Kejadian 12:1–3: Panggilan Iman dan Janji Berkat Allah

Pendahuluan: Awal dari Sejarah Penebusan
Kejadian 12:1–3 adalah salah satu teks paling fundamental dalam seluruh Alkitab. Di sinilah sejarah penebusan dimulai secara eksplisit — Allah memanggil Abram keluar dari dunia penyembahan berhala dan menetapkannya sebagai alat berkat bagi seluruh dunia.
Perikop ini menjadi titik balik dalam narasi Alkitab. Setelah kejatuhan manusia (Kej. 3), air bah (Kej. 6–9), dan menara Babel (Kej. 11), dunia berada dalam kondisi kegelapan moral dan rohani. Lalu Allah memulai langkah penyelamatan universal-Nya melalui satu orang yang dipilih-Nya: Abram.
John Calvin menulis:
“Dalam panggilan Abram, kita melihat anugerah Allah yang murni. Ia memanggil seorang penyembah berhala dari Ur, bukan karena kebaikan Abram, tetapi karena keputusan kasih karunia yang bebas.”
Dengan kata lain, Kejadian 12 bukan sekadar kisah pribadi Abram, melainkan permulaan Injil. Paulus sendiri mengutip ayat ini dalam Galatia 3:8:
“Kitab Suci, yang lebih dahulu mengetahui bahwa Allah akan membenarkan bangsa-bangsa lain oleh iman, telah memberitakan kabar baik kepada Abraham: ‘Olehmu segala bangsa akan diberkati.’”
1. Panggilan Iman: “Pergilah dari negerimu” (Kejadian 12:1)
“TUHAN berfirman kepada Abram, ‘Pergilah dari negerimu, dan dari keluargamu, dan dari rumah ayahmu, ke tanah yang akan Kutunjukkan kepadamu.’”
a. Inisiatif Allah dalam Panggilan
Perintah pertama Allah kepada Abram bukanlah “percaya,” tetapi “pergilah.”
Iman sejati dimulai bukan dari manusia yang mencari Allah, melainkan Allah yang mencari manusia.
Herman Bavinck menulis:
“Seluruh sejarah keselamatan adalah sejarah Allah yang mendekat kepada manusia, bukan manusia yang mendekat kepada Allah.”
Abram tidak mencari Allah. Ia hidup di Ur, pusat kebudayaan Babel, tempat penyembahan dewa-dewi bulan seperti Sin dan Nana. Namun, Allah memanggilnya — bukan karena kelayakan, melainkan karena anugerah pilihan yang bebas.
Panggilan ini adalah panggilan efektif (effectual calling), sama seperti yang dijelaskan oleh R.C. Sproul:
“Ketika Allah memanggil Abram, itu bukan undangan yang bisa ditolak; itu adalah perintah yang membawa kuasa untuk taat.” (Chosen by God)
b. Tuntutan Radikal dari Iman
Perintah “pergilah” menuntut pemutusan relasi lama — meninggalkan tanah, keluarga, dan rumah ayah.
Iman bukan sekadar pengakuan intelektual, melainkan tindakan nyata meninggalkan kenyamanan dunia.
John Calvin menjelaskan:
“Allah tidak hanya memanggil Abram keluar dari tanahnya, tetapi dari dirinya sendiri — dari kebergantungannya pada segala hal duniawi, agar ia belajar mengandalkan Allah semata.”
Panggilan iman selalu menuntut ketaatan yang tanpa syarat kepada firman Allah, bahkan ketika tujuan belum terlihat:
“ke tanah yang akan Kutunjukkan kepadamu.”
Abram tidak tahu kemana ia akan pergi (Ibrani 11:8). Namun, ia percaya kepada Allah yang memanggil. Itulah esensi iman Reformed — mempercayai janji Allah meskipun belum melihat penggenapannya.
c. Iman sebagai Respons terhadap Firman
Teks dimulai dengan, “TUHAN berfirman kepada Abram.”
Iman tidak lahir dari emosi atau pengalaman mistik, tetapi dari firman Allah yang diwahyukan.
Martyn Lloyd-Jones berkata:
“Iman sejati bukanlah melompat dalam kegelapan, tetapi berdiri teguh di atas terang firman Allah.”
Abram tidak membangun imannya atas dasar logika manusia, tetapi pada otoritas Allah yang berbicara.
Inilah dasar iman Reformed — sola Scriptura (Firman saja).
2. Janji Berkat: “Aku akan memberkatimu” (Kejadian 12:2)
“Aku akan menjadikanmu suatu bangsa yang besar, dan Aku akan memberkatimu, dan membuat namamu masyhur, dan kamu akan menjadi berkat.”
Tiga janji utama muncul di sini: keturunan, nama besar, dan berkat universal.
a. Bangsa yang Besar
Janji ini tampak mustahil, sebab Abram dan Sarai mandul (Kejadian 11:30).
Namun, justru dalam ketidakmungkinan itulah Allah menyatakan kuasa-Nya.
Herman Ridderbos menjelaskan:
“Janji kepada Abram bukan sekadar tentang keturunan biologis, tetapi tentang komunitas perjanjian — umat yang akan menjadi instrumen keselamatan bagi dunia.”
Bangsa besar ini kemudian dikenal sebagai Israel, yang menjadi wadah penyataan Allah dan jalan bagi Mesias.
Namun, dalam Kristus, janji itu diperluas kepada semua orang percaya (Galatia 3:29):
“Dan jika kamu adalah milik Kristus, maka kamu adalah keturunan Abraham dan ahli waris sesuai janji.”
Jadi, “bangsa besar” bukan hanya etnis Yahudi, tetapi umat Allah universal — gereja yang lahir dari iman kepada Kristus.
b. Namamu Masyhur
Menariknya, dalam Kejadian 11:4, orang Babel berkata:
“Marilah kita dirikan kota … supaya kita jangan terserak dan marilah kita buat nama bagi kita sendiri.”
Namun, dalam Kejadian 12:2, Allah berkata kepada Abram:
“Aku akan membuat namamu masyhur.”
Perbandingan ini sangat penting secara teologis:
-
Babel berusaha membangun nama mereka sendiri tanpa Allah.
-
Abram menyerahkan dirinya kepada Allah, dan Allah-lah yang meninggikan namanya.
Calvin berkata:
“Kemuliaan sejati tidak datang dari usaha manusia untuk meninggikan diri, melainkan dari kerendahan hati yang menyerahkan nama kita kepada Allah.”
Abram menjadi terkenal bukan karena ambisinya, tetapi karena ketaatannya.
Nama yang masyhur dalam pandangan Allah bukanlah nama besar di dunia, tetapi nama yang dikenal karena iman.
c. Kamu Akan Menjadi Berkat
Inilah puncak dari janji Allah: Abram tidak hanya diberkati, tetapi menjadi saluran berkat.
Berkat dalam Alkitab bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk memuliakan Allah dan melayani sesama.
John Piper menulis:
“Kita diberkati bukan agar kita nyaman, tetapi agar kita menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Berkat Allah tidak berhenti pada kita; itu mengalir melalui kita.” (Let the Nations Be Glad!)
Bagi teologi Reformed, ini menggambarkan prinsip misi dan panggilan gereja:
Kita dipilih dan diberkati bukan karena lebih layak, tetapi agar kita menjadi alat keselamatan bagi dunia.
3. Berkat Universal: “Melaluimu semua kaum di bumi akan diberkati” (Kejadian 12:3)
“Aku akan memberkati mereka yang memberkatimu, tetapi orang yang mengutukmu akan Aku kutuk. Melaluimu, semua kaum di bumi akan diberkati.”
a. Prinsip Berkat dan Kutuk
Ayat ini menunjukkan dimensi perjanjian berkat dan kutuk — mereka yang menerima umat Allah akan diberkati, dan yang menolak akan dikutuk.
Ini menegaskan prinsip kontinuitas antara Abram dan umat perjanjian sepanjang sejarah.
Namun, pernyataan terakhir mengubah arah: “Melaluimu semua kaum di bumi akan diberkati.”
Inilah universalitas Injil.
Geerhardus Vos menulis:
“Di sini pertama kali janji keselamatan universal muncul secara eksplisit. Dalam Abram, rencana Allah untuk menyelamatkan dunia mulai mengambil bentuk sejarah.” (Biblical Theology)
b. Kristus: Penggenapan Janji Abraham
Perjanjian dengan Abram menemukan puncaknya dalam Kristus Yesus.
Paulus berkata dalam Galatia 3:16:
“Janji-janji itu diucapkan kepada Abraham dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan: ‘kepada keturunan-keturunan’, seolah banyak orang, tetapi kepada satu orang: ‘dan kepada keturunanmu’, yaitu Kristus.”
Dengan demikian, Kristus adalah penggenapan sejati dari janji Abram.
Melalui Kristus, semua bangsa diberkati — bukan dalam bentuk kekayaan materi, tetapi dalam keselamatan dan perdamaian dengan Allah.
Herman Bavinck menulis:
“Janji Abraham meluas melampaui batas Israel. Dalam Kristus, seluruh umat manusia dipanggil untuk berbagi dalam berkat yang sama — hidup dalam persekutuan dengan Allah.”
c. Misi Allah bagi Bangsa-Bangsa
Kejadian 12:3 adalah fondasi misi gereja.
Panggilan Abram tidak hanya bersifat pribadi, tetapi global.
Allah ingin agar berkat yang diterima oleh satu orang menyebar kepada semua bangsa.
John Stott dalam The Message of Genesis menulis:
“Misi bukanlah ide manusia; itu berasal dari hati Allah sendiri. Sejak awal, Allah telah memiliki visi dunia, dan Abram dipanggil untuk menjadi bagian dari rencana universal itu.”
Dengan demikian, gereja hari ini dipanggil untuk melanjutkan panggilan Abram: membawa berkat Injil kepada segala bangsa.
4. Dimensi Teologi Perjanjian
Dalam perspektif teologi Reformed, Kejadian 12:1–3 merupakan perjanjian anugerah yang diperbarui.
Perjanjian ini bukan kontrak dua arah, melainkan inisiatif sepihak dari Allah yang berjanji untuk memberkati melalui keturunan Abraham.
Louis Berkhof menjelaskan:
“Perjanjian dengan Abraham adalah manifestasi lebih jelas dari perjanjian anugerah yang pertama kali dijanjikan di Eden (Kejadian 3:15). Itu adalah satu perjanjian yang sama, diteruskan melalui berbagai tahap penggenapan.”
Dengan kata lain, janji ini membentuk kerangka teologis bagi seluruh Kitab Suci — dari Abraham menuju Kristus, dan dari Kristus menuju gereja.
5. Iman yang Berbuah Ketaatan
Ketaatan Abram menjadi contoh klasik bagi semua orang percaya.
Imannya tidak statis, tetapi dinamis dan praktis.
Ibrani 11:8 menyatakan:
“Karena iman Abraham taat ketika ia dipanggil untuk pergi ke tempat yang akan diterimanya menjadi milik pusaka; lalu ia pergi tanpa mengetahui tempat yang ia tuju.”
John Calvin menulis dengan indah:
“Ketaatan Abram adalah buah dari iman yang hidup. Iman sejati selalu disertai dengan tindakan, sebab iman tanpa ketaatan hanyalah bayangan kosong.”
6. Aplikasi Teologis bagi Gereja Masa Kini
a. Panggilan untuk Meninggalkan “Ur” Zaman Ini
Setiap orang percaya dipanggil untuk keluar dari zona nyaman — meninggalkan dosa, sistem dunia, dan kebergantungan diri — menuju kehidupan yang dipimpin oleh janji Allah.
“Ur” masa kini bisa berupa karier, ambisi, atau bahkan identitas yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.
Dietrich Bonhoeffer menulis:
“Ketika Kristus memanggil seseorang, Ia memanggilnya untuk datang dan mati.” (The Cost of Discipleship)
b. Menjadi Saluran Berkat
Gereja bukan tujuan berkat, tetapi saluran berkat bagi dunia.
Kita dipanggil untuk menjadi terang dan garam — memperlihatkan kebaikan Kristus di tengah masyarakat yang gelap.
Tim Keller menegaskan:
“Injil tidak hanya mengubah individu, tetapi juga komunitas dan budaya, ketika orang percaya menjalankan panggilannya di dunia dengan visi kerajaan Allah.”
c. Mengandalkan Janji Allah di Tengah Ketidakpastian
Abram berjalan tanpa peta.
Demikian pula, iman Kristen sering menuntut kita melangkah dalam ketaatan tanpa mengetahui hasilnya.
Namun, kita memiliki janji yang pasti — Allah yang memanggil kita juga yang akan memelihara kita.
d. Misi Global: Amanat Abraham dan Amanat Agung
Kejadian 12:3 dan Matius 28:19 adalah dua sisi dari misi Allah yang sama.
Dari Abraham hingga gereja, panggilan untuk memberkati bangsa-bangsa adalah inti rencana keselamatan Allah.
John Piper menulis:
“Misi bukan sekadar kegiatan gereja; misi adalah kelanjutan dari janji Abraham — bahwa melalui umat Allah, seluruh dunia akan mengenal kemuliaan Kristus.”
Kesimpulan: Allah yang Memanggil, Memberkati, dan Mengutus
Kejadian 12:1–3 bukan hanya kisah Abram, tetapi kisah kita semua.
Kita dipanggil keluar dari dunia untuk menjadi umat Allah, diberkati untuk menjadi berkat, dan diutus untuk membawa Injil ke seluruh bumi.
Seperti Abram, kita tidak tahu semua langkah ke depan, tetapi kita mengenal Pribadi yang memimpin langkah-langkah itu.
Iman berarti berjalan bersama Allah menuju janji yang belum terlihat, tetapi dijamin oleh kasih setia-Nya.
“Olehmu semua kaum di bumi akan diberkati.”
Inilah Injil pertama — kabar bahwa berkat keselamatan akan mengalir dari satu orang kepada seluruh dunia, dan bahwa janji itu telah digenapi dalam Yesus Kristus.