Daya Tarik Negatif dari Surga

Pendahuluan: Surga yang Menarik Karena Apa yang Tidak Ada di Sana
Ketika orang Kristen berbicara tentang surga, umumnya yang dibayangkan adalah keindahan yang luar biasa — kemuliaan Allah, malaikat yang memuji, dan sukacita yang tak berkesudahan. Namun, di balik semua hal yang “ada” di surga, ada daya tarik yang sering diabaikan: apa yang tidak ada di sana.
Inilah yang oleh sebagian teolog Reformed disebut sebagai “negative attractions of heaven” — daya tarik yang bersumber dari ketiadaan hal-hal yang mencemari hidup manusia di dunia berdosa ini.
Surga menarik bukan hanya karena hadirat Allah, tetapi karena di sana tidak ada dosa, tidak ada kematian, tidak ada air mata, dan tidak ada keterpisahan dari Allah.
Charles Spurgeon pernah berkata:
“Jika engkau ingin melihat kemuliaan surga, lihatlah segala penderitaan dan kesedihan di dunia ini — lalu bayangkan dunia tanpa semua itu. Itulah surga.”
(Sermon: “The Joys of Heaven,” Metropolitan Tabernacle Pulpit)
Tema ini tidak hanya sentimental; ia berakar dalam Alkitab. Kitab Wahyu menutup kesaksian Alkitab dengan penglihatan surgawi yang menonjolkan ketiadaan:
“Dia akan menghapus segala air mata dari mata mereka; dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” (Wahyu 21:4, AYT)
Surga adalah keadaan sempurna di mana segala hal yang merusak ciptaan Allah telah dihapuskan sepenuhnya.
1. Tidak Ada Lagi Dosa (No More Sin)
a. Dosa — sumber segala penderitaan manusia
Segala bentuk kejahatan, penderitaan, dan perpisahan dengan Allah berakar pada dosa (Kejadian 3).
Dosa merusak gambar Allah dalam manusia, memisahkan ciptaan dari Sang Pencipta, dan menimbulkan maut sebagai upahnya (Roma 6:23).
Namun, di surga, realitas dosa itu tidak akan pernah lagi muncul.
Jonathan Edwards menulis:
“Di surga, dosa tidak mungkin ada. Alam yang baru itu adalah kerajaan kesucian mutlak, di mana tidak ada satu pun benih kejahatan yang dapat tumbuh.”
(The Works of Jonathan Edwards, Vol. 2, p. 906)
b. Kesucian sempurna: keadaan final orang percaya
Dalam teologi Reformed, keselamatan memiliki tiga dimensi: justifikasi, pengudusan, dan pemuliaan.
Justifikasi dan pengudusan terjadi di bumi, tetapi pemuliaan (glorifikasi) terjadi di surga — saat dosa dihapus total, bukan hanya diampuni.
John Calvin menjelaskan:
“Keselamatan tidak lengkap sampai sifat dosa benar-benar dihapus. Surga adalah kesempurnaan dari pembenaran — ketika manusia benar-benar menjadi sebagaimana Allah kehendaki sejak semula.”
(Institutes of the Christian Religion, III.25.10)
Kita bukan hanya bebas dari hukuman dosa, tetapi dari keberadaannya sendiri.
Tidak ada lagi pergumulan melawan hawa nafsu, kesombongan, iri hati, atau ketakutan rohani.
c. Sukacita dari ketiadaan dosa
Ketiadaan dosa bukan hanya kondisi moral, tetapi sumber sukacita ilahi.
Bayangkan kehidupan tanpa rasa bersalah, tanpa kecenderungan untuk jatuh, tanpa penyesalan.
Thomas Boston, teolog Skotlandia Reformed, menulis:
“Surga adalah tempat di mana hati manusia akan bebas dari semua noda, dan karena itu mampu mengasihi Allah sepenuhnya tanpa campuran dosa.”
(Human Nature in Its Fourfold State, Part IV)
Daya tarik negatif pertama dari surga adalah ini: kesucian total tanpa dosa.
2. Tidak Ada Lagi Kematian (No More Death)
a. Kematian sebagai musuh terakhir
Kematian adalah konsekuensi utama dari dosa. Alkitab menyebutnya sebagai musuh terakhir yang akan dihancurkan (1 Korintus 15:26).
Bagi manusia, kematian adalah tanda bahwa dunia ini masih rusak dan belum dipulihkan.
Namun, di surga, kematian sudah ditelan oleh kemenangan.
“Maut telah ditelan dalam kemenangan! Hai maut, di manakah sengatmu?” (1 Korintus 15:54–55)
Geerhardus Vos menyatakan:
“Di surga, kematian tidak hanya absen; ia telah ditaklukkan secara permanen oleh kehidupan yang kekal.”
(The Pauline Eschatology, p. 273)
b. Kehidupan yang tidak dapat mati
Orang percaya akan mengalami kehidupan kekal — bukan hanya panjang tanpa akhir, tetapi kualitas hidup yang sempurna di dalam hadirat Allah.
Hidup itu bukan kelanjutan biologis, melainkan partisipasi penuh dalam kehidupan Allah sendiri (Yohanes 17:3).
Dalam pandangan Reformed, hidup kekal berarti komuni abadi dengan Allah melalui Kristus.
Herman Bavinck menulis:
“Kekekalan di surga bukan monoton waktu tanpa akhir, melainkan kepenuhan hidup di mana tidak ada lagi kemungkinan kematian atau kejatuhan.”
(Reformed Dogmatics IV, hlm. 707)
c. Daya tarik: tiada lagi pemisahan
Kematian memisahkan orang-orang yang kita kasihi. Tetapi di surga, tidak ada lagi perpisahan.
Umat Allah akan dipersatukan kembali dalam Kristus, dalam kasih yang sempurna, tanpa rasa kehilangan.
Charles Spurgeon berkata:
“Di surga tidak ada kuburan, tidak ada ratapan di samping peti mati, karena Anak Domba Allah telah mematahkan taring maut untuk selama-lamanya.”
Ketiadaan kematian berarti tidak ada lagi pemutusan relasi, tidak ada lagi kesendirian, tidak ada lagi ketakutan akan kehilangan.
3. Tidak Ada Lagi Air Mata dan Penderitaan (No More Tears or Sorrow)
a. Air mata: simbol penderitaan dunia yang jatuh
Air mata adalah bahasa universal penderitaan manusia. Dalam setiap budaya, menangis adalah tanda duka, kehilangan, atau kepedihan batin.
Namun, janji Alkitab menegaskan bahwa di surga tidak ada lagi air mata.
“Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka...” (Wahyu 21:4)
Perhatikan siapa yang menghapus air mata itu: Allah sendiri.
Tangan ilahi itu secara pribadi menghapus setiap sisa luka dari ciptaan-Nya.
John Owen berkata:
“Di surga, tidak hanya penderitaan yang hilang, tetapi juga kemampuan untuk menderita telah ditiadakan.”
(The Glory of Christ, Ch. XII)
b. Penderitaan dihapus, bukan diabaikan
Penderitaan di dunia tidak dilupakan, tetapi ditebus.
Allah tidak menghapus ingatan, melainkan menebusnya dengan kemuliaan yang lebih besar.
Martyn Lloyd-Jones menjelaskan:
“Surga tidak meniadakan masa lalu, tetapi menebusnya. Luka yang disembuhkan menjadi tanda kasih karunia yang kekal.”
(The Christian Hope, hlm. 142)
Kita akan mengenal kembali apa yang pernah kita alami, tetapi tanpa rasa sakit.
Kita akan mengenal kasih Allah lebih dalam karena pernah mengalami penderitaan di dunia.
c. Daya tarik: damai sempurna tanpa gangguan
Tidak ada ketakutan, kecemasan, penyakit, atau kegelisahan batin.
Tidak ada lagi tangisan anak karena kehilangan, tidak ada lagi nyeri tubuh, tidak ada depresi, tidak ada pergumulan spiritual.
Jonathan Edwards menulis dengan indah:
“Tidak akan ada malam di sana — tidak hanya malam fisik, tetapi malam kesedihan, malam kebingungan, malam kehilangan pengharapan.”
Ketiadaan air mata adalah daya tarik negatif yang menggugah: kedamaian yang murni dan abadi.
4. Tidak Ada Lagi Iblis dan Pencobaan (No More Satan or Temptation)
a. Musuh telah dikalahkan
Sejak Kejadian 3, iblis menjadi sumber godaan dan kebinasaan manusia. Tetapi Wahyu 20 menegaskan akhir dari sejarah itu:
“Iblis... dilemparkan ke dalam lautan api... dan mereka akan disiksa siang malam sampai selama-lamanya.” (Wahyu 20:10)
Kehadiran iblis di dunia adalah penyebab kekacauan moral. Namun di surga, pencobaan tidak lagi mungkin.
John Calvin menulis:
“Surga adalah tempat di mana tidak ada lagi pencobaan, karena tidak ada lagi musuh yang dapat memisahkan manusia dari Allah.”
b. Kemenangan Kristus adalah jaminan keamanan abadi
Dalam teologi Reformed, kemenangan Kristus di salib bersifat final dan kosmik.
Ia bukan hanya menyelamatkan manusia dari dosa, tetapi juga menghancurkan kuasa si jahat (Kolose 2:15).
R.C. Sproul menegaskan:
“Di surga, tidak ada kemungkinan kejatuhan kedua. Keamanan orang kudus dijamin oleh kemenangan Kristus yang kekal.”
(Essential Truths of the Christian Faith, hlm. 231)
c. Daya tarik: keamanan mutlak
Kita hidup di dunia yang penuh godaan dan serangan rohani. Namun, di surga tidak ada lagi ancaman.
Tidak ada iblis, tidak ada dosa, tidak ada sistem dunia yang memikat hati.
Surga bukan hanya tempat yang aman, tetapi tempat di mana tidak ada konsep bahaya sama sekali.
5. Tidak Ada Lagi Keterpisahan dari Allah (No More Separation from God)
a. Sumber sukacita sejati: hadirat Allah
Penderitaan terbesar manusia bukanlah sakit atau kehilangan, melainkan terpisah dari Allah.
Dosa membuat manusia terus mencari makna, tetapi tidak pernah menemukan kepuasan sejati.
Namun di surga, Allah tinggal bersama umat-Nya:
“Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia, dan Ia akan diam bersama mereka.” (Wahyu 21:3)
Herman Bavinck berkata:
“Seluruh sejarah keselamatan bergerak menuju satu titik: Allah tinggal bersama manusia.” (Reformed Dogmatics IV, hlm. 715)
b. Tidak ada lagi kegelapan rohani
Kehidupan rohani di dunia ini sering diselimuti kegelapan iman — kebingungan, keraguan, kesepian rohani.
Namun, di surga, iman akan berubah menjadi penglihatan.
John Owen menulis:
“Di dunia ini kita melihat Kristus dengan iman; di surga kita akan melihat-Nya muka dengan muka, dan penglihatan itu akan memuaskan seluruh keberadaan kita.”
(Communion with God, Book II)
c. Daya tarik: keintiman tanpa penghalang
Tidak ada lagi doa yang terasa kering, tidak ada lagi jarak rohani, tidak ada lagi keinginan untuk mencari Allah — karena kita akan hidup di dalam hadirat-Nya.
Inilah daya tarik terbesar dari surga: Allah sendiri.
Ketiadaan keterpisahan bukan sekadar kondisi, tetapi sukacita tertinggi.
Jonathan Edwards menyebutnya:
“Kebahagiaan sejati di surga adalah kenikmatan abadi akan hadirat Allah — karena Allah adalah surga bagi jiwa-jiwa yang ditebus.”
(Heaven: A World of Love)
6. Tidak Ada Lagi Dosa, Ratapan, dan Waktu yang Hilang (No More Sin, Grief, or Lost Time)
a. Waktu ditebus sepenuhnya
Salah satu luka terdalam manusia adalah penyesalan atas waktu yang hilang.
Kita menyesal atas kegagalan, dosa masa lalu, atau kesempatan yang terlewat.
Namun, di surga, tidak ada lagi penyesalan karena waktu tidak lagi hilang.
Waktu tidak berlalu menuju akhir, melainkan menjadi keabadian dalam kepenuhan.
Geerhardus Vos menjelaskan:
“Keabadian bukanlah waktu tanpa batas, melainkan hidup yang penuh tanpa kekurangan.”
b. Ratapan berubah menjadi pujian
Semua ratapan akan berubah menjadi nyanyian.
Surga dipenuhi dengan pujian, bukan karena semua telah lupa pada penderitaan, tetapi karena semuanya telah ditebus.
Charles Spurgeon berkata:
“Nyanyian surgawi akan semakin kuat karena berasal dari mereka yang dahulu menangis.”
Setiap luka duniawi menjadi nada baru dalam simfoni kemuliaan.
7. Tidak Ada Lagi Ketidaksempurnaan Gereja (No More Imperfect Church)
a. Gereja yang disempurnakan
Di dunia ini, gereja sering penuh perpecahan, kelemahan, dan dosa.
Namun di surga, gereja akan menjadi mempelai tanpa cacat.
“...supaya Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut.” (Efesus 5:27)
John Calvin menulis:
“Gereja di bumi adalah sekolah kesabaran; gereja di surga adalah mahakarya kasih karunia.”
b. Daya tarik: komunitas yang murni
Tidak ada lagi konflik, denominasi, atau kepentingan manusia.
Semua orang kudus, dari segala bangsa dan masa, bersatu dalam penyembahan yang murni kepada Anak Domba.
Inilah Gereja sejati — satu tubuh, satu kasih, satu penyembahan.
8. Tidak Ada Lagi Malam (No More Night)
a. Malam sebagai simbol kegelapan rohani
Wahyu 22:5 berkata:
“Tidak akan ada malam di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya pelita, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka.”
Malam menggambarkan ketidakhadiran terang Allah.
Di surga, tidak ada lagi bayangan dosa, ketakutan, atau kebingungan moral.
Thomas Watson menulis:
“Tidak akan ada malam karena jiwa telah sepenuhnya diterangi oleh wajah Allah.” (A Body of Divinity)
b. Daya tarik: terang kekal Kristus
Kristus adalah Terang dunia (Yohanes 8:12).
Di surga, terang-Nya tidak pernah redup — sebab kasih karunia telah mencapai puncak kemuliaan.
Kesimpulan: Surga Menarik Karena Allah Telah Menghapus Segala yang Lama
Daya tarik surga bukan hanya karena keindahannya, tetapi karena ketiadaan segala sesuatu yang mencemari ciptaan Allah.
Surga adalah dunia tanpa dosa, tanpa kematian, tanpa penderitaan, tanpa iblis, tanpa air mata, tanpa jarak dari Allah.
John Owen menulis:
“Surga adalah tempat di mana kasih Allah dan kesucian manusia bersatu dalam kesempurnaan yang kekal.”
Dan Spurgeon menutup khotbahnya dengan kalimat ini:
“Aku tidak rindu surga karena emas atau kemuliaannya, tetapi karena di sana tidak ada dosa, dan aku akan melihat Yesus.”
Aplikasi bagi Hidup Orang Percaya
-
Hiduplah dengan pandangan kekal.
Dunia ini fana, tetapi surga kekal. Jangan terikat pada yang sementara. -
Berjuang melawan dosa karena surga adalah kesucian.
Setiap langkah pertobatan adalah bayangan dari kehidupan kekal yang akan datang. -
Bersyukur dalam penderitaan, sebab surga akan menebus semuanya.
-
Pelihara pengharapan yang murni.
Pengharapan bukan khayalan, tetapi janji yang pasti dalam Kristus yang telah menang.