Ketika Allah Bertanya
.jpg)
Pendahuluan: Ketika Allah Bertanya
Alkitab penuh dengan pertanyaan. Namun, tidak semua pertanyaan muncul karena ketidaktahuan.
Ketika manusia bertanya, ia mencari pengetahuan.
Tetapi ketika Allah bertanya, Ia mengungkapkan isi hati manusia.
Pertanyaan-pertanyaan Allah sering kali mengejutkan, menusuk nurani, dan mengguncang kesadaran terdalam manusia. Mereka bukan sekadar interogasi, melainkan panggilan untuk introspeksi rohani.
Dalam sejarah keselamatan, Allah menggunakan pertanyaan untuk menyingkap dosa, menuntun pada pertobatan, dan menegaskan kasih karunia-Nya.
Dari taman Eden hingga salib Kristus, pertanyaan-pertanyaan Allah menjadi cermin yang memperlihatkan wajah sejati manusia di hadapan-Nya.
Teologi Reformed memahami bahwa pertanyaan-pertanyaan ini bukan kebetulan. Mereka adalah instrumen anugerah umum dan khusus, sarana Allah untuk membawa manusia kembali kepada kebenaran.
Seperti dikatakan John Calvin dalam Institutes (I.xvii.12):
“Allah berbicara kepada manusia bukan karena Ia tidak tahu, melainkan agar manusia mengenali dirinya di hadapan Allah.”
Mari kita menelusuri beberapa pertanyaan mengejutkan dari Allah dalam Alkitab dan melihat bagaimana masing-masing membuka kedalaman jiwa manusia — dan kemuliaan kasih karunia Allah.
1️⃣ “Di manakah engkau?” – Kejadian 3:9
“Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: ‘Di manakah engkau?’”
a. Latar belakang eksposisi
Pertanyaan pertama yang tercatat dari Allah kepada manusia muncul segera setelah kejatuhan dalam dosa.
Adam dan Hawa, setelah makan buah terlarang, bersembunyi di antara pepohonan taman.
Allah, yang Mahatahu, tentu tidak bertanya karena Ia tidak tahu lokasi mereka. Pertanyaan itu bersifat moral, bukan geografis.
b. Makna teologis
Pertanyaan ini menyelidiki kondisi rohani manusia yang telah terpisah dari Allah.
Seperti dikatakan Matthew Henry:
“Ini bukan pertanyaan tentang tempat, tetapi tentang keadaan hati. Allah memanggil bukan karena Ia kehilangan manusia, melainkan karena manusia kehilangan Allah.”
Dalam perspektif Reformed, pertanyaan ini menggambarkan total depravity — kebobrokan total manusia akibat dosa.
Manusia berusaha menyembunyikan diri dari hadirat Allah, dan inilah kondisi spiritual setiap keturunan Adam.
c. Aplikasi rohani
Allah masih menanyakan hal yang sama hari ini:
“Di manakah engkau?”
Pertanyaan ini mengguncang hati kita yang mungkin tersembunyi di balik religiositas, kesuksesan, atau rasa malu.
R.C. Sproul menulis dalam The Holiness of God:
“Setiap kali manusia berdosa, ia menjadi pelarian rohani. Dan setiap kali Allah bertanya, Ia mengejar kita dengan kasih karunia yang menuntut pertobatan.”
Pertanyaan ini adalah undangan kasih, bukan kutukan. Allah mencari manusia yang hilang — bukan untuk menghukum, tetapi untuk menebus.
2️⃣ “Siapa yang memberitahukan kepadamu bahwa engkau telanjang?” – Kejadian 3:11
Pertanyaan ini langsung mengikuti pertanyaan pertama. Ia menggali lebih dalam ke akar kesadaran dosa.
a. Eksposisi
Adam kini sadar bahwa dirinya telanjang — bukan hanya secara fisik, tetapi secara moral.
Pertanyaan Allah ini menunjukkan bahwa rasa malu dan kesadaran moral adalah akibat langsung dari dosa.
John Calvin mengomentari bagian ini:
“Rasa malu Adam adalah kesaksian bahwa nuraninya telah terbangun. Dosa selalu menelanjangi manusia di hadapan Allah.”
b. Dimensi Reformed
Dalam teologi Reformed, pertanyaan ini menyingkap realitas pengakuan dosa (confessio peccati).
Allah tidak butuh informasi, tetapi Ia menuntun manusia kepada pengakuan.
Pertanyaan ini adalah tindakan kasih karunia awal (prevenient grace) — dorongan Allah agar manusia melihat dosanya sendiri.
Louis Berkhof dalam Systematic Theology menulis:
“Kesadaran akan dosa tidak lahir dari manusia, tetapi dari karya Allah yang mengungkapkan kebenaran-Nya.”
c. Refleksi praktis
Allah masih menelanjangi hati kita dengan pertanyaan ini.
Ia bertanya: “Siapa yang memberitahumu bahwa engkau cukup benar di hadapan-Ku?”
Pertanyaan ini menghancurkan topeng moralitas palsu dan mengarahkan kita kepada kebutuhan akan pakaian kebenaran Kristus.
3️⃣ “Di manakah Habel, adikmu?” – Kejadian 4:9
Pertanyaan ini dialamatkan kepada Kain setelah ia membunuh Habel.
Ini adalah pertanyaan keadilan dan nurani.
a. Eksposisi
Kain menjawab dengan sinis:
“Apakah aku penjaga adikku?”
Dengan jawaban itu, ia menolak tanggung jawab moralnya.
Pertanyaan Allah tidak hanya menyingkap dosa pembunuhan, tetapi juga pembekuan hati manusia terhadap sesamanya.
Kain adalah simbol manusia modern yang hidup dalam individualisme rohani — memutuskan diri dari tanggung jawab sosial.
b. Perspektif Reformed
Cornelius Van Til menjelaskan:
“Dosa tidak hanya memisahkan manusia dari Allah, tetapi juga menghancurkan tatanan hubungan manusia dengan manusia.”
Kain adalah contoh nyata dari korupsi total natur manusia.
Dalam dosa, manusia bukan hanya melawan Allah, tetapi juga menghancurkan citra Allah dalam sesamanya.
c. Aplikasi
Pertanyaan Allah “Di manakah adikmu?” masih bergema hari ini di tengah ketidakpedulian sosial, keegoisan rohani, dan ketidakadilan ekonomi.
Allah menuntut kita untuk mengasihi sesama sebagai respons terhadap kasih karunia.
John Piper menulis:
“Kasih kepada sesama bukanlah sekadar perintah etika; itu adalah refleksi dari kasih yang telah kita terima.”
4️⃣ “Mengapa engkau marah?” – Kejadian 4:6
Pertanyaan ini juga ditujukan kepada Kain sebelum ia jatuh ke dalam dosa pembunuhan.
Ini adalah pertanyaan pencegahan dari kasih Allah.
a. Eksposisi
Allah memperingatkan Kain bahwa dosa sedang mengintip di pintu hatinya.
Pertanyaan “Mengapa engkau marah?” bukan tuduhan, tetapi panggilan untuk introspeksi emosional.
Matthew Henry berkata:
“Allah berbicara kepada Kain sebelum ia berdosa agar Kain mengenal bahaya dari kemarahan yang tidak terkendali.”
b. Perspektif Reformed
Dalam doktrin providence (pemeliharaan Allah), pertanyaan ini menunjukkan bahwa Allah aktif menahan dosa manusia melalui peringatan dan Firman-Nya.
Kain menolak suara itu — dan akibatnya fatal.
John Owen dalam Mortification of Sin menulis:
“Dosa yang tidak dimatikan akan mematikan kita. Pertanyaan Allah adalah sarana kasih karunia agar kita membunuh dosa sebelum dosa membunuh kita.”
c. Aplikasi
Pertanyaan Allah ini menegur kita hari ini:
“Mengapa engkau marah, kecewa, atau iri hati?”
Sebelum dosa menghasilkan tindakan, Allah mengundang kita untuk mengakui akar dosa di hati.
5️⃣ “Di manakah engkau berada?” – 1 Raja-Raja 19:9
Pertanyaan ini diucapkan Allah kepada Elia yang melarikan diri ke gunung Horeb, setelah mengalahkan nabi-nabi Baal.
a. Eksposisi
Elia depresi, lelah, dan merasa sendirian.
Pertanyaan “Apa kerjamu di sini, Elia?” (dalam teks lengkap) mengungkapkan keraguan dan ketakutan nabi besar itu.
Allah tidak menegurnya dengan marah, tetapi mengembalikannya ke misi semula.
b. Perspektif Reformed
Pertanyaan ini menunjukkan bahwa anugerah Allah menopang orang-orang kudus bahkan dalam keputusasaan.
Herman Bavinck menulis:
“Orang percaya tidak dibiarkan dalam kelemahannya; kasih karunia yang memanggil juga memelihara.”
Allah tidak meninggalkan Elia dalam gua ketakutan. Ia datang dengan suara lembut — bukan gempa, bukan api.
Demikian juga, Allah sering datang kepada umat-Nya bukan melalui keajaiban, tetapi melalui firman lembut yang meneguhkan.
c. Aplikasi
Ketika kita letih dalam pelayanan, Allah bertanya:
“Apa kerjamu di sini?”
Pertanyaan ini bukan penghukuman, tetapi undangan untuk kembali kepada panggilan.
6️⃣ “Siapakah yang akan Kuutus?” – Yesaya 6:8
Pertanyaan ini muncul setelah Yesaya melihat kemuliaan Allah di bait suci.
a. Eksposisi
Yesaya baru saja diampuni dari dosanya melalui bara dari mezbah.
Pertanyaan ini bukan karena Allah tidak tahu, tetapi untuk mengundang partisipasi manusia dalam misi Allah.
b. Perspektif Reformed
John Calvin menulis:
“Allah memanggil hamba-hamba-Nya bukan karena Ia membutuhkan mereka, melainkan agar mereka mengalami sukacita dalam ketaatan.”
Pertanyaan “Siapakah yang akan Kuutus?” menunjukkan kerjasama anugerah dan tanggung jawab.
Allah yang berdaulat tetap mengundang manusia untuk menjadi alat dalam rencana kekal-Nya.
c. Aplikasi
Pertanyaan ini menggema di setiap hati yang telah disentuh anugerah:
“Siapa yang akan pergi bagi-Ku?”
Respons orang yang telah diampuni selalu sama dengan Yesaya:
“Ini aku, utuslah aku!”
7️⃣ “Mengapa engkau takut?” – Markus 4:40
Ketika badai mengamuk di danau, Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya:
“Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”
a. Eksposisi
Pertanyaan ini muncul setelah Yesus menenangkan angin ribut.
Ia bukan menegur karena kurangnya keberanian, tetapi karena hilangnya iman di tengah bahaya.
b. Perspektif Reformed
R.C. Sproul menjelaskan:
“Pertanyaan Yesus ini membedakan antara iman yang hidup dan ketakutan yang lahir dari pandangan manusiawi terhadap kuasa Allah.”
Pertanyaan ini menyingkapkan bahwa iman sejati bukanlah ketiadaan ketakutan, melainkan kepercayaan pada kehadiran Kristus di tengah badai.
c. Aplikasi
Pertanyaan ini menembus hati setiap orang percaya di tengah penderitaan:
“Mengapa engkau takut, jika Aku bersamamu?”
Dalam konteks Reformed, pertanyaan ini memperkuat doktrin providensia dan kedaulatan Kristus atas seluruh ciptaan.
8️⃣ “Apakah engkau mengasihi Aku?” – Yohanes 21:15
Pertanyaan Yesus kepada Petrus ini adalah salah satu yang paling menggugah dalam seluruh Alkitab.
a. Eksposisi
Setelah Petrus menyangkal Yesus tiga kali, Yesus bertanya tiga kali pula:
“Apakah engkau mengasihi Aku?”
Pertanyaan ini tidak sekadar menguji, tetapi memulihkan.
b. Perspektif Reformed
Charles Hodge menulis:
“Pemulihan Petrus menunjukkan bahwa kasih karunia Allah lebih besar daripada kegagalan manusia.”
Pertanyaan ini adalah contoh efikasi anugerah — kasih karunia yang tidak hanya mengampuni, tetapi juga memulihkan dan memanggil kembali.
c. Aplikasi
Yesus masih bertanya kepada setiap pelayan yang jatuh:
“Apakah engkau mengasihi Aku?”
Pertanyaan itu menuntun bukan pada rasa bersalah, tetapi pada kasih yang diperbaharui.
Penutup: Pertanyaan yang Menuntun pada Kasih Karunia
Dari taman Eden hingga pantai Galilea, Allah terus berbicara melalui pertanyaan-pertanyaan yang mengejutkan.
Masing-masing bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menarik manusia kepada kasih karunia.
| Pertanyaan | Tujuan Ilahi | Respons yang Diharapkan |
|---|---|---|
| “Di manakah engkau?” | Mengundang pertobatan | Pengakuan dosa |
| “Siapa yang memberitahumu?” | Menyingkap rasa malu dosa | Kesadaran akan kebutuhan akan Kristus |
| “Di manakah adikmu?” | Menegur ketidakpedulian | Kasih kepada sesama |
| “Mengapa engkau marah?” | Mencegah dosa | Penyerahan diri |
| “Apa kerjamu di sini?” | Menguatkan yang lemah | Ketaatan kembali |
| “Siapakah yang akan Kuutus?” | Menggerakkan pelayanan | Kesediaan diutus |
| “Mengapa engkau takut?” | Mengajar iman | Kepercayaan penuh |
| “Apakah engkau mengasihi Aku?” | Memulihkan yang jatuh | Kasih yang diperbaharui |
Semua pertanyaan Allah bermuara pada satu jawaban: Yesus Kristus.
Ia adalah jawaban atas setiap kegelisahan manusia, setiap ketakutan, setiap dosa, dan setiap kerinduan.
Ketika Allah bertanya, Ia sebenarnya sedang mengetuk hati kita untuk menjawab dengan iman:
“Ini aku, Tuhan. Aku kembali kepada-Mu.”