Kejadian 14:21–24: Iman yang Tidak Dapat Dibeli
.jpg)
Pendahuluan: Ujian Iman Setelah Kemenangan
Kejadian 14 sering dipahami sebagai kisah kepahlawanan Abram—seorang bapa leluhur yang dengan iman dan keberanian mengalahkan raja-raja besar demi menyelamatkan Lot. Namun klimaks teologis pasal ini bukanlah kemenangan militer Abram, melainkan sikap rohaninya setelah kemenangan itu diraih.
Kejadian 14:21–24 menghadirkan sebuah kontras tajam: di satu sisi raja Sodom dengan tawaran yang tampak murah hati, di sisi lain Abram, hamba Allah Yang Mahatinggi, yang menolak segala bentuk keuntungan yang dapat mencemari kesaksian imannya.
John Calvin menegaskan bahwa sering kali ujian iman yang paling berat bukan datang dalam penderitaan, melainkan dalam keberhasilan dan kelimpahan. Abram telah menang, dihormati, dan kini ditawari kekayaan. Di titik inilah integritas imannya diuji.
Latar Belakang Redemptif dan Historis
1. Konteks Perang dan Kemenangan Abram
Abram baru saja mengalahkan koalisi empat raja besar (Kejadian 14:1–16), sebuah pencapaian yang secara militer hampir mustahil bagi seorang kepala keluarga nomaden. Kemenangan ini menempatkan Abram pada posisi yang sangat terhormat secara politik dan ekonomi.
Namun Geerhardus Vos menekankan bahwa kisah ini harus dibaca dalam kerangka sejarah penebusan, bukan sekadar sejarah perang. Allah sedang membentuk karakter bapa umat perjanjian sebagai teladan iman bagi generasi berikutnya.
2. Pertemuan dengan Melkisedek dan Raja Sodom
Sebelum bertemu raja Sodom, Abram telah bertemu Melkisedek (Kejadian 14:18–20). Urutan ini sangat penting secara teologis.
Herman Bavinck menegaskan bahwa Abram terlebih dahulu menerima berkat dari imam Allah sebelum menghadapi godaan dunia. Ini menunjukkan bahwa persekutuan dengan Allah mendahului keputusan etis yang benar.
Eksposisi Kejadian 14:21
Tawaran Dunia: Kekayaan Tanpa Jiwa
Raja Sodom menawarkan kompromi: ia meminta orang-orangnya kembali, sementara Abram boleh mengambil seluruh harta rampasan.
Secara manusiawi, ini adalah tawaran yang sangat menguntungkan. Abram tidak melanggar hukum apa pun jika menerimanya.
Namun Meredith G. Kline menunjukkan bahwa tawaran ini bukan netral secara rohani. Sodom dalam Alkitab melambangkan dunia yang rusak secara moral. Menerima harta dari raja Sodom berarti membuka pintu bagi klaim moral dan politik atas Abram.
Eksposisi Kejadian 14:22
Sumpah Iman kepada Allah Yang Mahatinggi
Abram menjawab dengan sumpah yang sangat serius:
“Aku bersumpah demi TUHAN, Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi.”
Di sini Abram menyebut Allah dengan gelar perjanjian (YHWH) dan gelar kosmik (El Elyon).
John Owen menekankan bahwa pengakuan ini menunjukkan iman yang matang: Abram mengakui bahwa Allah yang memanggilnya adalah Allah yang berdaulat atas seluruh ciptaan.
Iman Abram bukan iman privat, melainkan iman publik yang diakui di hadapan raja dunia.
Eksposisi Kejadian 14:23
Penolakan Total terhadap Kemuliaan Palsu
Abram menolak bahkan “sepotong benang atau tali kasut”. Ini bukan hiperbola kosong, melainkan pernyataan prinsip.
Jonathan Edwards menegaskan bahwa kemuliaan Allah adalah pusat dari kehidupan orang percaya. Abram tidak mau kemuliaan Allah dicuri oleh manusia yang fasik.
Motivasi Abram jelas:
“Supaya engkau jangan dapat berkata: Aku telah membuat Abram menjadi kaya.”
R. C. Sproul menyebut ayat ini sebagai salah satu contoh paling jelas tentang Soli Deo Gloria dalam Perjanjian Lama.
Eksposisi Kejadian 14:24
Keadilan, Hikmat, dan Tanggung Jawab Sosial
Abram tidak memaksakan standar rohaninya kepada sekutunya, Aner, Eskol, dan Mamre. Ia membiarkan mereka mengambil bagian mereka.
Louis Berkhof menegaskan bahwa iman sejati tidak kaku dan legalistis. Abram bertindak dengan hikmat, keadilan, dan kebebasan hati nurani.
Ini menunjukkan bahwa penolakan Abram bukan karena asketisme, melainkan karena integritas iman pribadi.
Dimensi Teologis Utama
1. Iman dan Kekayaan
Teologi Reformed tidak mengajarkan bahwa kekayaan itu jahat, tetapi bahwa sumber dan tujuan kekayaan sangat menentukan makna rohaninya.
J. I. Packer menegaskan bahwa berkat sejati adalah yang datang dari tangan Allah dan mengarahkan hati kepada Allah.
2. Kesaksian Publik Orang Percaya
Abram sadar bahwa tindakannya akan ditafsirkan secara publik. Ia memilih untuk menjaga kesaksian iman di hadapan dunia.
Sinclair B. Ferguson menekankan bahwa iman sejati selalu memiliki dimensi publik, bukan hanya batiniah.
3. Allah sebagai Sumber Berkat Sejati
Dengan menolak raja Sodom, Abram menyatakan bahwa Allah sendirilah upah dan sumber kekayaannya.
Herman Bavinck menyatakan bahwa iman Perjanjian Lama sudah mengandung prinsip dasar yang sama dengan Injil: hidup dari anugerah, bukan dari dunia.
Perspektif Kristologis
Abram adalah bayangan Kristus:
-
Kristus menang atas musuh
-
Kristus menolak kemuliaan dunia
-
Kristus hidup demi kemuliaan Allah
Yesus sendiri menolak tawaran kerajaan dunia (Mat. 4), sebagaimana Abram menolak harta Sodom.
Geerhardus Vos melihat Kejadian 14 sebagai pola mesianik awal: kemenangan, penolakan dunia, dan kesetiaan total kepada Allah.
Aplikasi Pastoral bagi Gereja Masa Kini
-
Ujian iman sering datang setelah keberhasilan
-
Tidak semua tawaran yang sah itu sehat secara rohani
-
Kesaksian iman lebih berharga daripada keuntungan materi
-
Hidup demi kemuliaan Allah adalah panggilan utama orang percaya
John Calvin menegaskan bahwa iman sejati lebih rela kehilangan dunia daripada kehilangan perkenanan Allah.
Kesalahan Tafsir yang Perlu Dihindari
-
Moralisme dangkal
-
Askese ekstrem
-
Legalitas iman
Teologi Reformed menolak semua ekstrem ini dan menekankan kebebasan yang bertanggung jawab di hadapan Allah.
Penutup: Iman yang Berdiri Teguh di Hadapan Dunia
Kejadian 14:21–24 memperlihatkan iman yang tidak dapat dibeli. Abram berdiri di hadapan raja dunia dengan keyakinan bahwa Allah Yang Mahatinggi adalah satu-satunya sumber berkat dan kemuliaan.
Di tengah dunia yang terus menawarkan kompromi, kisah ini memanggil umat Allah untuk hidup dengan integritas, keberanian, dan iman yang berpusat pada Allah semata.