Zakharia 3:6–7: Panggilan kepada Kekudusan dan Amanat Pelayanan yang Setia

Zakharia 3:6–7: Panggilan kepada Kekudusan dan Amanat Pelayanan yang Setia

I. Pendahuluan: Yosua sang Imam Besar dan Restorasi Pasca Pembuangan

Kitab Zakharia ditulis pada masa pasca-pembuangan, ketika umat Israel baru kembali dari Babel dan sedang membangun kembali Bait Allah di Yerusalem. Dalam konteks ini, Yosua bin Yozadak, imam besar, menjadi simbol dari seluruh bangsa yang berdosa namun dipulihkan oleh anugerah Allah.

Zakharia pasal 3 menampilkan suatu penglihatan surgawi yang sangat teologis:
Iblis menuduh Yosua di hadapan Allah, namun Allah sendiri membenarkannya, menanggalkan pakaian najisnya, dan memberinya pakaian yang bersih. Ini adalah gambaran pembenaran oleh anugerah, yang kemudian ditegaskan oleh peringatan dan janji dalam Zakharia 3:6–7.

Zakharia 3:6–7 adalah bagian transisi penting dalam pasal ini — dari pembenaran menuju panggilan kepada ketaatan dan pelayanan kudus. Allah bukan hanya membenarkan umat-Nya, tetapi juga memanggil mereka untuk hidup kudus dan setia dalam pelayanan.

John Calvin menulis dalam komentarnya:

“Di sini kita belajar bahwa pembenaran tidak memisahkan kita dari ketaatan, melainkan mengikat kita semakin erat kepada kehendak Allah.”

II. Konteks Teologis: Dari Pembenaran Menuju Pengudusan

Zakharia 3:6–7 memperlihatkan pola yang konsisten dalam keselamatan:

  1. Anugerah mendahului perintah.

  2. Pembenaran mendahului pengudusan.

  3. Panggilan kepada pelayanan muncul dari kasih karunia yang telah diterima.

Sebelum Yosua diberi tanggung jawab di Bait Allah, ia terlebih dahulu dibersihkan dari dosanya (Zakharia 3:3–5). Baru setelah itu malaikat Tuhan berkata:

“Apabila kamu hidup di jalan-jalan-Ku…”

Dengan demikian, Zakharia 3:6–7 menegaskan prinsip Reformed yang mendasar:

Ketaatan bukan syarat untuk diterima oleh Allah, melainkan bukti dan konsekuensi dari kasih karunia yang telah diberikan.

Seperti ditulis oleh R.C. Sproul:

“Anugerah yang sejati tidak pernah berhenti pada pengampunan; ia melahirkan ketaatan. Kasih karunia yang tidak menghasilkan buah adalah karikatur dari Injil.”

III. Analisis Ekspositori Ayat demi Ayat

Zakharia 3:6

“Lalu, malaikat itu memperingatkan Yosua, katanya:”

Kata “memperingatkan” (Ibrani: ʿûd) berarti “menegaskan dengan sumpah,” “memberi peringatan serius.”
Malaikat Tuhan tidak sekadar memberi nasihat, tetapi menyampaikan amanat ilahi dengan otoritas penuh.

John Gill menjelaskan:

“Ini bukan teguran biasa, tetapi peringatan yang bersifat perjanjian — Yosua dipanggil untuk mengingat bahwa pelayanan di hadapan Allah menuntut kesetiaan total.”

Konteks “peringatan” ini menunjukkan bahwa anugerah Allah tidak menghapus tanggung jawab moral. Sebaliknya, mereka yang telah ditebus justru dipanggil untuk hidup dalam kesadaran akan kekudusan Allah.

Zakharia 3:7

“Inilah firman TUHAN semesta alam, apabila kamu hidup di jalan-jalan-Ku dan apabila kamu memelihara perintah-Ku, kamu akan memerintah di Bait-Ku dan juga akan mengurus pelataran-pelataran-Ku, dan Aku akan memberikan jalan kepadamu di antara mereka yang berdiri di sini.”

Ayat ini terdiri dari tiga bagian utama:

  1. Syarat perjanjian – hidup di jalan Tuhan dan memelihara perintah-Nya.

  2. Janji pelayanan dan otoritas – memerintah di Bait Allah.

  3. Janji persekutuan surgawi – akses di antara mereka yang berdiri di hadapan Allah.

Mari kita bahas satu per satu.

IV. “Apabila Kamu Hidup di Jalan-jalan-Ku”

Ungkapan ini menggambarkan gaya hidup yang selaras dengan kehendak Allah.
Dalam Perjanjian Lama, “jalan-jalan Tuhan” adalah metafora bagi hukum, kehendak, dan karakter Allah.

Mazmur 25:4 berkata:

“Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku.”

Bagi Yosua, panggilan ini berarti bahwa pelayanan imam besar tidak terlepas dari kehidupan yang kudus. Ia tidak hanya melaksanakan ritual, tetapi harus mencerminkan karakter Allah.

John Calvin menulis:

“Ketaatan tidak boleh dianggap sebagai syarat bagi keselamatan, tetapi sebagai bukti bahwa seseorang benar-benar hidup dalam persekutuan dengan Allah.”

Dalam konteks Reformed, hal ini berhubungan erat dengan doktrin pengudusan (sanctification) — pekerjaan Roh Kudus yang menghasilkan ketaatan nyata dalam hidup orang percaya.

V. “Apabila Kamu Memelihara Perintah-Ku”

Bagian ini menekankan ketaatan aktif terhadap hukum Allah.
Kata “memelihara” (shamar) berarti “menjaga dengan hati-hati,” “mengindahkan dengan setia.”

Yosua dipanggil bukan hanya untuk mengetahui hukum Allah, tetapi menjaganya sebagai sesuatu yang berharga.
Bavinck menulis:

“Orang percaya tidak lagi memandang hukum Allah sebagai beban, tetapi sebagai kesukaan, sebab Roh Kudus menulis hukum itu di dalam hati mereka.”

Dalam teologi Reformed, ketaatan bukanlah sistem merit (usaha memperoleh keselamatan), tetapi tanda regenerasi.
Kristus sendiri berkata dalam Yohanes 14:15:

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”

VI. “Kamu Akan Memerintah di Bait-Ku dan Mengurus Pelataran-pelataran-Ku”

Inilah janji pelayanan dan otoritas.
Allah tidak hanya memanggil Yosua untuk ketaatan pribadi, tetapi juga mempercayakan tanggung jawab kepemimpinan rohani.

“Bait-Ku” menunjuk pada tempat kudus — pusat penyembahan Allah di tengah umat-Nya.
“Pelataran-pelataran-Ku” mencakup area luar, tempat umat datang membawa persembahan.

Maknanya sangat dalam:

Siapa yang hidup kudus akan dipercayakan dengan pelayanan yang lebih besar.

Matthew Henry menulis:

“Tuhan tidak akan menyerahkan rumah-Nya kepada mereka yang tidak berjalan di jalan-Nya. Kekudusan adalah syarat mutlak bagi kepemimpinan rohani.”

Prinsip ini berlaku universal: Allah memanggil setiap pelayan-Nya, baik imam, nabi, maupun orang percaya di zaman ini, untuk menjadi penjaga kekudusan Bait Allah, yakni Gereja-Nya.

1 Petrus 2:9 menegaskan:

“Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus…”

VII. “Aku Akan Memberikan Jalan Kepadamu di Antara Mereka yang Berdiri di Sini”

Bagian terakhir ini penuh makna simbolis.
“Yang berdiri di sini” menunjuk kepada makhluk surgawi — malaikat Tuhan — yang melayani di hadapan hadirat Allah.

Janji ini berarti bahwa Yosua, dan secara tipologis Israel, akan diberikan akses istimewa kepada hadirat Allah serta hak untuk berdiri di antara mereka yang kudus di surga.

John Calvin menafsirkan:

“Tuhan berjanji akan membawa umat-Nya ke dalam persekutuan surgawi. Mereka yang dahulu najis kini diperkenankan berdiri di antara para malaikat karena kebenaran Kristus.”

Secara eskatologis, ini menunjuk kepada kemuliaan yang akan datang, ketika umat Allah akan melayani bersama para malaikat di hadapan takhta-Nya.

Dalam pandangan Reformed, janji ini menggambarkan kesempurnaan pengudusan — bukan hanya pelayanan di dunia, tetapi juga persekutuan kekal dalam kemuliaan surgawi.

VIII. Tipologi Kristologis: Yosua dan Kristus sebagai Imam Besar

Zakharia 3 secara keseluruhan adalah gambaran tipologis tentang karya Kristus sebagai Imam Besar yang sejati.

Yosua, imam besar manusia, dibersihkan dan diberi pakaian baru — melambangkan pembenaran oleh Kristus.
Namun dalam Zakharia 3:6–7, ia juga dipanggil untuk hidup kudus — melambangkan kehidupan pelayanan Kristus yang taat sempurna.

Kitab Ibrani 7:26–27 menggambarkan Kristus demikian:

“Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan, yang kudus, tidak bercacat, tidak bernoda, yang telah terpisah dari orang berdosa dan lebih tinggi daripada langit.”

Dengan demikian:

  • Yosua mewakili umat berdosa yang dibenarkan.

  • Kristus adalah penggenapan sempurna dari Yosua — yang hidup di jalan Allah, memelihara perintah-Nya, dan memerintah dalam Bait Allah surgawi.

Herman Bavinck menulis:

“Seluruh pelayanan imam besar di Perjanjian Lama hanyalah bayangan dari Imam Besar sejati, yang memasuki Bait Allah surgawi dengan darah-Nya sendiri.”

IX. Perspektif Reformed: Ketaatan yang Lahir dari Kasih Karunia

Teologi Reformed memegang teguh dua kebenaran yang seimbang:

  1. Keselamatan hanya oleh kasih karunia (sola gratia).

  2. Kasih karunia yang sejati menghasilkan ketaatan nyata.

Zakharia 3:6–7 menggambarkan kedua aspek ini dengan sempurna:

  • Anugerah mendahului (Yosua dibersihkan).

  • Ketaatan menyusul (Yosua diperintahkan hidup di jalan Tuhan).

John Murray dalam Redemption Accomplished and Applied menulis:

“Kasih karunia yang menyelamatkan juga adalah kasih karunia yang menguduskan. Tidak ada orang yang dibenarkan yang tidak sedang dikuduskan.”

Oleh karena itu, kehidupan orang percaya harus memantulkan pola Injil ini:
dibenarkan oleh Kristus → dipanggil untuk hidup kudus dalam pelayanan.

X. Prinsip-prinsip Teologis yang Dapat Dipetik

  1. Allah yang sama yang membenarkan juga memanggil untuk taat.
    Kebenaran iman tidak meniadakan hukum, melainkan menegakkannya (Roma 3:31).

  2. Pelayanan sejati lahir dari hati yang telah dibersihkan.
    Allah tidak mencari keterampilan lebih dari kekudusan.

  3. Ketaatan membawa otoritas rohani.
    Mereka yang setia dalam perkara kecil akan dipercayai dalam perkara besar (Lukas 16:10).

  4. Kehidupan kudus membuka jalan menuju persekutuan surgawi.
    Orang yang berjalan dalam kebenaran akan “berdiri di antara mereka yang kudus.”

XI. Implikasi Bagi Gereja Masa Kini

Zakharia 3:6–7 berbicara langsung kepada pelayan Tuhan, pemimpin rohani, dan setiap orang percaya di zaman ini.

1️⃣ Gereja sebagai “Bait Allah Baru”

Kristus telah menjadikan Gereja sebagai Bait Roh Kudus (1 Korintus 3:16).
Maka janji “memerintah di Bait-Ku” kini berarti pelayanan rohani di tubuh Kristus.
Setiap orang percaya adalah “imam” yang dipanggil untuk menjaga kekudusan gereja.

2️⃣ Pemimpin Gereja Dipanggil untuk Integritas

Yosua menjadi contoh bahwa otoritas rohani harus sejalan dengan kekudusan pribadi.
Bavinck menulis:

“Kehormatan pelayanan tidak dapat dipisahkan dari ketaatan. Gereja kehilangan kuasa rohani ketika pelayannya kehilangan rasa takut akan Allah.”

3️⃣ Ketaatan sebagai Saksi Dunia

Kehidupan yang setia di jalan Tuhan adalah kesaksian Injil yang paling kuat.
Yesus berkata dalam Matius 5:16:

“Biarlah terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.”

XII. Penafsiran dari Beberapa Pakar Teologi Reformed

🔹 John Calvin

“Allah tidak mengangkat kita untuk menganggur dalam anugerah, tetapi agar kita hidup bagi kemuliaan-Nya. Ketaatan adalah tanda syukur yang sejati.”

🔹 Matthew Henry

“Imam besar yang diperbarui harus menunjukkan kesetiaannya melalui ketaatan. Anugerah yang telah diterima harus dihidupi.”

🔹 R.C. Sproul

“Tuhan tidak menyelamatkan kita untuk tetap pasif. Ketaatan bukanlah tambahan bagi anugerah, melainkan manifestasi darinya.”

🔹 Louis Berkhof

“Zakharia 3:7 mengandung prinsip perjanjian: berkat datang melalui jalan ketaatan, bukan sebagai upah, tetapi sebagai hasil dari kasih karunia.”

🔹 Herman Bavinck

“Mereka yang telah dibersihkan dari dosa diberi hak untuk melayani. Kekudusan bukanlah pilihan, melainkan bagian dari panggilan.”

XIII. Aplikasi Rohani Pribadi

  1. Renungkan kasih karunia yang membenarkanmu.
    Ingatlah bahwa engkau dibersihkan bukan karena jasa, tetapi karena anugerah.

  2. Hiduplah di jalan Tuhan.
    Jadikan Firman Allah kompas hidupmu. Jangan kompromi dalam kekudusan.

  3. Peliharalah perintah-Nya dengan sukacita.
    Ketaatan adalah wujud kasih, bukan beban hukum.

  4. Layani di rumah Tuhan dengan kesetiaan.
    Setiap tugas kecil adalah bagian dari pelayanan besar Allah.

  5. Pandangi kemuliaan surgawi yang dijanjikan.
    Suatu hari engkau akan berdiri di antara mereka yang kudus, di hadapan takhta Anak Domba.

XIV. Kesimpulan: Dari Bait yang Diperbarui Menuju Kemuliaan Kekal

Zakharia 3:6–7 adalah seruan ganda:

  • Peringatan terhadap kompromi,

  • dan janji kemuliaan bagi mereka yang setia.

Ini adalah Injil dalam bentuk perjanjian:
Allah membenarkan yang berdosa, memanggilnya untuk taat, mempercayakan pelayanan, dan akhirnya membawa mereka ke dalam kemuliaan surgawi.

Sebagaimana Yosua berdiri di hadapan malaikat Tuhan, demikian pula setiap orang percaya hari ini berdiri di hadapan Allah oleh darah Kristus.
Kita telah dibersihkan, diundang untuk hidup kudus, dan dijanjikan tempat di hadapan-Nya.

R.C. Sproul menutup dengan indah:

“Kekudusan bukan jalan menuju keselamatan; ia adalah bukti bahwa keselamatan telah terjadi.”

Previous Post