Kristus dalam Kitab Keluaran

Kristus dalam Kitab Keluaran

I. Pendahuluan: Dari Mesir ke Golgota — Bayangan yang Menjadi Nyata

Kitab Keluaran (Exodus) bukan sekadar kisah pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, melainkan naskah teologis tentang keselamatan yang menunjuk kepada karya penebusan Kristus.
Nama “Exodus” sendiri berarti “keluar” — dan seluruh narasi di dalamnya menggambarkan bagaimana Allah membawa umat-Nya keluar dari perbudakan menuju kebebasan, melalui darah, perjanjian, dan penyertaan Ilahi.

Teologi Reformed memandang Perjanjian Lama bukan sebagai kumpulan kisah moral, melainkan bayangan tipologis (types and shadows) dari realitas rohani yang digenapi dalam Kristus.
Seperti dikatakan oleh Geerhardus Vos, “Seluruh sejarah penebusan adalah gerak progresif dari bayangan menuju wujud, dari janji menuju pemenuhan, dari Keluaran menuju Salib.”

Yesus sendiri menegaskan hal ini:

“Sebab jika kamu percaya kepada Musa, kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab tentang Aku-lah ia telah menulis.”
(Yohanes 5:46)

Maka, untuk memahami Kristus secara penuh, kita harus menelusuri jejak kasih karunia-Nya dalam Keluaran.

II. Kristus sebagai Penyelamat dalam Keluaran

1. Allah yang Membebaskan dari Perbudakan

Keluaran dimulai dengan gambaran tragis: umat Allah diperbudak oleh Firaun, raja Mesir. Mereka ditindas, dipaksa bekerja, dan hidup di bawah tekanan.
Secara rohani, ini melambangkan kondisi manusia dalam dosa.

R.C. Sproul menulis:

“Perbudakan di Mesir bukan sekadar sejarah politik; itu adalah metafora eksistensial tentang manusia yang terikat oleh kuasa dosa dan Iblis.”

Seperti Israel, manusia modern juga hidup di bawah perbudakan rohani — diperintah oleh hawa nafsu, ketakutan, dan keinginan duniawi.
Namun Allah mendengar keluhan umat-Nya dan berkata kepada Musa:

“Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir.”
(Keluaran 3:8)

Kalimat ini mencerminkan Injil — Allah yang turun untuk menyelamatkan, bukan manusia yang naik kepada Allah melalui usaha.
Itulah inti kasih karunia.

Herman Bavinck menegaskan:

“Keluaran adalah Injil dalam bentuk sejarah: Allah yang berinisiatif, manusia yang ditolong.”

2. Musa: Tipologi Kristus Sang Penebus

Musa adalah tokoh sentral dalam Keluaran, namun ia sendiri bukan tujuan akhir — ia adalah bayangan dari Kristus.

Beberapa kesamaan penting antara Musa dan Kristus:

AspekMusaKristus
Kelahiran ajaibLolos dari pembunuhan bayiLahir dari anak dara
Panggilan dari Allah“Aku mengutus engkau ke Firaun” (Kel. 3:10)“Bapa mengutus Aku” (Yoh. 20:21)
PenebusanMembebaskan Israel dari MesirMembebaskan umat-Nya dari dosa
Perantara perjanjianSinaiKalvari
Doa syafaatMendoakan Israel yang berdosaMendoakan umat pilihan di hadapan Bapa

John Calvin dalam komentarnya menulis:

“Musa adalah cermin di mana kita melihat Kristus yang sejati: pembebas, nabi, dan perantara antara Allah dan manusia.”

Namun perbedaan utama adalah bahwa Musa hanya alat, sedangkan Kristus adalah Sang Penebus itu sendiri.

III. Anak Domba Paskah: Kristus yang Disembelih bagi Umat-Nya

Puncak teologi penebusan dalam Keluaran terletak pada Paskah pertama (Keluaran 12) — malam ketika Israel diselamatkan oleh darah anak domba.

“Ambillah seekor anak domba… sembelihlah, dan ambillah sedikit darahnya, lalu sapukan pada kedua tiang pintu.”
(Keluaran 12:3–7)

Ketika malaikat maut lewat, rumah yang ditandai oleh darah diluputkan dari hukuman.

1. Makna Tipologis Anak Domba

Anak domba Paskah adalah bayangan langsung dari Kristus.
Paulus menegaskan:

“Sebab anak domba Paskah kita, yaitu Kristus, telah disembelih.”
(1 Korintus 5:7)

Darah anak domba itu tidak memiliki kuasa magis, tetapi melambangkan darah Kristus yang menyelamatkan dari murka Allah.

Jonathan Edwards menulis:

“Darah di tiang pintu adalah lambang dari darah Kristus yang dicurahkan di kayu salib — tanda keselamatan yang dikenali oleh Allah.”

2. Dari Paskah ke Perjamuan Kudus

Paskah menunjuk pada Perjamuan Kudus yang kemudian diinstitusikan Kristus.
Di Perjamuan Terakhir, Yesus berkata:

“Inilah darah-Ku, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.”
(Matius 26:28)

Keluaran menjadi pengantar bagi perjanjian baru dalam darah Kristus.
Seperti Israel keluar dari Mesir melalui darah anak domba, demikian pula umat percaya keluar dari dosa melalui darah Kristus.

IV. Tiang Awan dan Tiang Api: Kristus sebagai Hadirat dan Penuntun

“TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka, dan pada malam hari dalam tiang api.”
(Keluaran 13:21)

Tiang awan dan api adalah tanda penyertaan Allah di sepanjang perjalanan padang gurun.
Dalam teologi tipologis, ini menunjuk kepada Kristus dan Roh Kudus sebagai penuntun umat Allah.

John Owen menjelaskan:

“Kristus adalah tiang awan yang melindungi dari panas murka Allah, dan Roh-Nya adalah tiang api yang memberi terang di malam gelap kehidupan.”

Tiang awan memberi arah dan perlindungan, sedangkan tiang api memberi penghiburan dan pengharapan.
Inilah simbol kehadiran Kristus yang terus memimpin Gereja-Nya hingga kini:

“Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
(Matius 28:20)

V. Laut Teberau: Baptisan ke dalam Kristus

Ketika bangsa Israel menyeberangi Laut Teberau, mereka melewati air kematian tetapi keluar hidup.
Paulus menafsirkan peristiwa ini dalam 1 Korintus 10:1–2:

“Semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut menjadi pengikut Musa.”

Dalam kerangka Reformed, peristiwa ini menunjuk kepada baptisan rohani ke dalam Kristus.
Air melambangkan kematian terhadap dosa dan kebangkitan menuju hidup baru.

R.C. Sproul menulis:

“Laut Teberau adalah sakramen sejarah — tanda lahiriah dari realitas batin: keselamatan melalui iman kepada Allah yang menyelamatkan.”

Sebagaimana Firaun dan pasukannya ditenggelamkan, demikian pula dosa dan Iblis dikalahkan di dalam Kristus.

VI. Manna dan Air dari Batu: Kristus sebagai Sumber Kehidupan

1. Manna – Roti dari Surga

“Sesungguhnya Aku akan menurunkan roti dari langit bagimu.”
(Keluaran 16:4)

Manna menjadi simbol pemeliharaan Allah yang terus-menerus bagi umat-Nya.
Namun Yesus menjelaskan maknanya lebih dalam:

“Akulah roti hidup yang telah turun dari surga.”
(Yohanes 6:51)

Herman Bavinck menulis:

“Manna tidak hanya mengenyangkan tubuh, tetapi menubuatkan Kristus yang menjadi makanan rohani bagi jiwa.”

Kristus bukan sekadar pemberi berkat, tetapi berkat itu sendiri — roti sejati yang memberi hidup kekal.

2. Air dari Batu – Kristus yang Tertikam

“Lihat, Aku akan berdiri di sana di atas gunung batu di Horeb; pukullah gunung batu itu, dan dari gunung batu itu akan keluar air.”
(Keluaran 17:6)

Paulus menafsirkan secara eksplisit:

“Gunung batu itu ialah Kristus.”
(1 Korintus 10:4)

Ketika Musa memukul batu itu, air mengalir — simbol kematian Kristus yang mengalirkan kehidupan bagi umat-Nya.
John Calvin berkata:

“Batu yang dipukul adalah lambang dari Kristus yang tertikam oleh salib, dan dari sisi-Nya mengalir air hidup bagi dunia.”

VII. Gunung Sinai dan Hukum Allah: Kristus sebagai Penggenapan Taurat

Di Gunung Sinai, Allah memberikan Sepuluh Hukum kepada Israel.
Bagi banyak orang, hukum terlihat bertentangan dengan kasih karunia. Tetapi bagi teologi Reformed, hukum dan kasih karunia bersatu dalam Kristus.

1. Kristus Menggenapi Hukum

Yesus berkata:

“Jangan kamu sangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat; Aku datang bukan untuk meniadakan, melainkan untuk menggenapi.”
(Matius 5:17)

Hukum menuntut kesempurnaan; kasih karunia memenuhi tuntutan itu melalui ketaatan Kristus yang sempurna.

Jonathan Edwards menulis:

“Kristus bukan membatalkan keadilan hukum, melainkan memuaskannya melalui darah dan ketaatan-Nya.”

2. Fungsi Hukum dalam Teologi Reformed

Menurut Calvin, hukum memiliki tiga fungsi:

  1. Menunjukkan dosa (cermin).

  2. Menahan kejahatan (tatanan sosial).

  3. Menjadi pedoman hidup orang percaya.

Dengan demikian, Sinai menunjuk kepada fungsi pedagogis hukum — membawa manusia kepada Kristus sebagai satu-satunya jalan keselamatan.

VIII. Kemah Suci: Kristus sebagai Hadirat Allah yang Berdiam di Tengah Umat-Nya

Setelah Sinai, Allah memerintahkan pembangunan Kemah Suci (Tabernakel) agar Ia berdiam di tengah-tengah umat-Nya (Keluaran 25–40).
Setiap detailnya — dari tirai, mezbah, sampai tabut perjanjian — adalah simbol Kristus dan karya keselamatan-Nya.

1. Kemah Suci – Inkarnasi Kristus

“Mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka.”
(Keluaran 25:8)

Yohanes 1:14 memakai istilah yang sama:

“Firman itu telah menjadi manusia dan berkemah di antara kita.”
(Kata Yunani eskēnōsen berarti “mendirikan kemah.”)

Artinya, Kemah Suci adalah bayangan dari inkarnasi Kristus.
John Owen menulis:

“Sebagaimana Allah berdiam di dalam Kemah Suci, demikian pula Ia berdiam dalam tubuh Kristus, menyatakan kemuliaan-Nya.”

2. Tabut Perjanjian – Kristus sebagai Takhta Kasih Karunia

Tabut berisi Hukum Allah, ditutupi dengan tutup pendamaian (kaporet) tempat darah dipercikkan.
Di sinilah kasih karunia dan keadilan bertemu.

Kristus adalah Tabut sejati — Hukum Allah di dalam hati-Nya dan darah-Nya menutupi pelanggaran umat-Nya.

R.C. Sproul berkata:

“Tabut Perjanjian adalah miniatur Injil: di bawahnya hukum yang kita langgar, di atasnya darah yang menutupi.”

3. Imam Besar dan Korban

Imam besar memasuki ruang maha kudus sekali setahun dengan darah korban.
Namun Ibrani 9:11–12 menegaskan:

“Kristus telah masuk sekali untuk selama-lamanya ke tempat kudus… dengan membawa darah-Nya sendiri.”

Maka seluruh sistem korban dalam Keluaran hanyalah bayangan dari penebusan sempurna Kristus.

IX. Anak Lembu Emas: Kegagalan Manusia dan Kemenangan Kasih Karunia

Ketika Musa naik ke Sinai, bangsa Israel membuat anak lembu emas dan menyembahnya (Keluaran 32).
Ini menunjukkan natur manusia yang cepat berpaling dari Allah bahkan setelah menerima kasih karunia.

Namun, Musa berdoa:

“Kiranya Engkau mengampuni dosa mereka.”
(Keluaran 32:32)

Di sini kita melihat tipologi Kristus sebagai pengantara — bukan hanya pembebas, tetapi juga pendoa syafaat.
Namun doa Musa terbatas, sedangkan doa Kristus tidak pernah gagal (Ibrani 7:25).

John Calvin menulis:

“Musa berdiri di antara murka dan umat; tetapi Kristus berdiri di antara keadilan dan kasih, membawa keduanya berdamai.”

X. Kemuliaan yang Berpindah: Dari Sinai ke Salib

Ketika Musa turun dari gunung, wajahnya bercahaya karena ia berbicara dengan Allah (Keluaran 34:29).
Kemuliaan itu sementara dan menakutkan. Tetapi Paulus berkata dalam 2 Korintus 3 bahwa kemuliaan yang lama pudar, sedangkan kemuliaan Kristus kekal.

“Sebab Allah yang telah berfirman: ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’ telah membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita untuk memberikan terang pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus.”
(2 Korintus 4:6)

Kristus adalah Musa yang lebih besar — bukan hanya pembawa hukum, tetapi pembawa kemuliaan dan kasih karunia yang kekal.

XI. Teologi Reformed: Kesatuan Sejarah Penebusan

Teologi Reformed menegaskan bahwa seluruh Kitab Suci adalah satu kisah penebusan (Redemptive History).
Kitab Keluaran bukanlah cerita moral tentang kebebasan, melainkan tahapan dari rencana keselamatan yang digenapi dalam Kristus.

Herman Bavinck berkata:

“Tidak ada dua cara keselamatan — satu untuk Israel, satu untuk Gereja — tetapi satu kasih karunia yang dinyatakan dalam berbagai zaman.”

Dengan demikian, setiap elemen Keluaran menunjuk kepada Injil Kristus:

  • Mesir → Dosa

  • Firaun → Iblis

  • Musa → Kristus

  • Anak domba Paskah → Salib

  • Laut Teberau → Baptisan

  • Manna → Roti Hidup

  • Gunung Sinai → Hukum yang digenapi Kristus

  • Kemah Suci → Inkarnasi

  • Tabut → Hadirat Allah dalam Kristus

  • Tanah Perjanjian → Kemuliaan kekal

XII. Aplikasi Teologis dan Rohani

  1. Kristus adalah Penebus yang Hidup.
    Keluaran mengingatkan kita bahwa keselamatan adalah pekerjaan Allah dari awal hingga akhir.

  2. Kita hidup dalam Eksodus rohani.
    Setiap orang percaya sedang berjalan dari “Mesir” (dosa) menuju “Kanaan surgawi” (kemuliaan).

  3. Ketaatan adalah respons terhadap kasih karunia.
    Israel diselamatkan sebelum menerima hukum — begitu pula kita. Kita taat karena sudah diselamatkan, bukan agar diselamatkan.

  4. Hadirat Allah menjadi pusat kehidupan.
    Tanpa tiang awan, mereka tersesat. Tanpa Kristus, kita kehilangan arah.

  5. Penyembahan sejati lahir dari pengenalan akan Kristus.
    Semakin kita melihat Kristus dalam Kitab Keluaran, semakin kita bersyukur atas kasih karunia yang digenapi di salib.

XIII. Pandangan Para Teolog Reformed

John Calvin

“Musa memimpin keluar dari Mesir, tetapi Kristus memimpin keluar dari kematian. Keluaran hanyalah bayangan; salib adalah kenyataan.”

Jonathan Edwards

“Seluruh sejarah Israel adalah lukisan agung tentang Kristus. Setiap korban, setiap hukum, setiap mukjizat — semuanya menunjuk pada Dia.”

Herman Bavinck

“Injil bukanlah ide baru dalam Perjanjian Baru; ia sudah dinyatakan dalam setiap halaman Keluaran.”

R.C. Sproul

“Kasih karunia di Mesir sama dengan kasih karunia di Kalvari — anugerah yang menyelamatkan umat pilihan dari murka Allah.”

John Owen

“Kemah Suci adalah janji; Kristus adalah pemenuhannya. Darah domba hanyalah tanda; darah Kristus adalah realitas.”

XIV. Penutup: Dari Bayangan ke Terang yang Sempurna

Kitab Keluaran berakhir dengan gambar yang luar biasa:

“Kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci.”
(Keluaran 40:34)

Namun kemuliaan itu belum sempurna — masih tertutup tabir, masih terbatas bagi umat pilihan.
Ribuan tahun kemudian, tabir itu terbelah di salib Kristus, dan hadirat

Next Post Previous Post