Markus 11:20–24: Iman yang Mengakar dalam Allah

Markus 11:20–24: Iman yang Mengakar dalam Allah

I. Pendahuluan: Iman yang Menggerakkan Gunung

Kisah dalam Markus 11:20–24 sering kali dikenal dengan ungkapan Yesus yang menggugah:

“Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu, siapa pun yang berkata kepada gunung ini, ‘Terangkatlah dan terlemparlah ke dalam laut,’ dengan tidak ragu di dalam hatinya, tetapi percaya bahwa apa yang dia katakan akan terjadi, maka hal itu akan terjadi padanya.” (Markus 11:23, AYT)

Ayat ini sering dipahami secara dangkal dalam konteks “iman yang bisa melakukan apa saja,” namun pemahaman teologi Reformed membawa kita untuk melihat kedalaman teologis dan Kristosentris dari teks ini.
Iman di sini bukanlah kekuatan psikologis, melainkan respon percaya kepada karakter dan janji Allah yang berdaulat.

Peristiwa ini terjadi setelah Yesus mengutuk pohon ara (ay. 12–14), dan kini para murid melihatnya kering sampai ke akar-akarnya. Pohon ara menjadi lambang kehidupan rohani Israel yang tampak subur secara lahiriah, tetapi kering secara batiniah. Dari konteks ini, Yesus mengajar tentang iman sejati yang berakar pada Allah, bukan sekadar ritual keagamaan.

II. Latar Konteks: Pohon Ara yang Kering dan Hati yang Tidak Berbuah

1. Tanda Penghakiman Rohani

Markus menulis:

“Pada pagi hari, ketika mereka sedang lewat, mereka melihat pohon ara itu sudah kering sampai ke akar-akarnya.” (Markus 11:20)

Pohon ara dalam Perjanjian Lama sering melambangkan Israel (bdk. Hosea 9:10; Yeremia 8:13). Ketika Yesus mengutuk pohon ara karena tidak berbuah, itu bukan tindakan impulsif, melainkan tindakan simbolis yang menggambarkan penghakiman Allah atas Israel yang tidak menghasilkan buah pertobatan.

John Calvin dalam Commentary on the Gospels menulis:

“Kristus tidak hanya menegur sebuah pohon, tetapi melalui pohon itu, Ia menunjukkan bahwa bangsa yang memiliki banyak daun kesalehan, tetapi tidak berbuah iman sejati, akan kering karena murka Allah.”

R.C. Sproul menambahkan bahwa kutukan atas pohon ara menunjukkan kemunafikan religius — penampilan luar yang tampak hidup, namun tanpa relasi sejati dengan Allah:

“Pohon ara dengan daun tetapi tanpa buah adalah lambang dari semua ibadah tanpa iman; aktivitas religius tanpa kasih kepada Allah.”

2. Kering Sampai ke Akar

Detail bahwa pohon itu “kering sampai ke akar-akarnya” penting secara simbolik. Dalam bahasa Reformed, ini menunjukkan penghakiman total atas sistem keagamaan yang tidak berakar pada Kristus.
Ketika akar (dasar spiritual) mati, tidak ada kehidupan yang dapat dipulihkan.

Iman yang sejati harus berakar dalam Allah — bukan dalam tradisi, bukan dalam ritual, bukan dalam pengalaman lahiriah.

III. Eksposisi Ayat demi Ayat (Markus 11:20–24)

Markus 11:20–21: Pengamatan dan Pengakuan

“Pada pagi hari, ketika mereka sedang lewat, mereka melihat pohon ara itu sudah kering sampai ke akar-akarnya. Petrus teringat dan berkata kepada Yesus, ‘Rabi, lihat! Pohon ara yang Engkau kutuk telah menjadi kering!’”

Petrus, seperti biasanya, menjadi yang pertama berbicara. Ia terkejut melihat efek langsung dari perkataan Yesus. Ini bukan hanya keajaiban botani, tetapi tanda otoritas ilahi Kristus.

Iman sejati dimulai dari pengakuan akan kuasa dan kedaulatan Kristus atas ciptaan.

Markus 11:22: “Milikilah iman dalam Allah.”

Yesus menjawab:

“Milikilah iman dalam Allah.” (Markus 11:22)

Dalam bahasa Yunani, kalimat ini bisa diterjemahkan secara literal: “Have faith of God” — yang berarti iman yang bersumber dari Allah, bukan sekadar kepercayaan kepada-Nya.
Dengan kata lain, Yesus memerintahkan murid-murid untuk beriman dengan iman yang dianugerahkan oleh Allah sendiri.

Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics menjelaskan:

“Iman bukanlah kemampuan manusia untuk menciptakan realitas, melainkan anugerah Roh Kudus yang menyatukan manusia dengan realitas Allah.”

John Calvin menulis:

“Kristus memerintahkan kita bukan sekadar percaya bahwa Allah ada, melainkan bergantung penuh pada-Nya dengan keyakinan yang tenang terhadap kebaikan-Nya.”

Dalam kerangka teologi Reformed, iman adalah instrumen anugerah, bukan sumber kekuatan diri. Kita tidak memiliki iman sejati tanpa Roh Kudus yang menanamkannya di hati.

Markus 11:23: “Gunung ini akan terangkat dan terlempar ke laut”

“Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu, siapa pun yang berkata kepada gunung ini, ‘Terangkatlah dan terlemparlah ke dalam laut,’ dengan tidak ragu di dalam hatinya, tetapi percaya bahwa apa yang dia katakan akan terjadi, maka hal itu akan terjadi padanya.”

Ungkapan “memindahkan gunung” adalah ungkapan Ibrani kuno yang berarti “melakukan hal yang tampaknya mustahil.”
Yesus tidak sedang mengajarkan magis atau kekuatan pikiran, tetapi kekuatan doa yang berakar dalam iman kepada Allah yang berdaulat.

Dalam teologi Reformed, iman tidak pernah berdiri sendiri — iman selalu terarah kepada objeknya, yaitu Allah yang berkuasa dan setia.

John Owen menjelaskan:

“Iman tidak memiliki nilai karena dirinya sendiri, tetapi karena Allah yang menjadi objeknya. Besarnya iman tidak lebih penting daripada kemuliaan dari Pribadi yang dipercaya.”

Ketika Yesus berkata “jangan ragu,” Ia tidak menuntut perasaan yakin 100% tanpa kelemahan, melainkan keteguhan hati yang bersandar pada kehendak Allah.
Iman yang sejati tidak menuntut Allah, melainkan menyerahkan diri kepada rencana Allah yang lebih tinggi.

R.C. Sproul memperingatkan:

“Ayat ini sering disalahgunakan untuk mengajarkan teologi kemakmuran, seolah iman adalah alat untuk mendapatkan apapun yang diinginkan manusia. Padahal, Yesus berbicara tentang iman yang tunduk pada kehendak Bapa, bukan iman yang memerintah Bapa.”

Markus 11:24: “Percayalah bahwa kamu telah menerimanya”

“Sebab itu, Aku berkata kepadamu, apa saja yang kamu minta dalam doa, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan menjadi milikmu.”

Yesus berbicara tentang keyakinan iman dalam doa. Namun, penting untuk menafsirkan ayat ini dalam konteks keseluruhan ajaran-Nya.
Dalam 1 Yohanes 5:14, ditegaskan:

“Jika kita meminta sesuatu menurut kehendak-Nya, Ia mendengarkan kita.”

Iman sejati selalu berjalan seiring dengan kehendak Allah.
Doa bukanlah sarana memaksa Allah, melainkan alat yang dengannya kita bersekutu dengan kehendak-Nya.

John Piper berkata:

“Doa bukan remote control untuk mengubah dunia sesuai keinginan kita, tetapi saluran komunikasi yang mengubah hati kita agar selaras dengan kehendak Allah.”

Herman Bavinck menulis:

“Doa yang beriman bukan berarti meniadakan kedaulatan Allah, melainkan justru mengakui bahwa segala sesuatu bergantung pada kehendak dan kasih-Nya.”

IV. Teologi Iman Menurut Tradisi Reformed

1. Iman sebagai Anugerah, bukan Usaha

Dalam pandangan Reformed, iman bukanlah kemampuan alami manusia untuk mempercayai sesuatu yang sulit, melainkan pemberian Allah yang memperbarui hati.

Efesus 2:8–9 menegaskan:

“Sebab oleh kasih karunia kamu diselamatkan melalui iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.”

Calvin berkata:

“Iman adalah tangan kosong yang menerima segala sesuatu dari Allah.”

Artinya, iman bukanlah syarat keselamatan, melainkan alat untuk menerima keselamatan.

2. Iman yang Aktif dan Berbuah

Iman sejati tidak mati; ia selalu menghasilkan buah.
Yakobus berkata:

“Iman tanpa perbuatan adalah mati.” (Yakobus 2:26)

Dalam konteks Markus 11, iman yang sejati berbuah dalam ketaatan, doa yang benar, dan kesetiaan.
Pohon ara yang kering menjadi peringatan bahwa iman yang tidak menghasilkan buah adalah iman palsu.

Jonathan Edwards menulis:

“Iman yang menyelamatkan adalah iman yang bekerja melalui kasih. Iman itu bukanlah keyakinan kosong, tetapi keterikatan hati pada Kristus.”

V. Gunung-Gunung dalam Hidup: Aplikasi Iman yang Realistis

Yesus berbicara tentang “gunung” yang bisa terlempar ke laut. Dalam kehidupan nyata, “gunung” melambangkan rintangan besar, penderitaan, atau dosa yang tampak tak tergoyahkan.

Namun iman sejati tidak meniadakan gunung itu, melainkan menghadapinya dalam kebergantungan kepada Allah.

1. Gunung Dosa

Dosa sering tampak seperti gunung yang tidak bisa dipindahkan. Tetapi salib Kristus membuktikan bahwa kuasa dosa telah dihancurkan.
Iman berarti berpegang pada kemenangan Kristus di atas kelemahan kita sendiri.

2. Gunung Ketakutan dan Kekhawatiran

Iman sejati tidak berarti tidak ada rasa takut, melainkan percaya kepada Allah di tengah ketakutan.

Seperti dikatakan oleh R.C. Sproul:

“Iman sejati bukan ketiadaan keraguan, tetapi keinginan untuk tetap taat di tengah keraguan.”

3. Gunung Pelayanan

Kadang kita menghadapi tugas rohani atau panggilan hidup yang terasa mustahil. Markus 11:23–24 mengingatkan kita bahwa kuasa pelayanan bukan berasal dari diri kita, tetapi dari Allah yang mampu melakukan yang mustahil.

VI. Iman dan Doa: Relasi yang Tak Terpisahkan

1. Doa sebagai Ekspresi Iman

Doa bukan tambahan opsional bagi iman — doa adalah napas iman itu sendiri.
Ketika Yesus berkata, “apa saja yang kamu minta dalam doa,” Ia menunjukkan bahwa iman sejati selalu bersuara dalam doa.

Calvin menulis:

“Doa adalah laboratorium iman; di sanalah iman diuji, diperkuat, dan dimurnikan.”

2. Percaya Bahwa Telah Diterima

Pernyataan Yesus “percayalah bahwa kamu telah menerimanya” menunjukkan keyakinan eskatologis — iman yang melihat realitas janji Allah sebagai kepastian, walau belum terjadi.
Iman sejati memandang janji Allah sebagai lebih nyata daripada keadaan sekarang.

Bavinck menjelaskan:

“Iman hidup dalam dua dunia: dunia janji dan dunia kenyataan. Ia yakin bahwa janji Allah lebih pasti daripada fakta dunia.”

VII. Kesalahan Umum dalam Menafsirkan Markus 11:24

  1. Teologi Kemakmuran (Prosperity Gospel):
    Menafsirkan ayat ini sebagai jaminan bahwa setiap permintaan akan dikabulkan asal kita cukup percaya.
    → Ini salah karena iman sejati tunduk pada kehendak Allah, bukan menuntut kehendak manusia.

  2. Psikologi Positif:
    Menganggap iman hanya sebagai “pikiran positif” yang menarik hasil baik.
    → Iman bukan kekuatan mental, tetapi kepercayaan rohani kepada karakter Allah.

  3. Magis atau Manipulatif:
    Menggunakan doa sebagai mantra.
    → Doa bukan mekanisme untuk mengontrol Allah, tetapi sarana untuk mengenal dan tunduk kepada-Nya.

R.C. Sproul menegaskan:

“Doa yang sejati bukanlah mencoba mengubah pikiran Allah, melainkan membentuk hati kita agar sejalan dengan pikiran-Nya.”

VIII. Dimensi Kristologis: Kristus sebagai Objek dan Teladan Iman

Yesus bukan hanya mengajar tentang iman, Ia sendiri hidup dalam iman yang sempurna kepada Bapa.

Dalam Markus 14:36, Yesus berdoa di Getsemani:

“Ya Bapa, bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.”

Iman sejati meneladani Kristus — percaya pada kedaulatan Bapa bahkan ketika jawaban doa adalah salib.
Kemenangan iman bukan terletak pada perubahan keadaan, tetapi kesetiaan dalam penderitaan.

IX. Iman, Doa, dan Kedaulatan Allah: Harmoni Reformed

Teologi Reformed menegaskan bahwa:

  • Allah berdaulat mutlak atas segala sesuatu.

  • Namun, doa benar-benar efektif karena Allah menetapkan sarana (doa) dan tujuan (jawaban) secara bersamaan.

John Calvin menyebut doa sebagai:

“Alat yang Allah gunakan untuk melaksanakan kehendak-Nya.”

Artinya, ketika kita berdoa dalam iman, kita bukan mengubah rencana Allah, tetapi berpartisipasi dalam pelaksanaannya.

Doa orang beriman bukan tidak perlu — justru itu cara Allah melibatkan kita dalam karya penebusan-Nya.

X. Iman yang Tidak Ragu

Yesus menekankan: “dengan tidak ragu di dalam hatinya.”
Kata “ragu” (Yunani: diakrino) berarti berpecah di dalam hati, tidak sepenuhnya yakin kepada Allah.

Namun iman sejati bukan berarti tidak pernah mengalami kelemahan.
Bahkan Abraham, bapa orang beriman, kadang goyah, tetapi imannya tetap dianggap benar karena ia bersandar pada janji Allah (Roma 4:20–21).

Sproul berkata:

“Allah tidak menuntut iman yang sempurna, tetapi iman yang berpegang pada Pribadi yang sempurna.”

XI. Refleksi Praktis bagi Gereja Masa Kini

  1. Panggilan untuk Iman yang Berakar:
    Gereja masa kini perlu berakar pada Firman, bukan pada perasaan religius atau pengalaman spektakuler.

  2. Panggilan untuk Doa yang Tekun:
    Doa bukan pelengkap kegiatan rohani, tetapi inti kehidupan iman.

  3. Panggilan untuk Berbuah:
    Jangan seperti pohon ara yang hanya memiliki daun. Iman sejati menghasilkan kasih, pelayanan, dan kesetiaan.

  4. Panggilan untuk Rendah Hati:
    Iman yang besar tidak sombong, sebab ia tahu semua berasal dari anugerah Allah.

XII. Kesimpulan Teologis: Iman yang Berakar pada Kedaulatan Allah

Markus 11:20–24 mengajarkan bahwa iman sejati bukan kekuatan manusia, melainkan respons terhadap Allah yang berdaulat dan setia.
Iman itu:

  • Berakar dalam Allah (Markus 11:22)

  • Berani menghadapi hal yang tampak mustahil (ay.23)

  • Berbuah dalam doa yang percaya dan taat (ay.24)

  • Menolak kemunafikan rohani (ay.20–21)

John Calvin menutup tafsirannya dengan kalimat indah:

“Iman adalah mata yang memandang janji Allah, tangan yang memegang kasih karunia-Nya, dan kaki yang berjalan di jalan ketaatan kepada-Nya.”

Dengan demikian, Markus 11 bukan sekadar kisah pohon ara, tetapi panggilan untuk hidup beriman yang sejati — iman yang tidak mencari mujizat, melainkan mengagungkan Allah yang melakukan yang mustahil bagi kemuliaan-Nya.

Next Post Previous Post