Penyerahan Mutlak kepada Allah

Pendahuluan: Makna Sejati dari “Absolute Surrender”
Frasa “Absolute Surrender” atau “Penyerahan Mutlak” sering kali terdengar dalam khotbah, lagu rohani, dan literatur devosi. Namun secara teologis, istilah ini jauh lebih dalam daripada sekadar komitmen emosional atau janji rohani sesaat. Dalam perspektif Alkitab dan teologi Reformed, penyerahan mutlak adalah respons total manusia terhadap kedaulatan, anugerah, dan kekudusan Allah.
Penyerahan mutlak bukanlah tindakan yang lahir dari kekuatan kehendak manusia semata, tetapi buah dari karya Roh Kudus yang melunakkan hati dan menaklukkan kehendak yang berdosa.
Dalam artikel ini kita akan mengeksplorasi dasar Alkitabiah penyerahan mutlak, melakukan eksposisi beberapa ayat kunci, serta mengkaji pandangan para teolog Reformed seperti John Calvin, Herman Bavinck, John Owen, Jonathan Edwards, dan R.C. Sproul.
I. Dasar Alkitabiah: Roma 12:1–2
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1)
1. “Karena itu” — Fondasi Anugerah
Paulus memulai dengan kata “Karena itu” (oun), yang menghubungkan panggilan penyerahan diri dengan sebelas pasal sebelumnya tentang doktrin keselamatan.
Artinya, penyerahan mutlak bukan syarat keselamatan, tetapi respons terhadap anugerah keselamatan.
John Calvin menegaskan bahwa semua etika Kristen bersumber dari belas kasihan Allah. Tanpa memahami anugerah, penyerahan diri berubah menjadi legalisme.
2. Persembahan yang Hidup
Dalam Perjanjian Lama, korban dipersembahkan dengan cara disembelih. Namun dalam Perjanjian Baru, orang percaya dipanggil menjadi “korban yang hidup.”
Herman Bavinck menjelaskan bahwa ini menunjuk pada seluruh keberadaan manusia:
-
Pikiran
-
Emosi
-
Kehendak
-
Tubuh
-
Relasi sosial
Penyerahan mutlak berarti tidak ada area kehidupan yang berada di luar otoritas Kristus.
II. Penyerahan dan Kedaulatan Allah
Dalam teologi Reformed, konsep penyerahan mutlak tidak dapat dipisahkan dari doktrin kedaulatan Allah.
Amsal 21:1 berkata:
“Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN…”
Jika hati raja saja berada dalam tangan Allah, apalagi hidup kita.
R.C. Sproul menekankan bahwa pengenalan akan kedaulatan Allah menghasilkan dua respons: ketakutan kudus dan kepercayaan penuh.
Penyerahan mutlak lahir ketika kita menyadari bahwa Allah bukan hanya Juruselamat, tetapi juga Tuhan yang berdaulat atas segala sesuatu.
III. Penyerahan dan Penyangkalan Diri
Yesus berkata:
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya…” (Lukas 9:23)
1. Makna Penyangkalan Diri
John Owen menyatakan bahwa inti kehidupan Kristen adalah peperangan melawan dosa dalam diri.
Penyangkalan diri bukan berarti membenci diri secara tidak sehat, tetapi menolak supremasi ego dan menundukkannya kepada Kristus.
Jonathan Edwards menjelaskan bahwa kasih sejati kepada Allah menggantikan kasih diri yang egois.
Penyerahan mutlak berarti:
-
Kehendak kita tunduk pada kehendak Allah.
-
Ambisi kita dikoreksi oleh kerajaan Allah.
-
Rencana kita dibentuk oleh Firman Tuhan.
IV. Penyerahan dan Pengudusan Progresif
Filipi 2:12–13 menyatakan:
“Kerjakanlah keselamatanmu… karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu…”
1. Sinergi dalam Pengudusan
Teologi Reformed membedakan antara pembenaran (sepenuhnya karya Allah) dan pengudusan (melibatkan partisipasi aktif manusia yang telah diperbarui).
Namun bahkan dalam pengudusan, inisiatif tetap berasal dari Allah.
Bavinck menyebutnya sebagai “monergisme dalam dasar, sinergisme dalam manifestasi.”
Penyerahan mutlak bukan pasif, tetapi aktif dalam ketergantungan.
V. Kristus sebagai Teladan Penyerahan Mutlak
Filipi 2:8:
“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati…”
Kristus adalah teladan tertinggi penyerahan mutlak.
Ia berkata di Getsemani:
“Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.”
Dalam teologi Reformed, ketaatan Kristus (baik aktif maupun pasif) adalah dasar keselamatan kita.
Penyerahan kita tidak menyelamatkan, tetapi merupakan refleksi dari penyerahan Kristus yang sempurna.
VI. Bahaya Penyerahan Palsu
Ada bentuk penyerahan yang tampak rohani tetapi sebenarnya dangkal:
-
Emosional sesaat tanpa komitmen berkelanjutan.
-
Legalistik, mencoba menyenangkan Allah dengan usaha manusia.
-
Selektif, hanya menyerahkan sebagian area hidup.
Calvin memperingatkan bahwa hati manusia adalah “pabrik berhala.”
Tanpa karya Roh Kudus, penyerahan diri mudah berubah menjadi pencarian reputasi rohani.
VII. Dimensi Perjanjian: Penyerahan sebagai Respons Umat Perjanjian
Dalam Perjanjian Lama, Israel dipanggil untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati (Ulangan 6:5).
Penyerahan mutlak adalah ekspresi kasih perjanjian.
Louis Berkhof menjelaskan bahwa relasi perjanjian melibatkan komitmen timbal balik:
-
Allah berjanji setia.
-
Umat dipanggil taat.
Namun ketaatan itu sendiri dimungkinkan oleh anugerah perjanjian.
VIII. Penyerahan dalam Konteks Penderitaan
Banyak orang dapat menyerahkan diri ketika hidup lancar. Namun ujian sejati terjadi dalam penderitaan.
Ayub berkata:
“TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil…”
Penyerahan mutlak berarti mempercayai kedaulatan Allah bahkan ketika kita tidak memahami rencana-Nya.
R.C. Sproul menulis bahwa iman sejati bersandar pada karakter Allah, bukan pada keadaan.
IX. Penyerahan dan Kemerdekaan Sejati
Paradoks Injil adalah bahwa penyerahan total justru menghasilkan kebebasan sejati.
Yesus berkata:
“Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
Augustinus menyatakan bahwa kebebasan sejati adalah kemampuan untuk melakukan kehendak Allah.
Dalam perspektif Reformed, manusia berdosa tidak benar-benar bebas, karena diperbudak dosa. Penyerahan kepada Kristus membebaskan kita dari perbudakan itu.
X. Dimensi Eskatologis Penyerahan
Penyerahan mutlak di dunia ini masih tidak sempurna. Namun suatu hari kelak, dalam kemuliaan, kehendak kita akan sepenuhnya selaras dengan kehendak Allah.
Wahyu 22 menggambarkan keadaan di mana hamba-hamba Allah melayani Dia tanpa gangguan dosa.
Bavinck menyebutnya sebagai “keselarasan sempurna antara kehendak manusia dan kehendak ilahi.”
XI. Aplikasi Pastoral
1. Dalam Pelayanan
Melayani bukan demi pengakuan, tetapi demi kemuliaan Allah.
2. Dalam Pekerjaan
Setiap profesi menjadi altar penyerahan ketika dilakukan bagi Tuhan.
3. Dalam Relasi
Penyerahan mutlak mencakup pengampunan, kerendahan hati, dan kasih yang berkorban.
XII. Refleksi Teologis Mendalam
Penyerahan mutlak bukan tindakan heroik manusia, melainkan mukjizat anugerah.
Tanpa Roh Kudus:
-
Kita mencintai diri sendiri.
-
Kita mencari kemuliaan pribadi.
-
Kita menolak otoritas Allah.
Namun dengan karya Roh:
-
Hati yang keras dilembutkan.
-
Kehendak yang memberontak ditundukkan.
-
Hidup yang terpecah menjadi utuh bagi Allah.
John Owen menulis bahwa Allah tidak menerima setengah hati. Ia menuntut seluruh hati — dan Ia sendiri yang memampukan kita untuk memberikannya.
Kesimpulan: Penyerahan sebagai Ibadah Sejati
Penyerahan mutlak bukan sekadar slogan rohani, tetapi inti kehidupan Kristen.
Ia berarti:
-
Mengakui kedaulatan Allah.
-
Menyangkal diri.
-
Memikul salib.
-
Hidup dalam ketaatan penuh kasih.
Namun dasar semua itu adalah Injil.
Kita menyerahkan diri bukan untuk mendapatkan kasih Allah, tetapi karena telah menerima kasih-Nya.
Kiranya hidup kita menjadi persembahan yang hidup — bukan hanya pada momen tertentu, tetapi setiap hari, dalam setiap aspek kehidupan.
Soli Deo Gloria.