Kisah Para Rasul 10:9–16: Allah yang Menyucikan

Kisah Para Rasul 10:9–16: Allah yang Menyucikan

I. Pendahuluan: Momen Penentu dalam Sejarah Penebusan

Kisah Para Rasul 10:9–16 mencatat salah satu momen paling revolusioner dalam sejarah keselamatan: Allah menyatakan bahwa keselamatan tidak lagi terbatas bagi orang Yahudi, melainkan terbuka bagi segala bangsa. Visi yang diterima oleh Rasul Petrus di atap rumah Simon si penyamak menjadi titik balik dari eksklusivisme Yahudi menuju universalitas Injil.

“Keesokan harinya, ketika mereka sedang dalam perjalanannya dan mendekati kota itu, Petrus naik ke atas atap rumah, sekitar jam keenam, untuk berdoa.” — (Kisah Para Rasul 10:9, AYT)

Petrus, seorang Yahudi yang taat hukum Taurat, dibentuk oleh sistem ritual dan makanan yang membedakan antara yang tahir dan najis. Dalam penglihatan itu, Allah menyingkapkan bahwa Kristus telah menggenapi hukum Taurat, dan sekarang Injil ditujukan bagi semua bangsa tanpa diskriminasi ritual.

II. Teks Alkitab: Kisah Para Rasul 10:9–16 (AYT)

“Keesokan harinya, ketika mereka sedang dalam perjalanannya dan mendekati kota itu, Petrus naik ke atas atap rumah, sekitar jam keenam, untuk berdoa. Lalu, ia merasa lapar dan ingin makan, tetapi ketika orang-orang sedang menyiapkan makanan, Petrus mendapat sebuah penglihatan, dan ia melihat langit terbuka dan sesuatu seperti kain yang sangat lebar turun dan terulur dari keempat sudutnya sampai ke tanah. Di dalamnya, ada segala jenis binatang berkaki empat, dan binatang-binatang melata di bumi, dan burung-burung di udara. Kemudian, datanglah suara berkata kepadanya, ‘Bangunlah, Petrus, sembelihlah dan makanlah!’ Akan tetapi, Petrus berkata, ‘Tidak, Tuhan. Sebab, aku tidak pernah makan apa pun yang haram atau najis.’ Dan, suara itu berkata lagi kepadanya untuk kedua kalinya, ‘Apa yang telah Allah tahirkan, jangan sekali-kali kamu sebut haram.’ Hal ini terjadi tiga kali, dan tiba-tiba semua itu terangkat ke langit.”
(Kisah Para Rasul 10:9–16, AYT)

III. Konteks Historis dan Teologis

Pada masa itu, orang Yahudi memandang bangsa-bangsa lain (goyim) sebagai najis secara rohani dan ritual. Mereka tidak boleh makan bersama, bergaul akrab, atau tinggal di rumah non-Yahudi. Bahkan, sistem makanan halal dan haram (Imamat 11) memperkuat batas tersebut.

Petrus, sebagai seorang Yahudi yang setia, tumbuh dengan pandangan ini. Namun, melalui karya penebusan Kristus, batas pemisah itu dihapuskan.

Rasul Paulus kemudian menjelaskan makna teologis dari peristiwa ini:

“Sebab, Ia adalah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merobohkan tembok pemisah, yaitu perseteruan.” — (Efesus 2:14)

Dengan kata lain, visi ini bukan sekadar tentang makanan, melainkan tentang misi keselamatan universal Allah.

IV. Eksposisi Ayat per Ayat

Kisah Para Rasul 10:9 – “Petrus naik ke atas atap rumah untuk berdoa”

Tindakan Petrus naik ke atap rumah menunjukkan kebiasaan doa pribadi. Dalam jam keenam (sekitar tengah hari), Allah berinisiatif menyingkapkan kebenaran besar yang akan mengubah paradigma pelayanan rasul-rasul.

John Calvin menafsirkan bahwa “Allah memilih momen doa untuk menyampaikan wahyu, sebab hati manusia yang sedang bersandar kepada Allah adalah wadah terbaik bagi pewahyuan-Nya.” (Commentary on Acts)

Kisah Para Rasul 10:10 – “Ia merasa lapar... dan mendapat penglihatan”

Rasa lapar di sini bukan kebetulan. Tuhan menggunakan kebutuhan jasmani Petrus untuk membuka kebenaran rohani. Lapar jasmani menjadi simbol kerinduan rohani akan pengertian baru tentang kasih karunia Allah.

Herman Bavinck menulis:

“Dalam setiap wahyu Allah, realitas jasmani dan rohani berjalan bersamaan; Allah mengajar kita melalui pengalaman hidup untuk mengenal rahasia surgawi.”

Kisah Para Rasul 10:11–12 – “Langit terbuka... kain besar berisi segala binatang”

Kain besar dari langit menggambarkan otoritas ilahi: pengajaran ini datang dari Allah sendiri, bukan dari manusia. Empat sudut kain itu melambangkan seluruh penjuru bumi — bahwa kasih karunia Allah meliputi semua bangsa.

Binatang berkaki empat, melata, dan burung menggambarkan keragaman umat manusia. Dalam pandangan Yahudi, sebagian “haram” atau “najis.” Namun kini, Allah menyatakan bahwa semua bangsa dapat disucikan dalam Kristus.

John Stott menjelaskan:

“Lembaran kain yang turun dari langit adalah lambang Gereja yang mencakup semua bangsa, semua ras, semua kelas — disatukan oleh darah Kristus yang sama.”

Kisah Para Rasul 10:13 – “Bangunlah, Petrus, sembelihlah dan makanlah!”

Ini adalah perintah radikal bagi seorang Yahudi. Hukum Taurat melarang memakan binatang najis (Im. 11). Tetapi kini, Allah sendiri memerintahkan Petrus untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan sistem lama.

Di sini, Allah mengumumkan perubahan dispensasi: hukum seremonial yang membedakan Israel dari bangsa lain sudah digenapi dalam Kristus.

R.C. Sproul menulis:

“Yesus tidak meniadakan hukum, tetapi menggenapinya. Apa yang hanya berupa bayangan dalam Taurat kini telah menemukan wujudnya dalam Kristus.”

Oleh karena itu, penglihatan ini bukan ajakan untuk mengabaikan kesucian, tetapi penegasan bahwa kesucian sejati datang dari karya Kristus, bukan ritual manusia.

Kisah Para Rasul 10:14 – “Tidak, Tuhan... aku tidak pernah makan apa pun yang haram atau najis”

Reaksi Petrus menunjukkan konflik antara tradisi dan pewahyuan baru. Ia menyebut Yesus “Tuhan,” namun menolak perintah-Nya — paradoks yang menggambarkan ketegangan iman yang umum dalam kehidupan rohani.

John Calvin menulis:

“Petrus menyebut Yesus Tuhan, tetapi membantah perintah-Nya; di sinilah tampak kelemahan manusia yang berpegang pada kebiasaan lama bahkan di hadapan Firman Allah yang baru.”

Petrus tidak menolak karena tidak mau taat, tetapi karena belum memahami bahwa Kristus telah mengubah paradigma hukum lama.

Kisah Para Rasul 10:15 – “Apa yang telah Allah tahirkan, jangan sekali-kali kamu sebut haram”

Inilah inti dari seluruh penglihatan. Allah menyatakan otoritas-Nya dalam menyucikan apa yang sebelumnya dianggap najis.

Kata “menyucikan” (katharizó) berarti membersihkan secara moral dan rohani. Allah sedang menyatakan bahwa manusia dari segala bangsa yang percaya kepada Kristus telah ditahirkan oleh darah Anak Domba.

John Owen menafsirkan:

“Dalam salib Kristus, Allah telah menghapus perbedaan yang diciptakan oleh hukum seremonial, dan menggantinya dengan kesatuan rohani dalam Roh Kudus.”

Kisah Para Rasul 10:16 – “Hal ini terjadi tiga kali, lalu semuanya terangkat ke langit”

Pengulangan tiga kali menegaskan kesungguhan ilahi dan pentingnya pesan itu.
Petrus perlu diyakinkan secara mendalam, karena perubahan ini mengguncang sistem teologinya.

Tiga kali juga mungkin mengingatkan pada pengalaman Petrus sebelumnya — penyangkalannya terhadap Yesus sebanyak tiga kali, dan pemulihannya oleh Yesus juga tiga kali.
Sekarang, ia sekali lagi diuji dalam hal ketaatan dan pemahaman.

Thomas Boston menulis:

“Allah sering mengulang wahyu penting agar hati manusia yang lamban dipahami dapat benar-benar menyerap kebenaran yang besar.”

V. Signifikansi Teologis dalam Teologi Reformed

1. Penggenapan Hukum Seremonial

Teologi Reformed mengajarkan bahwa hukum Taurat memiliki tiga aspek: moral, sipil, dan seremonial.
Bagian seremonial (tentang makanan, ritual, persembahan) telah digenapi dalam Kristus.

“Karena dengan satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang dikuduskan.” — (Ibrani 10:14)

John Calvin menulis dalam Institutes:

“Semua yang dahulu hanyalah bayangan dalam hukum seremonial telah berakhir ketika Kristus datang, karena Dialah realitas sejati yang disimbolkan oleh semuanya itu.”

Dengan demikian, visi Petrus bukan tentang penghapusan moralitas, melainkan peralihan dari simbol ke substansi — dari ritual ke realitas rohani.

2. Keselamatan Universal dalam Kristus

Herman Bavinck menegaskan bahwa peristiwa ini adalah manifestasi dari universalitas kasih Allah.

“Dalam Kristus, bangsa-bangsa yang dulu jauh telah menjadi dekat; Injil bukan lagi milik etnis, melainkan milik umat manusia.”

Paulus menggemakan hal yang sama:

“Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani... sebab kamu semua satu di dalam Kristus Yesus.” (Galatia 3:28)

Gereja Reformed melihat hal ini sebagai bukti bahwa misi gereja bersifat global. Allah tidak hanya menyelamatkan individu, tetapi membentuk komunitas baru dari segala suku, bahasa, dan bangsa (Wahyu 7:9).

3. Doktrin Anugerah yang Menyucikan

Allah yang berkata “Apa yang telah Aku tahirkan...” menegaskan bahwa penyucian adalah karya anugerah, bukan usaha manusia.

Herman Bavinck menulis:

“Penyucian bukan hasil moralitas manusia, tetapi tindakan ilahi yang mengubah status rohani manusia dari najis menjadi kudus melalui darah Kristus.”

Inilah dasar dari doktrin sola gratiasemua yang tahir adalah karena anugerah.

VI. Pandangan Para Teolog Reformed

Teolog ReformedPandangan tentang Kisah Para Rasul 10:9–16
John CalvinVisi ini mengajarkan bahwa Kristus telah menghapus batas ritual antara Yahudi dan bangsa lain; keselamatan kini bersifat universal.
John OwenAllah menunjukkan kedaulatan-Nya dalam menentukan siapa yang disucikan; manusia tidak berhak menyebut najis apa yang telah Allah kuduskan.
Herman BavinckPeristiwa ini adalah manifestasi awal Gereja Katolik (universal), tempat semua bangsa dipersatukan dalam satu iman.
Thomas BostonPengulangan tiga kali menunjukkan kesabaran Allah dalam mengajar hamba-Nya untuk memahami kasih karunia yang lebih luas.
R.C. SproulVisi ini menggambarkan prinsip Reformed bahwa keselamatan adalah karya Allah semata — inisiatif ilahi yang mengatasi batas tradisi manusia.
Jonathan EdwardsAllah yang kudus memilih dan menyucikan orang berdosa, menunjukkan bahwa anugerah selalu mendahului respon manusia.

VII. Makna Kristologis: Kristus yang Menyucikan Segala Sesuatu

Visi Petrus tidak dapat dipahami tanpa melihat Kristus sebagai pusatnya.
Salib Kristus adalah titik di mana “najis menjadi tahir,” di mana orang berdosa diampuni dan diterima.

Yesus sendiri sudah menubuatkan hal ini:

“Tidak ada sesuatu pun dari luar manusia yang dapat menajiskannya... yang menajiskan adalah yang keluar dari hati.” — (Markus 7:15)

R.C. Sproul menjelaskan:

“Yesus menghapus sistem kemurnian ritual dan menggantikannya dengan kemurnian hati yang dikerjakan oleh Roh Kudus.”

Dengan demikian, visi ini adalah konfirmasi pasca-Pentakosta bahwa Roh Kudus sedang melanjutkan karya Kristus — menguduskan bangsa-bangsa bagi kemuliaan Allah.

VIII. Implikasi bagi Gereja Masa Kini

1. Gereja Harus Terbuka bagi Semua Bangsa dan Latar Belakang

Petrus dipanggil keluar dari eksklusivisme religius menuju kasih universal. Gereja pun dipanggil untuk keluar dari temboknya dan mengabarkan Injil tanpa diskriminasi ras, sosial, atau ekonomi.

“Allah tidak memandang muka, tetapi menerima setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran.” — (Kisah Para Rasul 10:34–35)

2. Kekudusan Bukanlah Ritual, tetapi Relasi

Petrus belajar bahwa kekudusan sejati bukan lagi tentang apa yang dimakan, melainkan dengan siapa kita bersatu.
Kita kudus bukan karena ritual, tetapi karena kita bersatu dengan Kristus yang kudus.

3. Misi Global adalah Tanggung Jawab Gereja Reformed

Karena Allah telah menahbiskan bangsa-bangsa untuk mendengar Injil, gereja harus aktif mengabarkan kabar baik kepada seluruh dunia.

Calvin menulis:

“Gereja yang tidak bermisi telah melupakan misi Allah yang menjadikan bangsa-bangsa murid-Nya.”

IX. Aplikasi Pribadi: Dari Najis Menjadi Tahir

Perikop ini bukan hanya berbicara tentang bangsa-bangsa, tetapi juga tentang diri kita.
Kita semua adalah “najis” oleh dosa, tetapi Allah telah menyucikan kita melalui darah Kristus.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” — (1 Yohanes 1:9)

Spurgeon menulis:

“Tidak ada dosa yang terlalu dalam untuk dicuci oleh darah Kristus; tidak ada hati yang terlalu najis untuk disucikan oleh kasih karunia-Nya.”

X. Penutup: Allah yang Menyucikan dan Mengutus

Visi Petrus adalah pengingat bahwa Allah adalah Allah yang menyucikan dan mengutus.
Ia memanggil kita untuk melihat dunia bukan dengan mata kebiasaan, tetapi dengan mata kasih Kristus.

“Apa yang telah Allah tahirkan, jangan sekali-kali kamu sebut haram.” — (Kisah Para Rasul 10:15)

Di bawah terang Injil, tidak ada lagi dinding pemisah. Hanya ada satu umat, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan (Efesus 4:5).

Kesimpulan Teologis

  1. Allah berdaulat dalam menentukan siapa yang disucikan.

  2. Kristus telah menghapus perbedaan ritual dan membawa semua bangsa kepada Bapa.

  3. Kesucian sejati berasal dari anugerah, bukan dari ritual.

  4. Gereja dipanggil untuk menjadi alat Allah dalam memberitakan kasih karunia universal ini.

“Visi ini mengubah sejarah: dari eksklusivitas menuju inklusivitas Injil; dari hukum kepada kasih karunia; dari ritual kepada realitas; dari Yahudi kepada segala bangsa. Dan pusat dari semuanya adalah Kristus, Anak Domba yang menyucikan dunia.”
Herman Bavinck, Dogmatics IV

Next Post Previous Post