Markus 11:12–14: Pohon Ara yang Mandul

Pendahuluan: Tindakan Yesus yang Mengejutkan
Kisah Yesus mengutuk pohon ara ini tampak aneh bagi banyak orang. Mengapa Yesus, yang dikenal penuh kasih dan sabar, bertindak terhadap pohon yang bahkan “bukan musimnya berbuah”?
Namun, dalam konteks Injil Markus, tindakan ini bukan sekadar peristiwa botani. Ia adalah tindakan simbolik yang sarat makna rohani — sebuah perumpamaan hidup tentang penghakiman terhadap kemunafikan rohani dan panggilan kepada iman yang berbuah.
Menurut Herman Ridderbos, tindakan ini “adalah nubuatan hidup tentang apa yang akan menimpa Israel: mereka memiliki penampilan kesalehan (daun-daun), tetapi tidak menghasilkan buah pertobatan.” (The Coming of the Kingdom, hlm. 347)
Dengan demikian, Markus 11:12–14 bukan hanya tentang pohon ara, tetapi tentang umat Allah yang dipanggil untuk menghasilkan buah sejati dari iman dan pertobatan.
1. Yesus yang Lapar (Markus 11:12): Allah yang Menyatakan Kemanusiaan-Nya
“Keesokan harinya, ketika mereka meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar.”
Kisah ini dimulai dengan catatan yang sangat manusiawi: Yesus lapar.
Markus ingin menegaskan bahwa Yesus benar-benar menjadi manusia, merasakan kebutuhan dan kelemahan seperti kita.
a. Yesus yang benar-benar manusia
Menurut John Calvin,
“Dalam kelaparan Kristus, kita melihat betapa dalam Ia menundukkan diri untuk menjadi serupa dengan kita, agar Ia dapat menjadi Imam Besar yang berbelas kasihan.” (Commentary on the Gospels)
Kelaparan Yesus bukanlah kelemahan dosa, melainkan tanda solidaritas ilahi dengan ciptaan yang terbatas.
Ia lapar karena Ia sungguh-sungguh manusia — namun Ia bertindak dengan otoritas Allah.
b. Lapar sebagai lambang pencarian rohani
Kelaparan Yesus juga menggambarkan kerinduan Allah terhadap buah rohani dari umat-Nya.
Matthew Henry menulis:
“Kristus lapar, bukan akan buah ara, tetapi akan buah kesalehan dari Israel.”
Dalam Perjanjian Lama, pohon ara sering menjadi lambang Israel (lih. Hosea 9:10; Yeremia 8:13).
Maka, Yesus yang lapar melambangkan Allah yang mencari iman sejati di antara umat-Nya.
2. Pohon Ara yang Berdaun Tetapi Tak Berbuah (Markus 11:13)
“Ketika melihat dari kejauhan sebuah pohon ara yang berdaun, Dia pergi untuk melihat apakah ada yang bisa Dia temukan dari pohon itu. Namun, ketika sampai di pohon itu, Dia tidak menemukan apa-apa kecuali daun-daunnya sebab bukan musimnya buah ara.”
Ayat ini adalah inti dari simbolisme Markus.
a. Daun tanpa buah: kemunafikan religius
Pohon itu tampak sehat dari jauh — berdaun rimbun — tetapi ternyata kosong tanpa buah.
Inilah gambaran tentang Israel yang religius di luar, tetapi tandus secara rohani.
John Calvin menjelaskan:
“Kristus menggunakan pohon ara sebagai cermin untuk menunjukkan kemunafikan bangsa itu, yang menampilkan tanda-tanda kesalehan tanpa kehidupan sejati dari iman.”
Israel memiliki Bait Allah, imam, korban, dan hukum — “daun-daun” religius yang indah — namun tidak memiliki buah kebenaran yang berasal dari hati yang taat.
b. Mengapa Yesus mencari buah di luar musim?
Markus menulis, “sebab bukan musimnya buah ara.”
Ini menimbulkan pertanyaan: mengapa Yesus mencari buah ketika bukan musimnya?
Para penafsir Reformed menjelaskan bahwa pohon ara Palestina menghasilkan “buah pendahulu” (pagi fig) sebelum musim penuh.
Jika daun sudah tumbuh, seharusnya ada tanda-tanda buah kecil — tetapi pohon ini tidak memilikinya sama sekali.
R.C. Sproul menulis:
“Pohon itu seolah menipu dengan daun-daunnya, menjanjikan buah tetapi ternyata kosong. Demikian juga, Israel menjanjikan kesalehan tetapi tidak memberikan iman yang hidup.” (The Holiness of God)
Dengan kata lain, masalahnya bukan pada musim, melainkan ketiadaan kehidupan sejati di dalamnya.
c. Kritik Yesus terhadap agama yang dangkal
Peristiwa ini terjadi sehari sebelum Yesus menyucikan Bait Allah (Markus 11:15–19).
Dengan demikian, kutukan terhadap pohon ara menggambarkan penghakiman terhadap sistem keagamaan yang tidak berbuah.
Herman Bavinck menulis:
“Agama yang sejati bukanlah ritual yang indah, melainkan hidup yang berbuah dari persekutuan dengan Allah.” (Reformed Dogmatics IV, hlm. 334)
Pohon ara berdaun tetapi tanpa buah menggambarkan ritual tanpa iman, liturgi tanpa kehidupan, pelayanan tanpa kasih.
3. Kutukan Yesus terhadap Pohon Ara (Markus 11:14)
“Yesus berkata kepada pohon itu, ‘Biarlah tidak ada orang yang pernah makan buah darimu lagi.’ Dan, murid-murid-Nya mendengarnya.”
Tindakan ini bukan ledakan kemarahan emosional, melainkan tindakan simbolik penghakiman ilahi.
Dalam konteks Alkitab, kutukan Yesus adalah nubuat tindakan (prophetic act) — seperti yang sering dilakukan nabi-nabi Perjanjian Lama.
a. Kristus sebagai Hakim yang adil
Di sini Yesus menyatakan otoritas ilahi-Nya: hanya Allah yang dapat memberkati atau mengutuk ciptaan.
Dengan mengutuk pohon ara, Ia memperlihatkan diri sebagai Hakim yang berdaulat atas kehidupan rohani.
John Owen menulis:
“Kristus tidak hanya Imam dan Raja, tetapi juga Hakim. Ia menilai pohon, bukan karena keindahan daunnya, melainkan karena buah yang dihasilkannya.”
Demikianlah setiap manusia dan bangsa akan dihakimi bukan berdasarkan penampilan religius, tetapi berdasarkan buah pertobatan sejati.
b. Kutukan sebagai simbol penghakiman atas Israel
Hosea 9:16 menggambarkan Israel demikian:
“Efraim dipukul; akarnya kering; mereka tidak akan menghasilkan buah.”
Dengan mengutuk pohon ara, Yesus menubuatkan bahwa Israel sebagai sistem keagamaan yang menolak Mesias akan ditolak.
Beberapa dekade kemudian, nubuatan ini digenapi dalam penghancuran Yerusalem (tahun 70 M).
Charles Spurgeon berkata:
“Pohon ara yang dikutuk adalah Israel yang menolak Kristus. Tetapi dari kematian itu, Allah menumbuhkan Gereja yang baru, penuh buah bagi kemuliaan-Nya.” (The Lesson of the Withered Fig Tree)
c. Murid-murid mendengarnya: pesan bagi gereja
Markus menekankan bahwa “murid-murid-Nya mendengarnya.”
Artinya, Yesus ingin mereka mengerti maknanya — bahwa iman sejati harus tampak dalam buah kehidupan.
Sinclair Ferguson menulis:
“Kristus mengutuk pohon ara agar para murid memahami bahwa iman tanpa buah akan layu. Kasih karunia yang sejati selalu menghasilkan ketaatan.” (The Whole Christ)
4. Pohon Ara dan Bait Allah: Dua Sisi Satu Pesan
Dalam Injil Markus, peristiwa ini langsung diikuti dengan penyucian Bait Allah.
Ini bukan kebetulan — Markus sengaja menyusun narasi ini secara “sandwich” (pohon ara – Bait Allah – pohon ara layu).
a. Pohon ara sebagai lambang Bait Allah
Pohon ara mewakili Israel dan sistem ibadahnya.
Ketika Yesus memasuki Bait Allah, Ia menemukan aktivitas ramai, tetapi tidak ada doa sejati — sama seperti pohon berdaun tanpa buah.
Yesus berkata,
“Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun!” (Markus 11:17)
b. Buah yang dicari Allah: ibadah sejati
John Calvin menulis:
“Allah tidak terkesan oleh keramaian ibadah atau persembahan besar, tetapi oleh kesungguhan hati yang mencari Dia.”
Gereja modern pun harus berhati-hati: aktivitas pelayanan, musik, dan program dapat menjadi daun-daun hijau tanpa buah pertobatan sejati.
Allah menginginkan buah yang lahir dari hati yang mengenal Kristus.
5. Implikasi Teologis: Iman yang Berbuah
Kisah ini bukan hanya peringatan, tetapi panggilan bagi setiap orang percaya.
a. Buah adalah tanda iman yang hidup
Yesus berkata dalam Yohanes 15:8:
“Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu menjadi murid-Ku.”
R.C. Sproul menekankan bahwa buah bukanlah syarat keselamatan, tetapi bukti keselamatan.
“Kita dibenarkan oleh iman saja, tetapi iman yang membenarkan tidak pernah sendirian.” (Faith Alone)
Buah rohani adalah hasil dari persatuan dengan Kristus.
Tanpa Dia, kita seperti pohon ara kering — penuh daun aktivitas, tetapi tanpa kehidupan sejati.
b. Kemunafikan: bahaya besar bagi gereja
Jonathan Edwards dalam Religious Affections menulis:
“Kemunafikan rohani adalah ketika emosi dan ritual agama menggantikan kasih yang sejati kepada Kristus.”
Yesus menegur keras kemunafikan bukan karena Ia membenci manusia, tetapi karena Ia menginginkan keaslian iman.
Gereja harus menolak kesalehan palsu — doa tanpa pertobatan, pelayanan tanpa kasih, ibadah tanpa pengenalan akan Kristus.
c. Pertobatan sebagai jalan menuju kesuburan rohani
Kabar baiknya adalah:
Meski Yesus mengutuk kemunafikan, Ia datang untuk memulihkan pohon yang kering melalui Injil.
John Owen menulis:
“Kasih karunia Kristus dapat membuat pohon yang mati berbuah kembali, karena Ia sendiri adalah kehidupan.”
Kristus mencari buah dalam hidup kita — dan Ia sendiri menyediakan kekuatan untuk berbuah melalui Roh Kudus.
6. Aplikasi Praktis: Berbuah dalam Hidup Sehari-hari
-
Periksa hati, bukan hanya penampilan.
Apakah iman kita nyata, atau sekadar rutinitas rohani? -
Berbuah dalam kasih dan ketaatan.
Buah bukan hanya pengetahuan teologi, tetapi hidup yang mencerminkan Kristus. -
Jaga relasi dengan Kristus sebagai sumber kehidupan.
“Barangsiapa tinggal di dalam Aku, ia berbuah banyak.” (Yohanes 15:5) -
Pelayanan tanpa keintiman dengan Kristus adalah pohon tanpa akar.
Kita tidak dipanggil untuk produktivitas rohani, melainkan keintiman yang menghasilkan buah.
7. Penggenapan Eskatologis: Dari Penghakiman ke Pemulihan
Pohon ara yang dikutuk akhirnya kering (Mrk. 11:20–21), melambangkan akhir dari sistem lama.
Namun, Kristus tidak datang hanya untuk mengutuk — Ia datang untuk menumbuhkan pohon baru: Gereja yang berbuah di segala bangsa.
Herman Bavinck menulis:
“Melalui kematian Israel yang lama, Allah menumbuhkan Israel yang baru dalam Kristus, yaitu Gereja yang berakar dalam kasih karunia.”
Pada akhirnya, Kristus adalah Pohon Kehidupan sejati.
Di dalam Dia, setiap orang yang percaya akan berbuah bagi kemuliaan Allah (Mazmur 1:3; Wahyu 22:2).
Kesimpulan: Iman yang Tidak Berbuah Akan Layu
Kisah singkat Markus 11:12–14 mengandung pelajaran besar:
-
Allah mencari buah iman sejati, bukan hanya daun kesalehan lahiriah.
-
Kristus menilai hati, bukan penampilan religius.
-
Gereja dipanggil untuk hidup dalam pertobatan dan menghasilkan buah Roh.
Sebagaimana Spurgeon menutup khotbahnya tentang perikop ini:
“Lebih baik menjadi pohon kecil dengan sedikit buah sejati, daripada pohon besar penuh daun tetapi kosong di hadapan Tuhan.”
Maka marilah kita menjadi umat yang hidup dalam kasih karunia Kristus — berakar dalam iman, bertumbuh dalam kasih, dan berbuah dalam ketaatan.