Lukas 9:62 - Tidak Menoleh ke Belakang: Komitmen Radikal Mengikuti Kristus

“Yesus berkata kepadanya, ‘Tidak seorang pun yang telah meletakkan tangannya pada bajak tetapi masih menoleh ke belakang yang pantas bagi Kerajaan Allah.’”
(Lukas 9:62, AYT)
I. Pendahuluan: Panggilan yang Tak Bisa Setengah Hati
Lukas 9:62 adalah salah satu perkataan Yesus yang paling tajam dan konfrontatif mengenai murid sejati. Di tengah perjalanan menuju Yerusalem, Yesus berbicara kepada seorang yang ingin mengikut Dia, namun dengan syarat: setelah mengucapkan selamat tinggal kepada keluargaku dulu (Lukas 9:61).
Jawaban Yesus bukan sekadar penolakan terhadap permintaan itu, melainkan pernyataan prinsip kekal tentang panggilan murid Kristus:
➡️ Mengikuti Kristus menuntut komitmen total, tanpa kompromi, tanpa nostalgia terhadap masa lalu.
Perumpamaan tentang tangan pada bajak menggambarkan kerja keras petani yang menuntut fokus penuh. Seorang pembajak yang menoleh ke belakang akan membuat alur bajak yang bengkok — hasilnya tidak bisa dipakai. Demikian pula, seorang murid yang masih menoleh ke belakang tidak layak bagi Kerajaan Allah.
II. Konteks Historis dan Naratif Lukas 9:62
1. Yesus di Jalan Menuju Yerusalem
Lukas 9:51 menandai perubahan besar:
“Ketika hampir genap waktu untuk Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem.”
Yesus sedang menuju ke salib. Setiap percakapan setelah itu menjadi seruan menuju pengorbanan dan keteguhan hati.
Di sepanjang perjalanan, Yesus bertemu tiga orang yang ingin menjadi pengikut-Nya (Lukas 9:57–62). Ketiganya memiliki keinginan baik, tetapi setiap keinginan mereka bercampur dengan syarat dan keterikatan duniawi.
Yesus mengungkapkan bahwa mengikut Dia berarti menempuh jalan salib.
2. Tiga Tipe Pengikut Setengah Hati
-
Yang pertama (Lukas 9:57–58): ingin mengikuti Yesus tanpa menghitung harga (“Aku akan mengikut Engkau ke mana pun Engkau pergi.”)
→ Yesus menjawab: “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”
-
Yang kedua (Lukas 9:59–60): ingin menunda dengan alasan keluarga (“Ijinkan aku pergi dahulu menguburkan ayahku.”)
→ Yesus menjawab: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati.”
-
Yang ketiga (Lukas 9:61–62): ingin berpamitan dulu (“Ijinkan aku mengucapkan selamat tinggal kepada keluargaku.”)
→ Yesus menjawab: “Tidak seorang pun yang menoleh ke belakang pantas bagi Kerajaan Allah.”
Tiga respons ini menunjukkan bahwa Yesus menolak murid yang masih terikat pada dunia lama.
Panggilan Yesus bersifat total — tanpa “nanti”, tanpa “kalau”.
III. Eksposisi Ayat demi Ayat
A. “Telah Meletakkan Tangannya pada Bajak”
Ungkapan ini melukiskan komitmen awal dalam mengikuti Kristus. Seorang petani yang memegang bajak sudah memulai pekerjaannya — tidak ada jalan kembali.
Bajak dalam dunia kuno biasanya ditarik oleh lembu, dan tangan petani harus tetap memegang erat untuk menjaga garis lurus.
Menoleh ke belakang berarti kehilangan arah dan menghancurkan hasil kerja.
Secara rohani, “meletakkan tangan pada bajak” melambangkan:
-
Memasuki jalan murid sejati.
-
Mengambil bagian dalam pekerjaan Kerajaan Allah.
-
Menyatakan kesetiaan kepada Kristus dengan tindakan, bukan sekadar kata-kata.
John Calvin menulis:
“Kristus mengajar bahwa mereka yang memulai perjalanan iman harus terus maju dengan tekun; sebab iman sejati tidak mengenal kemunduran, melainkan menatap ke depan menuju tujuan surgawi.”
Herman Bavinck menambahkan:
“Panggilan Kristus bersifat eksklusif dan progresif: siapa yang sudah mulai di dalam anugerah tidak boleh berpaling kepada hal-hal lama, sebab kasih karunia tidak mengizinkan separuh hati.”
Aplikasi:
Banyak orang hari ini ingin “memegang bajak” tanpa benar-benar mau membajak. Mereka ingin ikut Kristus tapi masih ingin menjaga kenyamanan dunia. Lukas 9:62 mengingatkan: iman sejati adalah komitmen yang bekerja, bukan hanya keinginan.
B. “Tetapi Masih Menoleh ke Belakang”
Ungkapan ini adalah inti dari peringatan Yesus. “Menoleh ke belakang” berarti:
-
Rindu akan kehidupan lama.
-
Meragukan keputusan untuk mengikuti Kristus.
-
Menyesali pengorbanan yang telah dilakukan.
Yesus memakai bahasa yang mirip dengan kisah istri Lot (Kejadian 19:26), yang menoleh ke belakang menuju Sodom dan menjadi tiang garam.
Menoleh ke belakang adalah simbol hati yang masih tertambat pada masa lalu, bukan pada panggilan Allah.
Matthew Henry menulis:
“Barangsiapa menoleh ke belakang, menunjukkan bahwa hatinya masih di dunia; dan Kristus tidak mau membagi kasih dengan dunia.”
R.C. Sproul menegaskan:
“Murid sejati tidak bisa memiliki pandangan ganda: satu mata ke salib, satu mata ke dunia. Mengikut Kristus berarti kehilangan dunia, dan menemukan kehidupan sejati.”
Dalam konteks pastoral, ini berarti seorang percaya harus menolak nostalgia dosa — rasa kehilangan terhadap kehidupan lama tanpa Kristus.
Banyak orang “menoleh” bukan karena benci Tuhan, tetapi karena masih mencintai hal-hal yang ditinggalkan.
Namun, Yesus berkata tegas: siapa yang menoleh ke belakang tidak layak bagi Kerajaan Allah.
C. “Tidak Pantas bagi Kerajaan Allah”
Kata “pantas” (Yunani: euthetos) berarti “layak, cocok, sesuai tempat.”
Bukan berarti keselamatan diperoleh karena kelayakan moral, tetapi bahwa orang yang masih terikat pada masa lalu tidak sesuai dengan natur Kerajaan Allah.
John Owen menulis:
“Kerajaan Allah adalah kerajaan kasih karunia yang mendorong kita untuk maju dalam kekudusan. Mereka yang menoleh ke belakang menolak dinamika anugerah itu.”
Francis Turretin menambahkan:
“Ketidaklayakan di sini bukan karena kurangnya kemampuan, melainkan karena hati yang terbagi; sebab anugerah hanya bekerja pada hati yang menyerah sepenuhnya.”
Yesus bukan menuntut kesempurnaan moral, melainkan keteguhan arah.
Kerajaan Allah bergerak ke depan; murid sejati berjalan dalam progres kekudusan.
IV. Makna Teologis Menurut Tradisi Reformed
1. Doktrin Pemuridan (Discipleship)
Bagi teologi Reformed, pemuridan adalah buah dari panggilan efektif. Orang yang benar-benar dipanggil oleh Roh Kudus akan mengikuti Kristus dengan ketekunan sampai akhir (perseverance of the saints).
Zakharia Ursinus (penulis Heidelberg Catechism) menyatakan:
“Mereka yang dilahirkan baru memiliki hati baru yang tidak lagi menoleh ke belakang, sebab kasih karunia memalingkan pandangan mereka kepada Kristus yang duduk di sebelah kanan Allah.”
Dengan demikian, Lukas 9:62 bukan ancaman kehilangan keselamatan, melainkan ujian keaslian iman.
Jika seseorang terus-menerus menoleh ke belakang, mungkin ia belum pernah sungguh-sungguh mulai memegang bajak.
2. Doktrin Pembenaran dan Pengudusan
Mengikut Kristus bukan hanya soal percaya (justification), tetapi juga hidup dalam ketaatan (sanctification).
Keduanya tidak dapat dipisahkan.
John Calvin menulis dalam Institutes (III.6.5):
“Kristus tidak hanya membenarkan kita oleh darah-Nya, tetapi juga menyucikan kita oleh Roh-Nya, agar kita tidak lagi hidup bagi dunia, melainkan bagi Allah.”
“Menoleh ke belakang” berarti menolak proses pengudusan.
Namun, kasih karunia yang sejati akan mendorong orang percaya untuk terus menatap ke depan — kepada Kristus sebagai tujuan akhir.
3. Doktrin Kedaulatan Anugerah
Yesus berbicara keras bukan untuk menolak kasih karunia, tetapi untuk menunjukkan betapa eksklusifnya kasih karunia itu.
Kerajaan Allah bukan tempat bagi kompromi.
Herman Bavinck menulis:
“Anugerah Allah bersifat mutlak. Ia menuntut seluruh diri manusia, bukan sebagian. Anugerah tidak sekadar menambah moralitas, tetapi menuntut penyerahan total.”
Yesus tidak mencari pengikut emosional, melainkan murid yang lahir baru oleh Roh Kudus — yang tidak lagi memiliki keinginan untuk menoleh ke belakang.
V. Analogi dan Simbolisme
1. Bajak dan Lahan
-
Bajak = panggilan pelayanan atau kehidupan Kristen.
-
Lahan = dunia yang membutuhkan Injil.
-
Tangan yang memegang bajak = komitmen aktif.
-
Menoleh ke belakang = kehilangan arah rohani.
2. Perbandingan dengan Elia dan Elisa
Ketika Elia memanggil Elisa (1 Raja-raja 19:19–21), Elisa juga ingin berpamitan dengan orang tuanya.
Namun perbedaannya: Elisa memotong lembu-lembunya dan membakarnya — tanda tidak ada jalan kembali.
Ia berpamitan bukan untuk menunda, tetapi untuk menutup masa lalunya.
Yesus di Lukas 9:62 menghadapi orang yang ingin berpamitan tanpa berkomitmen seperti Elisa. Karena itu, Ia menegaskan bahwa murid sejati tidak memiliki jalan kembali.
VI. Pandangan Para Teolog Reformed
| Teolog | Pandangan tentang Lukas 9:62 |
|---|---|
| John Calvin | Menegaskan bahwa iman sejati tidak boleh berhenti di tengah jalan; murid sejati berjalan terus hingga mencapai tujuan kekal. |
| Matthew Henry | Menafsirkan menoleh ke belakang sebagai tanda hati yang masih mencintai dunia dan tidak mau berpisah dengan kenyamanan lama. |
| John Owen | Mengaitkan ayat ini dengan progres pengudusan: orang yang lahir baru tidak lagi rindu akan dunia lama. |
| Herman Bavinck | Melihat ayat ini sebagai ekspresi kedaulatan anugerah yang menuntut totalitas penyerahan. |
| R.C. Sproul | Menekankan bahwa mengikut Kristus adalah keputusan yang eksklusif; tidak ada ruang bagi cinta dunia dan cinta Kristus sekaligus. |
VII. Aplikasi Praktis untuk Gereja Masa Kini
1. Komitmen yang Konsisten
Banyak orang memulai dengan semangat besar — pelayanan, studi Alkitab, doa, penginjilan — tetapi berhenti karena kesulitan, kenyamanan, atau nostalgia dosa lama.
Yesus berkata: “Tidak pantas bagi Kerajaan Allah.”
➡️ Ketekunan bukan pilihan tambahan; itu bukti lahir baru.
2. Fokus pada Tujuan Surgawi
Menoleh ke belakang mengaburkan pandangan ke depan.
Rasul Paulus berkata:
“Aku melupakan apa yang di belakang dan mengarahkan diri kepada apa yang di depan.” (Filipi 3:13)
➡️ Fokus rohani berarti menatap Kristus — bukan menyesali kehilangan dunia.
3. Keteguhan di Tengah Godaan Dunia
Kita hidup di zaman penuh distraksi: kekayaan, karier, popularitas, kenyamanan.
Yesus menuntut kesetiaan di tengah dunia yang memanggil kita untuk menoleh ke belakang.
Thomas Watson, teolog Puritan Reformed, menulis:
“Dunia ini seperti sirene yang memanggil pelaut Kristen untuk menoleh; tetapi kasih kepada Kristus menutup telinga kita dari nyanyiannya.”
VIII. Perspektif Eskatologis: Menuju Kerajaan yang Akan Datang
Yesus berbicara tentang Kerajaan Allah — bukan kerajaan dunia ini.
Mengikut Kristus adalah perjalanan menuju Yerusalem baru, bukan nostalgia terhadap Mesir.
Menoleh ke belakang adalah simbol penolakan terhadap arah Kerajaan.
Kerajaan Allah terus bergerak maju menuju pemulihan segala sesuatu di bawah pemerintahan Kristus (Kis. 3:21).
Oleh karena itu, murid sejati harus menatap ke depan — kepada penggenapan janji Allah.
Jonathan Edwards menulis:
“Kekudusan adalah gerak terus-menerus menuju Allah; setiap langkah ke belakang adalah penolakan terhadap keindahan-Nya.”
IX. Refleksi Rohani: Apa Arti Tidak Menoleh ke Belakang?
1. Secara Pribadi
Menoleh ke belakang bisa berarti:
-
Rindu pada dosa lama.
-
Menyesal karena kehilangan kenyamanan.
-
Mengingat masa lalu dengan penyesalan yang melumpuhkan.
Tetapi Kristus memanggil kita untuk memandang ke depan kepada kemuliaan.
2. Secara Gerejawi
Gereja yang menoleh ke belakang adalah gereja yang hidup dalam nostalgia tradisi tanpa kuasa rohani.
Gereja yang memegang bajak tanpa menoleh adalah gereja yang terus mengabarkan Injil dengan kesetiaan.
3. Secara Misiologis
Setiap penginjilan adalah tindakan membajak tanah hati manusia.
Murid sejati memegang bajak Injil, bukan menoleh kepada hasil cepat, melainkan menabur dengan kesetiaan.
X. Kristus: Teladan yang Tidak Menoleh ke Belakang
Yesus sendiri telah menunjukkan keteguhan yang sempurna.
“Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem.” (Lukas 9:51)
Ia tidak menoleh ke belakang ketika menghadapi salib, penolakan, dan kematian.
Ia maju demi kasih kepada umat pilihan-Nya.
Ibrani 12:2 berkata:
“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin dan menyempurnakan iman kita.”
Kristus adalah teladan bagi setiap murid yang memegang bajak iman.
Ia menunjukkan bahwa kemuliaan hanya datang melalui keteguhan dalam penderitaan.
XI. Kesimpulan: Panggilan untuk Tidak Menoleh
Lukas 9:62 adalah panggilan untuk:
-
Ketekunan: terus maju tanpa kompromi.
-
Kesetiaan: menyerahkan masa lalu dan masa depan kepada Kristus.
-
Fokus: menatap ke depan pada tujuan surgawi.
Murid sejati bukan hanya memulai, tetapi menyelesaikan perjalanan.
Menoleh ke belakang berarti kehilangan arah; menatap ke depan berarti hidup dalam anugerah.
Penutup
“Yesus berkata kepadanya, ‘Tidak seorang pun yang telah meletakkan tangannya pada bajak tetapi masih menoleh ke belakang yang pantas bagi Kerajaan Allah.’”
(Lukas 9:62, AYT)
Ayat ini bukan sekadar peringatan keras, tetapi ajakan penuh kasih agar kita menatap Kristus — tidak lagi pada masa lalu, dosa, atau dunia.
Bagi mereka yang telah memegang bajak iman, jangan lepaskan. Lanjutkan jalan itu sampai garis akhir, sebab Kristus yang memanggil adalah setia.
“Barangsiapa bertahan sampai kesudahannya, ia akan diselamatkan.” (Matius 24:13)