Hakikat dan Bahaya Ajaran Sesat

Hakikat dan Bahaya Ajaran Sesat

Pendahuluan

Sejak kelahiran gereja mula-mula, ajaran sesat (heresy) bukanlah fenomena baru. Ia muncul hampir bersamaan dengan pewartaan Injil itu sendiri. Rasul Paulus memperingatkan jemaat Galatia tentang “injil lain” (Galatia 1:6–9), Yohanes menentang para penyangkal inkarnasi (1 Yohanes 4:1–3), dan Petrus berbicara tentang guru-guru palsu yang akan menyusup dengan ajaran membinasakan (2 Petrus 2:1). Dengan demikian, ajaran sesat bukan sekadar penyimpangan teoretis, melainkan ancaman nyata terhadap kemurnian iman dan keselamatan jiwa.

Dalam tradisi Reformed, isu ajaran sesat tidak pernah dipandang remeh. Reformasi Protestan sendiri lahir dari keyakinan bahwa Injil telah dikaburkan oleh distorsi teologis yang serius. Oleh sebab itu, memahami hakikat dan bahaya ajaran sesat merupakan bagian integral dari panggilan gereja untuk “mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus” (Yud. 3).

Artikel ini akan mengulas secara mendalam hakikat ajaran sesat serta bahayanya menurut beberapa pakar teologi Reformed seperti Yohanes Calvin, Herman Bavinck, Louis Berkhof, Geerhardus Vos, John Murray, Cornelius Van Til, hingga R.C. Sproul dan John Owen. Pendekatan ini bersifat doktrinal, historis, dan pastoral.

I. Hakikat Ajaran Sesat: Definisi dan Karakteristik

1. Definisi Teologis

Secara etimologis, kata heresy berasal dari bahasa Yunani hairesis, yang berarti “pilihan” atau “sekte.” Dalam perkembangan gereja, istilah ini merujuk pada ajaran yang menyimpang dari iman rasuli dan ortodoksi yang telah dirumuskan dalam pengakuan iman gereja.

Louis Berkhof dalam Systematic Theology mendefinisikan ajaran sesat sebagai:

“Penyimpangan yang serius dan mendasar dari kebenaran esensial iman Kristen, yang merusak struktur keselamatan.”

Dengan kata lain, tidak semua kesalahan teologis adalah heresi. Dalam teologi Reformed dibedakan antara:

  • Kesalahan sekunder (error)

  • Penyimpangan serius (false teaching)

  • Ajaran sesat (heresy) — yang menyentuh inti Injil dan doktrin keselamatan.

2. Dimensi Doktrinal

Herman Bavinck menegaskan bahwa ajaran sesat biasanya muncul dari pengambilan satu aspek kebenaran secara berlebihan hingga mengorbankan keseimbangan keseluruhan wahyu Allah. Ia menyatakan:

“Heresy is truth exaggerated at the expense of the whole.”

Contohnya:

  • Arianisme menekankan keunikan Allah tetapi menyangkal keilahian Kristus.

  • Pelagianisme menekankan tanggung jawab manusia tetapi mengabaikan kerusakan total akibat dosa.

Dalam perspektif Reformed, ajaran sesat sering lahir dari kegagalan memahami keseluruhan sistem kebenaran Alkitab secara organik.

3. Dimensi Etis dan Spiritual

John Calvin melihat ajaran sesat bukan sekadar kesalahan intelektual, tetapi juga pemberontakan hati. Dalam Institutes, ia menyatakan bahwa kesombongan manusia adalah akar dari banyak penyimpangan teologis.

Ajaran sesat bukan hanya masalah pikiran, tetapi juga masalah kehendak yang menolak tunduk pada otoritas firman Tuhan.

II. Akar Teologis Ajaran Sesat

1. Otonomi Manusia

Cornelius Van Til menekankan bahwa inti dosa adalah klaim otonomi manusia terhadap Allah. Ajaran sesat muncul ketika manusia menempatkan akalnya sebagai hakim tertinggi atas wahyu.

Van Til menyatakan bahwa semua heresi pada akhirnya merupakan bentuk “thinking autonomously” — berpikir tanpa tunduk pada otoritas Allah yang berfirman.

2. Reduksi Wahyu

Geerhardus Vos menekankan kesatuan progresif wahyu. Ajaran sesat sering muncul ketika satu bagian wahyu dipisahkan dari keseluruhan sejarah penebusan.

Sebagai contoh:

  • Liberalisme mereduksi Injil menjadi etika moral.

  • Gnostisisme mereduksi inkarnasi menjadi simbol spiritual.

Padahal dalam teologi Reformed, wahyu dipahami sebagai satu kesatuan organik yang berpuncak pada Kristus.

III. Bahaya Ajaran Sesat bagi Gereja

1. Merusak Doktrin Keselamatan

John Murray menekankan bahwa doktrin pembenaran oleh iman adalah “artikulus stantis et cadentis ecclesiae” — doktrin yang menentukan berdiri atau jatuhnya gereja.

Jika pembenaran dikaburkan, Injil kehilangan daya penyelamatannya. Ajaran sesat yang menyerang inti keselamatan membawa konsekuensi kekal.

Paulus tidak ragu menyatakan kutuk atas mereka yang memberitakan injil lain (Galatia 1:8–9). Ini menunjukkan bahwa bahaya ajaran sesat bukanlah akademis, melainkan eskatologis.

2. Mengacaukan Kehidupan Rohani

R.C. Sproul menekankan bahwa ide memiliki konsekuensi. Ajaran yang salah tentang Allah akan menghasilkan ibadah yang salah.

Jika Allah dipahami sebagai tidak kudus, ibadah menjadi dangkal. Jika anugerah dipahami murah, kekudusan diabaikan. Dengan demikian, ajaran sesat berdampak langsung pada kehidupan rohani umat.

3. Memecah Kesatuan Gereja

Ajaran sesat sering menghasilkan perpecahan. Namun perlu dibedakan antara perpecahan karena kebenaran dan perpecahan karena kesalahan.

Calvin berpendapat bahwa mempertahankan kemurnian doktrin kadang menuntut pemisahan dari ajaran sesat. Reformasi sendiri adalah contoh nyata bahwa kesatuan sejati harus berdiri di atas kebenaran.

IV. Pola Historis Ajaran Sesat

1. Kristologis

Banyak ajaran sesat berfokus pada pribadi Kristus:

  • Arianisme (menyangkal keilahian Kristus)

  • Nestorianisme (memisahkan natur Kristus)

  • Monofisitisme (mencampurkan natur Kristus)

Pengakuan iman Kalsedon menjadi pagar ortodoksi yang dijaga hingga kini.

2. Soteriologis

Pelagianisme dan Semi-Pelagianisme menyangkal kerusakan total manusia. Reformasi menegaskan kembali:

  • Total depravity

  • Unconditional election

  • Justification by faith alone

Bavinck menyatakan bahwa di sinilah garis demarkasi antara Injil anugerah dan agama usaha manusia.

V. Mengapa Ajaran Sesat Tetap Muncul?

1. Natur Dosa

Manusia cenderung mencari Allah sesuai gambarnya sendiri. Calvin menyebut hati manusia sebagai “pabrik berhala.”

Ajaran sesat sering merupakan refleksi dari keinginan manusia untuk Allah yang lebih nyaman dan tidak mengganggu otonominya.

2. Kurangnya Katekisasi

Berkhof menekankan pentingnya pengajaran doktrinal yang sistematis. Gereja yang dangkal secara doktrin rentan terhadap setiap angin pengajaran.

Efesus 4:14 memperingatkan agar jemaat tidak diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran.

VI. Tanggung Jawab Gereja

1. Pengajaran yang Setia

John Owen menekankan pentingnya pelayanan firman yang mendalam dan sistematis. Gereja harus membangun jemaat dalam teologi yang kokoh.

2. Disiplin Gerejawi

Pengakuan Iman Westminster menegaskan pentingnya disiplin gereja untuk menjaga kemurnian doktrin dan kehidupan.

Kasih sejati bukan berarti toleransi tanpa batas terhadap kesalahan yang membinasakan.

3. Ketergantungan pada Roh Kudus

Teologi Reformed selalu menekankan bahwa pemeliharaan gereja adalah karya Roh Kudus. Tanpa iluminasi Roh, gereja mudah tersesat.

VII. Dimensi Eskatologis

Alkitab menyatakan bahwa menjelang akhir zaman akan muncul banyak penyesat (Mat. 24:11). Dalam perspektif Reformed, ini bukan alasan untuk pesimis, melainkan panggilan untuk berjaga-jaga.

Kristus adalah Kepala gereja yang tidak akan membiarkan mempelai-Nya binasa. Westminster Confession menyatakan bahwa gereja mungkin mengalami kemerosotan, tetapi tidak akan musnah.

VIII. Refleksi Pastoral

Ajaran sesat bukan hanya isu akademis. Ia menyentuh:

  • Pengharapan orang percaya

  • Kepastian keselamatan

  • Kualitas ibadah

  • Kesatuan tubuh Kristus

Kebenaran bukanlah kemewahan intelektual, melainkan kebutuhan rohani.

R.C. Sproul berkata:

“Right thinking about God leads to right living before God.”

Kesimpulan

Hakikat ajaran sesat terletak pada penyimpangan mendasar dari inti iman Kristen. Ia sering lahir dari otonomi manusia, reduksi wahyu, dan kesombongan intelektual. Bahayanya sangat besar: merusak Injil, mengacaukan kehidupan rohani, dan memecah gereja.

Teologi Reformed secara konsisten menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk menjaga kemurnian doktrin dengan setia pada firman Allah, bersandar pada Roh Kudus, dan berakar dalam pengakuan iman yang sehat.

Dalam dunia modern yang pluralistik dan relativistik, panggilan ini semakin mendesak. Gereja harus memegang teguh Injil anugerah, sebab hanya kebenaran yang memerdekakan (Yohanes 8:32).

Akhirnya, kesetiaan pada kebenaran bukanlah sikap keras hati, melainkan ekspresi kasih sejati kepada Allah dan sesama. Karena heresi bukan sekadar kesalahan intelektual, melainkan bahaya rohani yang dapat menyesatkan jiwa menuju kebinasaan.

Kiranya gereja Tuhan tetap berdiri teguh dalam iman yang murni, demi kemuliaan Allah Tritunggal dan keselamatan umat-Nya.

Next Post Previous Post