Perkataan Damai dan Sambutan

Perkataan Damai dan Sambutan

Pendahuluan: Dunia yang Gelisah dan Kerinduan Akan Damai

Kita hidup di zaman yang penuh kegelisahan. Kemajuan teknologi tidak otomatis membawa ketenangan jiwa. Informasi melimpah, tetapi kedamaian semakin langka. Hubungan retak, hati terluka, dan masa depan terasa tidak pasti. Dalam situasi seperti ini, manusia merindukan dua hal mendasar: damai dan penerimaan.

Alkitab menyaksikan bahwa kebutuhan terdalam manusia bukan sekadar kenyamanan psikologis, melainkan pendamaian dengan Allah dan penerimaan dalam hadirat-Nya. Injil menghadirkan dua anugerah agung ini melalui pribadi Yesus Kristus. Ia tidak hanya berbicara tentang damai; Ia memberikan damai. Ia tidak hanya membuka pintu; Ia sendiri adalah pintu keselamatan.

Yesus berkata:

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”
(Yohanes 14:27, TB)

Dan Ia juga mengundang:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
(Matius 11:28, TB)

Dua pernyataan ini merangkum inti Injil sebagai perkataan damai dan sambutan. Dalam terang teologi Reformed, kita akan melihat bahwa damai yang Kristus berikan berakar pada karya pendamaian-Nya, dan sambutan-Nya merupakan ekspresi anugerah Allah yang berdaulat.

I. Damai yang Ditinggalkan Kristus (Yohanes 14:27)

1. Konteks Perpisahan yang Menggelisahkan

Yohanes 14 berada dalam konteks perjamuan terakhir. Para murid sedang gelisah karena Yesus berbicara tentang kepergian-Nya. Mereka menghadapi ketidakpastian dan ancaman. Dalam situasi inilah Yesus berkata, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu.”

Damai yang dijanjikan bukanlah penghapusan masalah eksternal, melainkan pemberian realitas rohani yang baru. Dalam bahasa Yunani, kata “eirēnē” mengandung makna keutuhan dan rekonsiliasi. Dalam latar belakang Ibrani, “shalom” berarti kesejahteraan menyeluruh—hubungan yang dipulihkan dengan Allah dan sesama.

Yohanes Calvin menafsirkan ayat ini sebagai janji rohani yang berakar pada pembenaran. Damai sejati tidak mungkin ada tanpa pendamaian dengan Allah. Hati manusia gelisah karena berada di bawah murka Allah akibat dosa. Damai Kristus adalah hasil dari karya-Nya yang akan digenapi di salib.

2. Damai yang Tidak Seperti Dunia

Yesus menegaskan bahwa damai-Nya berbeda dari damai dunia. Dunia menawarkan damai yang bersyarat—bergantung pada stabilitas ekonomi, kesehatan, atau keamanan sosial. Damai dunia rapuh dan sementara.

R.C. Sproul menekankan bahwa damai dunia bersifat horizontal, sedangkan damai Kristus bersifat vertikal terlebih dahulu. Tanpa pendamaian dengan Allah, tidak ada damai sejati. Roma 5:1 (meskipun tidak dikutip panjang di sini) menyatakan bahwa kita dibenarkan oleh iman dan hidup dalam damai sejahtera dengan Allah.

Damai Kristus adalah hasil dari penghapusan permusuhan antara Allah dan manusia. Dalam teologi Reformed, ini terkait dengan doktrin pembenaran dan penebusan substitusioner. Kristus menanggung hukuman dosa sehingga orang percaya tidak lagi berada di bawah penghukuman.

II. Sambutan yang Mengundang (Matius 11:28)

Jika Yohanes 14:27 berbicara tentang damai sebagai pemberian, maka Matius 11:28 berbicara tentang undangan yang terbuka.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
(Matius 11:28, TB)

1. Undangan yang Personal

Yesus tidak berkata, “Datanglah kepada sistem agama,” tetapi “Marilah kepada-Ku.” Keselamatan dalam teologi Reformed bersifat kristosentris. Iman bukan sekadar menerima doktrin, tetapi datang kepada pribadi Kristus.

Herman Bavinck menegaskan bahwa Kristus adalah wahyu sempurna Allah dan satu-satunya jalan kepada Bapa. Undangan ini bersifat universal dalam pemberitaan, tetapi efektif bagi mereka yang dipanggil oleh anugerah Allah.

2. Beban yang Diangkat

Kata “letih lesu dan berbeban berat” menunjuk pada beban dosa dan tuntutan hukum Taurat yang tidak mampu dipikul manusia. Calvin melihat ayat ini sebagai kontras dengan legalisme Farisi. Hukum tanpa Injil menindas; Injil membawa kelegaan.

Kelegaan yang diberikan Kristus bukan sekadar istirahat emosional, melainkan pembebasan dari rasa bersalah dan hukuman dosa. Dalam terang teologi Reformed, ini terkait dengan doktrin pembenaran oleh iman saja (sola fide).

III. Damai dan Sambutan dalam Kerangka Anugerah Berdaulat

Teologi Reformed menekankan bahwa keselamatan adalah karya anugerah Allah sepenuhnya. Undangan Kristus bukanlah hasil inisiatif manusia, melainkan ekspresi kasih Allah yang terlebih dahulu mencari orang berdosa.

Sproul sering menekankan bahwa manusia secara alami tidak mencari Allah. Oleh karena itu, sambutan Kristus adalah hasil karya Roh Kudus yang melembutkan hati. Ketika seseorang datang kepada Kristus, itu adalah bukti bahwa Allah telah bekerja di dalam dirinya.

John Piper menambahkan bahwa damai sejati ditemukan ketika manusia berdamai dengan Allah dan menemukan sukacita dalam kemuliaan-Nya. Sambutan Kristus bukan hanya pembebasan dari beban, tetapi juga undangan masuk ke dalam persekutuan yang memuaskan.

IV. Dimensi Pastoral: Penghiburan bagi Hati yang Terluka

Perkataan damai dan sambutan memiliki implikasi pastoral yang besar. Banyak orang Kristen bergumul dengan rasa tidak layak dan ketakutan akan penolakan. Injil menyatakan bahwa Kristus menerima orang berdosa yang bertobat.

Calvin menulis bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni oleh kasih karunia Allah. Sambutan Kristus tidak bergantung pada kelayakan manusia, melainkan pada kesempurnaan karya-Nya sendiri.

Damai Kristus juga menopang orang percaya di tengah penderitaan. Dalam Yohanes 14, Yesus tidak menjanjikan kehidupan tanpa kesulitan, tetapi kehadiran Roh Kudus sebagai Penghibur.

V. Gereja sebagai Komunitas Damai dan Sambutan

Jika Kristus berbicara damai dan sambutan, gereja dipanggil untuk mencerminkan karakter itu. Kuyper menekankan bahwa gereja harus menjadi tanda kerajaan Allah di dunia.

Damai yang telah diterima dari Kristus harus diwujudkan dalam rekonsiliasi antaranggota jemaat. Sambutan yang telah dialami harus tercermin dalam keramahtamahan terhadap sesama.

VI. Eskatologi Damai yang Sempurna

Damai Kristus yang kita alami sekarang adalah pendahuluan dari damai yang sempurna di langit dan bumi yang baru. Bavinck menyatakan bahwa sejarah bergerak menuju pemulihan total di bawah pemerintahan Kristus.

Undangan Kristus akan mencapai kepenuhannya ketika umat-Nya masuk ke dalam perjamuan kawin Anak Domba. Di sana, damai tidak lagi terganggu oleh dosa atau penderitaan.

VII. Sintesis Teologis

Dalam terang teologi Reformed, Perkataan Damai dan Sambutan dapat dirangkum sebagai berikut:

  1. Damai Kristus berakar pada pendamaian melalui salib.

  2. Sambutan Kristus adalah ekspresi anugerah yang berdaulat.

  3. Damai dan sambutan menghasilkan transformasi hidup.

  4. Keduanya mengarah pada pengharapan eskatologis.

Calvin menekankan dasar pembenaran.
Bavinck menyoroti kepenuhan karya Kristus.
Sproul menegaskan kekudusan Allah yang didamaikan melalui salib.
Kuyper melihat implikasi sosial dari damai itu.
Piper menekankan sukacita dalam persekutuan dengan Kristus.

Kesimpulan: Damai yang Diberikan, Sambutan yang Terbuka

Di dunia yang gelisah, Kristus berbicara: “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.” Kepada jiwa yang letih, Ia berkata: “Marilah kepada-Ku.”

Damai itu bukan ilusi.
Sambutan itu bukan formalitas.
Keduanya berakar pada karya penebusan yang sempurna.

Orang percaya dipanggil untuk hidup dalam damai itu dan mencerminkan sambutan itu kepada dunia. Pada akhirnya, perkataan damai dan sambutan ini akan mencapai kepenuhannya ketika Kristus datang kembali dan umat-Nya tinggal bersama Dia dalam damai yang kekal.

Next Post Previous Post