Zakharia 2:6-9: Siapa yang Menyentuh Umat Allah, Menyentuh Biji Mata-Nya

Zakharia 2:6-9: Siapa yang Menyentuh Umat Allah, Menyentuh Biji Mata-Nya

Pendahuluan: Allah yang Melindungi dan Memanggil Umat-Nya Pulang

Kitab Zakharia adalah salah satu kitab nabi pasca-pembuangan yang paling penuh dengan penglihatan profetik dan janji pemulihan. Dalam Zakharia 2:6-9, Allah berbicara kepada umat-Nya yang masih tersebar di antara bangsa-bangsa — sebagian masih di Babel, sebagian telah kembali ke Yerusalem.

Melalui nabi Zakharia, Allah menyerukan panggilan yang mengguncang:

“Ayo! Larilah dari Tanah Utara!”

Ini bukan sekadar perintah geografis untuk meninggalkan Babel, tetapi seruan rohani untuk meninggalkan kompromi dan kembali kepada kesetiaan kepada Allah.

Allah yang berbicara di sini bukan sekadar Allah Israel, melainkan TUHAN semesta alam (Ibrani: YHWH Tseva’ot), Raja yang berdaulat atas segala bangsa. Ia tidak hanya memanggil umat-Nya keluar dari Babel, tetapi juga menegaskan kasih dan perlindungan-Nya dengan kata yang paling lembut dan mendalam:

“Siapa yang menyentuh kamu, menyentuh biji mata-Ku.”

Kalimat ini menjadi inti dari kasih perjanjian Allah: Ia begitu mengasihi umat-Nya sehingga siapa pun yang melukai mereka akan berhadapan langsung dengan diri-Nya sendiri.

Dalam teologi Reformed, bagian ini menyingkapkan kedaulatan Allah, kasih perjanjian-Nya yang tak tergoyahkan, dan pemeliharaan-Nya terhadap umat pilihan.

I. Zakharia 2:6 – “Larilah dari Tanah Utara”: Seruan untuk Meninggalkan Babel

“Ayo! Ayo! Larilah dari Tanah Utara,” firman TUHAN, “Sebab, Aku telah menyerakkan kalian ke arah empat mata angin,” firman TUHAN.”

a. Latar belakang historis

“Tanah Utara” di sini merujuk pada Babel, pusat kekuatan dunia saat itu. Setelah pembuangan ke Babel (586 SM), sebagian orang Yahudi telah kembali ke Yerusalem di bawah pimpinan Zerubabel, tetapi banyak yang masih tinggal di Babel, menikmati kenyamanan dan kemakmuran di sana.

Seruan ini adalah panggilan rohani: Allah memanggil umat-Nya untuk keluar dari sistem dunia yang menindas dan menggoda mereka.

John Calvin menulis dalam komentarnya:

“Allah memerintahkan mereka untuk keluar bukan karena Ia tidak mampu melindungi mereka di Babel, tetapi agar mereka tidak terus bersekutu dengan dunia yang penuh kenajisan.”

b. Makna teologis

Allah adalah Tuhan yang berdaulat atas sejarah dan geografi. Ia sendiri yang “menyerakkan” umat-Nya ke empat penjuru bumi (ayat 6b), menunjukkan bahwa pembuangan bukanlah kekalahan, melainkan bagian dari rencana pemurnian.

Dalam teologi Reformed, ini menegaskan doktrin providensia — bahwa Allah memerintah segala hal, termasuk pembuangan dan penderitaan umat-Nya.

Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics menulis:

“Tidak ada peristiwa yang berada di luar kedaulatan Allah; bahkan pembuangan pun adalah alat di tangan-Nya untuk menyiapkan penebusan yang lebih besar.”

c. Aplikasi rohani

Panggilan untuk “lari dari Tanah Utara” tetap relevan bagi kita hari ini. Dunia modern penuh dengan “Babel rohani” — sistem nilai yang menolak Tuhan dan memikat hati umat Allah untuk berdiam nyaman di dalamnya.

Allah memanggil kita untuk keluar dari kompromi, dari zona nyaman dosa, dari budaya yang mengabaikan kekudusan.

“Ayo, larilah!” bukan seruan ketakutan, melainkan panggilan kasih dari Allah yang rindu agar umat-Nya kembali kepada-Nya.

II. Zakharia 2:7 – “Lepaskanlah Dirimu, Hai Kamu yang Tinggal di Putri Babel”

“Ayo, Sion! Lepaskanlah dirimu, hai kamu yang tinggal di Putri Babel!”

a. Eksposisi

Ungkapan “Putri Babel” melambangkan kemegahan dunia yang menawan namun fasik.
Babel sering digambarkan sebagai “perempuan” yang indah secara lahiriah, tetapi rusak secara rohani (bdk. Yesaya 47; Wahyu 17–18).

Allah memanggil “Sion” — nama yang dipakai untuk menggambarkan umat Allah — untuk membebaskan diri dari pengaruh Babel.
Ini bukan hanya panggilan fisik, tetapi panggilan moral dan spiritual.

John Owen dalam The Mortification of Sin menjelaskan:

“Setiap orang percaya dipanggil untuk meninggalkan Babel yang ada di dalam hati — cinta dunia, ambisi, dan keangkuhan yang menghalangi persekutuan dengan Allah.”

b. Prinsip teologis

Ayat ini memperlihatkan ketegangan antara panggilan anugerah dan tanggung jawab manusia.
Allah berkata, “Lepaskanlah dirimu,” namun pada saat yang sama, hanya oleh anugerah-Nya manusia mampu melakukannya.

Ini sejalan dengan prinsip Reformed bahwa anugerah tidak meniadakan tanggung jawab, tetapi memampukan ketaatan.

Louis Berkhof menulis:

“Kedaulatan anugerah Allah bukan alasan untuk pasif, tetapi dasar bagi tindakan aktif dalam iman.”

c. Aplikasi rohani

Seruan ini berbicara langsung kepada gereja modern yang sering kali “tinggal di Putri Babel” — menikmati kenyamanan dunia lebih daripada kesetiaan pada Kristus.
Allah berkata:

“Sion, lepaskanlah dirimu!”
Artinya: jangan biarkan nilai dunia mengendalikan hatimu.
Gereja dipanggil untuk hidup di dunia, tetapi tidak dari dunia.

III. Zakharia 2:8 – “Siapa yang Menyentuh Kamu, Menyentuh Biji Mata-Ku”

“Sebab, inilah firman TUHAN semesta alam, yang telah mengutus aku demi kemuliaan-Nya kepada bangsa-bangsa yang telah menjarah kalian, sebab siapa yang menyentuh kalian, menyentuh biji mata-Nya.”

a. Eksposisi

Inilah inti dari kasih perjanjian Allah.
“Biji mata” (apple of His eye) adalah ungkapan yang melambangkan bagian paling berharga dan sensitif dari tubuh.
Dengan kata lain, Allah berkata:

“Aku begitu dekat dan terikat dengan umat-Ku, sehingga melukai mereka sama dengan melukai Aku.”

Ini bukan hanya metafora kasih, melainkan deklarasi identitas perjanjian. Umat Allah adalah milik-Nya sendiri.

b. Pandangan teolog Reformed

John Calvin menulis:

“Allah menganggap umat-Nya begitu berharga sehingga Ia memperhitungkan setiap serangan terhadap mereka sebagai serangan terhadap diri-Nya. Kasih ini adalah perisai yang tak tertembus.”

Charles Spurgeon, dalam khotbah “The Lord’s Care of His People”, berkata:

“Jika engkau ingin tahu betapa Allah mencintai gereja-Nya, lihatlah betapa Ia marah terhadap mereka yang menindasnya.”

Dalam perspektif Reformed, ini berakar pada doktrin perjanjian anugerah (covenant of grace).
Allah berjanji untuk menjadi Allah bagi umat-Nya, dan umat-Nya menjadi milik-Nya. Hubungan ini tidak bisa diputuskan oleh bangsa, waktu, atau penderitaan.

Herman Bavinck menegaskan:

“Kasih Allah bukanlah emosi yang berubah, tetapi keputusan kekal dari kehendak-Nya yang berdaulat.”

c. Aplikasi rohani

Umat Allah sering merasa ditinggalkan di tengah penderitaan dan tekanan dunia, tetapi Zakharia 2:8 meyakinkan kita bahwa mata Allah selalu tertuju kepada kita.

Setiap luka, setiap air mata, setiap ketidakadilan yang dialami umat-Nya — semuanya diperhatikan oleh Allah sendiri.

“Siapa yang menyentuh kamu, menyentuh biji mata-Ku.”

Ini adalah jaminan kasih yang luar biasa bagi orang percaya di tengah dunia yang keras.

IV. Zakharia 2:9 – “Aku Akan Menggerakkan Tangan-Ku terhadap Mereka”

“Sebab, lihatlah, Aku akan menggerakkan tangan-Ku terhadap mereka, dan mereka akan menjadi jarahan bagi hamba-hamba mereka. Lalu, kamu akan mengetahui bahwa TUHAN semesta alam yang telah mengutus aku.”

a. Eksposisi

Setelah menyatakan kasih-Nya, Allah juga menegaskan keadilan-Nya.
Mereka yang menindas umat Allah akan mengalami pembalikan keadaan: para penindas akan menjadi yang ditindas.

“Jarahan bagi hamba-hamba mereka” menunjukkan pembalikan ilahi — prinsip keadilan Allah yang menegakkan kebenaran pada waktunya.

b. Perspektif Reformed

Dalam teologi Reformed, hal ini berhubungan dengan kedaulatan yudisial Allah.
Allah tidak hanya mengasihi umat-Nya, tetapi juga membela mereka dengan tangan yang berkuasa.

R.C. Sproul menulis:

“Kasih Allah tidak bisa dipisahkan dari kekudusan dan keadilan-Nya. Kasih sejati Allah selalu menegakkan keadilan bagi umat-Nya.” (Essential Truths of the Christian Faith)

Ketika Allah “menggerakkan tangan-Nya”, itu bukan sekadar tindakan murka, tetapi juga tindakan pembebasan.
Ia menegakkan hak umat-Nya bukan karena mereka layak, tetapi karena Ia setia kepada perjanjian-Nya.

c. Aplikasi rohani

Ayat ini meneguhkan bahwa Allah bukan penonton pasif dalam penderitaan umat-Nya.
Ia adalah Allah yang bertindak — membela, menegur, dan membalikkan keadaan demi kemuliaan-Nya.

Bagi orang percaya, ini berarti:

Kita tidak perlu membalas dendam, karena Allah sendiri yang akan bertindak.
(bdk. Roma 12:19 – “Pembalasan adalah hak-Ku, Aku akan menuntut pembalasan.”)

V. Makna Teologis Menyeluruh (Zakharia 2:6–9)

Bagian ini menampilkan tiga tema utama dalam teologi Reformed:

  1. Kedaulatan Allah atas sejarah.
    Pembuangan dan pemulangan umat Allah bukan hasil kebetulan, tetapi rancangan kekal-Nya.

    “Aku telah menyerakkan kalian ke arah empat mata angin.”

  2. Kasih perjanjian yang melindungi umat pilihan.
    Allah tidak pernah melupakan milik-Nya.

    “Siapa yang menyentuh kamu, menyentuh biji mata-Ku.”

  3. Keadilan Allah yang aktif membela umat-Nya.

    “Aku akan menggerakkan tangan-Ku terhadap mereka.”

Dalam semua ini, kita melihat gambaran utuh dari Allah Tritunggal yang bekerja demi kemuliaan-Nya sendiri dan kebaikan umat-Nya.

John Piper menyebut ini sebagai God-centered theology:

“Semua yang Allah lakukan — bahkan perlindungan terhadap umat-Nya — dilakukan demi kemuliaan nama-Nya.”

VI. Kristus: Penggenapan Kasih dan Perlindungan Allah

Kasih dan perlindungan Allah terhadap umat-Nya dalam Zakharia 2:6–9 menemukan puncaknya di dalam Yesus Kristus.

  1. Ia keluar dari “Tanah Utara” dunia dosa untuk membawa umat-Nya keluar dari Babel rohani.

  2. Ia menjadi korban yang disentuh dan dilukai — “biji mata” Allah yang menderita agar kita dilindungi.

  3. Ia menggerakkan tangan Allah bukan untuk menghukum kita, tetapi untuk menyelamatkan.

John Stott menulis dalam The Cross of Christ:

“Di salib, keadilan dan kasih Allah bertemu. Kasih yang melindungi umat-Nya menjadi kasih yang rela terluka demi mereka.”

Kristus adalah bukti bahwa janji Zakharia bukan sekadar nubuat masa lampau, melainkan realitas kasih Allah yang hidup dalam Injil.

VII. Implikasi Bagi Gereja Masa Kini

  1. Gereja harus keluar dari Babel modern.
    Dunia saat ini adalah Babel baru — penuh kesombongan, materialisme, dan relativisme.
    Gereja dipanggil untuk hidup kudus, bukan larut dalam arus dunia.

  2. Gereja harus yakin akan perlindungan Allah.
    Di tengah penganiayaan dan tekanan, janji ini berlaku:

    “Siapa yang menyentuh kamu, menyentuh biji mata-Ku.”

  3. Gereja harus menantikan pembalikan ilahi dengan iman.
    Kita tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, sebab Allah akan menggerakkan tangan-Nya pada waktunya.

VIII. Penutup: Allah yang Tidak Pernah Lupa Umat-Nya

Zakharia 2:6–9 adalah nyanyian kasih perjanjian Allah bagi umat-Nya di tengah pengasingan.
Ia memanggil mereka keluar, memeluk mereka kembali, dan menjanjikan pembelaan yang sempurna.

Bagi setiap orang percaya hari ini, ayat ini adalah pengingat bahwa kita hidup di bawah pandangan lembut mata Allah.
Kita mungkin berada di dunia yang keras, tetapi kita adalah biji mata-Nya — berharga, dijaga, dan tidak pernah terlupakan.

“Siapa yang menyentuh kamu, menyentuh biji mata-Ku.”
— Zakharia 2:8

Next Post Previous Post