Kisah Para Rasul 10:23-33: Injil Menembus Batas

Kisah Para Rasul 10:23-33: Injil Menembus Batas

Pendahuluan

Kisah Para Rasul 10:23-33 adalah salah satu titik balik paling penting dalam sejarah keselamatan. Di sini, Injil yang semula dipercayakan kepada bangsa Yahudi mulai menembus batas etnis dan menjangkau bangsa-bangsa lain. Kisah ini bukan sekadar pertemuan antara Petrus dan Kornelius, tetapi peristiwa teologis yang menegaskan bahwa Allah tidak memandang muka (Kisah Para Rasul 10:34) — keselamatan adalah untuk semua yang percaya, Yahudi maupun non-Yahudi.

Dalam teologi Reformed, perikop ini menunjukkan dengan jelas kedaulatan anugerah Allah dalam panggilan keselamatan (effectual calling) serta universalitas Injil dalam rencana penebusan Allah. Kornelius bukanlah pencari Allah yang kebetulan menemukan jalan; ia adalah contoh bagaimana anugerah Allah lebih dahulu bekerja dalam hati manusia untuk mempersiapkannya menerima kabar keselamatan.

I. Konteks Historis dan Teologis

Petrus, seorang rasul Yahudi, baru saja menerima penglihatan tentang kain besar yang berisi berbagai jenis binatang, baik yang halal maupun yang haram (Kis. 10:9–16). Melalui penglihatan itu, Allah mengajar bahwa tidak ada lagi perbedaan antara orang Yahudi dan bangsa lain dalam hal penerimaan Injil.

Kornelius, seorang perwira Romawi yang saleh dan takut akan Allah, menerima perintah ilahi untuk memanggil Petrus. Kedua peristiwa ini — penglihatan Petrus dan doa Kornelius — menunjukkan orkestrasi ilahi di mana Allah sendiri mengatur perjumpaan dua dunia yang sebelumnya terpisah: dunia Yahudi dan dunia kafir.

John Stott dalam komentarnya tentang Kisah Para Rasul menulis:

“Perjumpaan Petrus dan Kornelius adalah titik di mana Injil menembus dinding pemisah etnis. Allah tidak hanya mengutus Petrus untuk berkhotbah kepada Kornelius, tetapi terlebih dahulu mempersiapkan hati mereka berdua agar siap menerima satu sama lain dalam kasih karunia.” (The Message of Acts)

II. Kisah Para Rasul 10:23–24: Ketaatan dan Kesediaan Mengikuti Panggilan Allah

“Petrus mengundang mereka masuk dan memberi mereka tumpangan… Keesokan harinya ia berangkat bersama mereka.”

Ini adalah tindakan revolusioner bagi seorang Yahudi. Menampung utusan bangsa kafir berarti melanggar tradisi sosial dan religius Yahudi. Namun Petrus taat kepada penglihatan yang ia terima dari Tuhan.

John Calvin menafsirkan bagian ini dengan menyoroti ketaatan Petrus sebagai bukti transformasi anugerah:

“Petrus tidak lagi tunduk pada hukum seremonial yang telah digenapi dalam Kristus. Ia kini dipimpin oleh Roh, bukan oleh tradisi. Ketika hati diperbarui oleh anugerah, ia berani menentang kebiasaan yang salah demi kebenaran Injil.” (Commentary on Acts)

Ketaatan Petrus menandakan pergeseran besar dari eksklusivisme ke inklusivitas Injil. Ia mulai mengerti bahwa keselamatan bukan hanya bagi satu bangsa, tetapi bagi semua yang percaya.

Demikian juga Kornelius. Ia menanti dengan penuh iman, mengumpulkan keluarga dan teman-temannya (ay. 24). Tindakan ini menunjukkan bahwa iman sejati selalu bersifat misioner. Orang yang mengenal Allah rindu agar orang lain juga mendengarnya.

R.C. Sproul menulis:

“Pekerjaan Roh Kudus bukan hanya membuat seseorang percaya, tetapi juga menggerakkan dia untuk membawa orang lain kepada Injil.” (The Invisible Hand of God)

III. Kisah Para Rasul 10:25–26: Penolakan Penyembahan Manusia dan Penegasan Kemuliaan Allah

“Ketika Petrus masuk, Kornelius berlutut dan menyembahnya. Tetapi Petrus berkata, ‘Berdirilah! Aku hanya seorang manusia juga.’”

Peristiwa ini mengandung dua pelajaran penting:

  1. Manusia, betapa pun rohaninya, tidak layak disembah.

  2. Hanya Allah yang harus dipuji dan dimuliakan.

Tindakan Kornelius mungkin timbul dari rasa hormat yang berlebihan, tetapi Petrus segera menegur dan menegakkan prinsip Reformasi yang penting: Soli Deo Gloria — hanya bagi Allah segala kemuliaan.

Spurgeon menulis:

“Petrus berdiri teguh di bawah prinsip Injil: tidak ada mediator antara Allah dan manusia selain Kristus. Jika seorang rasul pun menolak disembah, betapa besar kesalahan mereka yang menempatkan manusia di posisi Kristus.” (Metropolitan Tabernacle Pulpit)

Dalam teologi Reformed, ini adalah penegasan otoritas tunggal Kristus dalam keselamatan dan ibadah. Tidak ada manusia, pemimpin, atau institusi gereja yang berhak menjadi perantara antara manusia dan Allah.

IV. Kisah Para Rasul 10:27–28: Perubahan Paradigma dalam Pandangan Petrus

“Kamu tahu bahwa adalah kekejian bagi orang Yahudi untuk berhubungan atau mengunjungi orang bukan Yahudi, tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku bahwa aku tidak seharusnya menyebut siapa pun haram atau najis.”

Ayat ini merupakan deklarasi teologis yang menandai pergeseran besar dalam sejarah gereja.

Petrus mengakui bahwa pemisahan antara “kudus” dan “najis” telah digenapi dalam Kristus. Dinding pemisah antara Yahudi dan non-Yahudi telah dirobohkan (Efesus 2:14–16).

Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics menulis:

“Kristus tidak hanya menebus manusia dari dosa, tetapi juga menebus hubungan antar manusia dari keretakan akibat dosa. Dalam Kristus, segala bangsa dipersatukan menjadi satu umat Allah.”

Ini adalah prinsip dasar teologi perjanjian (covenantal theology): bahwa Allah membentuk satu umat dari segala bangsa, dipersatukan bukan oleh darah atau adat, tetapi oleh iman kepada Kristus.

Dalam konteks modern, pesan ini menantang gereja untuk meninggalkan prasangka rasial, sosial, atau denominasi, karena Injil memanggil kita kepada kesatuan dalam kasih karunia.

V. Kisah Para Rasul 10:29–30: Ketaatan Kornelius terhadap Panggilan Allah

“Aku segera menyuruh orang kepadamu…”

Kornelius adalah contoh orang bukan Yahudi yang dipersiapkan oleh anugerah Allah untuk menerima Injil. Ia tidak mengenal hukum Taurat, tetapi ia memiliki hati yang terbuka kepada Allah.

Louis Berkhof menulis:

“Panggilan umum Allah menjadi efektif hanya ketika Roh Kudus bekerja dalam hati manusia. Kornelius bukan hasil kebajikan manusia, melainkan bukti anugerah yang mempersiapkan.” (Systematic Theology)

Kornelius berdoa, dan Allah menjawab melalui pewahyuan ilahi (ay. 30–32). Peristiwa ini menunjukkan sinergi antara doa dan kedaulatan Allah. Doa tidak mengubah rencana Allah, tetapi merupakan alat yang Allah gunakan untuk menggenapi rencana-Nya.

John Piper menyebutnya “partisipasi manusia dalam kedaulatan Allah”:

“Doa orang benar tidak mengubah Allah, tetapi mengundang manusia untuk terlibat dalam gerak kasih karunia Allah yang sedang bekerja.” (Let the Nations Be Glad)

VI. Kisah Para Rasul 10:31–33: Allah yang Mendengar Doa dan Menjawab dengan Injil

“Doamu sudah didengar dan sedekahmu telah diingat di hadapan Allah.”

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Allah memperhatikan hati yang tulus, bahkan sebelum seseorang mengenal Kristus secara penuh. Namun penting dicatat: sedekah dan doa Kornelius tidak menyelamatkan dia, melainkan menjadi sarana yang dipakai Allah untuk menuntunnya kepada keselamatan sejati melalui Injil.

R.C. Sproul menegaskan:

“Kebaikan moral tanpa Injil tidak dapat menyelamatkan. Namun, Allah yang berdaulat dapat memakai kebaikan itu sebagai jalan untuk membawa seseorang kepada Injil.” (Chosen by God)

Kornelius bukan diselamatkan oleh amalnya, tetapi oleh iman kepada Kristus yang akan ia dengar melalui Petrus.

Ketika ia berkata,

“Sekarang, kita semua ada di sini di hadapan Allah untuk mendengar segala sesuatu yang sudah diperintahkan kepadamu oleh Tuhan,”
ia memperlihatkan kerendahan hati yang sejati — hati yang siap menerima Firman.

Inilah kondisi yang dijelaskan oleh teologi Reformed tentang regenerasi: hati yang sebelumnya mati kini dibuat hidup untuk merespons Firman.

Jonathan Edwards menulis:

“Ketika Allah menghidupkan jiwa, tanda pertamanya adalah kerendahan hati yang bersedia mendengar.” (Religious Affections)

VII. Tema Sentral: Kesatuan Injil dan Kedaulatan Anugerah

Kisah Petrus dan Kornelius bukan hanya peristiwa historis, tetapi manifestasi dari doktrin anugerah umum dan anugerah khusus.

  1. Anugerah umum (common grace) terlihat dalam kesalehan Kornelius — ia berdoa, memberi sedekah, dan takut akan Allah.

  2. Anugerah khusus (saving grace) bekerja ketika Allah mengutus Petrus untuk memberitakan Injil, sehingga Kornelius mengenal keselamatan yang sejati.

Dalam sistem teologi Reformed, ini adalah contoh bagaimana Allah mempersiapkan orang pilihan untuk menerima panggilan efektif. Kornelius dipilih bukan karena kesalehannya, melainkan karena kasih karunia Allah yang bebas dan berdaulat.

John Murray dalam Redemption Accomplished and Applied menulis:

“Panggilan efektif bukanlah jawaban manusia terhadap undangan, melainkan tindakan Allah yang menciptakan respons itu sendiri.”

VIII. Prinsip Doktrinal dari Perikop Ini

1. Sola Gratia – Keselamatan Hanya oleh Anugerah

Kornelius adalah orang baik, tetapi kebaikan manusia tidak dapat menyelamatkan. Hanya anugerah Allah melalui Kristus yang membawa keselamatan sejati.

2. Sola Fide – Keselamatan Diterima oleh Iman

Petrus akan segera mengkhotbahkan Injil yang menuntun Kornelius dan keluarganya kepada iman. Keselamatan bukan hasil amal, tetapi kepercayaan kepada Kristus.

3. Solus Christus – Kristus Satu-satunya Pengantara

Petrus menolak disembah karena hanya Kristus yang layak disembah. Ia adalah satu-satunya jalan menuju Allah (Yohanes 14:6).

4. Soli Deo Gloria – Segala Kemuliaan Hanya bagi Allah

Seluruh kisah ini menunjukkan bahwa Allah-lah yang memulai, mengatur, dan menyelesaikan karya keselamatan. Tidak ada tempat bagi kemuliaan manusia.

IX. Refleksi Teologis dan Praktis

1. Allah yang Berdaulat Mempersiapkan Hati

Sebelum Petrus melangkah, Allah sudah bekerja dalam hati Kornelius. Ini mengingatkan kita bahwa evangelisasi selalu dimulai oleh Allah, bukan oleh manusia.

2. Ketaatan Menghancurkan Dinding Pemisah

Petrus belajar bahwa Injil tidak mengenal batas etnis atau sosial. Gereja masa kini dipanggil untuk hidup dalam inklusivitas Injil, bukan eksklusivitas budaya.

3. Kesediaan untuk Mendengar adalah Tanda Anugerah

Kornelius berkata, “Kami ada di sini di hadapan Allah untuk mendengar.” Gereja sejati selalu ditandai oleh kerendahan hati untuk mendengarkan Firman, bukan sekadar aktivitas religius.

4. Doa dan Ketaatan Menjadi Sarana Karya Allah

Baik doa Kornelius maupun ketaatan Petrus menunjukkan bahwa Allah memakai manusia sebagai alat untuk melaksanakan rencana-Nya yang kekal.

X. Kristus sebagai Pusat Perikop

Seluruh kisah ini berpusat pada Kristus. Dialah yang membuka jalan bagi bangsa-bangsa, memenuhi nubuat Abraham bahwa “oleh keturunanmu segala bangsa akan diberkati” (Kejadian 12:3).

Petrus hanyalah hamba; Kornelius hanyalah penerima anugerah; tetapi Kristus adalah Pribadi yang menghubungkan keduanya.

Spurgeon menulis:

“Kristus adalah jembatan antara dua tepi: antara Allah yang kudus dan manusia yang berdosa, antara Yahudi dan kafir, antara surga dan bumi.”

XI. Penutup: Injil yang Menyatukan Dunia

Kisah Para Rasul 10:23–33 mengajarkan bahwa Injil adalah berita kasih karunia yang melampaui batas manusia.

  • Allah mempersiapkan hati pencari (Kornelius).

  • Allah mengutus saksi (Petrus).

  • Allah menghadirkan pertemuan yang menghasilkan keselamatan.

Semua ini terjadi bukan karena kebetulan, tetapi karena rencana penebusan Allah yang kekal.

Efesus 1:11 menegaskan:

“Dalam Kristus, kita mendapat bagian yang dijanjikan karena kita ditentukan sebelumnya menurut maksud Allah yang melaksanakan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya.”

Next Post Previous Post