Kisah Para Rasul 11:22–24: Melihat Kasih Karunia Allah
.jpg)
Pendahuluan: Ketika Kasih Karunia Allah Terlihat dalam Kehidupan Gereja
Kisah Para Rasul 11:22–24 menempatkan kita pada sebuah momen yang menentukan dalam sejarah gereja mula-mula. Injil telah menembus batas etnis dan budaya, dan sebuah komunitas Kristen yang hidup mulai bertumbuh di Antiokhia. Namun pertumbuhan ini tidak dibiarkan tanpa penggembalaan. Gereja Yerusalem—sebagai gereja induk—mengutus Barnabas untuk menyelidiki dan meneguhkan pekerjaan Allah tersebut.
Dalam perikop singkat ini, Lukas memperlihatkan bagaimana gereja yang sehat mengenali karya kasih karunia Allah, bagaimana kepemimpinan rohani berfungsi, dan bagaimana pertumbuhan sejati terjadi. Bagi teologi Reformed, teks ini sangat penting karena menegaskan bahwa gereja bertumbuh bukan oleh inovasi manusia, melainkan oleh anugerah Allah yang direspons dengan iman dan ketekunan.
John Calvin menulis:
“Allah tidak membiarkan gereja-Nya bertumbuh tanpa tatanan; Ia memelihara karya Roh-Nya melalui pelayanan yang ditetapkan-Nya.”
Konteks Historis dan Eklesiologis
1. Relasi antara Yerusalem dan Antiokhia
Gereja Yerusalem adalah pusat awal Kekristenan. Ketika kabar tentang pertobatan besar di Antiokhia sampai ke Yerusalem, respons mereka bukan kecurigaan, melainkan pengutusan.
Ini mencerminkan prinsip Reformed bahwa gereja lokal tidak berdiri terisolasi, melainkan berada dalam persekutuan tubuh Kristus yang lebih luas. Herman Bavinck menegaskan bahwa gereja adalah organisme hidup sekaligus institusi yang teratur.
2. Barnabas sebagai Utusan Gereja
Barnabas bukan rasul, tetapi ia adalah seorang pemimpin rohani yang matang. Namanya berarti “anak penghiburan”, dan karakter inilah yang menjadikannya pilihan tepat untuk situasi Antiokhia.
Louis Berkhof menekankan bahwa Allah sering memakai orang-orang dengan karunia pastoral yang kuat untuk meneguhkan gereja yang sedang bertumbuh.
Eksposisi Kisah Para Rasul 11:22
“Maka Sampailah Kabar… dan Jemaat Mengutus Barnabas”
Ayat ini menegaskan bahwa pertumbuhan gereja tidak diabaikan. Gereja Yerusalem mengambil tanggung jawab pastoral.
John Calvin melihat pengutusan Barnabas sebagai contoh bahwa pengawasan gerejawi bukanlah kontrol yang mengekang, melainkan pelayanan kasih.
Dalam teologi Reformed, otoritas gereja bertujuan:
-
Menjaga kemurnian Injil
-
Meneguhkan iman jemaat
-
Memelihara kesatuan tubuh Kristus
Eksposisi Kisah Para Rasul 11:23
1. “Melihat Kasih Karunia Allah”
Ungkapan ini sangat kaya secara teologis. Kasih karunia Allah tidak dilihat dalam fenomena spektakuler semata, tetapi dalam:
-
Pertobatan sejati
-
Pertumbuhan iman
-
Kehidupan yang berpusat pada Kristus
Jonathan Edwards menegaskan bahwa tanda utama pekerjaan Roh Kudus bukanlah emosi luar biasa, melainkan kasih yang sejati kepada Allah dan ketaatan yang bertumbuh.
Barnabas memiliki mata rohani untuk membedakan pekerjaan Allah dari sekadar antusiasme manusia.
2. “Bersukacitalah Ia”
Sukacita Barnabas menunjukkan sikap hati seorang pemimpin yang berfokus pada kemuliaan Allah, bukan pada reputasi diri atau kelompoknya.
R. C. Sproul menegaskan bahwa sukacita sejati lahir ketika kita melihat Allah dimuliakan, bukan ketika kita sendiri diakui.
3. “Ia Menasihati Mereka Supaya Tetap Setia kepada Tuhan”
Nasihat Barnabas bukan agar jemaat menjadi spektakuler, melainkan setia. Dalam bahasa Yunani, kesetiaan ini menunjuk pada ketekunan hati.
John Owen menulis bahwa ketekunan orang percaya adalah bukti dari karya anugerah yang sejati, bukan hasil dari kekuatan kehendak manusia.
Teologi Reformed menegaskan doktrin ketekunan orang-orang kudus: mereka yang sungguh-sungguh dipanggil oleh Allah akan dipelihara-Nya sampai akhir.
Eksposisi Kisah Para Rasul 11:24
1. Karakter Barnabas: “Orang Baik, Penuh dengan Roh Kudus dan Iman”
Lukas tidak memuji kecerdasan atau strategi Barnabas, tetapi karakter rohaninya.
Herman Bavinck menegaskan bahwa dalam gereja, karakter selalu mendahului karisma. Kepemimpinan sejati lahir dari kehidupan yang dikuasai oleh Roh Kudus.
“Orang baik” di sini tidak berarti tanpa dosa, tetapi seseorang yang hidupnya dikuasai oleh anugerah.
2. Hasil Pelayanan: “Sejumlah Orang Dibawa kepada Tuhan”
Pertumbuhan gereja kembali dikaitkan dengan karya Allah. Barnabas setia, Roh Kudus bekerja, dan Allah menambahkan jiwa-jiwa.
J. I. Packer menyebut ini sebagai pola Alkitabiah: kesetiaan manusia + kuasa Allah = pertumbuhan sejati.
Kepemimpinan Rohani dalam Perspektif Reformed
Barnabas mencerminkan model pemimpin Reformed:
-
Berakar dalam Injil
-
Peka terhadap karya Roh Kudus
-
Mengutamakan ketekunan jemaat
John Calvin menegaskan bahwa tugas pemimpin gereja bukan menciptakan iman, tetapi memelihara iman yang telah dikerjakan Allah.
Gereja yang Sehat: Kasih Karunia, Ketekunan, dan Pertumbuhan
Kisah Para Rasul 11:22–24 menunjukkan bahwa gereja yang sehat memiliki tiga ciri utama:
-
Kasih karunia Allah nyata
-
Jemaat diteguhkan untuk setia
-
Allah menambahkan orang-orang yang diselamatkan
Teologi Reformed melihat ketiga unsur ini sebagai karya satu Allah Tritunggal.
Implikasi Pastoral dan Kontekstual
1. Mengenali Kasih Karunia Allah di Zaman Ini
Gereja modern sering mengukur keberhasilan dengan angka dan program. Kisah Para Rasul mengajak gereja untuk melihat lebih dalam: apakah kasih karunia Allah nyata?
2. Pentingnya Pemimpin yang Matang Rohani
Barnabas mengingatkan bahwa gereja memerlukan pemimpin yang penuh Roh Kudus, bukan sekadar kompeten secara administratif.
3. Ketekunan Lebih Penting daripada Sensasi
Kesetiaan jangka panjang lebih berharga daripada pertumbuhan cepat tanpa akar.
Dimensi Eskatologis: Gereja sebagai Cicipan Kerajaan Allah
Pertumbuhan gereja di Antiokhia adalah tanda awal dari penggenapan kerajaan Allah. Gereja adalah komunitas eskatologis yang hidup dari anugerah sambil menantikan kepenuhannya.
Jonathan Edwards menyebut gereja sebagai “taman tempat Allah mulai memulihkan ciptaan”.
Penutup: Melihat, Bersukacita, dan Meneguhkan
Kisah Para Rasul 11:22–24 mengajarkan gereja sepanjang zaman untuk:
-
Melihat kasih karunia Allah dengan mata iman
-
Bersukacita atas pekerjaan-Nya
-
Meneguhkan umat agar tetap setia
Ketika gereja hidup dalam pola ini, Allah sendiri yang menambahkan pertumbuhan.