Zakharia 3:3–5: Dari Pakaian Kotor ke Pakaian Pesta

I. Pendahuluan: Gambaran Injil dalam Nubuatan Zakharia
Kitab Zakharia sering dianggap sulit, penuh penglihatan simbolik dan bahasa profetis yang mendalam. Namun, di balik simbol-simbol itu terdapat pewahyuan Injil yang paling indah dalam seluruh Perjanjian Lama — pembenaran oleh kasih karunia.
Perikop Zakharia 3:3–5 menggambarkan seorang imam besar, Yosua, berdiri di hadapan malaikat TUHAN (sering diidentifikasi sebagai Kristus pra-inkarnasi). Ia berdiri dengan pakaian kotor, simbol dosa dan ketidaklayakan umat Allah. Tetapi dalam tindakan kasih karunia yang penuh kuasa, pakaian itu dilepaskan, kesalahannya dihapus, dan ia dikenakan pakaian pesta — simbol kebenaran ilahi.
Di sinilah kita melihat gambaran mendalam tentang Injil Kristus: manusia yang berdosa dibersihkan, dibenarkan, dan dipulihkan oleh kasih karunia Allah semata.
John Calvin menyebut perikop ini sebagai “miniatur dari doktrin pembenaran oleh iman.” Dalam tafsirannya atas Zakharia, ia menulis:
“Tidak ada yang dapat berdiri di hadapan Allah kecuali mereka yang diliputi oleh kebenaran Kristus. Pakaian kotor Yosua melambangkan keadaan semua orang sebelum mereka dibenarkan oleh kasih karunia.”
II. Latar Belakang Historis: Yosua Sang Imam Besar dan Pemulihan Israel
Zakharia bernubuat pada masa setelah pembuangan Babel, sekitar tahun 520 SM, sejaman dengan Hagai. Umat Israel baru saja kembali ke Yerusalem dan sedang berjuang membangun kembali Bait Suci dan kehidupan rohani mereka.
Yosua bin Yozadak adalah imam besar pada masa itu (lih. Ezra 3:2). Namun, meskipun ia memiliki jabatan kudus, bangsa itu masih diliputi oleh dosa, rasa malu, dan ketidaklayakan.
Penglihatan ini muncul untuk menunjukkan bahwa pemulihan rohani tidak datang melalui upacara atau usaha manusia, tetapi melalui kasih karunia Allah yang menyucikan.
III. Eksposisi Ayat demi Ayat
Zakharia 3:3: “Adapun Yosua dikenakan pakaian yang kotor ketika dia berdiri di hadapan malaikat itu.”
Kata “kotor” di sini (Ibrani: tsô’îm) secara harfiah berarti “ternoda oleh kotoran atau limbah” — bukan hanya debu, tetapi kenajisan ekstrem.
Ini melambangkan dosa, pelanggaran, dan ketidaklayakan moral.
Dalam konteks Ibrani, imam besar seharusnya bersih dan kudus ketika menghadap Allah. Namun, Yosua, yang mewakili seluruh bangsa, berdiri dengan pakaian najis. Gambaran ini memperlihatkan kondisi rohani Israel — tercemar oleh dosa dan tidak layak untuk melayani Allah.
John Owen dalam The Mortification of Sin menulis:
“Setiap orang, bahkan yang paling saleh, berdiri di hadapan Allah dengan pakaian kotor jika bukan karena darah Kristus yang menutupi dosanya.”
Dengan kata lain, tidak ada kekudusan manusia yang cukup murni untuk bertahan di hadapan hadirat ilahi. Inilah titik awal Injil — pengakuan akan ketidaklayakan total.
Zakharia 3:4: “Lepaskanlah pakaian yang kotor itu darinya... Aku telah menjauhkan kesalahanmu darimu dan aku akan mengenakan pakaian-pakaian pesta kepadamu.”
Inilah momen kasih karunia yang aktif.
Malaikat TUHAN tidak menyuruh Yosua mengganti pakaiannya sendiri — tindakan itu dilakukan oleh Allah sendiri.
“Lepaskanlah...” menunjukkan inisiatif ilahi, bukan usaha manusia.
Frasa “Aku telah menjauhkan kesalahanmu” menyatakan penghapusan dosa (forgiveness of sin). Namun tindakan selanjutnya — “Aku akan mengenakan pakaian pesta kepadamu” — berbicara lebih dalam: pemberian kebenaran positif (imputed righteousness).
Ini menggambarkan dua sisi karya pembenaran:
-
Dosa dihapuskan.
-
Kebenaran Kristus diperhitungkan kepada kita.
Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics menulis:
“Allah tidak hanya menghapus dosa kita, tetapi juga mengenakan kepada kita kebenaran Kristus. Pembenaran bukan hanya negatif (pengampunan), tetapi positif (penerimaan).”
Dengan demikian, Yosua tidak lagi hanya “tidak berdosa”, tetapi dinyatakan benar dan layak di hadapan Allah.
Zakharia 3:5: “Pakaikanlah serban yang tahir di atas kepalanya!”
Serban (Ibrani: tsaniph tahor) adalah bagian penting dari busana imam besar (lih. Keluaran 28:36–38). Pada serban itu tertulis:
“Kudus bagi TUHAN.”
Dengan mengenakan serban yang tahir, Yosua dipulihkan sepenuhnya ke dalam pelayanan imamatnya.
Ini bukan hanya simbol pembenaran pribadi, tetapi juga pemulihan panggilan dan pelayanan.
Kasih karunia tidak hanya membersihkan dosa, tetapi juga memulihkan tujuan hidup manusia untuk melayani Allah.
John Calvin menafsirkan ayat ini dengan berkata:
“Allah tidak hanya menghapus dosa kita, tetapi juga memperbarui kita supaya kita dapat melayani Dia dengan hati yang murni.”
IV. Teologi Reformed dalam Penglihatan Zakharia
1. Kasih Karunia yang Berdaulat
Seluruh peristiwa ini adalah inisiatif Allah. Yosua tidak meminta, tidak membela diri, dan tidak mengubah pakaiannya.
Kasih karunia datang tanpa syarat.
R.C. Sproul menulis:
“Kasih karunia bukan Allah memberi sedikit bantuan bagi yang mencoba. Kasih karunia adalah Allah menyelamatkan mereka yang tidak bisa menolong diri mereka sendiri.”
Inilah inti dari doktrin anugerah tak tertahankan (irresistible grace) — kasih karunia Allah yang efektif dalam menebus orang pilihan.
2. Pembenaran oleh Iman Saja
Zakharia 3 menggambarkan doktrin pembenaran (justification) yang kelak dijelaskan Paulus dalam Roma 3–5.
Yosua berdiri di hadapan Allah dalam keadaan tercemar, tetapi dibenarkan bukan oleh perbuatan, melainkan oleh tindakan kasih karunia.
Jonathan Edwards menulis:
“Dalam pembenaran, manusia tidak menyumbang apa pun kecuali dosa. Segala kebenaran yang kita miliki datang dari Kristus.”
Kasih karunia bukan hanya menghapus masa lalu, tetapi memberikan posisi baru di hadapan Allah.
3. Kebenaran yang Diperhitungkan (Imputed Righteousness)
Ketika malaikat berkata, “Aku akan mengenakan pakaian pesta kepadamu,” itu menggambarkan pertukaran ilahi:
kotoran dosa kita diganti dengan kebenaran Kristus.
Inilah yang Paulus maksudkan:
“Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita menjadi kebenaran Allah.”
(2 Korintus 5:21)
John Calvin menulis:
“Kebenaran Kristus adalah jubah yang menutupi ketelanjangan kita. Tanpa itu, kita hanya memiliki pakaian kotor yang memalukan.”
V. Dimensi Kristologis: Malaikat TUHAN sebagai Kristus
Dalam banyak teks Perjanjian Lama, malaikat TUHAN muncul sebagai pribadi ilahi yang berbicara dan bertindak dengan otoritas Allah sendiri. Dalam tradisi Reformed, sosok ini sering dipahami sebagai penampakan Kristus pra-inkarnasi (Theophany of Christ).
Ia yang berkata, “Aku telah menjauhkan kesalahanmu,” bukanlah malaikat biasa, tetapi Sang Anak Allah yang kelak menggenapinya di salib.
Kasih karunia yang dinyatakan di sini menubuatkan karya Kristus di Golgota.
John Owen menulis:
“Kristus, sebagai Imam Besar kekal, tidak hanya berdiri di hadapan Allah untuk kita, tetapi juga menggantikan kita di tempat Yosua berdiri — memikul pakaian kotor kita dan mengenakan kebenaran-Nya kepada kita.”
Dengan demikian, Zakharia 3:3–5 adalah bayangan Injil, di mana kasih karunia Kristus dinyatakan bahkan sebelum salib ditegakkan.
VI. Aspek Simbolik: Pakaian, Serban, dan Berdiri di Hadapan Allah
1. Pakaian Kotor – Dosa dan Ketidaklayakan
Melambangkan kondisi manusia setelah kejatuhan. Semua usaha moral dan religius kita, tanpa Kristus, hanyalah “kain kotor” (Yesaya 64:6).
2. Pakaian Pesta – Kebenaran Kristus
Melambangkan pembenaran dan status baru. “Pesta” menunjukkan sukacita keselamatan, bukan sekadar pembebasan dari hukuman.
3. Serban Tahir – Kekudusan dan Pelayanan
Menandakan pemulihan posisi rohani. Orang yang dibenarkan akan dikuduskan dan diperlengkapi untuk melayani.
4. Berdiri di Hadapan Malaikat
Gambaran posisi manusia di hadapan takhta pengadilan ilahi. Tetapi kini, yang dahulu berdiri dalam aib, kini berdiri dalam kemuliaan kasih karunia.
VII. Aplikasi Teologis dan Rohani
1. Kita Semua Adalah Yosua
Setiap manusia berdosa adalah Yosua — berdiri di hadapan Allah dengan pakaian kotor dosa. Tidak ada perbuatan baik, moralitas, atau agama yang dapat membersihkannya.
Tetapi Allah berinisiatif: Ia berkata, “Lepaskan pakaian itu darinya.”
John Piper menulis:
“Injil bukanlah tentang bagaimana manusia berusaha mendekati Allah, tetapi bagaimana Allah turun untuk membungkus manusia dengan kebenaran Kristus.”
2. Kasih Karunia Menghapus Dosa, Bukan Menoleransinya
Malaikat tidak menutupi kotoran Yosua, tetapi menggantikannya dengan pakaian baru.
Kasih karunia sejati tidak menutupi dosa sambil membiarkannya tetap ada, tetapi mencabut akar dosa itu dan menggantinya dengan hidup baru.
3. Kasih Karunia Mengangkat dari Rasa Bersalah
Yosua berdiri malu dan diam — seperti orang berdosa yang tahu dirinya bersalah. Namun kasih karunia mengubah rasa bersalah menjadi sukacita.
Inilah yang terjadi ketika seseorang benar-benar memahami pembenaran: rasa bersalahnya diganti dengan damai sejahtera yang sejati.
4. Pemulihan untuk Melayani
Serban yang tahir menandakan bahwa orang yang dibenarkan dipanggil untuk melayani.
Keselamatan bukan hanya untuk diselamatkan dari dosa, tetapi untuk diutus sebagai saksi kasih karunia.
R.C. Sproul menulis:
“Kasih karunia yang sejati selalu produktif. Ia menghasilkan pelayanan, bukan kemalasan rohani.”
VIII. Pandangan Beberapa Pakar Teologi Reformed
John Calvin (1509–1564)
“Dalam Yosua kita melihat diri kita sendiri. Tidak ada satu pun dari kita yang dapat menghadap Allah dengan pakaian bersih. Tetapi Kristus, Imam Besar kita, menggantikan pakaian itu dengan kebenaran-Nya.”
Jonathan Edwards (1703–1758)
“Ketika Allah mengenakan kebenaran Kristus kepada manusia, Ia bukan hanya menghapus noda dosa, tetapi juga memberi keindahan ilahi yang membuat manusia diterima di hadapan takhta.”
Herman Bavinck (1854–1921)
“Pembenaran bukan sekadar pengampunan, melainkan pernyataan kasih Allah yang positif bahwa orang berdosa kini menjadi anak-Nya, berpakaian kemuliaan Kristus.”
John Owen (1616–1683)
“Setiap dosa adalah pakaian kotor yang harus ditanggalkan. Tetapi hanya Kristus yang dapat melakukannya. Iman hanyalah tangan yang menerima pakaian baru itu.”
R.C. Sproul (1939–2017)
“Zakharia 3 adalah drama keselamatan. Yosua berdiri bersalah, Iblis menuduhnya, tetapi Kristus membela dan membersihkan. Itulah Injil dalam bentuk simbolik.”
IX. Kristus sebagai Imam Besar yang Lebih Agung
Yosua hanyalah bayangan dari Kristus, Imam Besar sejati. Dalam Ibrani 7:25, kita membaca:
“Ia sanggup menyelamatkan dengan sempurna mereka yang datang kepada Allah melalui Dia, sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi pengantara mereka.”
Kristus bukan hanya menghapus pakaian kotor kita, tetapi memberi jubah kebenaran-Nya sendiri.
Ia tidak hanya berdiri di hadapan Allah untuk kita, tetapi mempertahankan kita setiap hari dari tuduhan Iblis.
Dengan demikian, Zakharia 3 bukan hanya kisah masa lalu, tetapi realitas rohani masa kini setiap orang percaya.
X. Kasih Karunia dan Kemuliaan Allah
Akhir dari semua tindakan kasih karunia bukanlah manusia yang dimuliakan, melainkan Allah yang dipermuliakan.
Ketika pakaian kotor Yosua diganti dengan pakaian pesta, siapa yang menerima pujian? Bukan Yosua — tetapi Tuhan yang membersihkannya.
Itulah inti dari Soli Deo Gloria:
Segala sesuatu dalam keselamatan adalah untuk kemuliaan Allah semata.
John Calvin menulis:
“Kasih karunia Allah adalah panggung di mana kemuliaan-Nya dipertunjukkan kepada dunia yang tidak layak.”
XI. Penutup: Dari Aib ke Kemuliaan
Zakharia 3:3–5 adalah kisah Injil yang berbicara dalam simbol-simbol kuno tetapi dengan pesan yang kekal:
Allah mengubah pakaian kotor menjadi pakaian pesta.
Yosua berdiri sebagai simbol kita — berdosa, hina, dan tidak layak. Tetapi dalam Kristus, kita dibersihkan, dibenarkan, dan dipulihkan.
Kasih karunia tidak hanya menghapus dosa, tetapi mengubah identitas.
Maka setiap orang percaya dapat berkata bersama Paulus:
“Oleh kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang.”
(1 Korintus 15:10)
Dan seperti Yosua, kita kini berdiri di hadapan Allah bukan dengan rasa malu, melainkan dengan serban tahir di kepala dan pakaian pesta yang diberikan oleh Kristus.