Kisah Para Rasul 10:43: Kristus, Sumber Pengampunan Dosa

Kisah Para Rasul 10:43: Kristus, Sumber Pengampunan Dosa

“Bagi Dia, semua nabi bersaksi bahwa setiap orang yang percaya di dalam-Nya akan menerima pengampunan dosa melalui nama-Nya.”
(Kisah Para Rasul 10:43, AYT)

I. Pendahuluan: Injil yang Melampaui Batas

Kisah Para Rasul 10 menandai titik balik besar dalam sejarah keselamatan. Injil yang sebelumnya terutama diberitakan kepada orang Yahudi kini melintasi batas etnis dan budaya menuju dunia non-Yahudi. Pusat kisah ini adalah pertemuan antara rasul Petrus dan Kornelius — seorang perwira Romawi yang saleh.

Kisah Para Rasul 10:43 menjadi puncak teologis dari khotbah Petrus. Setelah menjelaskan kehidupan, kematian, dan kebangkitan Kristus, Petrus menutup dengan proklamasi Injil yang universal:

“Bagi Dia, semua nabi bersaksi bahwa setiap orang yang percaya di dalam-Nya akan menerima pengampunan dosa melalui nama-Nya.”

Ayat ini menjadi miniatur Injil Reformed:
Kristus adalah pusat nubuatan, iman adalah sarana penerimaan, dan pengampunan dosa adalah hasil anugerah Allah semata.

II. Konteks Historis dan Teologis

1. Latar Peristiwa di Rumah Kornelius

Kornelius adalah perwira dari pasukan Italia yang “takut akan Allah” (Kisah Para Rasul 10:2). Ia adalah seorang non-Yahudi yang mencari kebenaran, tetapi belum mengenal Kristus secara pribadi. Melalui penglihatan ilahi, Kornelius dipertemukan dengan Petrus, yang di sisi lain juga menerima visi yang menantang prasangka Yahudinya — bahwa Allah tidak memandang muka.

Ketika Petrus tiba di rumah Kornelius, ia menyampaikan khotbah Injil, menekankan karya Kristus dan panggilan untuk percaya kepada-Nya.
Dan tepat pada Kisah Para Rasul 10:43, inti keselamatan di dalam Kristus dinyatakan secara eksplisit.

2. Tujuan Khotbah Petrus

Petrus bukan hanya menyampaikan fakta sejarah tentang Yesus, tetapi menghubungkan seluruh rencana penebusan Allah dari Perjanjian Lama sampai kepada penggenapannya dalam Kristus.
Frasa “semua nabi bersaksi” menunjukkan kesinambungan antara janji Perjanjian Lama dan penggenapan dalam Perjanjian Baru.

John Calvin menulis:

“Dengan mengatakan bahwa semua nabi bersaksi tentang Kristus, Petrus menegaskan bahwa tidak ada bagian dari Kitab Suci yang tidak mengarah kepada Dia sebagai inti keselamatan.”

III. Eksposisi Teks Kisah Para Rasul 10:43

Mari kita perhatikan setiap bagian dari pernyataan Petrus ini secara ekspositoris.

A. “Bagi Dia, semua nabi bersaksi...”

1. Kesatuan Kesaksian Kitab Suci

Pernyataan ini menegaskan bahwa seluruh Perjanjian Lama bersaksi tentang Kristus.
Mulai dari Kejadian hingga Maleakhi, benang merah nubuatan, simbol, dan tipologi menunjuk kepada Sang Mesias.

Yesus sendiri berkata dalam Lukas 24:27:

“Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia di seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.”

R.C. Sproul menulis:

“Kitab Suci bukan kumpulan cerita moral, tetapi satu kisah besar tentang Allah yang menebus umat-Nya melalui Kristus. Setiap nabi berbicara tentang-Nya, baik secara langsung maupun tipologis.”

Dengan demikian, keselamatan bukanlah ide baru di Kisah Para Rasul, tetapi penggenapan dari rencana kekal Allah yang telah dinyatakan sejak dahulu kala.

2. Kristus sebagai Pusat Penafsiran Alkitab

Dalam kerangka teologi Reformed, ayat ini mengajarkan Kristosentrisme Kitab Suci — bahwa seluruh wahyu Allah berpuncak pada Kristus.

John Calvin dalam Institutes berkata:

“Semua berkat yang dijanjikan dalam Hukum dan para nabi hanya ditemukan di dalam Kristus; karena tanpa Dia, semuanya hanyalah bayangan tanpa substansi.”

Oleh sebab itu, eksposisi yang sejati terhadap Alkitab harus berpusat pada Kristus, bukan pada moralitas manusia.

B. “...bahwa setiap orang yang percaya di dalam-Nya...”

1. Universalitas Injil

Kata “setiap orang” (pas ho pisteuōn) menunjukkan universalitas panggilan Injil — bukan hanya bagi orang Yahudi, tetapi juga bagi bangsa-bangsa lain.
Namun universalitas ini tidak berarti universalitas keselamatan tanpa syarat, melainkan universalitas undangan berdasarkan iman.

Herman Bavinck menulis:

“Injil bersifat universal dalam tawarannya, tetapi partikular dalam efektivitasnya; hanya mereka yang percaya yang sungguh-sungguh diselamatkan.”

Ayat ini menegaskan bahwa iman adalah sarana satu-satunya untuk menerima pengampunan.

2. Iman sebagai Pintu Masuk ke dalam Anugerah

Petrus tidak mengatakan, “Setiap orang yang berbuat baik,” atau “yang menaati hukum,” melainkan “yang percaya di dalam-Nya.”
Iman di sini bukan sekadar persetujuan intelektual, tetapi penyerahan diri sepenuhnya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Louis Berkhof menjelaskan:

“Iman yang menyelamatkan adalah tindakan Roh Kudus di dalam hati yang membuat manusia bersandar sepenuhnya pada Kristus dan karya penebusan-Nya.”

Dengan demikian, iman adalah tangan kosong yang menerima anugerah Allah.

C. “...akan menerima pengampunan dosa melalui nama-Nya.”

1. Pengampunan sebagai Puncak Anugerah

Kata “pengampunan” (aphesis) berarti pembebasan, pelepasan, atau pemutusan hutang.
Dalam konteks rohani, ini menunjuk pada penghapusan utang dosa di hadapan Allah.

Efesus 1:7 menyatakan:

“Di dalam Dia kita memiliki penebusan melalui darah-Nya, yaitu pengampunan dosa.”

Pengampunan ini bukan hasil negosiasi moral, tetapi hasil penebusan Kristus di salib.

John Calvin menulis:

“Pengampunan dosa adalah inti dari Injil. Tanpa itu, tidak ada damai sejahtera dengan Allah.”

2. “Melalui Nama-Nya”

Frasa “melalui nama-Nya” berarti melalui otoritas dan karya pribadi Kristus.
Dalam konteks Alkitab, “nama” mencerminkan karakter dan kuasa seseorang. Maka, pengampunan hanya mungkin karena otoritas Kristus sebagai Penebus dan Hakim.

Kisah Para Rasul 4:12 berkata:

“Tidak ada nama lain di bawah kolong langit yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

Artinya, tidak ada jalan alternatif untuk pengampunan selain melalui Kristus.

Martyn Lloyd-Jones menulis:

“Kristus tidak datang untuk memberi jalan keselamatan; Ia adalah jalan itu sendiri. Nama-Nya bukan sekadar simbol, tetapi saluran kuasa penebusan yang nyata.”

IV. Teologi Reformed tentang Pengampunan Dosa

1. Pengampunan Berdasarkan Penebusan Kristus

Dalam sistem Reformed, pengampunan dosa bukan sekadar keputusan belas kasihan, tetapi berdasarkan keadilan Allah yang dipuaskan melalui salib.

Herman Bavinck menulis:

“Allah tidak dapat mengampuni dengan mengabaikan keadilan-Nya. Ia mengampuni karena keadilan telah dipenuhi di dalam Kristus.”

Roma 3:26 menggambarkan bahwa Allah “adil dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.”

Artinya, salib bukan hanya simbol kasih, tetapi juga pernyataan keadilan Allah yang sempurna.

2. Pengampunan Bersifat Yuridis dan Relasional

Pengampunan dalam teologi Reformed memiliki dua aspek:

  • Yuridis: Allah menyatakan orang berdosa benar di hadapan-Nya (pembenaran/imputasi kebenaran Kristus).

  • Relasional: Allah memulihkan hubungan yang rusak antara manusia dan diri-Nya.

Louis Berkhof menulis:

“Dalam pembenaran, Allah bertindak sebagai Hakim; dalam pengampunan, Ia bertindak sebagai Bapa.”

Kedua aspek ini tidak bisa dipisahkan. Pengampunan membuka jalan menuju persekutuan dengan Allah.

3. Pengampunan Tidak Menghapus Konsekuensi Duniawi

Walau dosa diampuni di hadapan Allah, konsekuensi temporal tetap mungkin terjadi (seperti Daud dalam 2 Samuel 12).
Namun, pengampunan sejati meniadakan hukuman kekal dan menghadirkan pemulihan rohani yang penuh.

John Owen menegaskan:

“Allah mungkin menegur anak-anak-Nya, tetapi Ia tidak lagi menghukum mereka. Salib Kristus telah memutuskan semua tuntutan keadilan terhadap umat pilihan-Nya.”

4. Pengampunan dan Iman yang Efektif

Dalam kerangka Reformed, iman yang menyelamatkan selalu bersifat efektif — menghasilkan pertobatan, kasih, dan ketaatan.

R.C. Sproul berkata:

“Iman yang sejati bukan hanya percaya bahwa Kristus sanggup menyelamatkan, tetapi juga mempercayakan seluruh hidup kepada-Nya.”

Dengan demikian, orang yang sungguh percaya akan menunjukkan buah pengampunan, yaitu hati yang mengampuni orang lain.

V. Kesaksian Para Nabi: Kristus dalam Perjanjian Lama

Ketika Petrus mengatakan “semua nabi bersaksi,” ia menunjuk pada seluruh rentang nubuatan Perjanjian Lama.

1. Yesaya – Kristus sebagai Hamba yang Menanggung Dosa

“Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita... TUHAN telah menimpakan kepadanya kesalahan kita semua.” (Yesaya 53:5–6)

Ini adalah inti Injil yang Petrus khotbahkan — bahwa pengampunan datang melalui pengorbanan pengganti.

2. Yeremia – Perjanjian Baru dan Pengampunan

“Sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.” (Yeremia 31:34)

Perjanjian Baru yang digenapi dalam darah Kristus menjanjikan pengampunan yang final dan kekal.

3. Mikha – Allah yang Menyukai Kasih Setia

“Engkau akan menghapuskan kesalahan kami... Engkau akan membuang segala dosa kami ke dalam tubir-tubir laut.” (Mi. 7:19)

Pernyataan ini menunjukkan karakter Allah yang penuh kasih — pengampunan-Nya tuntas dan membebaskan.

Herman Bavinck menulis:

“Setiap nubuatan tentang pengampunan adalah nubuatan tentang Kristus. Dialah bukti tertinggi dari kasih dan kesetiaan Allah.”

VI. Aplikasi Eksistensial dan Pastoral

1. Tidak Ada Dosa yang Terlalu Besar untuk Diampuni

Kisah Kornelius menunjukkan bahwa pengampunan tidak terbatas oleh latar belakang moral, ras, atau bangsa.
Apapun dosa masa lalu, pengampunan tersedia bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus.

Martyn Lloyd-Jones menulis:

“Jika dosa Anda besar, darah Kristus lebih besar. Tidak ada lubang keputusasaan yang lebih dalam dari kasih karunia Allah.”

2. Iman Bukan Perasaan, tetapi Kepercayaan pada Fakta

Pengampunan bukan dirasakan, tetapi diyakini berdasarkan janji Allah.
Banyak orang Kristen bergumul karena tidak “merasakan” pengampunan, padahal pengampunan itu dijanjikan melalui iman, bukan emosi.

R.C. Sproul mengingatkan:

“Kepastian keselamatan tidak terletak pada kekuatan iman kita, tetapi pada objek iman kita — Kristus yang tak tergoyahkan.”

3. Hidup dalam Sukacita dan Pengampunan yang Aktif

Orang yang telah diampuni dipanggil untuk mengampuni sesama.
Efesus 4:32 berkata:

“Hendaklah kamu saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”

Pengampunan yang kita terima memotivasi pengampunan yang kita berikan.

4. Pengampunan Mendorong Kekudusan, Bukan Kemalasan Rohani

Anugerah tidak pernah menjadi lisensi untuk dosa.
Titus 2:11–12 mengajarkan bahwa anugerah Allah “mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan.”

John Calvin berkata:

“Mereka yang benar-benar memahami pengampunan Allah akan membenci dosa lebih daripada sebelumnya.”

5. Pengampunan dan Pengharapan Eskatologis

Pengampunan sekarang hanyalah pendahulu dari pemulihan total yang akan datang dalam kemuliaan.
Roma 8:30 menyatakan bahwa mereka yang dibenarkan juga akan dimuliakan.

Louis Berkhof menulis:

“Pengampunan adalah awal dari pemulihan seluruh ciptaan; itu adalah pancaran pertama dari terang kekekalan.”

VII. Kesimpulan Teologis: Injil yang Universal dan Efektif

Kisah Para Rasul 10:43 meneguhkan tiga pilar utama teologi Reformed:

  1. Kristus adalah pusat seluruh Kitab Suci.
    Semua nabi bersaksi tentang Dia; seluruh sejarah penebusan berputar di sekitar karya-Nya.

  2. Keselamatan adalah melalui iman, bukan perbuatan.
    Iman bukan karya manusia, tetapi karunia Roh Kudus yang memungkinkan kita menerima anugerah.

  3. Pengampunan dosa adalah karya kasih dan keadilan Allah yang berpadu di salib.

Seperti kata Herman Bavinck:

“Di dalam Kristus, kasih dan keadilan Allah berdamai. Ia yang suci menjadi pendamaian bagi yang najis, supaya yang najis menjadi suci seperti Dia.”

VIII. Penutup: Injil bagi Segala Bangsa

Ketika Petrus berbicara kepada Kornelius, Roh Kudus turun atas semua yang mendengarkan (Kis. 10:44). Itu adalah konfirmasi surgawi bahwa Injil kini terbuka bagi semua manusia.
Melalui iman kepada Kristus, pengampunan dosa yang dijanjikan para nabi menjadi realitas universal yang mengubah dunia.

Next Post Previous Post