Ketidakmampuan Total Manusia dan Pemulihannya kepada Kekudusan
.jpg)
Pendahuluan: Masalah Manusia Bukan Sekadar Kelemahan, Melainkan Kematian Rohani
Salah satu klaim paling radikal dan paling sering disalahpahami dalam teologi Reformed adalah doktrin ketidakmampuan total manusia (total inability). Bagi banyak orang, doktrin ini terdengar terlalu pesimistis, bahkan tidak manusiawi. Namun justru di sinilah Injil Kristen berdiri dengan kejujuran yang paling tajam: masalah manusia bukan sekadar kurang pendidikan, kurang motivasi, atau kurang moralitas, melainkan kematian rohani akibat dosa.
Teologi Reformed menolak ilusi optimisme antropologis. Ia tidak memulai dengan potensi manusia, tetapi dengan realitas Alkitabiah tentang kejatuhan manusia di hadapan Allah yang kudus. Namun, doktrin ini tidak berhenti pada kehancuran. Ia bergerak menuju klimaks Injil: pemulihan kepada kekudusan melalui anugerah Allah yang berdaulat di dalam Kristus.
R. C. Sproul dengan tegas menyatakan:
“Kita tidak tersesat sedikit; kita mati sepenuhnya. Dan hanya Allah yang membangkitkan orang mati.”
Dasar Antropologi Reformed: Manusia sebagai Ciptaan yang Jatuh
1. Manusia Diciptakan Baik, tetapi Tidak Otonom
Teologi Reformed selalu memulai dari Kejadian: manusia diciptakan segambar dengan Allah—baik, rasional, bermoral, dan relasional. Namun manusia tidak diciptakan otonom. Ia hidup sepenuhnya bergantung pada Allah.
John Calvin menegaskan bahwa kemuliaan manusia terletak bukan pada kebebasan absolut, tetapi pada ketaatan yang penuh sukacita kepada kehendak Allah.
2. Kejatuhan sebagai Kerusakan Total, Bukan Parsial
Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, dampaknya tidak terbatas pada satu aspek kehidupan. Seluruh keberadaan manusia—pikiran, kehendak, perasaan, dan relasi—telah rusak.
Louis Berkhof menjelaskan bahwa istilah “total” dalam total inability tidak berarti manusia sejahat mungkin, tetapi bahwa tidak ada satu pun aspek diri manusia yang tidak tersentuh oleh dosa.
Ketidakmampuan Total: Apa dan Apa yang Bukan
1. Ketidakmampuan Moral, Bukan Fisik
Teologi Reformed tidak mengajarkan bahwa manusia kehilangan kemampuan rasional atau kehendak. Yang hilang adalah kemampuan moral untuk memilih Allah.
Jonathan Edwards, dalam Freedom of the Will, menegaskan bahwa manusia selalu bertindak sesuai dengan kecenderungan hatinya. Masalahnya adalah hati manusia mencintai dosa dan membenci Allah.
2. Ketidakmampuan untuk Datang kepada Allah
Manusia berdosa:
-
Tidak mencari Allah
-
Tidak tunduk kepada hukum Allah
-
Tidak dapat menyenangkan Allah
John Owen menulis bahwa kehendak manusia setelah kejatuhan bukan netral, melainkan diperbudak oleh dosa. Oleh karena itu, keselamatan tidak mungkin dimulai dari inisiatif manusia.
Ketidakmampuan Total dan Keadilan Allah
Salah satu keberatan terbesar terhadap doktrin ini adalah: Bagaimana Allah dapat menghakimi manusia jika manusia tidak mampu?
Teologi Reformed menjawab bahwa:
-
Ketidakmampuan manusia bersifat moral, bukan paksaan
-
Manusia berdosa secara sukarela
-
Tanggung jawab moral tetap berlaku
Herman Bavinck menegaskan bahwa dosa tidak menghapus tanggung jawab, karena manusia jatuh oleh kehendaknya sendiri dalam Adam.
Ketidakmampuan Total sebagai Panggung Anugerah
Doktrin ini bukan untuk merendahkan manusia semata, tetapi untuk meninggikan anugerah Allah. Jika manusia masih memiliki kemampuan untuk menyelamatkan diri, maka anugerah bukan lagi anugerah.
J. I. Packer menulis:
“Anugerah hanya menjadi anugerah sejati ketika manusia berhenti berharap pada dirinya sendiri.”
Pemulihan kepada Kekudusan: Inisiatif Allah Tritunggal
1. Pemilihan oleh Bapa
Pemulihan manusia dimulai bukan dalam sejarah, tetapi dalam kekekalan. Allah memilih umat-Nya bukan berdasarkan iman yang akan mereka lakukan, tetapi berdasarkan kasih karunia-Nya semata.
John Calvin menegaskan bahwa pemilihan adalah “akar keselamatan” yang memberikan kepastian bagi orang pe
2. Penebusan oleh Anak
Kristus datang bukan hanya untuk memberi teladan, tetapi untuk menanggung hukuman dosa dan memenuhi tuntutan kekudusan Allah.
John Owen menulis bahwa penebusan Kristus bersifat efektif, bukan hipotetis. Kristus sungguh-sungguh menyelamatkan umat-Nya.
3. Pembaruan oleh Roh Kudus
Roh Kudus mengaplikasikan keselamatan melalui:
-
Kelahiran baru
-
Pemberian iman
-
Pembaruan kehendak
Herman Bavinck menyatakan bahwa regenerasi bukan kerja sama, melainkan penciptaan baru.
Kekudusan sebagai Buah Pemulihan, Bukan Syarat Keselamatan
1. Kekudusan Definitif dan Progresif
Dalam teologi Reformed, orang percaya:
-
Telah dikuduskan secara posisi di dalam Kristus
-
Sedang dikuduskan secara progresif dalam kehidupan sehari-hari
Louis Berkhof menegaskan bahwa pembenaran dan pengudusan tidak boleh dipisahkan, tetapi juga tidak boleh dicampuradukkan.
2. Perjuangan Melawan Dosa yang Masih Ada
Pemulihan tidak menghapus keberadaan dosa sepenuhnya dalam hidup sekarang. Orang percaya hidup dalam ketegangan antara manusia lama dan manusia baru.
John Owen terkenal dengan pernyataannya:
“Bunuhlah dosa, atau dosa akan membunuhmu.”
Kekudusan dan Sarana Anugerah
Allah memulihkan umat-Nya melalui sarana-sarana yang telah Ia tetapkan:
-
Firman
-
Sakramen
-
Doa
-
Persekutuan gereja
Teologi Reformed menolak spiritualitas instan dan menekankan pembentukan jangka panjang oleh Roh Kudus.
Dimensi Eskatologis: Kekudusan yang Akan Disempurnakan
Pemulihan kepada kekudusan akan mencapai puncaknya pada kedatangan Kristus kembali. Pada saat itu:
-
Dosa akan dihapus sepenuhnya
-
Manusia akan dipulihkan secara total
-
Kekudusan menjadi realitas sempurna
Geerhardus Vos menegaskan bahwa keselamatan selalu bergerak menuju kepenuhan eskatologis.
Implikasi Pastoral dan Praktis
1. Kerendahan Hati Sejati
Doktrin ketidakmampuan total menghancurkan kesombongan rohani.
2. Pengharapan bagi Orang Berdosa
Jika keselamatan bergantung pada Allah, maka tidak ada orang yang terlalu rusak untuk diselamatkan.
3. Dorongan untuk Hidup Kudus
Anugerah tidak melahirkan kelalaian, tetapi syukur yang dinyatakan dalam ketaatan.
Kesalahan yang Harus Dihindari
-
Fatalisme rohani
-
Antinomianisme
-
Legalisme terselubung
Teologi Reformed selalu menjaga keseimbangan antara anugerah dan ketaatan.
Penutup: Dari Kematian Menuju Kehidupan, dari Dosa Menuju Kekudusan
“Man’s Total Inability and Restoration to Holiness” bukan sekadar doktrin, tetapi cerita Injil itu sendiri. Manusia yang mati dibangkitkan oleh anugerah. Hati yang keras dilembutkan. Kehendak yang memberontak ditaklukkan dengan kasih.
Di dalam Kristus, ketidakmampuan total manusia tidak menjadi akhir cerita, melainkan awal dari kemuliaan anugerah Allah.