Keluaran 7:6–7: Ketaatan yang Tidak Mengenal Usia

Keluaran 7:6–7: Ketaatan yang Tidak Mengenal Usia

Pendahuluan: Ketaatan di Ujung Usia dan Awal Panggilan

Dua ayat pendek ini sering terlewatkan dalam pembacaan cepat kitab Keluaran. Namun, di balik kesederhanaannya tersembunyi kedalaman teologis yang luar biasa. Keluaran 7:6–7 tidak hanya mencatat data sejarah — usia Musa dan Harun — tetapi menyingkapkan prinsip penting tentang ketaatan, panggilan ilahi, dan kesetiaan Allah yang melampaui keterbatasan manusia.

Perikop ini muncul tepat sebelum terjadinya konfrontasi besar antara Musa dan Firaun. Dengan demikian, ayat ini menjadi semacam prolog rohani: Allah yang mempersiapkan pelayannya, meneguhkan mereka dalam usia lanjut, dan menegaskan bahwa ketaatan adalah inti dari panggilan ilahi.

Sebagaimana John Calvin menulis dalam komentarnya:

“Musa dan Harun adalah contoh nyata bahwa ketika Allah memerintahkan, tidak ada alasan yang cukup untuk menolak. Usia, kelemahan, dan ketakutan bukanlah penghalang bagi ketaatan sejati.”
(Commentary on Exodus 7:6–7)

1. Ketaatan sebagai Respons terhadap Otoritas Firman Allah (Keluaran 7:6)

“Musa dan Harun melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada mereka.”

Kalimat ini sederhana, namun dalam teologi Reformed, ia mengandung inti dari seluruh kehidupan iman: ketaatan pada Firman Allah.

a. Ketaatan sebagai ekspresi iman yang sejati

Bagi tradisi Reformed, iman sejati selalu menghasilkan ketaatan. Tidak mungkin seseorang mengaku percaya kepada Allah tetapi tidak tunduk pada kehendak-Nya.

John Owen menegaskan:

“Iman yang sejati bukanlah hanya pengetahuan tentang kebenaran, tetapi kesediaan hati untuk tunduk pada otoritas-Nya.” (The Doctrine of Justification)

Musa dan Harun tidak hanya mendengar perintah Allah; mereka melakukannya. Ini adalah wujud dari iman yang aktif, iman yang menuruti sekalipun belum melihat hasilnya.

Mereka tahu Firaun adalah raja yang keras kepala, namun mereka memilih untuk taat lebih dahulu daripada menunggu kepastian keberhasilan.

b. Ketaatan yang didorong oleh relasi, bukan paksaan

Teks tidak mengatakan “Musa dan Harun takut kepada TUHAN,” melainkan “melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN.”
Ada perbedaan antara ketaatan karena takut hukuman dan ketaatan karena kasih.

Dalam teologi Reformed, ketaatan orang percaya bersumber dari kasih karunia.
Herman Bavinck menulis:

“Ketaatan Kristen adalah buah dari rekonsiliasi. Kita taat bukan agar dikasihi, tetapi karena telah dikasihi.” (Reformed Dogmatics, Vol. IV, p. 256)

Ketaatan Musa dan Harun bukan untuk memperoleh penerimaan dari Allah, melainkan tanda kesetiaan terhadap hubungan yang sudah dibangun.

c. Ketaatan yang tidak bersyarat

Musa dan Harun tidak menawar, tidak menunda, tidak mengubah perintah itu agar lebih “masuk akal.” Mereka melakukan seperti yang diperintahkan.

R.C. Sproul dalam The Holiness of God menulis:

“Ketaatan sejati bukanlah ketaatan jika kita hanya melakukan apa yang kita setujui.”

Ketaatan mereka bersifat mutlak, bukan parsial. Itulah sebabnya ketaatan dalam iman Reformed selalu dikaitkan dengan otoritas Firman yang absolut.
Ketaatan bukan hasil debat, tetapi hasil iman yang tunduk.

2. Ketaatan yang Mengatasi Kelemahan Manusia (Keluaran 7:7)

“Musa berumur 80 tahun dan Harun 83 tahun ketika mereka berbicara kepada Firaun.”

Mengapa Alkitab perlu mencatat usia mereka? Karena usia adalah faktor manusiawi yang sering menjadi alasan untuk menolak panggilan Allah.

Namun Allah sengaja menegaskan bahwa panggilan-Nya tidak dibatasi oleh umur.

a. Allah memanggil bukan berdasarkan potensi, tetapi kedaulatan

Di usia 80 dan 83 tahun, sebagian besar orang ingin beristirahat, bukan memulai misi besar melawan kekuasaan terbesar di dunia kuno.
Tetapi Allah memilih saat yang tidak mungkin untuk menunjukkan bahwa keberhasilan pelayanan bukan ditentukan oleh kekuatan manusia, melainkan kuasa-Nya.

John Calvin menafsirkan:

“Bahwa Allah menunda sampai mereka tua adalah bukti bahwa kuasa-Nya sendirilah yang harus dinyatakan, bukan kemampuan manusia.” (Commentary on Exodus 7:7)

Ini mengingatkan kita pada prinsip utama teologi Reformed: Soli Deo Gloria — hanya bagi Allah segala kemuliaan.

b. Panggilan yang tidak mengenal pensiun

Musa adalah lambang bahwa Allah tidak mengenal istilah “terlambat” bagi mereka yang dipanggil-Nya.
Harun, yang lebih tua, menunjukkan bahwa usia bukan halangan untuk pelayanan rohani.

Charles Spurgeon menulis:

“Selama Allah masih memberi napas, Ia masih memberi panggilan. Banyak yang menunggu masa muda untuk melayani, tetapi Allah sering memakai masa tua untuk kemuliaan yang lebih besar.” (Morning and Evening, 6 Februari)

Ketaatan di usia lanjut membuktikan bahwa iman sejati tidak pernah berhenti aktif.

c. Ketaatan yang muncul dari pengalaman rohani

Usia mereka bukan kelemahan, tetapi modal rohani. Mereka telah melewati banyak kegagalan, ketakutan, dan pelajaran iman.

Ketaatan mereka di Keluaran 7 adalah buah dari pembentukan panjang di padang gurun.
Allah membentuk Musa selama 40 tahun di istana, lalu 40 tahun di padang gembalaan. Baru setelah itu, Ia mengutusnya.

A.W. Pink menulis:

“Allah membentuk bejana-Nya lama sebelum Ia mengisinya dengan pelayanan. Musa yang berlari dari Mesir harus belajar berjalan dengan Allah sebelum diutus kembali ke Mesir.” (Gleanings in Exodus)

3. Ketaatan dalam Konteks Panggilan yang Mustahil

Tugas Musa dan Harun bukan kecil: mereka harus berhadapan dengan Firaun, lambang kekuatan dunia yang menentang Allah.
Namun teks ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah lebih kuat daripada intimidasi dunia.

a. Ketaatan dalam iman, bukan dalam hasil

Allah tidak menjanjikan keberhasilan instan. Ia justru berkata sebelumnya bahwa Firaun akan menolak. (Keluaran 7:3–4)
Namun Musa dan Harun tetap taat.

John Piper menulis:

“Ketaatan sejati adalah berjalan dalam arah yang benar, meskipun hasilnya belum tampak. Karena iman sejati tidak diukur dari hasil, tetapi dari kesetiaan.” (Future Grace)

Ketaatan Musa adalah ketaatan iman yang percaya pada janji di tengah penolakan.

b. Ketaatan sebagai tindakan profetik

Ketaatan mereka juga bersifat nabi-nabian.
Setiap langkah mereka menyuarakan pesan: “Allah masih berdaulat atas Mesir.”

Ketaatan seperti ini bukan hanya tindakan moral, tetapi pernyataan iman publik.

Herman Ridderbos menulis:

“Dalam setiap tindakan ketaatan, umat Allah menegaskan kembali kerajaan Allah yang datang.” (The Coming of the Kingdom, hlm. 412)

c. Ketaatan yang menjadi kesaksian

Musa dan Harun tidak hanya mewakili diri mereka; mereka mewakili Allah di hadapan bangsa dan raja kafir.
Setiap tindakan mereka adalah kesaksian tentang karakter Allah yang kudus dan berdaulat.

4. Dimensi Kristologis: Ketaatan Musa sebagai Bayangan Kristus

Dalam teologi Reformed, seluruh Perjanjian Lama dipahami sebagai tanda yang menunjuk kepada Kristus.
Maka ketaatan Musa dan Harun bukan hanya teladan moral, tetapi tipologi dari ketaatan Kristus yang sempurna.

a. Kristus sebagai Musa yang sejati

Musa taat kepada panggilan untuk membebaskan Israel dari perbudakan Mesir.
Kristus taat kepada panggilan untuk membebaskan umat-Nya dari perbudakan dosa.

John Owen menulis:

“Ketaatan Kristus adalah puncak dari seluruh ketaatan umat perjanjian. Apa yang gagal dilakukan Musa dan Harun dengan sempurna, disempurnakan dalam Yesus Kristus.” (The Person of Christ)

Ketaatan Kristus bahkan sampai mati di kayu salib (Filipi 2:8).
Ia tidak sekadar melakukan “seperti yang diperintahkan,” tetapi melakukan dengan kasih yang sempurna.

b. Ketaatan Kristus sebagai dasar ketaatan kita

Dalam teologi Reformed, semua ketaatan orang percaya lahir dari persatuan dengan Kristus.
Kita tidak taat untuk memperoleh keselamatan, tetapi karena telah diselamatkan dalam Dia yang taat sempurna.

Herman Bavinck menulis:

“Ketaatan etis orang percaya hanya mungkin karena ketaatan Kristus yang yuridis. Kita hidup karena Ia telah taat.” (Reformed Ethics, Vol. 2, p. 214*)

Musa dan Harun menjadi contoh bahwa setiap ketaatan umat Allah adalah panggilan untuk meneladani Kristus yang telah lebih dahulu taat.

5. Aplikasi Teologis dan Praktis

a. Ketaatan adalah panggilan untuk semua usia

Tidak ada waktu di mana kita terlalu tua atau terlalu muda untuk taat kepada Allah.
Ketaatan bukan soal energi, tetapi soal iman.

Musa dan Harun menjadi teladan bagi generasi tua di gereja bahwa masa lanjut adalah masa produktif secara rohani.
Dalam dunia yang memuja masa muda, Alkitab mengangkat usia lanjut sebagai puncak hikmat dan kesetiaan.

b. Ketaatan lebih berharga daripada keberhasilan

Sering kali kita ingin melihat hasil dari ketaatan kita. Namun dalam Alkitab, ketaatan itu sendiri sudah merupakan keberhasilan.
Allah tidak menilai berdasarkan hasil, tetapi berdasarkan kesetiaan.

Francis Schaeffer menulis:

“Ketaatan adalah keberhasilan sejati dalam kehidupan Kristen.” (No Little People)

c. Ketaatan menuntut kepercayaan total pada kedaulatan Allah

Musa dan Harun tahu Firaun tidak akan mudah dikalahkan. Tetapi mereka juga tahu bahwa Firman Allah lebih kuat dari kekuasaan dunia.
Dalam teologi Reformed, ini adalah ekspresi dari iman kepada providensia Allah — bahwa segala sesuatu tunduk kepada kehendak-Nya.

d. Ketaatan membutuhkan kesetiaan jangka panjang

Ketaatan Musa dan Harun bukan sekali jadi. Mereka harus tetap setia melalui sepuluh tulah, penolakan, dan bahaya.
Demikian pula iman kita diuji bukan dalam satu momen spektakuler, tetapi dalam kesetiaan sehari-hari yang konsisten.

Jonathan Edwards berkata:

“Ketaatan sejati bukanlah ledakan sementara, tetapi kebiasaan jiwa yang dibentuk oleh kasih kepada Kristus.” (Religious Affections)

6. Refleksi Spiritualitas Reformed: Ketaatan sebagai Panggilan Hidup

Keluaran 7:6–7 memperlihatkan keseimbangan antara tindakan manusia dan kedaulatan Allah.
Allah memerintah, manusia menaati. Allah berdaulat, manusia bertanggung jawab.

Ketaatan dalam teologi Reformed tidak pernah terpisah dari kasih karunia.
Kita menaati karena telah dijadikan mampu oleh Roh Kudus.

Louis Berkhof menulis:

“Ketaatan adalah hasil dari pembaruan hati oleh Roh. Tanpa regenerasi, manusia tidak mungkin taat secara sejati.” (Systematic Theology, hlm. 517)

Dengan demikian, ketaatan Musa dan Harun bukanlah hasil moralitas manusia, melainkan karya Roh Allah yang meneguhkan mereka untuk berjalan dalam panggilan.

7. Penutup: Allah yang Setia Memanggil dan Memampukan

Keluaran 7:6–7 meneguhkan tiga kebenaran besar iman Reformed:

  1. Ketaatan adalah tanda iman yang hidup.
    Iman tanpa ketaatan adalah iman mati (Yakobus 2:17).

  2. Ketaatan tidak dibatasi oleh usia, kondisi, atau pengalaman.
    Musa dan Harun menjadi bukti bahwa Allah memakai siapa pun, kapan pun, untuk kemuliaan-Nya.

  3. Ketaatan sejati hanya mungkin karena Kristus yang telah taat lebih dahulu.
    Kita dipanggil untuk berjalan di jejak-Nya, bukan dengan kekuatan sendiri, melainkan dengan kasih karunia-Nya.

Akhir Kata

Keluaran 7:6–7 mengingatkan kita bahwa ketaatan bukanlah perkara besar atau kecil, melainkan perkara benar.
Musa dan Harun taat, dan dari ketaatan itu Allah memulai karya pembebasan besar.

Kiranya kita juga menjadi umat yang berkata dengan hidup kita:

“Kami akan melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada kami.”

Karena di dalam setiap tindakan ketaatan, kerajaan Allah sedang dinyatakan.

Next Post Previous Post