Kekudusan: Satu-Satunya Jalan Menuju Kebahagiaan

Kekudusan: Satu-Satunya Jalan Menuju Kebahagiaan

I. Pendahuluan: Kekudusan, Jalan yang Terlupakan

Dalam dunia modern, kebahagiaan sering dicari dalam kenikmatan, kesuksesan, atau penerimaan sosial. Namun, Thomas Boston (1676–1732), seorang teolog Reformed Skotlandia, menegaskan bahwa jalan menuju kebahagiaan sejati bukan melalui kenikmatan dunia, melainkan melalui kekudusan.

Buku Holiness, the Only Way to Happiness adalah salah satu karya teologis dan pastoral paling dalam dari zaman Puritan. Boston menulis:

“Tidak ada kebahagiaan tanpa kekudusan, dan tidak ada kekudusan tanpa Kristus.”

Karya ini berakar kuat pada Ibrani 12:14:

“Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.”

Ayat ini menjadi fondasi seluruh pemikiran Boston: kekudusan bukan pilihan tambahan bagi orang Kristen, tetapi kondisi mutlak untuk kebahagiaan kekal.

II. Latar Belakang Teologis: Thomas Boston dan Tradisi Reformed

Thomas Boston adalah bagian dari tradisi Puritan Reformed Skotlandia, sejaman dengan tokoh-tokoh seperti Thomas Watson, John Owen, dan Richard Baxter. Ia dikenal karena kejelasan teologinya dan kepekaannya terhadap pergumulan rohani umat.

Dalam pemikiran Reformed, kekudusan bukan sekadar perilaku moral, tetapi buah dari pembenaran dan bukti regenerasi. Boston, mengikuti ajaran Calvin dan Westminster Confession, menolak moralitas kosong tanpa iman sejati.

John Calvin dalam Institutes menulis:

“Kristus tidak hanya membenarkan kita, tetapi juga menguduskan kita. Kita tidak dapat menerima sebagian dari Kristus tanpa menerima seluruh-Nya.”

Dengan demikian, kekudusan adalah jalan hidup yang dihasilkan oleh kasih karunia, bukan syarat untuk memperolehnya. Namun, ia menjadi sarana utama menuju kebahagiaan rohani, karena kekudusan membawa manusia kepada keserupaan dengan Allah sendiri — sumber kebahagiaan sejati.

III. Eksposisi Ibrani 12:14: Kekudusan sebagai Syarat untuk Melihat Allah

1. “Berusahalah hidup damai dengan semua orang...”

Kekudusan tidak berdiri sendiri; ia berakar dalam hubungan damai dengan sesama. Bagi Boston, perdamaian dengan manusia adalah cerminan dari perdamaian dengan Allah.
Tanpa kasih dan damai, “kekudusan” hanyalah legalisme.

John Owen menafsirkan bagian ini demikian:

“Orang yang benar-benar kudus tidak hanya menjauh dari dosa, tetapi juga menumbuhkan kasih dan kesabaran dalam menghadapi dosa orang lain.”

2. “...dan kejarlah kekudusan...”

Kata kejarlah (Yunani: διώκω, diōkō) menunjukkan tindakan aktif dan terus-menerus — bukan pasif atau sekali jadi.
Kekudusan adalah proses progresif yang terjadi melalui karya Roh Kudus dalam regenerasi dan pengudusan (sanctification).

Louis Berkhof menulis:

“Pengudusan adalah pekerjaan anugerah Allah yang berkelanjutan, di mana orang percaya diperbarui dalam seluruh keberadaan mereka untuk hidup bagi Allah.”

3. “...sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.”

Bagian ini adalah inti teologis Boston: tanpa kekudusan, tidak ada kebahagiaan.
“Melihat Tuhan” berarti bersekutu dengan Dia, menikmati kehadiran dan kemuliaan-Nya.
Kekudusan adalah jembatan yang menghubungkan manusia berdosa dengan kebahagiaan kekal.

Jonathan Edwards, dalam khotbah terkenalnya The Beauty of Holiness, menulis:

“Kekudusan adalah keindahan Allah. Tanpa kekudusan, manusia tidak dapat menikmati Allah karena mereka tidak serupa dengan Dia.”

Boston sejalan dengan pandangan itu: hanya mereka yang dikuduskan dapat menikmati sukacita Allah, karena hati yang kotor tidak bisa bersukacita dalam kekudusan.

IV. Doktrin Kekudusan dalam Teologi Reformed

1. Kekudusan berasal dari karya Kristus (Union with Christ)

Kekudusan tidak dimulai dari usaha manusia, melainkan dari persekutuan dengan Kristus.
Kita tidak dapat menguduskan diri sendiri; hanya ketika kita dipersatukan dengan Kristus melalui iman, kehidupan-Nya yang kudus mengalir dalam diri kita.

Thomas Boston menulis:

“Kristus bukan hanya Kebenaran bagi kita, tetapi juga Kekudusan bagi kita. Kita dikuduskan bukan karena usaha kita, tetapi karena kehidupan-Nya bekerja dalam kita.”

Ini sejalan dengan 1 Korintus 1:30:

“Kristus telah menjadi hikmat bagi kita, yaitu kebenaran, kekudusan, dan penebusan.”

2. Kekudusan adalah tanda regenerasi sejati

Dalam pandangan Reformed, regenerasi (kelahiran baru) menghasilkan kehidupan baru yang mengejar kekudusan.
Calvin menegaskan bahwa pembenaran dan pengudusan tidak dapat dipisahkan.

“Kristus tidak membenarkan orang yang tidak Ia kuduskan, dan Ia tidak menguduskan orang yang tidak Ia benarkan.”

Dengan demikian, kekudusan bukan syarat keselamatan, melainkan bukti keselamatan sejati.

3. Kekudusan adalah kerja sama antara kasih karunia dan ketaatan

Boston menolak ekstrem pasifisme rohani (antinomianisme) dan legalisme. Ia mengajarkan keseimbangan antara kasih karunia ilahi dan tanggung jawab manusia.

R.C. Sproul dalam Essential Truths of the Christian Faith menulis:

“Kekudusan adalah buah dari anugerah. Tanpa anugerah, usaha kita adalah sia-sia; tanpa usaha, anugerah itu tidak berbuah.”

V. Kekudusan dan Kebahagiaan: Perspektif Biblika

1. Kekudusan adalah kebahagiaan karena Allah adalah sumber sukacita sejati

Mazmur 16:11 berkata:

“Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.”

Bagi Boston, inilah alasan mengapa kekudusan membawa kebahagiaan — karena kekudusan mendekatkan kita kepada Allah, sumber sukacita sejati.
Tanpa kekudusan, manusia tetap jauh dari Allah dan hidup dalam kehampaan spiritual.

2. Dosa adalah akar penderitaan; kekudusan adalah obatnya

Manusia jatuh dalam kesedihan karena dosa (Kejadian 3).
Thomas Boston, dalam buku ini, menggambarkan dosa sebagai “penyakit mematikan yang mengasingkan manusia dari kebahagiaan.”

John Owen, dalam The Mortification of Sin, menulis:

“Dosa menjanjikan kebahagiaan, tetapi hasil akhirnya adalah kehancuran. Membunuh dosa adalah jalan menuju hidup.”

Jadi, kebahagiaan sejati tidak datang ketika dosa dipelihara, melainkan ketika dosa dimatikan oleh kasih karunia.

3. Kekudusan memulihkan gambar Allah dalam manusia

Manusia diciptakan “menurut gambar dan rupa Allah” (Kejadian 1:26).
Gambar itu rusak karena dosa, tetapi dipulihkan melalui kekudusan.

Boston menulis:

“Kebahagiaan manusia bergantung pada keserupaannya dengan Allah. Semakin ia kudus, semakin ia bahagia.”

Ini adalah prinsip besar teologi Reformed: manusia diciptakan untuk mencerminkan Allah, dan hanya dalam kekudusan cerminan itu menjadi nyata kembali.

VI. Pandangan Para Teolog Reformed Tentang Kekudusan dan Kebahagiaan

Teolog ReformedPandangan Tentang Kekudusan dan Kebahagiaan
John CalvinKekudusan adalah buah dari pembenaran dan tanda regenerasi sejati. Kebahagiaan sejati adalah keserupaan dengan Kristus.
Thomas BostonKekudusan adalah satu-satunya jalan menuju kebahagiaan, karena tanpa keserupaan dengan Allah, sukacita sejati mustahil.
John OwenKematian terhadap dosa (mortification) adalah inti dari kehidupan bahagia di dalam Kristus.
Jonathan EdwardsKebahagiaan tertinggi manusia terletak dalam keindahan kekudusan Allah dan persekutuan dengan-Nya.
Herman BavinckKekudusan adalah kehidupan yang diselaraskan dengan kehendak Allah; kebahagiaan adalah akibat alami dari keselarasan itu.
R.C. Sproul“Kekudusan adalah atribut Allah yang paling indah dan menakutkan sekaligus. Kita tidak bisa bahagia tanpa memandang kekudusan-Nya.”

VII. Kekudusan dalam Kehidupan Praktis

1. Kekudusan dimulai dari hati

Boston menegaskan bahwa kekudusan bukan soal penampilan luar, tetapi pembaharuan batin oleh Roh Kudus.
Ia menulis:

“Kekudusan yang sejati tumbuh dari hati yang diubahkan. Dari akar yang kudus, keluarlah buah yang kudus.”

Hal ini sejalan dengan Amsal 4:23:

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

2. Kekudusan terwujud dalam ketaatan sehari-hari

Kekudusan bukan pengalaman mistik, tetapi ketaatan konkret dalam kehidupan sehari-hari — dalam pekerjaan, keluarga, perkataan, dan pikiran.

Thomas Watson menulis:

“Orang kudus bukan yang sempurna tanpa dosa, tetapi yang hatinya terbakar untuk menaati Allah.”

3. Kekudusan melibatkan perjuangan melawan dosa

Boston tidak menutupi kenyataan bahwa kekudusan adalah peperangan rohani.
Ia menulis:

“Kekudusan bukan hidup tanpa godaan, tetapi kemenangan atasnya.”

Roh Kudus memampukan orang percaya untuk menolak dosa, bukan dengan kekuatan sendiri, tetapi melalui kuasa kasih karunia.

Efesus 6:10 berkata:

“Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan dan di dalam kekuatan kuasa-Nya.”

VIII. Mengapa Banyak Orang Tidak Menemukan Kebahagiaan?

Boston memberikan analisis tajam terhadap hati manusia:

“Banyak yang mencari kebahagiaan, tetapi di jalan yang salah — mereka mencari kebahagiaan tanpa kekudusan.”

Ia menulis bahwa manusia modern menginginkan kedamaian tanpa pertobatan, sukacita tanpa ketaatan, dan surga tanpa kekudusan.

Jonathan Edwards menambahkan:

“Orang berdosa menginginkan hasil dari kasih karunia tanpa menyerahkan diri kepada Sumber kasih karunia.”

Ini adalah inti dari penderitaan spiritual manusia: ingin bahagia tanpa menjadi serupa dengan Allah.

IX. Kekudusan sebagai Sukacita di Dunia yang Menderita

Kekudusan bukan hanya tiket ke surga; itu juga sumber kebahagiaan sejati di dunia sekarang.

Boston menulis:

“Orang kudus memiliki surga yang dimulai di bumi, karena ia sudah hidup dalam hadirat Allah melalui kekudusan.”

Ketika dunia menawarkan kebahagiaan sementara, kekudusan memberi sukacita yang tidak tergoncangkan.
Roma 14:17 berkata:

“Kerajaan Allah bukan soal makan dan minum, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus.”

X. Hubungan Kekudusan dan Kebahagiaan dalam Kekekalan

Pada akhirnya, kekudusan membawa kita kepada kebahagiaan kekal di hadapan Allah.
Revelasi 21:27 menegaskan bahwa tidak ada yang najis akan masuk ke dalam Yerusalem baru.

Boston menulis:

“Hanya mereka yang telah dikuduskan oleh darah Anak Domba yang akan menikmati kebahagiaan kekal bersama-Nya.”

Bagi teolog Reformed, surga bukan sekadar tempat sukacita, tetapi keadaan kekudusan sempurna.
Itulah sebabnya:

  • Tanpa kekudusan, tidak mungkin ada kebahagiaan.

  • Dengan kekudusan, kebahagiaan itu sudah dimulai bahkan sebelum kita tiba di surga.

XI. Aplikasi bagi Gereja Masa Kini

  1. Khotbah dan pengajaran harus menekankan kekudusan sebagai pusat kehidupan Kristen.
    Gereja modern sering menekankan kasih, tetapi melupakan kekudusan. Padahal kasih sejati tidak dapat dipisahkan dari kekudusan Allah.

  2. Pemuridan harus berakar pada pengudusan yang nyata.
    Mengikuti Kristus berarti meninggalkan dosa, bukan sekadar menghadiri ibadah.

  3. Kehidupan keluarga dan masyarakat harus memantulkan kekudusan Allah.
    Kekudusan bukan hanya pribadi, tetapi sosial — menular dalam setiap hubungan.

  4. Kekudusan harus menjadi sumber sukacita pelayanan.
    Pelayan Tuhan sejati tidak bekerja karena kewajiban, tetapi karena ia telah mencicipi kebahagiaan dalam kekudusan.

XII. Penutup: Kekudusan dan Kebahagiaan — Dua Wajah dari Satu Kebenaran

Thomas Boston menulis dalam penutup bukunya:

“Kekudusan bukan beban, melainkan kebahagiaan; bukan rantai, melainkan sayap yang membawa kita kepada Allah.”

Inilah paradoks Injil: dunia melihat kekudusan sebagai pengekangan, tetapi orang percaya melihatnya sebagai kebebasan sejati.
Kekudusan membebaskan dari belenggu dosa dan membawa kita kepada sukacita yang tidak tergoncangkan di dalam Allah.

John Calvin menegaskan:

“Kita diciptakan untuk mengenal Allah, dan dalam mengenal-Nya, kita menemukan kebahagiaan sejati. Kekudusan adalah jalan menuju pengenalan itu.”

Maka, kebahagiaan sejati bukanlah memiliki lebih banyak, melainkan menjadi lebih serupa dengan Kristus.
Dan itulah kekudusan sejati — satu-satunya jalan menuju kebahagiaan abadi.

Next Post Previous Post