Kontroversi Sosinian

Kontroversi Sosinian

I. Pendahuluan: Pertarungan Teologi Abad ke-16–17

Dalam sejarah Gereja, tidak sedikit muncul aliran yang berusaha menafsirkan ulang iman Kristen berdasarkan rasionalisme manusia. Salah satu gerakan paling menonjol dalam hal ini adalah Sosinianisme (Socinianism) — sebuah sistem teologi yang lahir pada akhir abad ke-16 dan menolak Trinitas, keilahian Kristus, serta penebusan substitusi.

Gerakan ini bukan sekadar perbedaan pandangan kecil, tetapi merupakan tantangan langsung terhadap jantung Injil. Kaum Sosinian berusaha merumuskan iman Kristen tanpa misteri ilahi, tanpa inkarnasi sejati, dan tanpa korban penebusan.

John Owen, salah satu teolog Reformed paling kuat abad ke-17, menulis:

“Sosinianisme bukan hanya kesalahan logis, tetapi pemberontakan rohani terhadap wahyu Allah yang menyingkapkan diri-Nya dalam Anak.”
(Vindiciae Evangelicae, 1655)

Tulisan ini akan menguraikan asal-usul, ajaran, serta eksposisi teologis Reformed terhadap kontroversi Sosinian, dengan menelusuri akar Alkitabiah dan pandangan para teolog seperti Calvin, Owen, Turretin, dan Bavinck.

II. Asal-Usul Sosinianisme

1. Dari Italia ke Polandia

Sosinianisme berasal dari dua tokoh Italia: Laelius Socinus (1525–1562) dan keponakannya Faustus Socinus (1539–1604). Laelius adalah humanis yang terpengaruh semangat Renaissance dan mulai meragukan doktrin Trinitas. Setelah kematiannya, Faustus melanjutkan ajarannya di Polandia dan Transylvania, di mana ia menjadi tokoh utama Unitarians Polandia.

Faustus Socinus menulis karya besar berjudul De Jesu Christo Servatore (“Tentang Yesus Kristus Sang Juruselamat”), yang menolak gagasan bahwa kematian Kristus adalah korban pengganti (substitutionary atonement).

2. Ciri Umum Ajaran Sosinian

Pokok-pokok ajaran utama mereka mencakup:

  1. Penolakan terhadap Trinitas — Allah adalah satu pribadi, bukan tiga dalam satu hakikat.

  2. Penolakan keilahian Kristus — Yesus hanyalah manusia yang diurapi secara luar biasa.

  3. Penolakan penebusan substitusi — kematian Kristus hanyalah teladan moral, bukan pembayaran dosa.

  4. Penolakan terhadap dosa asal — manusia dilahirkan netral, bukan berdosa sejak lahir.

  5. Penekanan rasionalisme — segala sesuatu harus dapat dijelaskan secara logis tanpa misteri.

Dengan kata lain, Sosinianisme menolak semua dasar teologi Reformed: kejatuhan total, anugerah ilahi, dan penebusan oleh darah Kristus.

Francis Turretin menulis dengan tajam:

“Sosinianisme adalah Injil yang dipotong dari salibnya, kekristenan tanpa Kristus yang sejati.”
(Institutio Theologiae Elencticae, XVII.1)

III. Eksposisi Teologis: Dasar Penolakan Reformed

Teologi Reformed tidak menanggapi Sosinianisme hanya dengan kecaman emosional, tetapi dengan argumentasi Alkitabiah dan rasional yang kuat. Mari kita tinjau tiga pilar utama kontroversi ini.

A. Tentang Allah: Trinitas dan Misteri Ilahi

Kaum Sosinian berpendapat bahwa konsep Trinitas “tidak rasional”, karena Allah tidak dapat menjadi satu dan tiga pada saat yang sama. Mereka menuduh doktrin ini sebagai warisan filsafat Yunani, bukan wahyu.

Namun, Reformed Orthodoxy melihat sebaliknya: bahwa Trinitas adalah puncak penyataan Allah.

John Calvin dalam Institutes I.xiii menulis:

“Pikiran manusia tidak dapat mencapai Allah kecuali Ia menyatakan diri-Nya. Dan Ia menyatakan diri-Nya sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus — satu esensi, tiga pribadi.”

Trinitas bukan hasil spekulasi, melainkan kenyataan yang muncul dari pengalaman penyelamatan:

  • Bapa mengutus Anak (Yohanes 3:16),

  • Anak menebus dosa (Efesus 1:7),

  • Roh Kudus memperbarui hati (Titus 3:5).

Menolak Trinitas berarti menolak cara Allah bekerja dalam sejarah keselamatan. Herman Bavinck menegaskan:

“Trinitas adalah dasar seluruh teologi Kristen; tanpa itu, Injil kehilangan substansinya.”
(Reformed Dogmatics, Vol. 2)

B. Tentang Kristus: Keilahian dan Penebusan Substitusi

1. Penolakan Sosinian terhadap Keilahian Kristus

Bagi Faustus Socinus, Yesus hanyalah manusia moral yang sempurna, diangkat menjadi ilahi karena ketaatannya. Ia menolak pra-eksistensi Kristus.

Namun, Alkitab jelas menegaskan bahwa:

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” (Yohanes 1:1)
“Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yohanes 8:58)

Francis Turretin menjawab:

“Jika Kristus hanyalah manusia, maka kita menyembah berhala; tetapi jika Ia adalah Allah sejati, maka penyembahan kita adalah kebenaran yang tertinggi.”

2. Penolakan terhadap Penebusan Substitusi

Socinus menolak bahwa Kristus mati menggantikan orang berdosa. Menurutnya, Allah dapat mengampuni tanpa korban, karena Ia penuh kasih. Ia menulis:

“Tidak perlu darah untuk mengampuni; Allah yang baik tidak menuntut keadilan yang keras.”

Namun, teologi Reformed memegang teguh prinsip penebusan melalui penggantian (substitutionary atonement).

John Owen dalam The Death of Death in the Death of Christ menyatakan:

“Tanpa korban pengganti, salib kehilangan artinya. Keadilan Allah menuntut hukuman; kasih Allah menyediakan pengganti.”

Reformed menegaskan bahwa salib adalah tempat di mana kasih dan keadilan bertemu. Allah tidak mengabaikan hukum-Nya, tetapi menegakkannya dalam Kristus.

“Kristus telah menjadi kutuk karena kita.” (Galatia 3:13)
“Dialah yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita.” (2 Korintus 5:21)

Dengan menolak konsep ini, Sosinianisme menghancurkan dasar Injil.

C. Tentang Manusia: Dosa Asal dan Kebutuhan Penebusan

Kaum Sosinian berpendapat bahwa manusia lahir dalam keadaan netral, bukan berdosa. Mereka menolak konsep kejatuhan total (total depravity).

Namun, Kitab Suci menegaskan:

“Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan.” (Mazmur 51:7)
“Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” (Roma 3:23)

Calvin menulis dalam Institutes II.i.8:

“Kita tidak hanya rusak sebagian, tetapi seluruhnya. Tidak ada sudut hati manusia yang tidak ternoda.”

Jika manusia tidak berdosa secara total, maka kasih karunia menjadi tidak perlu. Di sinilah akar perbedaan mendasar antara Sosinianisme dan Reformasi:

  • Sosinianisme melihat manusia mampu menyelamatkan diri.

  • Reformed melihat manusia mati secara rohani dan butuh kelahiran baru.

IV. Analisis Historis: Pertarungan dengan Gereja Reformed

1. Respons John Owen

Owen menulis karya besar Vindiciae Evangelicae (1655) sebagai tanggapan terhadap Sosinianisme. Ia menyebut ajaran ini sebagai “rasionalisme naturalis” yang merusak Injil.

Ia menegaskan tiga kebenaran utama:

  1. Allah adalah Tritunggal.

  2. Kristus adalah Allah sejati dan manusia sejati.

  3. Keselamatan adalah karya ilahi, bukan moralitas manusia.

Owen melihat bahwa akar Sosinianisme adalah penolakan terhadap keilahian Kristus. Ia menulis:

“Jika Kristus bukan Allah, maka kita belum diselamatkan; karena hanya Allah yang dapat menyelamatkan dari murka Allah.”

2. Francis Turretin dan Reformed Orthodoxy

Turretin (1623–1687) menulis argumentasi sistematis melawan Sosinianisme dalam Elenctic Theology. Ia menegaskan bahwa:

“Sosinianisme adalah bentuk lama dari pelagianisme yang diperkuat oleh akal budi modern.”

Bagi Turretin, kontroversi ini bukan soal perbedaan filosofis, tetapi soal inti keselamatan: siapa Kristus, dan bagaimana manusia dibenarkan.

3. Reaksi Gereja Eropa

Gereja Reformed di Polandia dan Belanda menolak keras ajaran ini. Synod of Dordrecht (1618–1619), meskipun berfokus pada Arminianisme, juga mengutuk gagasan yang serupa dengan Sosinianisme karena sama-sama menolak dosa asal dan anugerah efektif.

V. Eksposisi Doktrinal: Mengapa Sosinianisme Bertentangan dengan Injil

1. Sosinianisme Menurunkan Kristus Menjadi Moral Guru

Dengan menolak keilahian Kristus, mereka menjadikan-Nya hanya guru etika. Namun Injil menyatakan bahwa Kristus bukan hanya mengajar, tetapi menebus.

“Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:45)

2. Sosinianisme Menghapus Salib sebagai Inti Injil

Dalam sistem Sosinian, salib tidak lagi berfungsi sebagai pengorbanan penebus, tetapi sekadar simbol kasih. Namun kasih tanpa keadilan bukanlah kasih Allah yang sejati.

Jonathan Edwards menulis:

“Kasih Allah bukan kasih yang lemah; Ia mengasihi dengan cara yang memuaskan keadilan-Nya sendiri.”

3. Sosinianisme Menolak Anugerah Efektif

Karena percaya bahwa manusia memiliki kehendak bebas yang tidak rusak, mereka menolak doktrin gratia irresistibilis (anugerah yang tak tertahankan). Ini bertentangan dengan Firman yang mengatakan:

“Tidak seorang pun dapat datang kepada-Ku, jika ia tidak ditarik oleh Bapa.” (Yohanes 6:44)

VI. Pandangan Para Teolog Reformed

Nama TeologPandangan tentang Sosinianisme
John CalvinMenyebut ajaran ini “akal budi tanpa wahyu”; manusia ingin memahami Allah tanpa tunduk kepada Firman.
John OwenSosinianisme adalah Injil palsu yang menolak salib Kristus; menegaskan kembali pentingnya penebusan substitusi.
Francis TurretinAkar Sosinianisme adalah Pelagianisme baru; menolak dosa asal dan meniadakan kebutuhan akan anugerah.
Herman BavinckSosinianisme adalah bentuk awal dari modernisme teologis; mencoba menjadikan agama Kristen rasional dan moralistik.
Louis BerkhofDalam Systematic Theology, menyebutnya “rasionalisme antroposentris” — menempatkan manusia sebagai ukuran kebenaran.

VII. Dimensi Filosofis: Rasionalisme vs. Wahyu

Kaum Sosinian memperkenalkan prinsip “reason above revelation” — akal di atas wahyu. Mereka menganggap bahwa segala kebenaran harus dapat dimengerti sepenuhnya oleh pikiran manusia.

Namun teologi Reformed menegaskan “faith seeking understanding” (iman yang mencari pengertian), bukan sebaliknya.

Calvin menulis:

“Akal budi manusia adalah pelayan iman, bukan penguasanya. Ketika akal menilai wahyu, maka wahyu kehilangan kuasanya.”

Inilah garis demarkasi antara iman sejati dan agama rasionalistik. Sosinianisme adalah langkah awal menuju Deisme dan Unitarianisme modern, di mana Allah dipandang jauh dan tidak pribadi.

VIII. Implikasi bagi Gereja Masa Kini

1. Bahaya Rasionalisme Modern

Banyak gereja masa kini tanpa sadar menghidupkan kembali semangat Sosinian: menekankan moralitas Kristus tanpa penebusan-Nya, mengajarkan kasih tanpa salib, dan menyebut dosa sebagai “kelemahan manusia”.

R.C. Sproul memperingatkan:

“Kekristenan yang menolak murka Allah sedang berjalan di jalur Sosinian yang sama — agama tanpa salib.”

2. Pentingnya Doktrin yang Kokoh

Kontroversi Sosinian mengajarkan bahwa ortodoksi bukanlah formalitas, tetapi pertahanan iman. Gereja harus memahami mengapa ia percaya kepada Trinitas, mengapa Kristus harus Allah-manusia, dan mengapa salib adalah satu-satunya jalan keselamatan.

3. Kesaksian Gereja dalam Dunia Intelektual

Reformed Theology tidak menolak rasio, tetapi menaklukkannya kepada Kristus. Gereja dipanggil untuk menunjukkan bahwa wahyu ilahi tidak irasional, melainkan melampaui rasio manusia.

IX. Kristus sebagai Jawaban atas Rasionalisme

Jika Sosinianisme mencoba menyingkirkan misteri, Injil justru mengundang kita untuk menyembah dalam kekaguman.

“Dan pengakuan kita adalah besar: Dia yang telah menyatakan diri dalam rupa manusia.” (1 Timotius 3:16)

Dalam Kristus, kita melihat:

  • Allah yang menjelma menjadi manusia.

  • Keadilan yang bertemu dengan kasih.

  • Misteri yang tidak dapat dipahami sepenuhnya, tetapi dapat disembah dengan iman.

John Owen menutup karya apologetiknya dengan kalimat indah:

“Kita tidak mengenal Allah kecuali di dalam Kristus; dan di dalam Kristus kita mengenal Allah yang adil sekaligus penuh kasih.”

X. Kesimpulan: Pertempuran yang Terus Hidup

Kontroversi Sosinian bukan sekadar peristiwa abad ke-17, tetapi cermin pergumulan kekristenan sepanjang masa — antara iman dan rasio, wahyu dan otonomi manusia.

Gereja Reformed berdiri teguh dengan pengakuan bahwa:

  1. Allah adalah Tritunggal.

  2. Kristus adalah Allah sejati dan manusia sejati.

  3. Penebusan adalah karya Allah yang penuh kasih dan adil.

  4. Manusia diselamatkan hanya oleh anugerah, melalui iman.

Seperti dikatakan Bavinck:

“Iman Kristen tidak dapat direduksi menjadi moralitas. Ia adalah misteri anugerah yang hanya bisa dijelaskan oleh Allah sendiri.”

Renungan Akhir

Dalam dunia modern yang memuja rasionalitas, gereja dipanggil untuk bersaksi bahwa misteri bukan musuh iman, melainkan napasnya.
Sosinianisme berakhir di jalan buntu karena berusaha memahami Allah tanpa menyembah-Nya.

“Karena dunia tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan orang yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.” (1 Korintus 1:21)

Next Post Previous Post