Bunga-Bunga dari Taman Seorang Puritan
.jpg)
Pendahuluan: Taman Rohani Kaum Puritan
Ketika mendengar kata Puritan, banyak orang membayangkan kekeringan rohani, legalisme, atau kesalehan yang suram. Namun gambaran ini sangat keliru. Jika teologi Reformed adalah kerangka arsitektur iman Protestan, maka spiritualitas Puritan adalah taman yang indah di dalamnya—penuh dengan bunga doktrin, kesalehan, doa, pertobatan, dan penghiburan Injil.
Judul Flowers from a Puritan’s Garden menggambarkan dengan indah kekayaan rohani kaum Puritan. Mereka bukan hanya teolog yang tajam, tetapi juga gembala jiwa yang memahami kedalaman dosa manusia dan kelimpahan anugerah Allah di dalam Kristus.
J. I. Packer menyebut kaum Puritan sebagai “dokter jiwa” gereja. Mereka menulis bukan untuk memamerkan intelektualitas, tetapi untuk membawa orang percaya kepada persekutuan yang nyata dengan Allah Tritunggal.
Akar Taman Puritan: Otoritas Firman Allah
Firman sebagai Tanah Subur Kehidupan Rohani
Segala bunga dalam taman Puritan bertumbuh dari satu tanah yang sama: Firman Allah. Kaum Puritan memegang teguh prinsip Sola Scriptura, bukan hanya secara doktrinal, tetapi secara eksistensial.
William Perkins menegaskan bahwa teologi sejati adalah “ilmu hidup berbahagia selama-lamanya.” Artinya, Firman Allah tidak hanya dipelajari untuk diketahui, tetapi untuk dihidupi.
Bagi Puritan, membaca Alkitab adalah:
-
Sarana perjumpaan dengan Allah
-
Cermin bagi jiwa
-
Pedang yang melukai dan menyembuhkan
Herman Bavinck kemudian menegaskan bahwa iman Kristen sejati selalu bersifat firman-sentris dan inkarnasional—Firman yang masuk ke dalam kehidupan nyata.
Bunga Pertama: Kesadaran Mendalam akan Dosa
Dosa sebagai Penyakit Jiwa
Salah satu ciri paling menonjol dari tulisan Puritan adalah analisis mereka yang mendalam tentang dosa. Namun ini bukan obsesi yang tidak sehat, melainkan kesadaran teologis yang jujur.
John Owen, dalam karyanya tentang dosa yang masih tinggal dalam diri orang percaya, menunjukkan bahwa dosa bukan sekadar tindakan, melainkan kuasa yang berdiam dalam hati.
Kaum Puritan memahami bahwa tanpa pengenalan yang benar akan dosa, anugerah akan menjadi murah dan salib akan kehilangan maknanya.
Jonathan Edwards menekankan bahwa semakin seseorang melihat kekudusan Allah, semakin ia menyadari kebejatan dirinya—dan justru di situlah Injil menjadi manis.
Bunga Kedua: Anugerah Allah yang Berdaulat dan Manis
Anugerah yang Menghidupkan
Jika kesadaran akan dosa adalah tanah yang digemburkan, maka anugerah Allah adalah bunga yang paling harum dalam taman Puritan.
Kaum Puritan adalah pewaris setia doktrin anugerah Reformed:
-
Pemilihan yang berdaulat
-
Penebusan yang efektif
-
Panggilan yang berkuasa
-
Ketekunan orang kudus
Namun mereka tidak membahas anugerah secara dingin dan abstrak. Richard Sibbes terkenal dengan ungkapannya bahwa Kristus adalah “buluh yang patah tidak akan dipatahkan-Nya.”
Sinclair B. Ferguson menyatakan bahwa kaum Puritan memahami anugerah bukan hanya sebagai keputusan Allah di surga, tetapi sebagai penghiburan bagi hati yang terluka.
Bunga Ketiga: Kristus sebagai Pusat Segala Sesuatu
Kristus yang Dikenal, Dikasihi, dan Dinikmati
Dalam taman Puritan, Kristus adalah matahari yang memberi hidup bagi semua bunga. Tidak ada doktrin yang berdiri sendiri tanpa hubungan dengan Kristus.
John Owen menulis secara luas tentang persekutuan orang percaya dengan Kristus. Ia menekankan bahwa keselamatan bukan hanya status hukum, tetapi relasi hidup dengan Juruselamat yang bangkit.
Bagi Puritan:
-
Kristus adalah Nabi yang mengajar
-
Kristus adalah Imam yang menebus
-
Kristus adalah Raja yang memerintah
R. C. Sproul menegaskan bahwa Kristus dalam teologi Reformed–Puritan bukan sekadar teladan moral, tetapi Tuhan yang hidup dan berdaulat.
Bunga Keempat: Pertobatan Seumur Hidup
Pertobatan sebagai Gaya Hidup
Kaum Puritan menolak gagasan bahwa pertobatan hanyalah pengalaman sekali jadi. Bagi mereka, pertobatan adalah irama hidup orang percaya.
Thomas Watson menulis bahwa pertobatan sejati melibatkan:
-
Pengenalan akan dosa
-
Dukacita yang saleh
-
Kebencian terhadap dosa
-
Perubahan arah hidup
Pertobatan bukan upaya untuk memperoleh keselamatan, melainkan respons kasih terhadap anugerah.
J. I. Packer menegaskan bahwa pertobatan Puritan bersifat Injili—berakar pada salib, bukan pada rasa bersalah yang menghancurkan.
Bunga Kelima: Kekudusan yang Hangat, Bukan Legalistis
Hidup Kudus sebagai Buah Kasih
Kaum Puritan sering dituduh legalistis, tetapi tuduhan ini lahir dari kesalahpahaman. Kekudusan bagi Puritan bukan usaha untuk mendapatkan penerimaan Allah, melainkan buah dari persatuan dengan Kristus.
John Bunyan, melalui alegori The Pilgrim’s Progress, menunjukkan bahwa perjalanan iman adalah perjalanan anugerah, penuh perjuangan namun dipimpin oleh janji Allah.
Herman Bavinck menegaskan bahwa kekudusan Kristen sejati selalu bersifat relasional—hidup di hadapan Allah, bukan sekadar menaati aturan.
Bunga Keenam: Doa sebagai Nafas Jiwa
Doa yang Jujur dan Mendalam
Kaum Puritan adalah pendoa yang tekun. Doa bukan formalitas liturgis, melainkan curahan jiwa kepada Allah.
Mereka mengajarkan doa yang:
-
Jujur
-
Alkitabiah
-
Rendah hati
-
Penuh pengharapan
Doa Puritan sering kali panjang, bukan karena kata-kata kosong, tetapi karena mereka sadar akan ketergantungan total kepada Allah.
Bunga Ketujuh: Penghiburan Injil bagi Jiwa yang Letih
Allah yang Lembut terhadap Orang Lemah
Salah satu aspek paling indah dari taman Puritan adalah perhatian mereka kepada jiwa-jiwa yang terluka.
Richard Sibbes menekankan bahwa Kristus lebih bersedia mengampuni daripada manusia bersedia bertobat.
Ini menunjukkan bahwa teologi Puritan, meskipun serius tentang dosa, sangat kaya dalam penghiburan Injil.
Relevansi Bunga-Bunga Puritan bagi Gereja Masa Kini
Dalam dunia modern yang dangkal secara rohani, spiritualitas Puritan menawarkan:
-
Kedalaman iman
-
Keseriusan terhadap dosa
-
Kekayaan anugerah
-
Ketekunan dalam kekudusan
Sinclair B. Ferguson menyatakan bahwa gereja masa kini tidak membutuhkan teologi baru, tetapi hati lama yang diperbarui oleh kebenaran lama.
Kesalahan dalam Membaca Kaum Puritan
Beberapa kesalahan yang perlu dihindari:
-
Membaca Puritan tanpa Injil
-
Meniru bentuk lahiriah tanpa memahami hati mereka
-
Mengabaikan konteks pastoral tulisan mereka
Teologi Reformed mengajarkan kita untuk mengambil esensi, bukan sekadar gaya.
Penutup: Memetik Bunga untuk Kehidupan Iman
Flowers from a Puritan’s Garden mengajak kita berjalan perlahan di taman yang penuh keindahan rohani. Di sana kita belajar bahwa doktrin dan kesalehan tidak dapat dipisahkan, bahwa kebenaran harus menghangatkan hati, dan bahwa hidup Kristen adalah hidup yang berakar dalam anugerah Allah.
Kiranya gereja masa kini kembali memetik bunga-bunga ini—bukan untuk nostalgia, tetapi untuk memperkaya kehidupan iman, memuliakan Kristus, dan hidup setia sampai akhir.