Kepastian Iman: Dasar, Bukti, dan Buah

Kepastian Iman: Dasar, Bukti, dan Buah

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”
(Ibrani 11:1, AYT)

I. Pendahuluan: Keyakinan yang Tidak Goyah di Tengah Dunia yang Goyah

Kata “iman” (Yunani: pistis) sering disalahpahami dalam dunia modern. Banyak orang memandang iman sebagai perasaan subjektif, optimisme buta, atau keinginan agar sesuatu terjadi. Namun, iman Alkitabiah bukan spekulasi, melainkan kepastian.

Iman sejati bukan melompat dalam kegelapan, tetapi berdiri di atas batu karang janji Allah yang tak tergoyahkan.

Dalam teologi Reformed, iman bukan sekadar keputusan manusia, tetapi anugerah ilahi yang ditanamkan Roh Kudus di hati orang percaya (Efesus 2:8). Karena berasal dari Allah, maka iman sejati tidak mungkin gagal — dan kepastian iman bukan kesombongan, melainkan buah dari karya Allah yang pasti.

Herman Bavinck menyebut iman sebagai:

“Suatu keyakinan yang lahir dari kesadaran bahwa Allah yang berfirman tidak dapat berbohong.”

Dengan demikian, kepastian iman adalah pilar sentral dalam kehidupan Kristen. Ia memberi penghiburan, kekuatan, dan keberanian untuk hidup di dunia yang penuh ketidakpastian.

II. Pengertian Teologis tentang Iman

1. Tiga Unsur Iman (Fides)

Dalam tradisi Reformed klasik, iman terdiri dari tiga unsur penting:

  1. Notitia – Pengetahuan tentang isi iman, yaitu kebenaran Injil.

  2. Assensus – Persetujuan rasional terhadap kebenaran itu.

  3. Fiducia – Kepercayaan pribadi kepada Kristus sebagai Juruselamat.

Louis Berkhof menjelaskan:

“Iman sejati bukan sekadar pengetahuan dan persetujuan intelektual, tetapi kepercayaan hati yang menyerahkan diri kepada Kristus sepenuhnya.”

Kepastian iman muncul dari gabungan ketiganya: pengetahuan yang benar, persetujuan yang tulus, dan kepercayaan pribadi kepada Allah yang hidup.

2. Iman Sebagai Anugerah

Efesus 2:8 menegaskan:

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.”

Artinya, iman bukanlah hasil kemampuan manusia, melainkan pemberian Allah melalui pekerjaan Roh Kudus.

John Calvin berkata:

“Iman adalah karya Roh Kudus yang menanamkan janji Allah dalam hati kita, sehingga kita yakin bahwa Allah itu setia.”

Oleh sebab itu, kepastian iman tidak bisa dipisahkan dari kepastian anugerah. Karena Allah yang memberi iman, maka Allah pula yang memeliharanya.

III. Dasar Kepastian Iman

Kepastian iman dalam teologi Reformed memiliki tiga dasar utama: Firman Allah, karya Kristus, dan kesaksian Roh Kudus.

1. Firman Allah sebagai Dasar Objektif

Iman tidak pernah berdiri di atas perasaan, mimpi, atau pengalaman, tetapi pada firman yang tertulis dan kekal.

Mazmur 119:89 berkata:

“Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firman-Mu teguh berdiri di sorga.”

Iman tidak menciptakan kebenaran, tetapi menanggapi kebenaran yang sudah diwahyukan.

R.C. Sproul menegaskan:

“Kepastian iman bukan berasal dari kekuatan iman itu sendiri, tetapi dari keandalan objek iman, yaitu Firman Allah yang tidak pernah gagal.”

Karena Firman Allah tidak mungkin salah, maka iman yang berpaut kepada Firman juga tidak akan goyah.

2. Karya Kristus sebagai Dasar Historis

Yesus Kristus adalah pusat dan objek iman sejati.
Roma 8:1 menegaskan:

“Tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.”

Kepastian iman tidak didasarkan pada kinerja moral kita, tetapi pada pekerjaan penebusan Kristus yang telah selesai.

John Owen menulis:

“Kepastian keselamatan lahir bukan dari pandangan diri kita, tetapi dari pandangan kepada Kristus yang telah menanggung segala dosa kita di kayu salib.”

Kristus tidak hanya mati bagi dosa, tetapi juga memberi jaminan kekal bagi mereka yang percaya. Karya penebusan-Nya bersifat efektif, final, dan sempurna.

3. Kesaksian Roh Kudus sebagai Dasar Eksistensial

Roma 8:16 berkata:

“Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.”

Roh Kudus bekerja secara pribadi untuk meneguhkan iman orang percaya.
Ia bukan hanya mengajarkan kebenaran, tetapi juga menyegel hati kita dengan keyakinan.

Herman Bavinck menulis:

“Kepastian iman tidak hanya bersandar pada firman tertulis, tetapi juga pada kesaksian batin Roh Kudus yang membuat firman itu hidup dalam diri kita.”

Dengan demikian, kepastian iman adalah pengalaman spiritual yang berakar pada kebenaran objektif.

IV. Eksposisi Alkitabiah tentang Kepastian Iman

1. Ibrani 11:1 — “Dasar dan Bukti”

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”

Ayat ini menegaskan bahwa iman bukan sekadar harapan kosong, melainkan jaminan eksistensial.
Kata Yunani hupostasis (dasar) berarti “sesuatu yang berdiri kokoh,” dan elenchos (bukti) berarti “keyakinan yang tak tergoyahkan.”

Artinya, iman sejati memegang janji Allah seolah-olah sudah tergenapi.

Jonathan Edwards menulis:

“Iman sejati memandang hal-hal yang tidak kelihatan lebih nyata daripada hal-hal yang kelihatan.”

2. Roma 4:20–21 — Teladan Iman Abraham

“Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.”

Iman Abraham bukan sekadar percaya bahwa Allah bisa, tetapi bahwa Allah akan melakukan apa yang dijanjikan-Nya.

Kepastian iman tidak berarti tidak ada pergumulan, tetapi dalam pergumulan itu, seseorang tetap berpaut pada janji Allah.

Calvin menulis:

“Iman bukan berarti tidak pernah ragu, tetapi bahwa dalam keraguan, kita tetap berpaut pada Allah yang setia.”

3. 1 Yohanes 5:13 — Tujuan Penulisan Injil

“Semua itu kutuliskan kepadamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.”

Yohanes menulis bukan agar kita berharap memiliki, tetapi supaya kita tahu.
Iman Kristen bukan probabilitas, tetapi kepastian yang bersumber dari janji Allah yang tidak bisa berdusta.

V. Pandangan Beberapa Pakar Teologi Reformed

1. John Calvin (1509–1564)

Dalam Institutes of the Christian Religion, Calvin menyebut iman sebagai “pengetahuan yang pasti dan teguh tentang kemurahan Allah kepada kita.”

Ia menulis:

“Iman sejati tidak pernah ragu bahwa Allah akan menepati janji-Nya. Keraguan mungkin muncul, tetapi tidak menguasai hati yang telah dikuatkan oleh Roh Kudus.”

Bagi Calvin, kepastian iman bukanlah kesombongan spiritual, melainkan hasil dari mengenal Kristus secara pribadi.

2. R.C. Sproul (1939–2017)

Sproul menegaskan bahwa iman sejati selalu memiliki aspek kognitif dan relasional.

“Kepastian iman tidak lahir dari introspeksi, melainkan dari memandang keluar — kepada Kristus. Ketika kita menatap salib, kita menemukan kepastian bahwa kita dikasihi.”

3. Herman Bavinck (1854–1921)

Dalam Reformed Dogmatics, Bavinck menulis:

“Kepastian iman bukan hasil refleksi manusia, tetapi kesaksian Roh Kudus yang mengarahkan pandangan kepada Kristus. Allah tidak memanggil kita kepada ketidakpastian, tetapi kepada pengharapan yang pasti.”

4. Louis Berkhof (1873–1957)

Berkhof menyebut kepastian iman sebagai “buah dari iman yang matang.”

“Orang percaya sejati dapat yakin akan keselamatannya, bukan karena dirinya tidak berdosa, tetapi karena ia berpegang pada kebenaran objektif tentang Kristus.”

Ia menambahkan bahwa kepastian iman bukan kondisi emosional yang tetap, melainkan sesuatu yang bisa bertumbuh melalui disiplin rohani dan firman.

5. Jonathan Edwards (1703–1758)

Edwards menulis bahwa iman sejati melibatkan perasaan rohani yang kudus, yaitu sukacita karena mengenal Allah.

“Kepastian iman adalah pengalaman indah ketika kebenaran ilahi dirasakan oleh jiwa sebagai sesuatu yang nyata dan manis.”

Edwards melihat kepastian iman bukan hanya pengetahuan intelektual, tetapi juga pencicipan kasih karunia Allah.

6. John Owen (1616–1683)

Owen dalam The Mortification of Sin menulis:

“Tidak ada jaminan yang lebih besar bagi jiwa daripada kesadaran bahwa Kristus telah menjadi kebenaran kita. Kepastian iman menumbuhkan kekudusan, bukan kesombongan.”

VI. Dinamika Iman: Antara Keyakinan dan Keraguan

Kepastian iman tidak berarti ketiadaan pergumulan. Bahkan para rasul dan tokoh iman mengalami masa-masa kebimbangan.

1. Iman yang Bertumbuh

Iman seperti benih (Lukas 17:6) — kecil pada awalnya, tetapi terus bertumbuh.
Tugas kita bukan membesarkan iman dengan usaha, tetapi memusatkan iman pada Allah yang besar.

2. Keraguan yang Disembuhkan

Thomas ragu (Yohanes 20:25), tetapi Kristus tidak menolaknya.
Ia menampakkan diri dan berkata, “Jangan tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”

Ini menunjukkan bahwa Allah lebih besar dari keraguan kita.

R.C. Sproul berkata:

“Keraguan bukan dosa, tetapi membiarkan diri tinggal dalam ketidakpercayaan adalah ketidaktaatan.”

VII. Bukti dan Buah dari Kepastian Iman

Kepastian iman sejati melahirkan buah nyata dalam kehidupan orang percaya.

1. Damai Sejahtera (Roma 5:1)

“Kita telah dibenarkan oleh iman, maka kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah.”

Kepastian bahwa kita sudah diterima Allah menghasilkan ketenangan batin — bukan lagi rasa bersalah yang menghantui.

2. Ketekunan dalam Penderitaan (Ibrani 10:23)

“Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia yang menjanjikannya setia.”

Kepastian iman memberi kekuatan untuk bertahan dalam pencobaan, karena kita tahu akhir kisah sudah ditentukan: kemenangan di dalam Kristus.

3. Ketaatan yang Sukarela (Galatia 5:6)

“Sebab di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.”

Iman sejati bekerja melalui kasih.
Kepastian iman bukan membuat kita malas, melainkan membakar semangat untuk taat, karena kita mengasihi Allah yang setia.

4. Kerendahan Hati

Kepastian iman tidak melahirkan kesombongan rohani, karena kita tahu semuanya adalah anugerah.
Seorang yang yakin akan kasih Allah tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain, sebab keselamatannya sudah pasti dalam Kristus.

VIII. Bahaya Dua Ekstrem: Presumption dan Despair

Dalam perjalanan iman, dua ekstrem yang harus dihindari adalah:

1. Presumption — Kepastian Palsu

Ini adalah kepercayaan diri yang salah bahwa “aku pasti selamat” tanpa pertobatan sejati.
Yakobus 2:17 memperingatkan:

“Iman tanpa perbuatan adalah mati.”

Kepastian sejati selalu disertai buah pertobatan dan kekudusan.

2. Despair — Putus Asa Rohani

Sebaliknya, ada orang yang tidak pernah yakin karena memandang kepada dirinya terus-menerus.
Calvin berkata:

“Kita tidak akan pernah menemukan kepastian dalam diri kita, melainkan hanya dalam Kristus.”

Kepastian iman bukanlah melihat pada kekuatan kita, tetapi melihat kepada Kristus yang tidak berubah.

IX. Aplikasi Pastoral: Menumbuhkan Kepastian Iman

  1. Berakar dalam Firman.
    Kepastian tumbuh dari pengenalan yang benar akan janji Allah.
    Roma 10:17 — “Iman datang dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus.”

  2. Hidup dalam doa.
    Doa memperdalam relasi dengan Allah dan memperteguh keyakinan akan kesetiaan-Nya.

  3. Bergabung dalam komunitas iman.
    Gereja adalah sarana Allah untuk menguatkan iman. Ibrani 10:25 menasihatkan agar kita tidak menjauhkan diri dari persekutuan.

  4. Memeriksa diri dalam terang Injil.
    2 Korintus 13:5 — “Ujilah dirimu, apakah kamu tetap tegak di dalam iman.”
    Pemeriksaan diri bukan untuk menumbuhkan ketakutan, tetapi untuk memastikan kita berpaut pada Kristus, bukan pada diri sendiri.

  5. Menatap kepada salib setiap hari.
    Ketika hati kita goyah, pandanglah kembali kepada Kristus yang berkata, “Sudah selesai.” (Yohanes 19:30)

X. Kepastian Iman dalam Perspektif Eskatologis

Kepastian iman bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk kekekalan.
Filipi 1:6 berkata:

“Dia yang memulai pekerjaan yang baik di dalam kamu akan menyelesaikannya sampai pada hari Kristus Yesus.”

Orang percaya hidup dalam keyakinan bahwa keselamatan bukan perjalanan yang tidak pasti, tetapi proses yang dijaga oleh tangan Allah sendiri.

Yesus berkata:

“Tidak seorang pun dapat merebut mereka dari tangan-Ku.” (Yohanes 10:28)

Ini adalah jaminan tertinggi iman Reformed:
Keselamatan adalah karya Allah dari awal sampai akhir — dari pemilihan kekal sampai kemuliaan kekal.

XI. Kesimpulan: Kepastian Iman, Sukacita Kekal Orang Percaya

Kepastian iman adalah mahkota dari kasih karunia Allah.
Ia bukan hasil pencapaian manusia, tetapi buah dari pekerjaan Kristus dan kesaksian Roh Kudus.

Dari seluruh pembahasan ini kita dapat merangkum bahwa:

  1. Dasar kepastian iman adalah janji Allah yang tidak berubah.

  2. Objek iman adalah Kristus yang sudah mati dan bangkit.

  3. Saksi iman adalah Roh Kudus yang meneguhkan hati kita.

  4. Buah iman adalah damai, kasih, dan ketaatan yang nyata.

Iman sejati berkata seperti Paulus:

“Aku tahu kepada siapa aku percaya, dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan kepadaku hingga pada hari Tuhan.” (2 Timotius 1:12)

Penutup

Kepastian iman bukanlah kesombongan, melainkan bentuk penyerahan diri yang total kepada Allah yang setia.
Iman yang sejati akan bertumbuh dalam kasih, berjalan dalam ketaatan, dan beristirahat dalam janji Allah.

“Di dalam dunia yang penuh ketidakpastian, satu-satunya kepastian yang sejati adalah Allah yang berfirman, Allah yang menepati, dan Allah yang menyelamatkan.” — Herman Bavinck

Next Post Previous Post