Zakharia 6:12–13: Tunas yang Memerintah dan Imam yang Mendamaikan
.jpg)
Teks Alkitab (Zakharia 6:12–13, TB)
12 katakanlah kepadanya: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Inilah orang yang bernama Tunas. Ia akan bertunas dari tempatnya dan ia akan mendirikan bait TUHAN.
13 Dialah yang akan mendirikan bait TUHAN, dan dialah yang akan mendapat keagungan dan akan duduk memerintah di atas takhtanya. Di sebelah kanannya akan ada seorang imam dan permufakatan tentang damai akan ada di antara mereka berdua.
Pendahuluan: Nubuat yang Mengarah kepada Mesias
Zakharia melayani pada masa pasca-pembuangan, ketika umat Israel kembali dari Babel dan sedang membangun kembali Bait Allah. Secara lahiriah, situasi mereka rapuh: kekuatan politik kecil, ekonomi lemah, dan ancaman dari bangsa sekitar.
Namun dalam konteks kelemahan ini, Allah menyatakan nubuat besar: tentang seorang yang bernama Tunas, yang akan mendirikan Bait TUHAN dan memerintah di atas takhta-Nya. Nubuat ini melampaui konteks historis Yosua dan Zerubabel. Dalam perspektif teologi Reformed, ini adalah salah satu puncak kristologi Perjanjian Lama—pengumuman tentang Mesias yang menyatukan jabatan Raja dan Imam dalam satu pribadi.
Melalui refleksi Yohanes Calvin, Herman Bavinck, Geerhardus Vos, Meredith G. Kline, O. Palmer Robertson, dan Anthony Hoekema, kita akan menggali kedalaman teologis teks ini.
I. “Inilah orang yang bernama Tunas” (Zakharia 6:12a)
Istilah “Tunas” (Ibrani: tsemach) memiliki latar belakang profetik yang kaya (bdk. Yesaya 11:1; Yeremia 23:5).
1. Tunas sebagai Janji Daudik
Calvin melihat istilah ini sebagai referensi jelas kepada Mesias keturunan Daud. Setelah kerajaan Daud runtuh, harapan akan raja ideal tampak mati. Namun seperti tunas yang muncul dari tunggul yang ditebang, Allah menumbuhkan kehidupan baru dari sisa yang tampaknya tak berarti.
Bavinck menyebut ini sebagai pola organik wahyu: Allah bekerja melalui pertumbuhan bertahap dalam sejarah.
2. Kristologi yang Berkembang
Geerhardus Vos menekankan bahwa konsep “Tunas” adalah perkembangan progresif janji Kejadian 3:15. Dari “keturunan perempuan” menjadi “keturunan Abraham,” lalu “keturunan Daud,” kini dipersonifikasikan sebagai Tunas yang khusus dan unik.
II. “Ia akan mendirikan bait TUHAN” (Zakharia 6:12b–13a)
Pengulangan frasa ini menekankan sentralitas tugas Mesianik.
1. Bait sebagai Tempat Hadirat Allah
Dalam konteks sejarah, Zerubabel memimpin pembangunan Bait kedua. Namun nubuat ini melampaui pembangunan fisik.
Calvin menegaskan bahwa yang dimaksud bukan sekadar bangunan batu, tetapi komunitas rohani umat Allah.
2. Gereja sebagai Bait Roh Kudus
Dalam terang Perjanjian Baru (Efesus 2:20–22), Kristus adalah fondasi dan pembangun Gereja.
Bavinck menekankan bahwa Kristus membangun Bait rohani melalui karya penebusan dan pengudusan.
Meredith Kline melihat ini sebagai pemulihan kosmik—Allah kembali berdiam di tengah umat-Nya melalui Mesias.
III. “Ia akan mendapat keagungan dan duduk memerintah di atas takhtanya” (Zakharia 6:13b)
Ini adalah bahasa kerajaan yang eksplisit.
1. Mesias sebagai Raja yang Dimuliakan
Hoekema menafsirkan ayat ini dalam terang kebangkitan dan kenaikan Kristus. Setelah penderitaan, Kristus menerima kemuliaan dan duduk di sebelah kanan Allah.
Dalam teologi Reformed, kerajaan Kristus bersifat:
-
Sudah hadir (inaugurated)
-
Namun belum sepenuhnya dinyatakan (consummated)
2. Pemerintahan yang Berkeadilan
Calvin menekankan bahwa takhta Mesias berbeda dari takhta dunia. Pemerintahan-Nya berakar pada kebenaran dan damai.
IV. Kesatuan Raja dan Imam
“Di sebelah kanannya akan ada seorang imam…”
Ayat ini penuh misteri. Apakah menunjuk pada dua pribadi (raja dan imam), atau satu pribadi dengan dua jabatan?
1. Ketegangan Historis
Dalam Israel, jabatan raja dan imam terpisah. Ketika raja mencoba menjalankan fungsi imam, itu dianggap pelanggaran (2 Taw. 26).
Namun di sini, terlihat suatu harmoni unik.
2. Munus Triplex: Tiga Jabatan Kristus
Teologi Reformed mengajarkan bahwa Kristus menjalankan tiga jabatan:
-
Nabi
-
Imam
-
Raja
Zakharia 6:12–13 memberikan dasar eksplisit bagi kesatuan jabatan imam dan raja dalam Mesias.
Bavinck menyatakan bahwa dalam Kristus, kekudusan dan otoritas bersatu sempurna.
V. “Permufakatan tentang damai”
Ini adalah klimaks teologis perikop ini.
1. Damai sebagai Shalom Perjanjian
Damai (shalom) bukan sekadar ketiadaan konflik, tetapi harmoni perjanjian antara Allah dan umat-Nya.
Calvin menekankan bahwa damai ini dihasilkan oleh karya pendamaian Mesias.
2. Rekonsiliasi melalui Salib
Dalam teologi Reformed, Kristus sebagai Imam mempersembahkan korban yang mendamaikan murka Allah.
Sebagai Raja, Ia menerapkan hasil pendamaian itu dalam pemerintahan-Nya.
John Murray melihat ini sebagai integrasi objektif dan subjektif keselamatan.
VI. Dimensi Eskatologis
Zakharia tidak hanya berbicara tentang masa kini, tetapi tentang masa depan yang lebih besar.
1. Kerajaan yang Kekal
Hoekema menekankan bahwa pemerintahan Mesias mencapai puncaknya dalam langit dan bumi baru.
2. Bait yang Sempurna
Dalam Wahyu 21, tidak ada Bait karena Tuhan sendiri adalah Baitnya. Nubuat Zakharia mencapai klimaks eskatologis di sana.
VII. Kedaulatan Allah dalam Sejarah Penebusan
Zakharia bernubuat di tengah keterbatasan politik. Namun Allah berbicara tentang kerajaan kekal.
Bavinck menyatakan bahwa sejarah sering tampak kecil, tetapi Allah sedang mengerjakan realitas kosmik melalui peristiwa sederhana.
VIII. Aplikasi Teologis dan Pastoral
-
Kristus adalah Raja dan Imam kita.
-
Gereja adalah Bait yang sedang dibangun-Nya.
-
Damai sejati hanya ditemukan dalam pendamaian Kristus.
-
Harapan kita bersifat eskatologis dan pasti.
IX. Refleksi Mendalam dalam Perspektif Reformed
Zakharia 6:12–13 mengajarkan bahwa:
-
Allah setia pada janji Daudik-Nya.
-
Mesias menyatukan jabatan yang terpisah.
-
Keselamatan mencakup pendamaian dan pemerintahan.
-
Sejarah bergerak menuju kerajaan damai yang kekal.
Dalam terang teologi Reformed, teks ini menunjukkan integrasi harmonis antara kristologi, eklesiologi, dan eskatologi.
X. Kristus sebagai Tunas yang Sempurna
Yesus adalah:
-
Tunas dari keturunan Daud
-
Pembangun Gereja
-
Raja yang dimuliakan
-
Imam yang mendamaikan
-
Pembawa damai kekal
Takhta dan mezbah bertemu dalam diri-Nya. Salib menjadi jalan menuju mahkota.
Kesimpulan: Damai yang Lahir dari Takhta dan Mezbah
Zakharia 6:12–13 adalah salah satu nubuat Mesianik paling kaya dalam Perjanjian Lama.
Ia menyatakan bahwa:
-
Seorang Tunas akan bangkit.
-
Ia akan membangun Bait Allah yang sejati.
-
Ia akan memerintah dengan kemuliaan.
-
Ia akan menjalankan imamat yang mendamaikan.
-
Damai perjanjian akan ditegakkan melalui-Nya.
Dalam perspektif teologi Reformed, teks ini menemukan penggenapan sempurna dalam Yesus Kristus—Raja-Imam yang memerintah dengan kebenaran dan mendamaikan melalui darah-Nya.
Kiranya kita hidup sebagai bagian dari Bait yang sedang dibangun-Nya, tunduk kepada pemerintahan-Nya, dan menikmati damai yang telah diperoleh-Nya.
Karena pada akhirnya, Tunas itu bukan hanya janji masa depan—
Ia adalah Tuhan yang hidup dan memerintah untuk selama-lamanya.
Soli Deo Gloria.