Markus 10:35–40 - Kemuliaan Melalui Penderitaan: Jalan Salib yang Dilupakan

Markus 10:35–40 - Kemuliaan Melalui Penderitaan: Jalan Salib yang Dilupakan

1. Konteks Naratif: Jalan Menuju Yerusalem dan Paradoks Kerajaan Allah

Perikop ini muncul dalam konteks perjalanan Yesus menuju Yerusalem (Markus 10:32–52), di mana Ia berulang kali menubuatkan penderitaan dan kematian-Nya. Ironisnya, pada saat Yesus berbicara tentang salib, dua murid terdekat-Nya justru memikirkan takhta. Di sinilah Markus menunjukkan benturan tajam antara pemahaman duniawi tentang kemuliaan dan konsep ilahi tentang kemuliaan dalam penderitaan.

Yakobus dan Yohanes, yang sering disebut sebagai bagian dari lingkaran dalam bersama Petrus, datang kepada Yesus dengan permohonan pribadi yang sarat ambisi: posisi kehormatan di kerajaan Yesus. Mereka belum memahami bahwa jalan menuju kemuliaan dalam kerajaan Allah bukanlah melalui kekuasaan, tetapi melalui penderitaan dan pelayanan.

2. Eksposisi Ayat demi Ayat

a. Markus 10:35–36: Permintaan yang Ambisius

“Guru, kami minta Engkau meluluskan permohonan bagi kami.”
Yesus menjawab, “Apa yang kamu ingin Aku lakukan bagimu?”

Di sini kita melihat keberanian — bahkan mungkin keangkuhan — dua murid yang berani mengajukan “cek kosong rohani” kepada Tuhan. Pertanyaan Yesus tidak langsung menolak, melainkan membuka ruang bagi mereka untuk menyadari isi hati sendiri.

Seperti dikatakan R.C. Sproul, dalam Mark: An Expositional Commentary,

“Yesus tidak menegur mereka terlebih dahulu, melainkan menyingkapkan kebutaan rohani mereka melalui dialog yang lembut tetapi menusuk. Tuhan sering kali mengajukan pertanyaan agar manusia melihat ketidakselarasan antara keinginannya dan kehendak Allah.”

Permintaan ini juga mencerminkan kebingungan umum di antara para murid yang masih memandang Mesias secara politis. Mereka mengira Yesus akan segera mendirikan kerajaan duniawi yang menggulingkan Roma.

b. Markus 10:37: Cita-cita Kedudukan dalam Kemuliaan

“Izinkan kami duduk, satu di sebelah kanan-Mu, dan yang satu di sebelah kiri-Mu, bagi kemuliaan-Mu.”

Posisi di sebelah kanan dan kiri raja adalah simbol kehormatan tertinggi dalam kebudayaan Timur Tengah kuno. Namun, para murid ini memandang kemuliaan secara keliru — mereka mencari kehormatan tanpa penderitaan, mahkota tanpa salib.

John Calvin dalam Commentaries on the Gospels menulis:

“Keinginan mereka bukanlah untuk kemuliaan Allah, melainkan untuk kemuliaan diri mereka sendiri. Mereka ingin berbagi dalam kerajaan Kristus, tetapi bukan dalam salib Kristus.”

Calvin menegaskan bahwa iman sejati harus menundukkan ambisi kepada kehendak Allah. Keinginan untuk memerintah tanpa melayani adalah bentuk penyimpangan dari natur Injil itu sendiri.

c. Markus 10:38: Pertanyaan Ujian dari Kristus

“Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu minta. Sanggupkah kamu minum dari cawan yang harus Kuminum atau dibaptis dengan baptisan yang dibaptiskan kepada-Ku?”

Kata “cawan” dan “baptisan” di sini adalah metafora penderitaan. Dalam Perjanjian Lama, “cawan” sering melambangkan murka Allah (Mazmur 75:8; Yesaya 51:17). Sementara “baptisan” melambangkan tenggelam dalam penderitaan atau penghakiman.

Menurut William Lane, dalam The Gospel According to Mark (NICNT):

“Yesus mengontraskan konsep kemuliaan dengan realitas penderitaan. Untuk berpartisipasi dalam kemuliaan-Nya, seseorang harus terlebih dahulu ikut serta dalam penderitaan-Nya.”

Yesus tidak menolak keinginan mereka untuk kemuliaan, tetapi menegaskan bahwa jalan menuju kemuliaan itu melewati penderitaan.
Inilah inti dari teologi salib (theologia crucis) yang kemudian dikembangkan oleh tradisi Reformed, terutama oleh Martin Luther: bahwa kemuliaan sejati Allah dinyatakan melalui salib, bukan kemegahan duniawi.

d. Markus 10:39: Respons yang Naif dan Nubuat yang Tersembunyi

“Kami sanggup!” Lalu, Yesus berkata kepada mereka, ‘Cawan yang Aku minum memang akan kamu minum, dan kamu akan dibaptis dengan baptisan yang dibaptiskan kepada-Ku.’

Jawaban mereka menunjukkan semangat yang tulus tetapi tanpa pemahaman mendalam. Mereka berkata “kami sanggup” tanpa mengetahui bahwa “cawan” itu adalah penderitaan salib, penganiayaan, dan bahkan kematian.

Namun, Yesus menubuatkan bahwa mereka benar-benar akan berbagi dalam penderitaan-Nya. Yakobus kemudian mati martir (Kisah 12:2), sedangkan Yohanes mengalami penderitaan panjang dan pengasingan di Pulau Patmos.

Sebagaimana Charles Spurgeon berkata:

“Mereka meminta tempat di sisi kemuliaan, tetapi Yesus memberi mereka tempat di sisi penderitaan. Dan di sanalah mereka menemukan kemuliaan sejati.”

e. Markus 10:40: Hak Kedaulatan Bapa

“Untuk duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, bukan hak-Ku untuk memberikannya, tetapi tempat itu adalah untuk mereka yang telah dipersiapkan.”

Yesus menegaskan kedaulatan Allah dalam menentukan siapa yang akan memerintah bersama-Nya. Ini bukan tentang favoritisme, melainkan penetapan ilahi berdasarkan rencana keselamatan.

John MacArthur dalam The MacArthur New Testament Commentary: Mark menulis:

“Yesus menolak konsep bahwa posisi dalam kerajaan Allah dapat diperoleh melalui kedekatan pribadi. Semua telah ditetapkan oleh kehendak Bapa, dan diberikan kepada mereka yang setia dalam penderitaan.”

Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan dalam kerajaan Allah tidak diberikan kepada yang meminta, tetapi kepada yang dipersiapkan melalui penderitaan dan kesetiaan.

3. Tema Sentral: Kemuliaan Melalui Salib

Perikop ini menyingkapkan paradoks besar dalam Injil Markus — bahwa kemuliaan sejati hanya dapat ditemukan melalui penderitaan. Dalam dunia yang menyanjung kekuasaan, Yesus menunjukkan bahwa jalan menuju keagungan adalah melalui pelayanan dan pengorbanan.

Tradisi Reformed sangat menekankan hal ini. John Stott, dalam The Cross of Christ, menulis:

“Salib bukan hanya sarana keselamatan kita, tetapi juga pola kehidupan kita. Kita diselamatkan oleh salib, dan kita dipanggil untuk hidup dengan cara salib.”

Ini berarti setiap murid Kristus harus memahami bahwa mengikuti Dia berarti bersedia menderita bersama-Nya.

4. Analisis Teologis: Cawan dan Baptisan Sebagai Simbol Partisipasi dalam Kristus

a. Cawan: Murka dan Solidaritas

Cawan yang diminum Kristus adalah simbol penerimaan murka Allah atas dosa umat manusia. Namun, ketika murid-murid juga “meminum cawan” itu, mereka tidak menebus dosa seperti Kristus, melainkan berpartisipasi dalam penderitaan demi kesetiaan kepada Injil.

Dalam teologi Reformed, hal ini dikenal sebagai “union with Christ” — kesatuan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya (Roma 6:3–5). Yakobus dan Yohanes akan turut menderita, bukan untuk penebusan, tetapi sebagai bukti bahwa mereka benar-benar bersatu dengan Sang Penebus.

b. Baptisan: Identitas Baru dalam Penderitaan

Kata “dibaptis dengan baptisan yang dibaptiskan kepada-Ku” menunjuk pada identifikasi dengan penderitaan Kristus. Baptisan air melambangkan pembersihan dosa, tetapi baptisan penderitaan adalah lambang pemurnian iman melalui ujian.

Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics menjelaskan:

“Penderitaan orang percaya bukanlah hukuman, melainkan partisipasi dalam penderitaan Kristus yang memurnikan dan mempersiapkan mereka untuk kemuliaan yang akan datang.”

Dengan demikian, penderitaan bukan tanda ditinggalkan Allah, melainkan tanda dimasukkan ke dalam persekutuan Kristus.

5. Dimensi Pastoral: Mengoreksi Ambisi Rohani

Yakobus dan Yohanes tidak meminta hal jahat — mereka menginginkan kemuliaan bersama Kristus. Namun, motivasi mereka adalah pencarian kehormatan pribadi.
Yesus tidak menghukum ambisi itu, melainkan menebusnya, mengarahkannya dari ambisi pribadi menuju kerinduan akan kemuliaan Allah.

Timothy Keller, dalam The King’s Cross, menulis:

“Yesus tidak mematikan ambisi kita, tetapi menebusnya. Ia mengubahnya dari keinginan untuk menjadi besar bagi diri sendiri menjadi kerinduan untuk melayani demi kemuliaan Allah.”

Inilah transformasi yang terjadi dalam hati setiap murid sejati — dari mengejar takhta menuju memikul salib.

6. Implikasi bagi Gereja Masa Kini

  1. Kepemimpinan Kristen adalah panggilan untuk menderita.
    Jabatan dan pelayanan bukan sarana kehormatan, melainkan kesempatan untuk memikul beban umat. Seorang gembala sejati berjalan di bawah salib, bukan di atas takhta.

  2. Ambisi rohani harus ditundukkan kepada kehendak Allah.
    Bukan salah untuk rindu dipakai Tuhan secara besar, tetapi kesalahan besar jika rindu itu berasal dari dorongan ego, bukan kasih kepada Kristus.

  3. Kemuliaan sejati adalah buah dari kesetiaan dalam penderitaan.
    Dalam dunia yang menolak nilai salib, gereja harus menegaskan kembali bahwa kemuliaan bukanlah hasil strategi atau pencitraan, melainkan hasil penyangkalan diri.

7. Kesimpulan: Salib sebagai Jalan Kemuliaan

Yesus menolak ambisi Yakobus dan Yohanes bukan karena Ia tidak ingin mereka dimuliakan, tetapi karena mereka belum memahami jalan menuju kemuliaan itu sendiri.
Kemuliaan sejati hanya diberikan kepada mereka yang menyatu dengan Kristus dalam penderitaan, ketaatan, dan penyangkalan diri.

Seperti dikatakan Dietrich Bonhoeffer:

“Ketika Kristus memanggil seseorang, Ia memanggilnya untuk datang dan mati.”

Markus 10:35–40 adalah undangan untuk mati bagi ambisi pribadi, agar kita hidup dalam kemuliaan yang datang dari Allah saja.

Penutup Reflektif

Teks ini menantang setiap pengikut Kristus modern — termasuk pemimpin, pelayan, dan jemaat — untuk memeriksa motivasi terdalam kita.
Apakah kita melayani untuk kemuliaan Kristus atau untuk posisi di sisi kanan dan kiri-Nya?

Kiranya kita berkata seperti Rasul Paulus:

“Aku ingin mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya, dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.”
— Filipi 3:10

Next Post Previous Post