Peziarah Menuju Sion: Perjalanan Iman Umat Allah

I. Pendahuluan: Panggilan Menjadi Peziarah
Seluruh kisah Alkitab dapat dibaca sebagai perjalanan ziarah menuju Sion, tempat kehadiran Allah. Dari taman Eden yang hilang (Kej. 3) hingga Yerusalem baru yang turun dari surga (Why. 21), manusia selalu berada dalam perjalanan kembali kepada Allah.
Dalam bahasa iman, setiap orang percaya adalah seorang peziarah (pilgrim) — seseorang yang meninggalkan dunia lama menuju tanah perjanjian rohani. Seperti Abraham, “ia menantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah” (Ibrani 11:10).
Mazmur 84:5–7 menegaskan dengan indah:
“Berbahagialah orang yang kekuatannya di dalam Engkau, yang hatinya tertuju kepada jalan-jalan-Mu. Apabila mereka berjalan melalui lembah Baka, mereka menjadikannya tempat yang bermata air; bahkan hujan awal menutupi tempat itu dengan berkat. Mereka berjalan makin lama makin kuat, sampai mereka menghadap Allah di Sion.”
Itulah inti dari tema Zion’s Pilgrim: perjalanan iman yang penuh perjuangan, tetapi berujung pada perjumpaan dengan Allah di tempat kediaman-Nya yang mulia.
Dalam teologi Reformed, kehidupan orang percaya disebut “ziarah iman” (pilgrimage of faith), yang dimulai dengan panggilan kasih karunia Allah dan berakhir dalam kemuliaan.
“Kita bukan warga dunia ini; kita sedang dalam perjalanan menuju rumah kita yang sejati.”
— John Calvin, Commentary on Hebrews 11
II. Sion dalam Narasi Alkitab: Dari Gunung Dunia ke Gunung Allah
1. Sion Historis
Secara historis, Sion merujuk pada gunung di Yerusalem tempat Daud mendirikan takhtanya (2 Samuel 5:7). Dalam konteks Perjanjian Lama, Sion adalah simbol pemerintahan Allah di tengah umat-Nya — tempat Bait Suci berdiri dan kehadiran Allah dinyatakan melalui kemuliaan-Nya (Shekinah).
Mazmur sering menyebut Sion sebagai “kota Allah yang kudus” (Mazmur 48:2) dan “tempat kediaman TUHAN” (Mazmur 132:13–14).
Namun, Sion lebih dari sekadar tempat geografis; ia adalah simbol realitas rohani — persekutuan antara Allah dan umat-Nya.
2. Sion Eskatologis
Dalam Perjanjian Baru, makna Sion melampaui Yerusalem duniawi.
Penulis Ibrani menulis:
“Kamu telah datang ke gunung Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi.” (Ibrani 12:22)
Artinya, Sion sejati adalah tempat persekutuan kekal dengan Allah di dalam Kristus.
Perjalanan ke Sion adalah gambaran perjalanan iman umat Allah dari dunia fana menuju kekekalan.
Herman Bavinck menulis:
“Sion adalah lambang dari dunia yang diperbaharui, di mana Allah tinggal di tengah umat-Nya. Seluruh sejarah keselamatan adalah ziarah menuju Sion surgawi.” (Reformed Dogmatics, vol. 4)
III. Peziarah Pertama: Abraham dan Iman yang Melangkah
Ibrani 11 menampilkan Abraham sebagai arketipe peziarah iman. Ia meninggalkan Ur-Kasdim, bukan tahu persis ke mana ia akan pergi, tetapi percaya kepada Allah.
“Karena iman Abraham taat ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya; lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.” (Ibrani 11:8)
Abraham hidup sebagai orang asing dan peziarah (parepidemos dalam Yunani) — istilah yang juga dipakai untuk menggambarkan orang percaya (1 Petrus 2:11).
John Calvin menafsirkan:
“Hidup iman berarti hidup sebagai pengembara; kita berjalan di dunia ini tanpa rumah tetap, sebab rumah kita ada di surga.” (Institutes, III.9.6)
Jonathan Edwards menambahkan:
“Setiap langkah iman adalah langkah menuju Sion. Dunia ini hanyalah padang pasir, sedangkan Sion adalah rumah perhentian jiwa yang kekal.” (Religious Affections, Part III)
Abraham bukan hanya berjalan secara fisik, melainkan juga secara rohani — meninggalkan keyakinan duniawi dan menggantinya dengan pengharapan akan janji Allah.
IV. Mazmur 84: Jiwa yang Rindu ke Rumah Tuhan
Mazmur 84 menjadi salah satu teks paling puitis tentang ziarah iman.
“Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Jiwaku merana karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN.” (Mazmur 84:2–3)
Mazmur ini ditulis oleh bani Korah — kelompok penyanyi yang melayani di Bait Suci. Mereka memahami betul kerinduan untuk berada di hadirat Allah.
1. Kerinduan yang Suci
Roh yang rindu kepada Allah adalah tanda kehidupan rohani sejati.
Kerinduan menuju Sion rohani menunjukkan bahwa iman sejati selalu bergerak menuju Allah, bukan menjauh.
John Owen menulis:
“Tanda orang yang dilahirkan kembali adalah kerinduan terus-menerus akan persekutuan dengan Allah. Jiwa yang tidak merindukan Sion belum pernah melihat kemuliaannya.” (Communion with God)
2. Lembah Baka: Simbol Penderitaan
Mazmur 84:6 berbicara tentang “lembah Baka” — secara harfiah berarti “lembah tangisan.”
Namun, para peziarah menjadikannya tempat sumber air.
Artinya, bahkan penderitaan dalam perjalanan iman dapat diubah menjadi berkat melalui kehadiran Allah.
Matthew Henry menafsirkan:
“Orang yang menuju Sion membawa hujan berkat ke mana pun ia berjalan. Air mata menjadi mata air, karena Allah berjalan bersamanya.”
Dalam teologi Reformed, penderitaan bukanlah kegagalan iman, melainkan alat kasih karunia untuk menyucikan dan meneguhkan peziarah menuju kemuliaan.
V. Ibrani 12: Sion sebagai Tujuan Ziarah
Ibrani 12:22–24 menggambarkan puncak dari seluruh perjalanan iman:
“Kamu telah datang ke gunung Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi, kepada beribu-ribu malaikat, kepada jemaat sulung yang terdaftar di surga, dan kepada Allah, Hakim semua orang, serta kepada roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna, dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru.”
1. Perbedaan antara Sinai dan Sion
Sebelum ayat ini, penulis membandingkan dua gunung: Sinai (tempat hukum dan ketakutan) dan Sion (tempat kasih karunia dan damai).
Peziarah iman tidak lagi menuju gunung ketakutan, tetapi gunung kasih karunia yang telah ditebus oleh Kristus.
R.C. Sproul menjelaskan:
“Sinai melambangkan manusia di bawah hukum; Sion melambangkan manusia di bawah kasih karunia. Kita berjalan bukan untuk mendapatkan Allah, tetapi karena telah dimiliki oleh-Nya.” (The Holiness of God)
2. Kehadiran Kristus: Pengantara di Sion
Sion rohani adalah tempat di mana Kristus, Pengantara kita, memerintah. Ia adalah jalan, tujuan, dan kekuatan dalam seluruh perjalanan ziarah.
Melalui darah-Nya, kita memperoleh akses ke Sion surgawi (Ibrani 10:19–22).
“Yesus bukan hanya tujuan, tetapi juga jalan ke Sion. Ia berjalan bersama kita, dan melalui Dia, kita tiba di rumah Bapa.”
— Charles Spurgeon, Morning by Morning
VI. Sion dan Gereja di Dunia
1. Gereja sebagai Peziarah di Dunia
Reformed theology sering menyebut Gereja sebagai ecclesia peregrinans — Gereja yang sedang berziarah.
Selama di dunia, Gereja hidup di antara dua kota: Babel (sistem dunia yang menolak Allah) dan Sion (kerajaan Allah yang kekal).
Augustinus dalam The City of God menulis:
“Ada dua cinta yang membentuk dua kota: cinta diri yang membawa kepada Babel, dan cinta kepada Allah yang membawa kepada Sion.”
Maka, hidup sebagai Gereja berarti menolak menjadi bagian dari Babel modern — dunia yang mencari kemuliaan sendiri — dan memilih berjalan menuju Sion dengan iman, pengharapan, dan kasih.
2. Liturgi Sebagai Perjalanan ke Sion
Ibadah Kristen adalah cerminan mini dari perjalanan ke Sion.
Ketika umat Allah berkumpul, mereka mengalami prolepsis (gambaran awal) dari persekutuan kekal di Yerusalem baru.
Herman Bavinck menulis:
“Setiap ibadah adalah langkah menuju kekekalan. Gereja di bumi adalah bayangan dari Gereja di Sion surgawi.”
Dengan demikian, setiap doa, setiap mazmur, setiap perjamuan kudus adalah langkah nyata dalam perjalanan menuju rumah Allah.
VII. Peziarah Modern: Tantangan dan Penghiburan
1. Tantangan: Dunia yang Mengikat
Peziarah modern tidak berjalan di padang pasir, tetapi di tengah dunia yang menawarkan kemudahan, kesenangan, dan kebanggaan diri.
Kita tergoda untuk menetap di Babel, bukan melangkah menuju Sion.
Namun, iman sejati tidak nyaman di dunia ini.
Sebagaimana ditulis oleh Petrus:
“Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihatkan kamu, supaya kamu sebagai pendatang dan perantau menjauhkan diri dari keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.” (1 Petrus 2:11)
2. Penghiburan: Allah Menyertai Peziarah-Nya
Allah tidak hanya menunggu di ujung perjalanan; Ia berjalan bersama kita.
Seperti dalam Mazmur 23, Ia menuntun, memelihara, dan melindungi di setiap lembah gelap.
John Bunyan menggambarkan ini dalam The Pilgrim’s Progress:
“Ketika Peziarah melihat gerbang Sion dari kejauhan, air matanya berubah menjadi nyanyian.”
Dalam Reformed spirituality, penyertaan Allah dalam ziarah iman adalah bukti kasih karunia yang tidak dapat digagalkan.
VIII. Dari Babel ke Sion: Perjalanan Eskatologis
Kisah Babel (Kej. 11) adalah kontras dari Sion.
Babel adalah proyek manusia untuk mencapai surga tanpa Allah; Sion adalah karya Allah yang menurunkan surga ke bumi.
Peziarah sejati tidak membangun menara, melainkan menantikan kota yang turun dari surga (Wahyu 21:2).
Ziarah iman bukan perjalanan ke atas, tetapi perjalanan bersama Allah yang turun mendekat dalam Kristus.
Geerhardus Vos menulis:
“Seluruh sejarah penebusan adalah sejarah Allah yang turun untuk membawa manusia naik — bukan melalui tangga Babel, tetapi melalui salib Kristus.” (Biblical Theology, p. 301)
IX. Kesudahan Peziarah: Yerusalem Baru
Puncak dari perjalanan ini digambarkan dalam Wahyu 21–22.
Di sana, umat Allah tidak lagi berjalan, karena telah tiba.
Tidak ada lagi air mata, dosa, atau kematian.
“Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan.” (Wahyu 21:2)
Di sanalah peziarah menemukan perhentiannya.
Bukan lagi Bait di Sion, tetapi Allah sendiri menjadi Bait dan terang kekal.
Jonathan Edwards menulis dengan indah:
“Peziarah akan tiba di rumah yang selama ini ia rindukan. Ia akan masuk ke dalam sukacita Allah dan tinggal di sana selamanya.” (Heaven is a World of Love)
X. Penutup: Peziarah yang Tidak Sendiri
Setiap orang percaya sedang berjalan menuju Sion.
Kita berjalan dalam iman, melalui lembah air mata, dengan mata tertuju pada Kristus yang memanggil kita dari puncak gunung.
Kehidupan ini bukan sekadar perjalanan moral, melainkan ziarah rohani menuju kemuliaan.
Setiap langkah adalah kasih karunia; setiap rintangan adalah alat didikan; setiap air mata adalah benih kemuliaan.
“Mereka berjalan makin lama makin kuat, sampai mereka menghadap Allah di Sion.” (Mazmur 84:7)