalam Perspektif Reformed

1. Kedaulatan Allah atas Sejarah dan Bahasa

Allah memegang kendali mutlak atas budaya, komunikasi, dan peradaban manusia.
Perbedaan bahasa bukan kecelakaan sejarah, tetapi bagian dari rancangan ilahi untuk mengatur penyebaran manusia.
Di balik kekacauan Babel, ada rencana penebusan lintas bangsa yang akan disatukan kembali di dalam Kristus (Efesus 2:14–16).

2. Dosa sebagai Kesombongan Kolektif

Babel menunjukkan bukan hanya dosa individu, tetapi juga dosa struktural dan budaya — sistem manusia yang menolak Allah.
Dalam teologi Reformed, dosa bukan hanya tindakan, melainkan kondisi hati yang menyeluruh (coram Deo).
Babel adalah prototipe peradaban tanpa Allah — sama seperti dunia modern yang membangun “menara teknologi, ekonomi, dan filsafat” untuk menggantikan Tuhan.

3. Kasih Karunia dalam Penghakiman

Setiap tindakan penghakiman Allah dalam Alkitab mengandung elemen kasih karunia.
Allah tidak membinasakan Babel; Ia hanya membatasi kejahatan mereka.
Ini adalah kasih karunia umum (common grace) yang menjaga dunia agar tidak jatuh dalam kehancuran total.

Louis Berkhof menulis:

“Kasih karunia umum adalah tindakan pemeliharaan Allah untuk menahan konsekuensi penuh dari dosa, agar rencana penebusan dapat berlangsung.” (Systematic Theology, p. 432)

4. Kristus sebagai Anti-Tipe Babel

Di Babel, bahasa manusia dipecah; di Pentakosta (Kis. 2), bahasa disatukan kembali oleh Roh Kudus.
Babel memisahkan manusia karena kesombongan; Pentakosta menyatukan manusia karena Injil.
Ini menunjukkan bahwa Kristus adalah penggenapan dari segala kekacauan Babel.

John Owen berkata:

“Roh Kudus membalikkan kutuk Babel dengan mengikat hati manusia dari segala bangsa dalam satu bahasa rohani — bahasa kasih Kristus.”

V. Aplikasi bagi Gereja Masa Kini

1. Waspadai Kesombongan Rohani

Gereja bisa jatuh ke dalam dosa Babel jika lebih sibuk membangun nama sendiri daripada meninggikan Kristus.
Pelayanan tanpa ketergantungan kepada Allah akan berakhir dalam kebingungan rohani.

2. Rindukan Kesatuan yang Didasarkan pada Injil

Kesatuan sejati hanya mungkin jika berakar pada kebenaran Firman dan karya Roh Kudus, bukan pada strategi manusia.
Gereja dipanggil untuk bersatu dalam Kristus, bukan dalam ambisi institusional.

3. Lihatlah Keberagaman Sebagai Anugerah

Allah memecah bahasa bukan untuk menghukum selamanya, melainkan untuk menyiapkan panggung bagi Injil yang lintas budaya.
Misi global Gereja adalah penggenapan dari “penyebaran Babel” — semua bangsa, bahasa, dan suku akan memuji Anak Domba (Wahyu 7:9).

4. Bersandarlah pada Kedaulatan Allah

Ketika dunia tampak kacau dan bahasa manusia penuh konflik, kita dapat yakin bahwa Allah tetap memegang kendali.
Babel adalah bukti bahwa tidak ada sistem manusia yang bisa menyingkirkan Allah dari takhta-Nya.

VI. Penutup: Dari Babel ke Yerusalem Baru

Kejadian 11:5–9 bukan sekadar catatan arkeologis, tetapi wahyu tentang kondisi hati manusia.
Setiap kali manusia berusaha mencapai Allah dengan kekuatannya sendiri, Allah harus “turun” — bukan karena Ia tidak tahu, tetapi karena Ia berbelas kasihan.

Namun kisah ini tidak berakhir di Babel.
Rencana Allah berlanjut melalui Abraham (Kejadian 12:1–3) — yang langsung mengikuti kisah ini — sebagai awal dari umat baru yang hidup dalam ketaatan, bukan kesombongan.

Di akhir sejarah, Babel dunia akan runtuh (Wahyu 18), dan Yerusalem baru akan turun dari surga (Wahyu 21:2).
Di kota itu, tidak ada lagi kebingungan bahasa atau perpecahan, karena semua bangsa akan menyembah Allah dengan satu suara:

“Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di takhta dan bagi Anak Domba!” (Wahyu 7:10)

Next Post Previous Post