Kristus yang Dinyatakan: Pusat Iman dan Pengharapan Manusia

Pendahuluan: Kristus yang Dinyatakan di Tengah Dunia yang Gelap
Dalam setiap zaman, manusia selalu mencari penjelasan tentang arti hidup, sumber kebenaran, dan jalan menuju keselamatan. Namun, Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa jawaban tertinggi atas semua pencarian manusia telah “dinyatakan” dalam pribadi Yesus Kristus.
Istilah “Christ Set Forth” (Kristus yang dinyatakan) mengandung makna teologis yang dalam — bahwa Allah sendiri telah menempatkan Kristus di hadapan dunia sebagai pengantara, korban pendamaian, dan pusat keselamatan. Ini bukan sekadar doktrin, tetapi inti dari seluruh wahyu Alkitab.
Sebagaimana Rasul Paulus menulis dalam Roma 3:25 (AYT):
“Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal itu dilakukan-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya...”
Demikian juga dalam Galatia 3:1, Paulus menegaskan:
“Hai orang-orang Galatia yang bodoh! Siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah digambarkan dengan terang di hadapanmu?”
Kristus bukan sekadar tokoh sejarah. Ia dinyatakan (set forth) oleh Allah — ditampilkan, dipertunjukkan, dan dihadirkan bagi dunia agar manusia mengenal kasih dan keadilan Allah yang sejati.
1. Allah yang Menyatakan Kristus (The Divine Initiative)
Segala sesuatu dalam keselamatan dimulai dari inisiatif Allah.
Bukan manusia yang mencari Allah, melainkan Allah yang menyatakan diri-Nya di dalam Kristus.
a. Inisiatif Ilahi dalam Wahyu
Sejak manusia jatuh dalam dosa (Kejadian 3), hubungan antara manusia dan Allah terputus. Namun Allah tidak meninggalkan ciptaan-Nya. Ia berinisiatif untuk menyatakan diri-Nya kembali melalui perjanjian, nabi-nabi, dan akhirnya melalui Anak-Nya sendiri.
Ibrani 1:1–2 menyatakan:
“Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita melalui para nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita melalui Anak-Nya.”
John Calvin menulis dalam Institutes of the Christian Religion (I.6.2):
“Allah, yang tidak dapat dipahami, telah mengenakan diri-Nya dengan pakaian firman agar kita dapat mengenal Dia.”
Dalam pengertian ini, Kristus adalah wahyu tertinggi Allah. Dialah gambar Allah yang tidak kelihatan (Kol. 1:15).
b. Kristus sebagai Jalan Pendamaian (Roma 3:25)
Kata Yunani yang digunakan Paulus untuk “menjadi jalan pendamaian” adalah hilastÄ“rion, yang berarti tutup pendamaian (mercy seat) dalam tabut perjanjian.
Artinya, Kristus adalah tempat di mana murka Allah ditenangkan dan kasih Allah dinyatakan.
John Owen, teolog Reformed besar abad ke-17, berkata:
“Di kayu salib, keadilan dan kasih Allah bertemu; kemurkaan terhadap dosa dan rahmat bagi pendosa berpadu dalam satu pribadi Kristus.”
Kristus dinyatakan bukan hanya sebagai guru atau teladan moral, tetapi sebagai korban pendamaian yang sah, yang menanggung murka Allah menggantikan kita.
c. Allah yang Menyatakan, Bukan Manusia yang Mengangkat
Bagi teologi Reformed, Kristus tidak ditinggikan karena kehendak manusia, melainkan karena keputusan kekal Allah.
Herman Bavinck menulis dalam Reformed Dogmatics (Vol. 3):
“Kristus tidak muncul dari bawah, tetapi turun dari atas. Ia bukan hasil perkembangan religius manusia, tetapi tindakan adikodrati dari Allah yang penuh anugerah.”
Oleh karena itu, “Christ set forth” berarti bahwa Allah sendiri menampilkan Kristus kepada dunia sebagai jawaban atas dosa, bukan dunia yang menciptakan Juruselamat bagi dirinya sendiri.
2. Kristus yang Dinyatakan di Salib: Pusat dari Segala Sesuatu
a. Salib sebagai Panggung Ilahi
Ketika Paulus berkata dalam Galatia 3:1 bahwa Kristus “telah digambarkan dengan terang di hadapanmu,” ia menggunakan istilah Yunani proegraphÄ“, yang berarti “ditampilkan seperti di papan pengumuman publik.”
Artinya, salib Kristus adalah pameran kasih dan keadilan Allah di hadapan dunia.
Charles Spurgeon berkata:
“Salib adalah mimbar terbesar di mana Allah pernah berkhotbah kepada dunia.”
Melalui salib, Allah tidak hanya berbicara, tetapi menyatakan diri-Nya sepenuhnya — kasih, keadilan, kemurahan, dan kekudusan bertemu dalam satu tindakan penyelamatan.
b. Keadilan Allah Ditegakkan
Allah tidak dapat mengabaikan dosa tanpa menegakkan keadilan.
Maka, di salib, keadilan ditegakkan dengan cara kasih: Kristus menanggung hukuman dosa agar pendosa dibenarkan.
R.C. Sproul menegaskan:
“Salib adalah bukti bahwa Allah tidak pernah meniadakan keadilan demi kasih, dan tidak pernah mengorbankan kasih demi keadilan. Di sana, kedua atribut itu berpadu dengan sempurna.” (The Holiness of God)
c. Kasih Allah Dinyatakan
Dalam 1 Yohanes 4:9–10 tertulis:
“Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah kita: Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia supaya kita hidup oleh-Nya.”
Salib adalah bukti kasih Allah yang paling nyata.
John Stott menulis dalam The Cross of Christ:
“Jika kita ingin melihat kasih Allah, kita tidak perlu menatap ke surga atau ke alam, tetapi ke salib. Di sanalah Allah mengasihi dengan penderitaan.”
3. Kristus yang Dinyatakan dalam Kebangkitan dan Kemenangan
a. Kebangkitan: Kristus Dinyatakan sebagai Anak Allah
Roma 1:4 berkata bahwa Yesus “dinyatakan sebagai Anak Allah dengan kuasa melalui kebangkitan dari antara orang mati.”
Kebangkitan adalah pengesahan Allah terhadap karya Kristus di salib.
Geerhardus Vos menjelaskan:
“Kebangkitan bukan hanya peristiwa kemenangan, tetapi pernyataan publik bahwa karya penebusan Kristus telah diterima secara sah oleh Bapa.” (Biblical Theology)
Kebangkitan adalah tanda bahwa Allah benar-benar “menyetujui” Kristus sebagai Penebus dunia.
Inilah “Christ set forth” dalam bentuk kemenangan.
b. Kenaikan dan Pemerintahan Kristus
Kristus tidak hanya bangkit, tetapi dinaikkan dan duduk di sebelah kanan Allah.
Dalam kenaikan itu, Ia dinyatakan sebagai Raja atas segala raja.
Abraham Kuyper berkata:
“Tidak ada satu inci pun di seluruh alam semesta di mana Kristus tidak berkata, ‘Ini milik-Ku.’”
Kenaikan Kristus adalah bukti bahwa Allah telah menegakkan Dia sebagai Tuhan dan Kristus (Kis. 2:36).
Ia kini dinyatakan di hadapan surga dan bumi sebagai Penguasa yang berdaulat.
4. Kristus yang Dinyatakan oleh Roh Kudus
a. Roh Kudus Sebagai Penafsir Kristus
Meski Kristus telah dinyatakan di dunia melalui salib dan kebangkitan, tanpa karya Roh Kudus, manusia tidak akan melihat keindahan Kristus.
Yesus berkata dalam Yohanes 16:14:
“Roh itu akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.”
John Owen menulis dalam The Holy Spirit:
“Roh Kudus adalah mata iman; tanpa Dia, Kristus tetap tersembunyi dari pandangan manusia.”
Roh Kuduslah yang membuka hati manusia agar melihat kemuliaan Kristus yang dinyatakan di Injil.
b. Kristus Dinyatakan dalam Khotbah Injil
Setiap kali Injil diberitakan dengan benar, Kristus “dinyatakan” kembali kepada dunia.
Khotbah bukanlah sekadar penjelasan moral, tetapi peragaan rohani dari Kristus yang disalibkan dan bangkit.
Paulus berkata dalam 1 Korintus 1:23:
“Kami memberitakan Kristus yang disalibkan; untuk orang Yahudi suatu batu sandungan, dan untuk orang bukan Yahudi suatu kebodohan.”
Namun bagi mereka yang dipanggil, Kristus adalah kekuatan dan hikmat Allah.
Martin Luther menegaskan:
“Khotbah yang sejati bukanlah tentang apa yang harus kita lakukan, tetapi tentang apa yang telah Allah lakukan di dalam Kristus.”
5. Kristus yang Dinyatakan dalam Iman Orang Percaya
a. Iman sebagai Respons terhadap Kristus yang Dinyatakan
Ketika Allah menampilkan Kristus di hadapan dunia, manusia dipanggil untuk menanggapi-Nya dengan iman.
Iman bukan pencapaian, tetapi penerimaan terhadap Kristus yang telah ditampilkan Allah.
Efesus 2:8–9:
“Sebab oleh kasih karunia kamu diselamatkan melalui iman; itu bukan hasil usahamu, melainkan pemberian Allah.”
John Calvin berkata:
“Iman adalah tangan kosong yang menerima Kristus sebagaimana Ia ditawarkan dalam Injil.”
Melalui iman, Kristus tidak hanya diketahui secara intelektual, tetapi dinyatakan dalam hati.
b. Kristus yang Hidup di Dalam Kita
Ketika seseorang percaya, Kristus bukan hanya dinyatakan di luar dirinya, tetapi juga hidup di dalam dirinya.
Paulus berkata dalam Galatia 2:20:
“Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.”
Sinclair Ferguson menjelaskan:
“Kristus yang dinyatakan bagi kita di salib kini dinyatakan di dalam kita melalui kehidupan yang diperbaharui oleh Roh Kudus.” (The Whole Christ)
Dengan demikian, “Christ set forth” bukan hanya fakta historis, tetapi juga realitas eksistensial bagi setiap orang percaya.
6. Kristus yang Dinyatakan Melalui Gereja
a. Gereja sebagai Tubuh Kristus yang Dinyatakan
Kristus kini dinyatakan kepada dunia melalui tubuh-Nya, yaitu Gereja.
Efesus 3:10 berkata:
“Supaya sekarang melalui gereja, hikmat Allah yang beraneka ragam diberitakan kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di surga.”
Herman Bavinck menulis:
“Gereja adalah saksi hidup dari Kristus yang bangkit. Dalam keberadaannya, dunia melihat sekilas tentang kerajaan yang akan datang.”
Oleh sebab itu, setiap gereja yang setia kepada Injil sedang melanjutkan karya ilahi “menampilkan Kristus” kepada dunia.
b. Kesaksian Gereja di Dunia
Gereja tidak dipanggil untuk menonjolkan dirinya, tetapi menonjolkan Kristus.
Sebagaimana Yohanes Pembaptis berkata:
“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yohanes 3:30)
Tim Keller menulis:
“Misi gereja bukan membuat dunia memandang gereja, tetapi membuat dunia memandang Kristus melalui gereja.”
Dengan demikian, pelayanan sosial, misi, penginjilan, dan ibadah semuanya harus berpusat pada tujuan tunggal: menyatakan Kristus yang disalibkan, bangkit, dan memerintah.
7. Kristus yang Akan Dinyatakan dalam Kemuliaan
a. Penyataan Kristus yang Terakhir
Saat ini Kristus dinyatakan melalui Injil dan iman, tetapi kelak Ia akan dinyatakan sepenuhnya dalam kemuliaan.
Kolose 3:4:
“Apabila Kristus yang adalah hidupmu menyatakan diri-Nya, kamu pun akan dinyatakan bersama dengan Dia dalam kemuliaan.”
Kedatangan Kristus yang kedua kali adalah puncak dari seluruh sejarah wahyu — ketika dunia yang menolak Dia akan melihat Dia dalam kuasa dan kemuliaan.
Jonathan Edwards berkata:
“Seluruh sejarah dunia adalah panggung besar di mana kemuliaan Kristus akan dinyatakan secara penuh.”
b. Pengharapan Eschatologis
Bagi orang percaya, “Christ set forth” bukan hanya masa lalu, tetapi juga masa depan.
Kita menantikan saat ketika iman berubah menjadi penglihatan, ketika Kristus yang sekarang kita imani akan menyatakan diri-Nya muka dengan muka.
Aplikasi Teologis dan Praktis
-
Kristus adalah pusat iman, bukan hanya contoh moral.
Gereja harus kembali menempatkan Kristus yang disalibkan sebagai inti pemberitaan, bukan sekadar nilai etika atau kesejahteraan manusia. -
Hidup Kristen adalah respon terhadap Kristus yang telah dinyatakan.
Setiap aspek hidup — pekerjaan, keluarga, pelayanan — adalah sarana untuk memperlihatkan Kristus kepada dunia. -
Penginjilan adalah menampilkan Kristus, bukan memenangkan argumen.
Kita dipanggil bukan untuk membela diri, tetapi untuk menampilkan Kristus yang penuh kasih dan kebenaran. -
Pengharapan kekal bersumber dari Kristus yang telah dinyatakan dan akan dinyatakan lagi.
Dunia ini fana, tetapi Kristus yang telah disalibkan dan bangkit menjadi jaminan bahwa kemuliaan yang akan datang itu pasti.
Kesimpulan: Kristus, Satu-Satunya yang Dinyatakan oleh Allah
“Christ Set Forth” berarti Allah telah menempatkan Kristus di hadapan dunia sebagai pusat sejarah, inti wahyu, dan dasar keselamatan.
Dalam Kristus kita melihat kasih yang tak terukur, keadilan yang sempurna, dan kuasa yang mengubahkan.
Ia telah dinyatakan di salib, di kubur yang kosong, dalam firman, dalam gereja, dan kelak dalam kemuliaan.
Oleh karena itu, hidup orang percaya harus menjadi cerminan dari pengakuan ini:
“Aku hanya mengenal satu hal — Yesus Kristus dan Dia yang disalibkan.” (1 Korintus 2:2)