Kisah Para Rasul 10:36–38: Yesus Kristus, Tuhan atas Segala Sesuatu

Pendahuluan: Injil yang Menembus Batas
Perikop ini merupakan bagian penting dari khotbah rasul Petrus di rumah Kornelius, seorang perwira Romawi yang saleh namun bukan orang Yahudi. Peristiwa ini menandai momen revolusioner dalam sejarah keselamatan — ketika Injil melintasi batas etnis Israel dan mencapai bangsa-bangsa lain.
Kisah Para Rasul 10:36–38 menjadi inti pesan Petrus: Yesus Kristus adalah Tuhan atas segala sesuatu, dan melalui Dia, damai sejahtera Allah diberitakan kepada semua orang.
Menurut John Calvin, peristiwa ini menunjukkan “perluasan kerajaan Kristus yang universal.” Dalam komentarnya, Calvin menulis:
“Petrus berbicara bukan hanya untuk orang Yahudi, tetapi untuk semua bangsa, bahwa Kristus telah diangkat menjadi Raja atas segala makhluk. Tidak ada dinding pemisah lagi, sebab damai sejahtera telah datang melalui-Nya.”
Dengan demikian, teks ini adalah manifesto Injil universal — Injil yang tidak terbatas pada satu ras atau bangsa, melainkan bagi seluruh dunia.
1. Injil Damai Sejahtera melalui Kristus (Kisah Para Rasul 10:36)
“Firman yang Allah sampaikan kepada bangsa Israel memberitakan kabar baik damai sejahtera melalui Kristus Yesus, Dialah Tuhan atas semuanya.”
a. Damai Sejahtera yang Datang dari Allah
Kata “damai sejahtera” (eirēnē dalam Yunani, shalom dalam Ibrani) bukan hanya berarti ketiadaan perang, tetapi kesejahteraan, keharmonisan, dan pemulihan relasi antara Allah dan manusia.
Dalam teologi Reformed, damai sejahtera ini adalah hasil dari rekonsiliasi objektif yang dilakukan oleh Kristus di salib.
Herman Bavinck menulis:
“Damai sejati hanya dapat berdiri di atas dasar keadilan. Salib Kristus adalah tempat di mana kasih dan keadilan Allah berjumpa, menghasilkan damai yang kekal bagi umat-Nya.”
Dengan demikian, kabar baik yang Petrus umumkan bukan sekadar berita sosial atau moral, tetapi berita teologis: Allah telah bertindak di dalam Kristus untuk memulihkan ciptaan.
R.C. Sproul menambahkan:
“Shalom yang sejati tidak mungkin tanpa penghapusan dosa. Karena itu, Injil bukan hanya tentang kedamaian di antara manusia, tetapi kedamaian dengan Allah yang kudus.” (The Holiness of God)
b. Melalui Kristus Yesus: Jalan Damai yang Satu-satunya
Perhatikan frasa penting: “melalui Kristus Yesus.” Ini menegaskan mediator tunggal antara Allah dan manusia (1 Timotius 2:5).
Dalam konteks Kisah Para Rasul, ini adalah pesan radikal. Dunia Romawi mengenal banyak “jalan” kepada dewa-dewi, tetapi Petrus menyatakan hanya ada satu jalan kepada Allah — melalui Kristus yang disalibkan dan bangkit.
John Stott menulis:
“Yesus tidak hanya membawa damai; Ia adalah damai itu sendiri. Ia tidak sekadar mengajarkan kebenaran; Ia adalah Kebenaran itu sendiri.”
Dengan kata lain, damai sejahtera tidak bisa dipisahkan dari pribadi Kristus.
Damai sejati bukan hasil negosiasi manusia, melainkan pemberian anugerah dari Allah melalui karya penebusan Kristus.
c. Dialah Tuhan atas Segalanya: Kristologi Reformed
Frasa penutup Kisah Para Rasul 10:36 — “Dialah Tuhan atas semuanya” — adalah deklarasi kristologi tertinggi.
Yesus bukan hanya guru moral atau nabi Yahudi, tetapi Tuhan (Kyrios), gelar yang dalam Perjanjian Lama digunakan untuk Yahweh.
Dalam teologi Reformed, ini dikenal sebagai “lordship of Christ” — bahwa Kristus berdaulat atas seluruh aspek kehidupan: gereja, keluarga, negara, bahkan alam semesta.
Abraham Kuyper menegaskan dengan kalimat terkenal:
“Tidak ada satu inci pun di seluruh wilayah kehidupan manusia di mana Kristus, yang berdaulat atas segalanya, tidak berkata, ‘Itu milik-Ku!’”
Pernyataan Petrus kepada Kornelius menjadi deklarasi politik dan spiritual: Kristus adalah Raja atas segala bangsa, termasuk Romawi yang berkuasa saat itu.
2. Kesaksian Historis tentang Yesus (Kisah Para Rasul 10:37)
“Kamu sendiri tahu peristiwa yang telah terjadi di seluruh Yudea, mulai dari Galilea, setelah baptisan yang Yohanes beritakan.”
Petrus mengingatkan pendengarnya akan peristiwa yang sudah diketahui secara publik: kehidupan dan pelayanan Yesus di tanah Israel.
a. Injil dalam Sejarah Nyata
Petrus tidak menyampaikan mitos atau spekulasi rohani, melainkan fakta historis.
Dalam Reformed theology, iman Kristen adalah iman yang berakar pada sejarah nyata — Allah bertindak dalam ruang dan waktu.
B. B. Warfield menulis:
“Iman Kristen tidak berdiri di atas perasaan religius, tetapi pada peristiwa sejarah di mana Allah menyatakan diri-Nya dalam Yesus Kristus.”
Dengan menekankan “kamu tahu peristiwa itu,” Petrus menegaskan bahwa Injil bukanlah wahyu rahasia, melainkan peristiwa publik yang bisa diselidiki dan disaksikan.
b. Baptisan Yohanes: Awal Karya Mesianik
Petrus menyinggung “baptisan yang Yohanes beritakan” sebagai awal pelayanan Yesus.
Baptisan Yohanes menandai masa peralihan dari nubuat ke penggenapan.
Dalam baptisan-Nya, Yesus diidentifikasi sebagai Mesias yang diurapi oleh Roh Kudus (Lukas 3:21–22).
Peristiwa itu bukan hanya simbol, tetapi peneguhan ilahi atas panggilan dan kuasa-Nya.
John Calvin menjelaskan:
“Ketika Roh Kudus turun atas Yesus, itu bukan karena Ia kekurangan Roh, tetapi agar kita tahu bahwa Ia telah ditetapkan sebagai Mesias dan Imam Agung kita.”
Dengan demikian, Petrus sedang menegaskan bahwa Yesus dari Nazaret bukan sekadar manusia biasa, tetapi Yang Diurapi oleh Allah — Christos, Sang Mesias sejati.
3. Kristus yang Diurapi dengan Roh dan Kuasa (Kisah Para Rasul 10:38)
“Kamu tahu Yesus, Orang Nazaret, bagaimana Allah mengurapi-Nya dengan Roh Kudus dan dengan kuasa. Ia pergi berkeliling melakukan kebaikan dan menyembuhkan semua orang yang ditindas oleh roh jahat karena Allah menyertai Dia.”
Ayat ini memuat salah satu pernyataan kristologi terindah dalam seluruh Kisah Para Rasul.
a. Yesus, Orang Nazaret
Petrus menekankan identitas historis Yesus — “Orang Nazaret.”
Ini adalah penegasan bahwa Mesias yang diagungkan adalah manusia sejati, yang hidup dalam realitas manusiawi, bukan figur mitologis.
Bagi teologi Reformed, ini terkait dengan doktrin inkarnasi.
Louis Berkhof menjelaskan:
“Inkarnasi berarti bahwa Allah yang kekal menjadi manusia tanpa meninggalkan keilahian-Nya. Ia menjadi seperti kita agar kita dapat menjadi serupa dengan Dia.”
Dengan menyebut “Yesus, Orang Nazaret,” Petrus menyatukan dua sisi Kristus: kemanusiaan yang rendah hati dan keilahian yang berdaulat.
b. Diurapi dengan Roh Kudus dan Kuasa
Frasa ini menggemakan nubuat Yesaya 61:1 — “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, karena TUHAN telah mengurapi aku untuk menyampaikan kabar baik.”
Pengurapan ini menandai penganugerahan Roh Kudus kepada Yesus dalam pelayanan publik-Nya.
Bukan karena Ia kurang berkuasa, melainkan karena pelayanan-Nya dilakukan sebagai manusia yang bergantung penuh pada Roh Kudus.
John Owen dalam The Holy Spirit menjelaskan:
“Seluruh kehidupan Kristus sebagai manusia adalah teladan kesempurnaan dalam ketergantungan kepada Roh Kudus. Ia tidak melakukan mukjizat dengan kekuatan keilahian-Nya, tetapi oleh kuasa Roh yang tinggal di dalam-Nya.”
Dengan demikian, Yesus menjadi model ideal bagi kehidupan rohani orang percaya: taat, dipenuhi Roh, dan digerakkan untuk melayani.
c. Ia Pergi Berkeliling Melakukan Kebaikan
Kata “pergi berkeliling” menggambarkan dinamika pelayanan Yesus: aktif, bergerak, dan menjangkau yang terpinggirkan.
Yesus tidak menunggu orang datang kepada-Nya; Ia mendatangi mereka.
Dalam Injil, pelayanan Yesus selalu berpihak pada yang miskin, sakit, tertindas, dan berdosa.
Ia menyembuhkan, mengajar, memberi makan, dan mengampuni — tindakan-tindakan yang menunjukkan Kerajaan Allah hadir di tengah dunia.
Charles Spurgeon menulis:
“Pelayanan Kristus adalah Injil yang berjalan. Di setiap langkah-Nya ada kasih karunia yang mengalir, di setiap sentuhan-Nya ada kuasa yang memulihkan.”
Pelayanan Yesus adalah contoh pelayanan kasih yang aktif — bukan kasih sentimental, tetapi kasih yang bekerja.
d. Menyembuhkan yang Ditindas oleh Roh Jahat
Kisah ini menegaskan realitas peperangan rohani.
Yesus datang untuk melepaskan manusia dari kuasa Iblis (1 Yohanes 3:8).
Bagi teologi Reformed, kuasa jahat bukan sekadar simbol moral, tetapi realitas spiritual yang nyata.
Namun, kuasa Kristus melampaui semua kekuatan gelap.
Herman Ridderbos menulis:
“Ketika Yesus mengusir setan, itu bukan sekadar mukjizat individual, tetapi tanda bahwa Kerajaan Allah telah menyerbu wilayah kuasa gelap.” (The Coming of the Kingdom)
Dengan demikian, pelayanan penyembuhan Yesus bukan sekadar tindakan belas kasihan, tetapi deklarasi kemenangan ilahi — bahwa Allah sedang menegakkan pemerintahan-Nya di dunia yang telah rusak oleh dosa.
e. Karena Allah Menyertai Dia
Penutup ayat ini menunjukkan inti dari semua kuasa Kristus: penyertaan Allah Bapa.
Dalam kemanusiaan-Nya, Yesus bergantung sepenuhnya pada persekutuan dengan Bapa.
Kata Yunani hoti ho Theos ēn met’ autou berarti “Allah sedang bersama dengan-Nya secara terus-menerus.”
Inilah misteri keintiman Tritunggal — Bapa, Anak, dan Roh Kudus bekerja dalam harmoni yang sempurna untuk melaksanakan keselamatan.
Calvin menyimpulkan:
“Yesus tidak bertindak sendiri, tetapi dalam kuasa dan penyertaan Bapa. Inilah jaminan bagi kita bahwa semua yang dilakukan Kristus adalah kehendak Allah sendiri.”
Refleksi Teologis dan Aplikasi bagi Gereja
1. Kristus adalah Tuhan atas Segala Bidang Kehidupan
Kita hidup di dunia yang terfragmentasi antara yang “rohani” dan yang “sekuler.”
Namun, Petrus menyatakan bahwa Kristus adalah Tuhan atas semuanya.
Artinya, tidak ada aspek kehidupan — pendidikan, politik, ekonomi, seni — yang berada di luar kekuasaan-Nya.
Sebagaimana ditekankan oleh Abraham Kuyper, iman Reformed adalah iman yang menyeluruh:
“Kristus memerintah atas hati manusia dan juga atas seluruh ciptaan.”
2. Pelayanan Kristen Harus Bersumber dari Kuasa Roh Kudus
Yesus tidak melayani dengan kekuatan manusiawi, melainkan dalam kuasa Roh.
Demikian juga Gereja dipanggil untuk melanjutkan pelayanan itu dalam ketergantungan penuh pada Roh Kudus.
Bukan strategi, bukan popularitas, tetapi pengurapan Roh yang membawa transformasi sejati.
Martyn Lloyd-Jones menegaskan:
“Gereja tanpa kuasa Roh adalah tubuh tanpa kehidupan. Ia mungkin tampak berstruktur, tetapi tidak bernapas.”
3. Damai Sejahtera Injil Harus Dinyatakan kepada Dunia
Injil bukan hanya untuk komunitas gereja, tetapi untuk dunia yang terbelah oleh kebencian, ketidakadilan, dan perang.
Kristus datang membawa shalom yang memulihkan, dan Gereja dipanggil untuk menjadi duta damai itu.
Seperti yang dikatakan oleh John Piper:
“Misi bukanlah agenda tambahan gereja; misi adalah alasan gereja ada.”
4. Kesaksian Injil Berdasar pada Fakta, Bukan Mitos
Petrus mengingatkan, “kamu sendiri tahu peristiwa itu.”
Kita harus mengingat bahwa iman Kristen bukan dongeng, tetapi respons terhadap peristiwa nyata dalam sejarah.
Karena itu, pengajaran Alkitab dan apologetika Reformed selalu menegaskan rasionalitas iman yang berakar pada sejarah penebusan.
5. Allah Menyertai Umat-Nya Seperti Ia Menyertai Kristus
Seperti Yesus melayani “karena Allah menyertai Dia,” demikian juga Gereja hari ini.
Penyertaan ilahi tidak menjamin hidup tanpa penderitaan, tetapi menjamin kuasa dan tujuan dalam penderitaan.
Penutup: Injil yang Hidup dalam Gereja yang Dipenuhi Roh
Kisah Para Rasul 10:36–38 menunjukkan keseluruhan Injil dalam bentuk ringkas:
-
Allah yang berdaulat,
-
Kristus yang menyelamatkan,
-
Roh Kudus yang mengurapi,
-
dan Gereja yang diutus membawa damai kepada dunia.
Seperti Petrus, Gereja masa kini dipanggil untuk berkata kepada dunia:
“Kristus adalah Tuhan atas semuanya. Di dalam Dia, damai sejahtera sejati telah datang.”