Markus 10:46–52: Iman yang Melihat

Pendahuluan: Dari Yerikho Menuju Salib
Kisah Bartimeus Markus 10:46-52 ini merupakan salah satu momen terakhir sebelum Yesus memasuki Yerusalem untuk menuju salib. Secara literer, Markus menempatkan kisah ini di akhir pelayanan publik Yesus sebagai gambaran rohani tentang iman sejati.
Peristiwa ini tidak hanya tentang mukjizat penyembuhan fisik, tetapi tentang pencerahan rohani, tentang seseorang yang “melihat” siapa Yesus sebenarnya — “Anak Daud,” Mesias yang dijanjikan.
Dalam teologi Reformed, kisah ini menggambarkan iman yang menyelamatkan, yaitu iman yang melihat Yesus bukan hanya sebagai penyembuh, melainkan sebagai Juruselamat.
I. Markus 10:46 – Bartimeus di Pinggir Jalan: Gambar Manusia Berdosa
“Kemudian, mereka sampai di Yerikho... ada seorang pengemis buta bernama Bartimeus, anak Timeus, yang duduk di pinggir jalan.”
a. Keadaan Bartimeus: Buta, miskin, dan tersisih
Bartimeus digambarkan sebagai buta dan pengemis — dua kondisi paling terpuruk dalam masyarakat Yahudi. Ia tidak hanya kehilangan penglihatan jasmani, tetapi juga terpinggirkan secara sosial dan religius.
Menurut John Calvin, kebutaan Bartimeus menggambarkan kondisi alami manusia dalam dosa:
“Kita semua, sejak lahir, buta terhadap terang ilahi. Tidak seorang pun dapat melihat kebenaran Allah kecuali Allah sendiri yang membuka mata kita.” (Commentary on the Synoptic Gospels)
b. Yerikho sebagai simbol dunia lama
Yerikho adalah kota pertama yang ditaklukkan oleh Yosua (Yosua 6), dan dalam literatur Yahudi sering melambangkan dunia lama yang akan binasa.
Yesus melewati Yerikho menuju Yerusalem, menggambarkan perjalanan penebusan dari dunia lama menuju salib.
Bartimeus duduk “di pinggir jalan” — secara simbolis, ia berada di luar jalan keselamatan.
Namun, dari pinggir itulah anugerah akan menjemputnya.
c. Refleksi teologis
Dalam pandangan Reformed, kisah ini menggambarkan total depravity — ketidakmampuan total manusia untuk datang kepada Allah tanpa anugerah.
Bartimeus tidak memiliki kekuatan atau penglihatan untuk menemukan Yesus; hanya suara tentang Dia yang menjadi harapan.
R.C. Sproul menulis:
“Iman bukanlah hasil dari kemampuan manusia untuk mencari terang, melainkan hasil dari terang yang datang kepada orang buta.” (Chosen by God)
II. Markus 10:47 – Seruan Iman: “Yesus, Anak Daud, Kasihanilah Aku!”
a. Pengakuan Mesianis
Bartimeus menyebut Yesus sebagai “Anak Daud”, gelar yang menegaskan keyakinannya bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan.
Ini luar biasa, karena banyak orang melihat Yesus hanya sebagai guru atau penyembuh, tetapi Bartimeus — meskipun buta — melihat dengan iman siapa Yesus sebenarnya.
Charles Spurgeon berkata:
“Banyak mata yang melihat Yesus, namun hati mereka buta. Tetapi satu orang buta melihat-Nya dengan iman, dan itulah penglihatan yang sejati.” (The Blind Beggar of Jericho)
b. Seruan belas kasihan
Kata “kasihanilah aku” (Yunani: eleēson me) adalah doa seorang pendosa yang sadar akan ketidaklayakannya.
Seruan ini bukan permintaan hak, melainkan permohonan anugerah.
Dalam teologi Reformed, ini adalah cerminan dari doa pertobatan sejati: pengakuan akan ketidakberdayaan dan ketergantungan mutlak kepada belas kasihan Allah.
Augustinus berkata:
“Kasih karunia Allah dimulai ketika manusia berhenti berharap pada dirinya sendiri.”
c. Aplikasi rohani
Bartimeus tidak melihat Yesus, tetapi ia mendengar tentang Dia.
Demikian juga iman datang “dari pendengaran” (Roma 10:17).
Kisah ini mengingatkan bahwa pewahyuan Allah melalui Firman adalah sarana anugerah yang membuka mata iman.
III. Markus 10:48 – Penolakan Dunia dan Keteguhan Iman
“Banyak orang menegur dia dan menyuruhnya diam. Namun, dia malah semakin keras berteriak, ‘Anak Daud, kasihanilah aku!’”
a. Hambatan eksternal
Orang banyak mencoba membungkam Bartimeus. Dunia selalu tidak nyaman dengan jeritan iman yang sejati.
Tetapi semakin ia ditolak, semakin kuat ia berseru.
John Calvin menulis:
“Ketika iman sejati bekerja, dunia akan mencoba membungkamnya; namun anugerah menghasilkan keteguhan yang tidak bisa dibungkam.”
b. Ketekunan iman sebagai tanda pemilihan
Bartimeus tidak menyerah karena iman yang sejati tidak mungkin padam oleh tekanan.
Ini mencerminkan doktrin perseverance of the saints (ketekunan orang kudus).
Louis Berkhof menjelaskan:
“Mereka yang sungguh-sungguh dilahirkan kembali oleh Roh tidak akan berhenti mencari Kristus sampai mereka menemukan Dia.”
c. Aplikasi
Kita juga hidup di dunia yang mencoba membungkam suara iman — melalui tekanan sosial, ideologi, atau kesibukan dunia.
Namun, iman yang sejati akan tetap berseru:
“Kasihanilah aku, Tuhan!”
IV. Markus 10:49 – Panggilan Anugerah: “Dia Memanggilmu”
“Yesus berhenti dan berkata, ‘Panggil dia.’ Dan, mereka pun memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya, ‘Tenanglah! Berdirilah, Dia memanggilmu.’”
a. Yesus berhenti
Kata ini penuh makna. Di tengah perjalanan menuju salib, Yesus berhenti untuk satu orang buta di pinggir jalan.
Ini menggambarkan anugerah yang personal dan penuh belas kasih.
Spurgeon menulis:
“Kristus memiliki dunia untuk diselamatkan, tetapi Ia tidak pernah terlalu sibuk untuk satu jiwa yang berseru kepada-Nya.”
b. Panggilan efektif
Ketika orang banyak berkata, “Dia memanggilmu,” ini menggambarkan panggilan Injil yang efektif (effectual calling) — panggilan yang bukan hanya terdengar oleh telinga, tetapi yang menggerakkan hati untuk datang kepada Kristus.
R.C. Sproul menjelaskan:
“Panggilan Injil yang efektif adalah tindakan Roh Kudus yang mengubah hati batu menjadi hati daging, sehingga orang itu datang kepada Kristus dengan sukarela.” (Essential Truths of the Christian Faith)
c. Aplikasi rohani
Bagi setiap orang percaya, momen ini adalah simbol panggilan pribadi dari Kristus:
“Tenanglah, berdirilah, Aku memanggilmu.”
Suara ini masih bergema bagi mereka yang duduk di pinggir jalan dosa.
V. Markus 10:50 – Tindakan Iman: Melepaskan Jubah
“Dengan melepaskan jubahnya, orang buta itu melompat dan datang kepada Yesus.”
a. Melepaskan jubah: lambang penyerahan diri
Jubah adalah harta satu-satunya bagi seorang pengemis — simbol keamanan dan identitasnya.
Namun, Bartimeus meninggalkannya tanpa ragu untuk datang kepada Yesus.
Ini menggambarkan pertobatan sejati: meninggalkan segala sesuatu yang dulu menjadi sandaran hidup.
Matthew Henry menulis:
“Ketika Kristus memanggil, orang yang benar-benar percaya akan meninggalkan segala sesuatu yang bisa menahan langkahnya menuju kasih karunia.”
b. Melompat: respons iman yang bersemangat
Iman sejati tidak pasif; ia melompat dengan keyakinan, sekalipun belum melihat.
Ini adalah tindakan iman yang penuh kepercayaan — datang kepada Kristus dalam kegelapan, dengan harapan kepada terang-Nya.
Jonathan Edwards menulis:
“Iman adalah gerakan jiwa menuju Allah yang penuh kasih, bahkan sebelum mata jasmani melihat bukti kasih itu.” (Religious Affections)
VI. Markus 10:51 – Pertanyaan Yesus: “Apa yang Kamu Ingin Aku Lakukan Bagimu?”
“Yesus berkata kepadanya, ‘Apa yang kamu ingin Aku lakukan bagimu?’ Orang buta itu menjawab, ‘Rabi, biarlah aku bisa melihat.’”
a. Pertanyaan ilahi
Yesus tahu kebutuhan Bartimeus, tetapi Ia tetap bertanya.
Pertanyaan ini bertujuan untuk mengungkapkan isi hati dan iman Bartimeus.
Dalam teologi Reformed, ini menegaskan bahwa iman harus diekspresikan dengan pengakuan pribadi.
Allah mengetahui kebutuhan kita, namun Ia menghendaki respons iman yang nyata.
b. Doa iman
Jawaban Bartimeus singkat dan tulus:
“Rabi, biarlah aku bisa melihat.”
Ia tidak meminta kekayaan, kedudukan, atau kemudahan — hanya penglihatan.
Ini menunjukkan fokus iman sejati: ingin melihat Kristus.
John Calvin menulis:
“Ketika Allah membuka mata kita, itu bukan agar kita melihat dunia dengan lebih baik, tetapi agar kita memandang wajah Kristus dengan iman.”
VII. Markus 10:52 – “Imanmu Telah Menyembuhkan Kamu”
“Yesus berkata kepadanya, ‘Pergilah. Imanmu telah menyembuhkan kamu.’ Segera saat itu juga, dia mendapatkan kembali penglihatannya dan mengikut Yesus sepanjang jalan.”
a. Keselamatan oleh iman
Yesus menegaskan: “Imanmu telah menyembuhkan kamu.”
Kata Yunani yang dipakai adalah sōzō — berarti “menyelamatkan.”
Artinya, Bartimeus tidak hanya sembuh secara fisik, tetapi diselamatkan secara rohani.
R.C. Sproul menulis:
“Iman adalah saluran, bukan penyebab keselamatan. Kuasa penyelamatan tetap berasal dari Kristus, tetapi iman menjadi tangan yang menerima anugerah itu.”
b. Tanda kehidupan baru
Bartimeus “mengikut Yesus sepanjang jalan.”
Jalan itu adalah jalan menuju salib — dan inilah tanda orang yang sungguh diselamatkan: mengikuti Kristus, bahkan dalam penderitaan.
Dietrich Bonhoeffer berkata:
“Ketika Kristus memanggil seseorang, Ia memanggilnya untuk datang dan mati.” (The Cost of Discipleship)
VIII. Makna Teologis Utama dalam Kisah Bartimeus
-
Total Depravity:
Bartimeus buta dan tak berdaya — gambaran manusia yang mati secara rohani tanpa anugerah. -
Unconditional Election:
Yesus berhenti dan memanggil dia — bukan karena kelayakannya, tetapi karena kasih pilihan Allah. -
Effectual Calling:
Panggilan Yesus mengubah hidup Bartimeus secara total. -
Justification by Faith Alone:
Bartimeus diselamatkan oleh iman, bukan oleh usaha atau jasa. -
Perseverance of the Saints:
Setelah diselamatkan, ia mengikut Yesus sampai akhir.
Seluruh kisah ini adalah miniatur Injil, menampilkan karya anugerah dari awal sampai akhir.
IX. Aplikasi bagi Orang Percaya
-
Sadari kebutaan rohani kita tanpa Kristus.
Seperti Bartimeus, kita semua buta tanpa kasih karunia. -
Berserulah kepada Yesus dengan iman yang rendah hati.
Seruan “Kasihanilah aku” harus menjadi doa harian orang percaya. -
Jangan biarkan dunia membungkam imanmu.
Dunia akan menolak suara iman, tetapi Roh memberi keteguhan. -
Tanggapi panggilan Kristus dengan meninggalkan segala hal yang menahanmu.
Seperti Bartimeus melepaskan jubah, lepaskan dosa dan kenyamanan lama. -
Ikutlah Yesus di jalan salib.
Iman sejati selalu menghasilkan ketaatan dan pengikutsertaan dalam penderitaan Kristus.
X. Penutup: Dari Kegelapan Menuju Terang
Kisah Bartimeus Markus 10:46-52 berakhir dengan kalimat sederhana:
“Ia mendapatkan kembali penglihatannya dan mengikut Yesus sepanjang jalan.”
Dari pinggir jalan menuju jalan salib, dari kebutaan menuju penglihatan, dari pengemis menjadi pengikut Kristus — inilah kisah setiap orang yang diselamatkan oleh anugerah.
John Newton, penulis himne Amazing Grace, mungkin menggemakan doa Bartimeus ketika menulis:
“I once was blind, but now I see.”
Itulah karya kasih karunia: mata yang dulu buta kini melihat kemuliaan Kristus.