Zakharia 5:3–4: Gulungan Kutuk dan Kekudusan Allah

Zakharia 5:3–4: Gulungan Kutuk dan Kekudusan Allah

Pendahuluan: Penglihatan yang Mengganggu Iman yang Nyaman

Zakharia 5:3–4 adalah bagian dari penglihatan keenam nabi Zakharia—sebuah visi yang tidak menenangkan, tetapi mengguncang. Di tengah upaya pembangunan kembali bait Allah pascapembuangan, Allah menyatakan bahwa masalah terbesar umat-Nya bukan sekadar kehancuran fisik, melainkan dosa moral dan pelanggaran perjanjian yang masih bercokol di tengah masyarakat.

Dalam teologi Reformed, teks ini menyingkap realitas penting: Allah yang membangun kembali umat-Nya adalah Allah yang sama yang tidak menoleransi dosa. Pemulihan tanpa pertobatan adalah ilusi. Penglihatan tentang gulungan kutuk ini menegaskan bahwa anugerah tidak pernah meniadakan keadilan.

Konteks Historis dan Redemptif Kitab Zakharia

1. Umat yang Kembali tetapi Belum Diubahkan Sepenuhnya

Zakharia bernubuat kepada umat yang telah kembali dari pembuangan Babel. Secara lahiriah, mereka telah “dipulihkan”. Namun secara rohani, mereka masih membawa pola dosa lama.

Herman Bavinck menulis:

“Pemulihan historis tidak otomatis berarti pembaruan rohani.”

Allah, melalui Zakharia, menunjukkan bahwa pembangunan bait Allah harus diiringi oleh pembangunan karakter umat.

2. Penglihatan sebagai Sarana Teguran Ilahi

Penglihatan-penglihatan Zakharia bukan sekadar simbol misterius, tetapi sarana pengajaran profetis. Gulungan yang terbang adalah representasi hukum Allah yang aktif dan efektif.

John Calvin menekankan bahwa hukum Allah bukan artefak masa lalu:

“Hukum Allah hidup dan bekerja, baik untuk membenarkan maupun untuk mengutuk.”

Eksposisi Zakharia 5:3–4

Zakharia 5:3 – Sumpah Serapah yang Menjangkau Seluruh Negeri

Gulungan itu membawa “sumpah serapah”—istilah perjanjian yang merujuk pada kutuk hukum Taurat (bdk. Ulangan 27–28). Kutuk ini tidak terbatas pada individu, tetapi “menimpa seluruh negeri”.

Dua dosa disebutkan secara khusus:

  1. Mencuri – pelanggaran terhadap sesama

  2. Bersumpah palsu demi nama TUHAN – pelanggaran terhadap Allah

Ini mencerminkan dua loh hukum Taurat. John Murray mencatat bahwa dosa selalu bersifat vertikal dan horizontal sekaligus.

Yang mengejutkan adalah frasa “masih bebas dari hukuman”. Secara sosial, dosa mungkin lolos. Namun secara ilahi, tidak ada dosa yang luput.

R.C. Sproul menegaskan:

“Kekudusan Allah berarti tidak ada dosa yang dapat disembunyikan di hadapan-Nya.”

Zakharia 5:4 – Kutuk yang Masuk ke Rumah

Ayat ini sangat personal dan mengerikan. Kutuk tidak lagi abstrak, tetapi masuk ke rumah—ruang paling privat manusia.

Allah tidak hanya menghukum tindakan publik, tetapi juga dosa tersembunyi. Kutuk itu “bermalam”, menandakan penghakiman yang menetap, bukan sekilas.

John Owen melihat ini sebagai gambaran serius tentang dosa yang dipelihara:

“Dosa yang tidak dimatikan akan mematikan seluruh rumah.”

Penghakiman mencapai “kayu dan batu”—totalitas kehidupan.

Hukum dan Injil dalam Perspektif Reformed

Zakharia 5 sering dianggap “keras”. Namun teologi Reformed menolak dikotomi palsu antara hukum dan Injil.

1. Fungsi Hukum

Hukum:

  • Menyingkap dosa

  • Menyatakan kekudusan Allah

  • Mengarahkan manusia kepada kebutuhan akan anugerah

Calvin menyebut ini sebagai usus elenchticus—fungsi hukum untuk menghukum hati nurani.

2. Kebutuhan Akan Pengantara

Gulungan kutuk menyingkap satu kebenaran besar: jika hukum dibiarkan bekerja tanpa pengantara, maka kehancuran total tak terhindarkan.

Inilah mengapa Injil sangat diperlukan.

Kristus sebagai Dia yang Menanggung Kutuk

Dalam terang Perjanjian Baru, Zakharia 5:3–4 menemukan penggenapannya dalam Kristus.

Galatia 3:13 menyatakan bahwa Kristus telah menjadi kutuk bagi kita. Kutuk hukum yang seharusnya “masuk ke rumah kita” telah jatuh ke atas Kristus di kayu salib.

John Stott (dalam tradisi Reformed) menulis:

“Salib adalah tempat di mana kutuk hukum berhenti, karena telah digenapi sepenuhnya.”

Implikasi Pastoral dan Gerejawi

1. Bahaya Dosa yang Dinormalisasi

Gereja dapat dibangun megah, tetapi jika dosa dibiarkan, kehancuran tetap mengintai.

2. Kekudusan sebagai Buah Anugerah

Anugerah tidak menghapus tuntutan kekudusan, tetapi memampukan ketaatan.

3. Pemeriksaan Diri di Hadapan Allah

Zakharia 5 memanggil umat Allah untuk introspeksi yang jujur—bukan ketakutan legalistik, tetapi pertobatan sejati.

Relevansi bagi Gereja Modern

Di zaman di mana dosa sering direlatifkan, Zakharia 5:3–4 menjadi suara profetis yang keras namun menyelamatkan.

Herman Bavinck menegaskan:

“Gereja kehilangan kuasanya ketika ia kehilangan kesadarannya akan kekudusan Allah.”

Penutup: Antara Kutuk dan Anugerah

Zakharia 5:3–4 menempatkan kita di persimpangan: hukum atau Injil, kutuk atau Kristus. Allah yang mengutus gulungan kutuk adalah Allah yang sama yang mengutus Anak-Nya untuk menanggungnya.

Karena itu, teks ini bukan untuk menjerumuskan umat dalam ketakutan, melainkan membawa mereka kepada pertobatan, iman, dan kehidupan kudus di dalam Kristus.

Previous Post