Kejadian 11:1–4 - Menara Babel: Ambisi Manusia dan Kedaulatan Allah

Pendahuluan: Kesombongan yang Membangun dan Allah yang Merendahkan
Kisah Menara Babel merupakan salah satu narasi paling terkenal dan teologis dalam kitab Kejadian. Setelah air bah dan perjanjian Allah dengan Nuh, manusia kembali berlipat ganda dan menyebar di bumi. Namun, alih-alih menaati perintah Allah untuk “beranakcuculah dan penuhilah bumi” (Kejadian 9:1), manusia justru berusaha menentang tujuan ilahi itu.
Kejadian 11:1–4 menggambarkan manusia yang berusaha menyatukan diri di luar kehendak Allah dan mendirikan menara menuju langit—simbol kesombongan kolektif dan pemberontakan terhadap otoritas Tuhan. Di balik narasi yang sederhana ini tersembunyi persoalan mendasar tentang dosa, ambisi, dan kedaulatan Allah atas sejarah manusia.
Dalam teologi Reformed, kisah ini menjadi cermin bagaimana manusia berdosa selalu berusaha menegakkan kemuliaannya sendiri (sola hominis gloria) sebagai kebalikan dari prinsip Soli Deo Gloria. Babel bukan sekadar kota; ia adalah gambaran dari hati manusia yang ingin menjadi seperti Allah.
I. Kejadian 11:1 — Bahasa yang Satu: Kesatuan yang Salah Arah
“Pada saat itu, seluruh bumi memiliki satu bahasa dan logat yang sama.”
Kesatuan bahasa ini pada awalnya tampak positif—sebuah tanda persatuan manusia pasca air bah. Namun, Alkitab menunjukkan bahwa kesatuan yang tidak tunduk kepada Allah justru menjadi alat pemberontakan.
John Calvin, dalam Commentary on Genesis, menulis:
“Bahasa adalah anugerah Allah untuk mempererat kasih dan komunikasi antarmanusia. Namun, ketika anugerah itu disalahgunakan, ia menjadi alat untuk menentang Allah.”
Kesatuan yang dimaksud di sini bukanlah kesatuan dalam ibadah kepada Allah, melainkan kesatuan dalam tujuan menentang otoritas Allah. Bahasa yang satu memungkinkan mereka merencanakan dosa dengan lebih efektif.
Calvin menambahkan:
“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berbahaya daripada persatuan yang dibangun tanpa dasar kebenaran.”
Dengan demikian, ayat ini memperingatkan bahwa persatuan manusia tanpa Allah akan selalu berakhir dengan kebinasaan.
II. Kejadian 11:2 — Tanah Sinear: Perjalanan ke Timur dan Simbol Kejatuhan
“Dalam perjalanan ke timur, mereka menemukan dataran di tanah Sinear dan menetap di sana.”
Kata “ke timur” dalam narasi Kejadian sering kali memiliki konotasi pemisahan dari hadirat Allah.
-
Adam dan Hawa diusir ke sebelah timur Taman Eden (Kejadian 3:24).
-
Kain pergi ke tanah Nod di sebelah timur Eden (Kejadian 4:16).
-
Sekarang umat manusia bergerak “ke timur” lagi — arah simbolik menjauh dari Allah.
Mereka menemukan tanah Sinear, yang kemudian dikenal sebagai Babel (Babilonia). Dalam Alkitab, Babel selalu menjadi lambang pemberontakan terhadap Allah (lihat Wahyu 17–18).
Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics menjelaskan:
“Setiap kali manusia berusaha menciptakan masyarakat atau kerajaan tanpa tunduk kepada Allah, mereka sedang membangun Babel yang baru.”
Tanah Sinear bukan hanya lokasi geografis, melainkan simbol teologis dari peradaban manusia yang berpusat pada diri sendiri.
III. Kejadian 11:3 — Teknologi dan Kemajuan Manusia: Anugerah yang Disalahgunakan
“Mari kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik.”
Kemajuan teknologi muncul di sini: manusia menemukan cara membuat batu bata dan aspal sebagai bahan bangunan. Ini menunjukkan kecerdasan dan kreativitas yang diberikan Allah. Namun, masalahnya bukan pada teknologi itu sendiri, melainkan pada tujuan penggunaannya.
Cornelius Van Til, seorang teolog Reformed presupositionalis, menulis:
“Pengetahuan dan kemampuan manusia bersifat analogis — ia berasal dari Allah. Tetapi manusia berdosa menggunakan pengetahuan itu secara otonom, seolah-olah ia sendiri menjadi sumber hikmat.”
Inilah akar dosa Babel: manusia tidak lagi melihat diri sebagai ciptaan, tetapi sebagai pencipta alternatif. Mereka menggunakan kemampuan Allah yang diberikan untuk menyaingi Allah.
R.C. Sproul menyebutnya cosmic treason — pengkhianatan kosmik terhadap Raja yang sah.
“Dosa bukan sekadar pelanggaran moral; ia adalah pemberontakan melawan pemerintahan Allah yang kudus.” (The Holiness of God)
Kemajuan teknologi, budaya, dan pengetahuan tidak salah, tetapi tanpa ketaatan pada Allah, semuanya berubah menjadi alat kesombongan.
IV. Kejadian 11:4 — Menara yang Mencapai Langit: Puncak Kesombongan Manusia
“Mari kita membangun kota bagi kita dengan menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita membuat nama bagi kita supaya kita jangan tersebar ke seluruh muka bumi.”
Ayat ini adalah inti pemberontakan Babel. Ada tiga elemen penting dalam motivasi manusia:
1. “Membangun kota bagi kita” — Keinginan akan keamanan tanpa Allah
Mereka ingin menciptakan tempat perlindungan bagi diri mereka sendiri. Namun, di balik itu ada ketakutan untuk bergantung pada Allah.
John Piper menafsirkan hal ini sebagai bentuk idolatry of security — penyembahan terhadap rasa aman duniawi.
“Ketika manusia berusaha menciptakan keamanan di luar Allah, mereka sedang menukar Allah yang hidup dengan tembok buatan tangan mereka sendiri.”
2. “Menara yang puncaknya sampai ke langit” — Simbol pencapaian dan ilusi keilahian
Tujuan mereka bukan sekadar arsitektur megah, tetapi upaya menaikkan diri ke tingkat Allah.
Ungkapan “ke langit” menggambarkan keinginan untuk menembus wilayah ilahi.
Jonathan Edwards menulis:
“Dosa pertama di taman Eden adalah keinginan untuk menjadi seperti Allah. Dosa di Babel adalah dosa yang sama — hanya dalam skala kolektif.” (The Nature of True Virtue)
Menara Babel adalah manifestasi kolektif dari dosa Eden. Jika di Eden satu pasangan ingin menjadi seperti Allah, kini seluruh umat manusia bersatu untuk melawan-Nya.
3. “Marilah kita membuat nama bagi kita” — Kesombongan dan penolakan terhadap Soli Deo Gloria
Ini adalah inti spiritual dari Babel. Manusia ingin memuliakan nama sendiri, bukan nama Allah.
John Calvin menulis:
“Ambisi mereka bukanlah untuk menghormati Allah, melainkan untuk membesarkan diri. Mereka ingin menghapus nama Allah dan menggantinya dengan nama mereka sendiri.”
Kontras dengan hal ini, Abraham — yang muncul segera setelah kisah Babel — disebut sebagai orang yang dipanggil oleh Allah untuk menjadi berkat bagi segala bangsa.
Jika Babel adalah proyek manusia untuk membuat nama sendiri, maka Allah berjanji kepada Abraham:
“Aku akan membuat namamu besar” (Kejadian 12:2).
Artinya, Allah sendirilah yang meninggikan orang yang rendah hati.
V. Makna Teologis Babel dalam Kerangka Reformed
1. Total Depravity (Kebobrokan Total)
Kisah Babel memperlihatkan betapa dalamnya dosa telah merusak hati manusia. Bahkan setelah air bah — hukuman besar atas dosa — manusia tetap memberontak.
Louis Berkhof menulis:
“Natur manusia tidak berubah karena hukuman atau pendidikan. Hanya anugerah yang dapat memperbaharui hati manusia.” (Systematic Theology)
Air bah menyingkirkan orang jahat, tetapi tidak menghapus dosa. Babel adalah bukti bahwa dosa bukan masalah lingkungan, tetapi masalah hati.
2. Kedaulatan Allah (Divine Sovereignty)
Meski manusia bersatu untuk menantang Allah, rencana mereka akan berakhir sia-sia. Dalam ayat-ayat berikut (Kejadian 11:5–9), Allah turun tangan dan mengacaukan bahasa mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada ambisi manusia yang dapat menggagalkan kehendak Allah.
Herman Bavinck menulis:
“Kedaulatan Allah adalah dasar dari seluruh sejarah. Semua upaya manusia melawan Allah hanyalah sarana bagi Allah untuk menegakkan tujuan-Nya.”
3. Anugerah Umum dan Khusus
Babel menunjukkan dua sisi karya Allah:
-
Dalam anugerah umum, Allah memberi manusia kemampuan dan pengetahuan.
-
Dalam anugerah khusus, Allah menundukkan kesombongan manusia untuk melanjutkan rencana keselamatan.
Dengan mengacaukan bahasa, Allah justru mempersiapkan jalan bagi Pentakosta, di mana bahasa-bahasa yang beragam dipakai untuk memberitakan Injil (Kis. 2:1–11).
R.C. Sproul berkata:
“Apa yang di Babel dipecah karena dosa, di Pentakosta disatukan kembali oleh Roh Kudus.”
VI. Implikasi Bagi Gereja dan Dunia Modern
1. Bahaya Kesatuan Tanpa Kebenaran
Gereja masa kini sering terjebak dalam upaya membangun “menara kesatuan” yang indah di mata manusia, tetapi kosong secara rohani.
Persatuan sejati bukanlah tentang organisasi atau ideologi, melainkan kesatuan dalam kebenaran Injil.
Martyn Lloyd-Jones menegaskan:
“Kesatuan yang tidak berakar dalam kebenaran adalah kesatuan palsu. Gereja tidak dipanggil untuk kompromi, tetapi untuk setia.”
2. Kemajuan Tanpa Takut Akan Tuhan
Zaman modern penuh dengan “menara-menara Babel” baru — pencapaian teknologi, ekonomi, dan sosial yang luar biasa, tetapi sering dibangun tanpa tunduk kepada Allah.
Babel adalah simbol peradaban manusia yang percaya pada otonomi dirinya.
Francis Schaeffer menulis:
“Ketika manusia menjadikan dirinya ukuran segala sesuatu, ia sedang membangun Babel yang baru di hatinya.” (How Should We Then Live?)
3. Identitas di Dalam Kristus, Bukan di Dalam Nama Sendiri
Kita semua secara alami ingin “membuat nama bagi diri kita.”
Namun, di dalam Kristus, kita tidak perlu lagi membuktikan diri. Nama kita sudah tertulis di surga (Luk. 10:20).
Tim Keller berkata:
“Injil membebaskan kita dari obsesi terhadap reputasi. Karena kita sudah diterima di dalam Kristus, kita tidak perlu lagi membangun menara untuk membuat nama.” (The Freedom of Self-Forgetfulness)
VII. Kontras Babel dan Gereja: Dua Kota, Dua Kerajaan
Alkitab menempatkan Babel dan Yerusalem sebagai dua kota dengan dua prinsip dasar:
| Babel | Yerusalem |
|---|---|
| Dibangun oleh manusia | Dibangun oleh Allah |
| Pusat kesombongan | Pusat penyembahan |
| Tujuannya membuat nama sendiri | Tujuannya memuliakan nama Tuhan |
| Bahasa satu untuk pemberontakan | Bahasa banyak untuk penyatuan Injil (Pentakosta) |
| Dihancurkan Allah | Ditegakkan selamanya (Wahyu 21) |
Augustinus dalam City of God menulis:
“Seluruh sejarah manusia adalah kisah dua kota: kota manusia yang mencintai dirinya sendiri sampai melupakan Allah, dan kota Allah yang mencintai Allah sampai melupakan dirinya sendiri.”
VIII. Yesus Kristus: Jawaban atas Dosa Babel
Hanya di dalam Kristus dosa Babel ditebus.
-
Kristus merendahkan diri — kontras dengan manusia yang meninggikan diri.
-
Filipi 2:6–8 menegaskan bahwa Kristus, walau setara dengan Allah, tidak menganggap kesetaraan itu sebagai sesuatu yang harus dipertahankan.
-
Ia “mengosongkan diri-Nya” untuk menyelamatkan manusia yang berusaha meninggikan diri.
-
-
Kristus menyatukan yang terpecah.
-
Di Babel, bahasa dipecah karena kesombongan; di Pentakosta, bahasa dipersatukan karena kasih karunia.
-
Dalam Kristus, segala bangsa disatukan menjadi satu tubuh.
-
-
Kristus adalah nama di atas segala nama.
-
Manusia berkata, “Marilah kita membuat nama bagi kita.”
-
Tetapi Allah meninggikan Yesus dan “mengharuniakan kepada-Nya nama di atas segala nama” (Filipi 2:9).
-
John Stott menulis:
“Kisah Babel menemukan penebusannya di dalam Kristus yang merendahkan diri. Ia menjadi dasar dari persatuan baru umat manusia yang sejati.”
IX. Aplikasi Pribadi: Babel dalam Hati Kita
Babel bukan hanya kisah sejarah; itu adalah cermin hati manusia di setiap zaman.
Setiap kali kita:
-
Membangun karier untuk “membuat nama bagi diri sendiri,”
-
Mengejar kekuasaan tanpa menyerah kepada Allah,
-
Menciptakan sistem keamanan di luar Tuhan,
— kita sedang membangun Babel kecil di dalam hati kita.
Jonathan Edwards memperingatkan:
“Kesombongan adalah dosa pertama yang lahir dan yang terakhir mati.”
Namun kabar baik Injil adalah ini: Allah tidak meninggalkan kita dalam kehancuran Babel. Ia datang menebus dan memberi kita nama baru di dalam Kristus (Wahyu 2:17).
X. Penutup: Dari Babel ke Yerusalem Baru
Kisah Babel dimulai dengan kesatuan yang salah arah, tetapi sejarah keselamatan akan berakhir dengan kesatuan sejati di bawah Kristus — di Yerusalem Baru (Wahyu 21).
Manusia berusaha naik ke surga, tetapi Allah turun ke bumi. Di dalam Yesus Kristus, Allah sendiri datang kepada kita, bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk menyelamatkan dan menyatukan.
Soli Deo Gloria — hanya Allah yang layak dimuliakan, bukan nama manusia, bukan kota Babel, bukan menara duniawi.