Mazmur 37:1–11: Jangan Iri kepada Orang Fasik
.jpg)
Pendahuluan
Salah satu pergumulan terbesar dalam kehidupan orang percaya adalah ketika melihat orang fasik tampak berhasil, sementara orang benar justru mengalami kesulitan. Pertanyaan ini telah muncul sejak zaman kuno:
- Mengapa orang jahat sering makmur?
- Mengapa mereka yang tidak takut Tuhan tampaknya hidup nyaman?
- Mengapa kejahatan kadang terlihat menang?
Mazmur 37 adalah jawaban Daud terhadap pergumulan tersebut.
Mazmur ini bukan doa ratapan seperti banyak mazmur lainnya, melainkan sebuah pengajaran hikmat. Daud berbicara sebagai seorang yang telah lama berjalan bersama Tuhan dan memahami bahwa realitas hidup tidak boleh dinilai hanya dari apa yang terlihat saat ini.
Di tengah dunia yang penuh ketidakadilan, Daud mengajarkan agar umat Tuhan tidak iri kepada orang fasik, melainkan tetap percaya kepada Allah yang berdaulat.
Dalam perspektif Teologi Reformed, Mazmur 37:1–11 berbicara mengenai:
- kedaulatan Allah atas sejarah,
- kefanaan keberhasilan orang fasik,
- panggilan untuk hidup oleh iman,
- kesabaran dalam menantikan Tuhan,
- dan pengharapan eskatologis bagi umat Allah.
Mazmur ini juga menjadi salah satu bagian Alkitab yang paling kaya dalam mengajarkan kehidupan iman sehari-hari.
Latar Belakang Mazmur 37
Mazmur 37 adalah mazmur hikmat yang ditulis Daud pada masa tuanya.
Berbeda dengan mazmur ratapan yang penuh emosi, Mazmur 37 lebih menyerupai pengajaran seorang ayah kepada anak-anaknya.
Tema utamanya adalah:
Bagaimana orang benar harus hidup ketika melihat keberhasilan orang fasik?
Pertanyaan ini juga muncul dalam:
- Mazmur 73,
- Kitab Ayub,
- Pengkhotbah,
- Yeremia 12.
Alkitab tidak mengabaikan pergumulan tersebut.
Sebaliknya, firman Tuhan mengarahkan umat-Nya untuk melihat hidup dari perspektif kekekalan.
Eksposisi Mazmur 37:1
“Jangan marah oleh karena orang-orang jahat”
Kata “marah” di sini mengandung arti menjadi panas hati, kesal, atau frustrasi karena melihat keberhasilan orang jahat.
Daud memahami kecenderungan manusia.
Ketika melihat:
- koruptor hidup mewah,
- penipu berhasil,
- orang tidak jujur mendapat keuntungan,
hati manusia mudah dipenuhi kemarahan.
Namun Daud berkata:
“Jangan marah.”
Ini bukan berarti mengabaikan kejahatan.
Yang dilarang adalah kemarahan yang lahir dari iri hati dan ketidakpercayaan kepada Allah.
“Jangan iri kepada orang yang melakukan kecurangan”
Iri hati muncul ketika seseorang mulai menginginkan apa yang dimiliki orang lain.
Masalahnya bukan hanya keberhasilan orang fasik.
Masalahnya adalah ketika hati mulai berpikir:
“Mungkin hidup tanpa Tuhan lebih menguntungkan.”
Inilah godaan yang dihadapi Asaf dalam Mazmur 73.
Teologi Reformed mengajarkan bahwa dosa sering dimulai dari hati yang tidak puas terhadap providensia Allah.
Eksposisi Mazmur 37:2
“Mereka akan segera dipangkas seperti rumput”
Daud memakai gambaran rumput.
Rumput tumbuh cepat.
Terlihat hijau.
Tampak segar.
Namun umurnya singkat.
Demikian pula keberhasilan orang fasik.
Dari perspektif manusia, mereka tampak kuat.
Namun dari perspektif kekekalan, keberhasilan mereka sangat sementara.
John Calvin menulis bahwa orang percaya sering tertipu oleh penampilan sesaat karena gagal melihat akhir dari segala sesuatu.
“Layu seperti tanaman hijau”
Ini berbicara tentang kefanaan.
Dunia sering memandang kekayaan, kuasa, dan popularitas sebagai sesuatu yang permanen.
Namun Alkitab mengingatkan bahwa semua itu akan berlalu.
Yesaya 40:8 berkata:
“Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.”
Eksposisi Mazmur 37:3
“Percayalah dalam TUHAN”
Ini adalah perintah pertama yang positif.
Daud tidak hanya berkata apa yang tidak boleh dilakukan.
Ia juga menunjukkan apa yang harus dilakukan.
Jawabannya sederhana:
Percayalah kepada Tuhan.
Dalam Teologi Reformed, iman bukan sekadar optimisme.
Iman adalah ketergantungan penuh kepada Allah yang berdaulat.
R.C. Sproul mengatakan:
“Iman bukan percaya bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai keinginan kita, tetapi percaya bahwa Allah memegang kendali atas segala sesuatu.”
“Dan lakukan yang baik”
Iman sejati selalu menghasilkan ketaatan.
Daud tidak berkata:
“Percayalah dan pasif.”
Ia berkata:
“Percayalah dan lakukan yang baik.”
Ini sejalan dengan Yakobus yang menegaskan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati.
“Peliharalah kesetiaanmu”
Dalam dunia yang penuh kompromi, umat Tuhan dipanggil tetap setia.
Kesetiaan sering tidak terlihat spektakuler.
Namun di mata Tuhan, kesetiaan sangat berharga.
Eksposisi Mazmur 37:4
“Senangkanlah dirimu dalam TUHAN”
Ini salah satu ayat paling terkenal dalam Mazmur.
Banyak orang mengutip bagian kedua ayat ini tetapi melupakan bagian pertama.
Daud tidak berkata:
“Carilah keinginanmu.”
Ia berkata:
“Senangkanlah dirimu dalam Tuhan.”
Ketika Allah menjadi sukacita terbesar seseorang, keinginan hatinya mulai dibentuk sesuai kehendak Tuhan.
“Dia akan memberikan kepadamu keinginan hatimu”
Ini bukan janji bahwa Tuhan akan memenuhi semua keinginan manusia.
John Piper, seorang teolog Reformed, menjelaskan bahwa ketika seseorang bersukacita dalam Tuhan, Allah mengubah keinginannya sehingga selaras dengan kehendak-Nya.
Dengan kata lain:
Allah bukan hanya memberi apa yang kita inginkan.
Allah juga membentuk apa yang kita inginkan.
Eksposisi Mazmur 37:5–6
“Serahkan jalanmu kepada TUHAN”
Secara harfiah berarti “gulingkan” atau “letakkan” beban hidup kepada Tuhan.
Ini berbicara tentang penyerahan diri.
Banyak orang percaya ingin mengendalikan segala sesuatu.
Namun Daud mengajarkan:
Serahkan hidupmu kepada Tuhan.
“Percayalah kepada-Nya, dan Dia akan bertindak”
Allah tidak pasif.
Ia bekerja.
Ia memelihara.
Ia mengatur.
Ia menggenapi rencana-Nya.
Teologi Reformed menyebut ini sebagai providensia Allah.
Herman Bavinck menulis:
“Providensia berarti Allah bukan hanya menciptakan dunia, tetapi terus memeliharanya dan mengarahkannya menuju tujuan-Nya.”
“Dia akan mendatangkan kebenaranmu seperti terang”
Kadang orang benar difitnah.
Kadang integritas tidak dihargai.
Kadang kejujuran tampak kalah.
Namun Daud berkata bahwa Allah akan membela umat-Nya pada waktu-Nya.
Eksposisi Mazmur 37:7–8
“Jadilah tenang dalam TUHAN”
Ini berarti berhenti gelisah dan mempercayakan keadaan kepada Allah.
Dalam budaya yang serba cepat, perintah ini terasa sangat sulit.
Manusia ingin hasil instan.
Namun Daud berkata:
“Jadilah tenang.”
“Nantikan Dia dengan sabar”
Kesabaran adalah buah iman.
Orang yang percaya kepada Allah dapat menunggu karena ia tahu Tuhan sedang bekerja.
Martyn Lloyd-Jones berkata:
“Masalah terbesar orang percaya bukan kurangnya iman, tetapi ketidaksabaran terhadap waktu Tuhan.”
“Tinggalkan murka”
Kemarahan yang dipelihara akan merusak jiwa.
Daud melihat bahwa kemarahan terhadap keberhasilan orang fasik justru dapat menyeret seseorang ke dalam dosa yang sama.
Eksposisi Mazmur 37:9–11
“Orang-orang jahat akan dilenyapkan”
Ini adalah kepastian penghakiman Allah.
Teologi Reformed menegaskan bahwa sejarah bergerak menuju penghakiman terakhir.
Tidak ada kejahatan yang akan lolos dari keadilan Allah.
“Mereka yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri”
Frasa ini sangat penting.
Dalam konteks Perjanjian Lama, “negeri” menunjuk pada tanah perjanjian.
Namun dalam terang Perjanjian Baru, ini menunjuk kepada warisan kekal umat Allah.
Yesus mengutip ayat ini dalam Matius 5:5:
“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.”
“Sebentar saja, orang fasik takkan ada lagi”
Ini berbicara tentang perspektif kekekalan.
Apa yang tampak lama bagi manusia hanyalah “sebentar” di hadapan Allah.
Mazmur ini mengajak kita melihat hidup dari sudut pandang yang lebih besar daripada waktu sekarang.
“Orang-orang rendah hati akan mewarisi negeri”
Kerendahan hati adalah ciri orang percaya sejati.
Mereka tidak merebut dengan kekuatan sendiri.
Mereka menunggu Allah bertindak.
Dan pada akhirnya, merekalah yang menerima warisan kekal.
Pandangan Pakar Teologi Reformed
John Calvin
Calvin melihat Mazmur 37 sebagai obat bagi iri hati rohani.
Menurutnya, orang percaya harus belajar melihat akhir dari kehidupan orang fasik, bukan hanya keberhasilan sementara mereka.
Ia menulis bahwa kesalahan terbesar manusia adalah menilai kehidupan hanya dari keadaan saat ini.
Herman Bavinck
Bavinck menekankan bahwa providensia Allah adalah tema utama mazmur ini.
Allah memerintah sejarah dengan sempurna, bahkan ketika manusia tidak melihatnya.
Karena itu umat Tuhan dapat hidup dengan tenang.
R.C. Sproul
Sproul menyoroti bahwa kemarahan terhadap orang fasik sering berasal dari ketidakpercayaan kepada keadilan Allah.
Jika Allah sungguh berdaulat, maka orang percaya tidak perlu hidup dalam kepahitan.
Martyn Lloyd-Jones
Lloyd-Jones melihat Mazmur 37 sebagai pelajaran tentang stabilitas rohani.
Menurutnya, orang Kristen yang dewasa tidak dikendalikan oleh keadaan, tetapi oleh keyakinan akan karakter Allah.
Charles Spurgeon
Spurgeon menyebut Mazmur 37 sebagai “mazmur bagi jiwa yang gelisah.”
Ia menulis bahwa solusi terhadap kecemasan bukanlah memahami semua keadaan, tetapi mempercayai Tuhan yang mengendalikan keadaan.
Kristus dalam Mazmur 37:1–11
Mazmur ini akhirnya menunjuk kepada Kristus.
Kristus adalah Orang Benar yang Sempurna
Semua prinsip dalam Mazmur 37 digenapi secara sempurna dalam diri Yesus.
Ia:
- percaya sepenuhnya kepada Bapa,
- tetap melakukan yang baik,
- tetap rendah hati,
- dan menantikan waktu Allah.
Kristus Mengalami Ketidakadilan Terbesar
Tidak ada pribadi yang lebih benar daripada Yesus.
Namun Ia mengalami penghukuman yang paling tidak adil.
Meski demikian, Ia tidak membalas.
Ia menyerahkan diri kepada Bapa yang menghakimi dengan adil.
Kristus Mewarisi Segala Sesuatu
Melalui kebangkitan dan kenaikan-Nya, Kristus menerima segala otoritas.
Dan melalui persatuan dengan Kristus, orang percaya menjadi ahli waris bersama-Nya.
Aplikasi bagi Orang Percaya
Jangan Mengukur Kehidupan dari Keberhasilan Dunia
Kekayaan dan popularitas bukan ukuran berkat sejati.
Ukuran berkat sejati adalah hidup dalam persekutuan dengan Allah.
Pelihara Sukacita dalam Tuhan
Kebahagiaan yang bergantung pada keadaan akan mudah hilang.
Namun sukacita dalam Tuhan tetap bertahan bahkan di tengah penderitaan.
Belajar Menunggu
Allah tidak pernah terlambat.
Ia bekerja menurut waktu-Nya yang sempurna.
Percaya pada Keadilan Allah
Tidak semua ketidakadilan diselesaikan sekarang.
Namun Allah menjanjikan bahwa pada akhirnya kebenaran akan menang.
Kesimpulan
Mazmur 37:1–11 adalah panggilan untuk hidup oleh iman di tengah dunia yang sering tampak tidak adil.
Daud mengajarkan bahwa:
- jangan iri kepada orang fasik,
- jangan marah karena keberhasilan mereka,
- percayalah kepada Tuhan,
- lakukan yang baik,
- serahkan hidup kepada-Nya,
- dan nantikan Dia dengan sabar.
Dalam perspektif Teologi Reformed, bagian ini menegaskan bahwa Allah berdaulat atas sejarah, memelihara umat-Nya, dan pada akhirnya akan menegakkan keadilan-Nya secara sempurna.
Keberhasilan orang fasik hanyalah sementara.
Kerajaan Allah bersifat kekal.
Karena itu, pengharapan orang percaya tidak terletak pada apa yang terlihat sekarang, melainkan pada Allah yang memegang masa depan.
Sebagaimana ditegaskan Daud:
“Orang-orang rendah hati akan mewarisi negeri, dan bergembira karena kesejahteraan yang melimpah.”