Keluaran 7:10: Tongkat yang Menjadi Ular

Keluaran 7:10: Tongkat yang Menjadi Ular

Keluaran 7:10 (AYT):
“Jadi, Musa dan Harun menghadap Firaun dan mereka melaksanakan seperti yang diperintahkan TUHAN. Harun melemparkan tongkatnya di hadapan Firaun dan para hambanya, lalu tongkat itu menjadi seekor ular.”

I. Pendahuluan: Pertarungan di Istana Mesir

Kisah Keluaran 7:10 menandai permulaan konfrontasi ilahi antara Allah Israel dan dewa-dewa Mesir. Musa dan Harun, dua orang tua yang tampak lemah, berdiri di hadapan Firaun — raja yang dianggap sebagai ilah di bumi. Namun di balik perjumpaan ini, sedang terjadi pertempuran teologis antara kedaulatan Allah dan kesombongan manusia.

Tongkat yang berubah menjadi ular bukan sekadar trik ajaib, tetapi tanda otoritas Allah atas alam, kuasa spiritual, dan hati manusia.
Peristiwa ini merupakan “prolog” dari serangkaian tulah yang akan mengguncang Mesir dan membuktikan bahwa YHWH adalah Tuhan atas segala tuhan.

R.C. Sproul menulis:

“Apa yang terjadi di istana Firaun bukan duel antara manusia dan manusia, melainkan antara Allah sejati dan ilah-ilah palsu. Dan hasilnya sudah pasti: Allah menang.”

II. Konteks Historis dan Teologis

1. Latar Situasi: Misi Musa dan Harun

Pasal 7 dimulai setelah Musa dan Harun menerima panggilan dan penguatan dari Allah. Meski awalnya ragu, kini mereka taat dan melaksanakan seperti yang diperintahkan TUHAN.
Ketaatan ini adalah bukti iman yang tumbuh melalui pengalaman bersama Allah (Keluaran 4:10–17).

Perintah Allah:

“Apabila Firaun berkata kepadamu, ‘Tunjukkanlah mukjizat,’ maka engkau harus berkata kepada Harun, ‘Ambillah tongkatmu dan lemparkanlah itu di depan Firaun; tongkat itu akan menjadi ular.’” (Keluaran 7:9)

Tindakan ini adalah simbol demonstratif — Allah menggunakan benda sederhana (tongkat) untuk menyatakan kuasa-Nya.

2. Simbol Tongkat dalam Kitab Keluaran

Tongkat (Ibrani: matteh) dalam Alkitab sering menjadi lambang:

  • Otoritas ilahi (Keluaran 4:2–4)

  • Kepemimpinan dan kuasa (Mazmur 23:4 – “gada-Mu dan tongkat-Mu”)

  • Instrumen mujizat (membelah Laut Teberau, mengeluarkan air dari batu)

Tongkat Harun bukanlah benda ajaib, melainkan alat anugerah yang diurapi oleh kuasa Allah.
Seperti dikatakan oleh John Owen:

“Allah sering memakai sarana yang hina untuk mempermalukan kebesaran manusia, agar kemuliaan hanya bagi-Nya.”

III. Eksposisi Keluaran 7:10: Tiga Dimensi Makna

“Musa dan Harun menghadap Firaun dan mereka melaksanakan seperti yang diperintahkan TUHAN. Harun melemparkan tongkatnya di hadapan Firaun dan para hambanya, lalu tongkat itu menjadi seekor ular.”

A. “Mereka melaksanakan seperti yang diperintahkan TUHAN”

Kalimat ini menunjukkan inti ketaatan.
Ketaatan kepada Firman Allah selalu mendahului manifestasi kuasa Allah. Tidak ada mujizat tanpa kepatuhan.

John Calvin menulis:

“Ketaatan Musa dan Harun adalah buah iman yang hidup; mereka tidak bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi, mereka hanya percaya pada Dia yang berfirman.”

Iman sejati, menurut teologi Reformed, bukanlah percaya bahwa mujizat akan terjadi, melainkan percaya kepada Pribadi yang memerintahkan.
Musa dan Harun taat bukan karena mereka tahu hasilnya, tetapi karena mereka percaya kepada karakter Allah.

B. “Harun melemparkan tongkatnya di hadapan Firaun”

Tindakan ini merupakan deklarasi terbuka — sebuah tantangan terhadap kekuasaan Mesir. Di istana Firaun, simbol tongkat dan ular memiliki makna politik dan religius yang dalam.

Di mahkota Firaun terdapat simbol ular kobra (uraeus), yang melambangkan dewi pelindung Mesir. Ketika tongkat Allah berubah menjadi ular, itu berarti Tuhan Israel menantang simbol kekuasaan Mesir secara langsung.

Herman Bavinck menulis:

“Dalam setiap mujizat Allah, terdapat elemen pewahyuan — bukan sekadar kekuatan ajaib, tetapi pernyataan tentang siapa Dia yang sejati.”

Allah tidak sedang bermain sulap; Ia sedang menyatakan supremasi ilahi di hadapan kekuatan yang menindas umat-Nya.

C. “Tongkat itu menjadi seekor ular”

Kata Ibrani yang digunakan di sini adalah tannin, yang bisa berarti ular besar atau naga.
Simbolisme ini penting: ular adalah lambang dari kebijaksanaan, kekuatan, dan kejahatan.
Dengan demikian, mujizat ini memiliki dua sisi:

  1. Bukti kuasa Allah yang menghidupkan dan mengubah realitas.

  2. Simbol kemenangan atas kuasa kegelapan.

R.C. Sproul menulis:

“Ular yang di tangan Allah bukan lagi alat maut, tetapi alat kuasa. Apa yang dahulu melambangkan kutuk, kini menjadi tanda kemuliaan.”

Di sini kita melihat transformasi yang hanya Allah dapat lakukan: dari tongkat mati menjadi makhluk hidup — dari benda biasa menjadi tanda kuasa ilahi.

IV. Pertarungan Spiritual: Kuasa Allah vs Sihir Mesir

Setelah mujizat itu, para ahli sihir Mesir meniru perbuatan yang sama (Keluaran 7:11–12). Namun, Alkitab mencatat:

“Tongkat Harun menelan tongkat-tongkat mereka.” (Keluaran 7:12)

1. Realitas Kuasa Iblis

Teologi Reformed tidak menolak realitas kuasa spiritual selain Allah.
Sihir Mesir bukan tipuan belaka, melainkan manifestasi kuasa setan yang diizinkan Allah secara terbatas.

John Calvin menjelaskan:

“Setan memiliki kekuatan nyata, tetapi terbatas dan tunduk pada kehendak Allah. Mujizat Mesir bukan imajinasi, melainkan bukti bahwa dunia spiritual itu nyata.”

Namun, kuasa setan tidak otonom. Allah mengizinkan pertunjukan ini agar keunggulan-Nya semakin nyata.

2. Tongkat Harun Menelan Tongkat Mereka

Inilah klimaks simbolik yang luar biasa.
Penelanan itu berarti:

  • Kuasa Allah menelan kuasa kegelapan.

  • Kebenaran menelan kebohongan.

  • Kehidupan menelan kematian.

Ini adalah gambaran Injil dalam bentuk awal.
Kristus di kayu salib “menelan maut dalam kemenangan” (1 Korintus 15:54).
Seperti tongkat Harun menelan ular Mesir, demikian pula Kristus menelan kuasa dosa dan iblis melalui salib.

Jonathan Edwards menulis:

“Salib Kristus adalah tongkat Allah yang dilemparkan ke dunia, menghancurkan kuasa si jahat dan menegakkan kerajaan kasih karunia.”

V. Kerasnya Hati Firaun: Misteri Kedaulatan dan Penolakan

Setelah menyaksikan mujizat ini, Firaun tetap mengeraskan hati.

“Namun, hati Firaun tetap keras, seperti yang telah difirmankan TUHAN.” (Keluaran 7:13)

1. Dua Dimensi Pengersan Hati

Alkitab memakai dua ungkapan:

  • Firaun mengeraskan hatinya sendiri (Keluaran 8:15)

  • TUHAN mengeraskan hati Firaun (Keluaran 9:12)

Dalam teologi Reformed, ini tidak kontradiktif. Allah berdaulat penuh atas kehendak manusia, namun manusia tetap bertanggung jawab atas tindakannya.
Allah tidak menanamkan kejahatan baru di hati Firaun, tetapi menyerahkannya kepada kekerasan hatinya sendiri (Roma 1:24).

R.C. Sproul berkata:

“Pengerasan hati Firaun bukanlah Allah mengubah hati yang lembut menjadi keras, tetapi Allah membiarkan hati yang sudah keras tetap dalam jalannya.”

2. Pelajaran Teologis

Peristiwa ini menunjukkan bahwa tanda mujizat tidak menjamin pertobatan.
Keajaiban tidak mengubah hati; hanya anugerah Allah yang dapat melunakkan hati batu menjadi hati daging (Yehezkiel 36:26).

Iman bukan hasil penglihatan, melainkan karya Roh Kudus di hati manusia.
Itulah sebabnya orang-orang Israel pun, setelah menyaksikan Laut Teberau terbelah, masih sering bersungut-sungut.

VI. Tipologi Kristologis: Kristus Sebagai Tongkat Allah

Dalam seluruh Kitab Keluaran, tongkat adalah alat Allah untuk melakukan karya penebusan — membelah laut, mengeluarkan air, menghantam musuh.
Dalam terang Perjanjian Baru, tongkat itu menunjuk kepada Kristus sebagai alat keselamatan Allah.

1. Tongkat yang Dilempar: Inkarnasi Kristus

Ketika Harun melempar tongkatnya, itu melambangkan Allah yang “melemparkan” Firman-Nya ke dunia.
Kristus, Firman yang kekal, turun menjadi manusia — masuk ke dunia dosa dan kematian.

John Owen menulis:

“Dalam Kristus, kuasa Allah mengenakan bentuk kelemahan manusia, sama seperti tongkat mati menjadi hidup di hadapan musuh-musuh-Nya.”

2. Ular yang Ditinggikan: Salib Kristus

Perhatikan paralel luar biasa dengan Bilangan 21:8–9, di mana Musa meninggikan ular tembaga agar siapa pun yang memandangnya hidup.
Yesus sendiri menafsirkannya:

“Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan.” (Yohanes 3:14)

Dengan demikian, tongkat yang menjadi ular adalah nubuat simbolik tentang salib.
Kristus menjadi “kutuk” bagi kita (Galatia 3:13), sebagaimana ular menjadi lambang kutuk, agar melalui-Nya kita memperoleh hidup.

3. Tongkat yang Menelan Kuasa Kematian

Salib Kristus menelan dosa dan maut sebagaimana tongkat Harun menelan tongkat para pesihir.
Di kayu salib, Kristus mengalahkan “penguasa dunia gelap” (Kolose 2:15).
Itu bukan kekalahan, melainkan kemenangan ilahi yang tersembunyi dalam kelemahan.

VII. Implikasi Teologis Reformed

1. Allah Berdaulat, Manusia Bertanggung Jawab

Seluruh peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah mengatur sejarah dengan tangan-Nya yang berdaulat.
Namun, Ia juga menuntut ketaatan dari umat-Nya (Musa dan Harun).
Inilah keseimbangan Reformed antara predestinasi dan tanggung jawab manusia.

Calvin berkata:

“Kedaulatan Allah tidak meniadakan tindakan manusia; justru Ia bekerja melalui mereka yang taat.”

2. Mujizat sebagai Pewahyuan, bukan Hiburan

Dalam pandangan Reformed, mujizat adalah alat pewahyuan Allah, bukan sarana untuk memuaskan rasa ingin tahu atau keinginan manusia.
Mujizat meneguhkan Firman, bukan menggantikannya.

Bavinck menulis:

“Mujizat adalah tanda kebenaran rohani yang lebih besar. Ia tidak berdiri sendiri, tetapi menunjuk pada Kristus sebagai pusat wahyu.”

3. Kuasa Allah Lebih Besar dari Segala Ilmu Dunia

Mesir pada masa itu adalah pusat sains, sihir, dan kebijaksanaan dunia kuno. Namun, semua pengetahuan manusia gagal menghadapi kuasa Allah.
Ini menggambarkan prinsip Reformed bahwa hikmat dunia tidak dapat mengenal Allah tanpa wahyu.

Paulus berkata:

“Sebab dunia tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan orang-orang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.” (1 Korintus 1:21)

VIII. Dimensi Pastoral: Iman yang Taat di Tengah Kekuasaan Dunia

1. Musa dan Harun sebagai Teladan Iman

Mereka berdiri di hadapan raja paling berkuasa, tanpa senjata selain tongkat dan Firman.
Namun iman mereka tidak bersandar pada situasi, tetapi pada perintah Allah.

Iman Reformed adalah iman yang berakar pada otoritas Firman, bukan pada hasil yang diharapkan.

2. Menghadapi “Firaun” di Zaman Modern

Setiap zaman memiliki “Firaun”-nya — kekuasaan, ideologi, atau dosa yang menindas umat Allah.
Keluaran 7:10 mengingatkan kita bahwa:

  • Allah masih berkuasa.

  • Firman-Nya masih efektif.

  • Tongkat-Nya (salib Kristus) masih mengalahkan ular dunia ini.

Jonathan Edwards menulis:

“Setiap kali Injil diberitakan, tongkat Allah kembali dilemparkan ke dunia. Dan sekali lagi ular-ular dunia akan ditelan.”

IX. Aplikasi Pribadi: Tongkat Iman di Tangan Kita

  1. Ketaatan mendahului kuasa.
    Allah memanggil kita bukan untuk mengerti terlebih dahulu, tetapi untuk taat terlebih dahulu.
    Mujizat terjadi setelah Harun melempar tongkat, bukan sebelumnya.

  2. Gunakan apa yang ada di tanganmu.
    Seperti tongkat Musa, Allah dapat memakai apa pun yang tampak biasa untuk kemuliaan-Nya — pekerjaan, pelayanan, keluarga, bahkan kelemahanmu.

  3. Percaya pada supremasi Kristus.
    Ketika dunia menampilkan “sihirnya” — kekayaan, teknologi, kekuasaan — ingatlah bahwa tongkat Allah akan menelan semuanya.
    Kristus akan menang pada akhirnya.

X. Refleksi Eskatologis: Tongkat yang Akan Ditinggikan Selamanya

Kitab Wahyu menggambarkan Kristus yang memegang tongkat besi (Why. 19:15), memerintah bangsa-bangsa.
Tongkat itu bukan lagi alat mujizat sementara, melainkan simbol pemerintahan kekal.

Apa yang dimulai di istana Mesir — tongkat yang menelan ular — akan mencapai puncaknya ketika:

“Kerajaan dunia telah menjadi kerajaan Tuhan kita dan Kristus-Nya, dan Ia akan memerintah sampai selama-lamanya.” (Wahyu 11:15)

XI. Kesimpulan: Allah yang Mengubah Tongkat Menjadi Kehidupan

Keluaran 7:10 bukan hanya catatan sejarah mujizat, tetapi pelajaran teologis tentang kuasa, ketaatan, dan kasih karunia.

Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa:

  1. Kuasa Allah bekerja melalui ketaatan yang sederhana.
    Musa dan Harun hanya melakukan “seperti yang diperintahkan TUHAN.”

  2. Mujizat Allah menyingkapkan kemuliaan Kristus.
    Tongkat yang menjadi ular adalah gambaran Injil — kutuk yang diubah menjadi berkat.

  3. Tidak ada kuasa yang dapat menandingi Allah.
    Tongkat Harun menelan semua tongkat Mesir — Kristus menelan maut dalam kemenangan.

  4. Iman sejati lahir dari Firman, bukan dari penglihatan.
    Firaun melihat, tetapi tidak percaya; Musa percaya sebelum melihat.

Sebagaimana tongkat Harun menjadi alat kuasa Allah, demikian pula hidup orang percaya dipanggil menjadi alat kasih karunia di dunia ini.
Bukan karena kita kuat, tetapi karena Allah yang memakai kita berdaulat dan setia.

Penutup Rohani

“Allah tidak mencari tongkat emas, tetapi tongkat yang bersedia dilemparkan.”
A.W. Tozer

Marilah kita menjadi seperti Musa dan Harun — berani berdiri di hadapan “Firaun” zaman ini, berpegang pada Firman, dan percaya bahwa kuasa Allah yang sama masih bekerja hari ini.

Next Post Previous Post