Hati yang Bersyukur Tidak Mudah Diperbudak Keluhan

Hati yang Bersyukur Tidak Mudah Diperbudak Keluhan

Pendahuluan

Salah satu dosa yang paling sering dilakukan manusia, namun paling jarang disadari, adalah dosa keluhan. Banyak orang Kristen memahami bahaya dosa-dosa yang tampak besar seperti kebencian, kesombongan, percabulan, atau ketidakjujuran, tetapi tidak menyadari bahwa bersungut-sungut juga merupakan masalah serius di hadapan Allah.

Keluhan sering muncul dalam bentuk yang tampaknya sederhana: mengeluh tentang keadaan ekonomi, pekerjaan, keluarga, pelayanan, kesehatan, bahkan tentang pemeliharaan Tuhan dalam hidup sehari-hari. Keluhan dapat muncul melalui kata-kata yang diucapkan, sikap hati yang tersembunyi, atau pikiran yang terus-menerus tidak puas.

Sebaliknya, Alkitab berulang kali memanggil umat Tuhan untuk hidup dalam ucapan syukur. Syukur bukan sekadar etika yang baik atau kebiasaan positif. Syukur adalah ekspresi iman kepada Allah yang berdaulat. Hati yang bersyukur melihat kehidupan melalui lensa kasih karunia, sedangkan hati yang penuh keluhan melihat kehidupan melalui lensa kekurangan.

Karena itu dapat dikatakan bahwa hati yang bersyukur tidak mudah diperbudak keluhan. Orang yang memahami siapa Allah dan apa yang telah Ia lakukan akan lebih mampu menghadapi kesulitan tanpa kehilangan sukacita. Ia mungkin menangis, bergumul, dan berdoa, tetapi ia tidak hidup dalam kebiasaan bersungut-sungut terhadap Tuhan.

Dalam artikel ini kita akan mempelajari dasar Alkitabiah tentang syukur, mengeksposisi beberapa ayat penting, dan melihat bagaimana para teolog Reformed seperti John Calvin, Herman Bavinck, Matthew Henry, John Owen, Jonathan Edwards, R.C. Sproul, dan Sinclair Ferguson memahami hubungan antara syukur dan kehidupan Kristen.

Mengapa Manusia Mudah Mengeluh?

Sebelum membahas syukur, kita perlu memahami akar keluhan.

Secara alami manusia berdosa memiliki kecenderungan untuk fokus pada apa yang belum dimiliki daripada apa yang telah diterima.

Sejak kejatuhan Adam dan Hawa, hati manusia menjadi tidak puas.

Meskipun Allah telah memberikan seluruh Taman Eden, Iblis berhasil mengarahkan perhatian Hawa kepada satu pohon yang dilarang.

Dosa sering kali lahir dari ketidakpuasan terhadap kebaikan Allah.

Keluhan pada dasarnya adalah ekspresi hati yang mempertanyakan hikmat, kasih, atau pemeliharaan Tuhan.

Karena itu bersungut-sungut bukan sekadar masalah emosional.

Keluhan adalah masalah teologis.

Eksposisi Filipi 2:14–15

“Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda.”

Ayat ini ditulis Paulus kepada jemaat Filipi yang sedang menghadapi berbagai tantangan.

Menarik bahwa Paulus tidak berkata:

“Jangan mengeluh hanya ketika keadaan baik.”

Ia berkata:

“Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut.”

Artinya, larangan ini berlaku dalam segala keadaan.

Makna Bersungut-sungut

Kata Yunani yang digunakan menunjuk pada keluhan yang diucapkan dengan nada tidak puas, menggerutu, atau mengeluh diam-diam.

Ini mengingatkan kita kepada bangsa Israel di padang gurun.

Mereka terus menerima mukjizat Allah.

Namun mereka tetap bersungut-sungut.

Keluhan dan Ketidakpercayaan

Dalam banyak kasus, keluhan muncul karena ketidakpercayaan.

Bangsa Israel mengeluh:

  • Ketika tidak ada air.
  • Ketika tidak ada makanan.
  • Ketika menghadapi musuh.
  • Ketika perjalanan terasa berat.

Masalah mereka bukan kurangnya bukti tentang kuasa Allah.

Mereka telah menyaksikan Laut Teberau terbelah.

Mereka melihat manna turun dari surga.

Namun mereka tetap mengeluh.

Keluhan mereka mengungkapkan ketidakpercayaan terhadap karakter Allah.

Pandangan John Calvin

John Calvin menulis bahwa bersungut-sungut terhadap pemeliharaan Allah merupakan bentuk pemberontakan tersembunyi terhadap kedaulatan-Nya.

Menurut Calvin, ketika manusia terus-menerus mengeluh terhadap keadaan hidupnya, ia sebenarnya sedang mengatakan bahwa Allah tidak mengatur hidupnya dengan baik.

Karena itu syukur merupakan tindakan iman.

Syukur mengakui bahwa Allah mengetahui apa yang terbaik bagi anak-anak-Nya.

Syukur sebagai Respons terhadap Anugerah

Eksposisi Kolose 3:15–17

Dalam tiga ayat ini Paulus berulang kali menggunakan kata:

“Bersyukurlah.”

Ini menunjukkan bahwa syukur bukan sekadar perasaan sesaat.

Syukur adalah gaya hidup.

Paulus menghubungkannya dengan:

  • Damai sejahtera Kristus.
  • Firman Kristus.
  • Penyembahan.
  • Persekutuan.

Orang yang hidup dekat dengan Kristus akan memiliki alasan yang terus-menerus untuk bersyukur.

Syukur Tidak Bergantung pada Keadaan

Salah satu kesalahpahaman terbesar adalah menganggap bahwa syukur hanya mungkin ketika keadaan baik.

Alkitab justru mengajarkan hal sebaliknya.

Eksposisi 1 Tesalonika 5:18

“Mengucap syukurlah dalam segala hal.”

Perhatikan bahwa Paulus tidak berkata:

“Bersyukurlah untuk segala hal.”

Ia berkata:

“Dalam segala hal.”

Artinya, sekalipun keadaan sulit, orang percaya tetap dapat bersyukur karena Allah tetap bekerja.

Syukur dan Kedaulatan Allah

Teologi Reformed sangat menekankan doktrin kedaulatan Allah.

Tidak ada satu peristiwa pun yang berada di luar kendali Tuhan.

Roma 8:28 berkata:

“Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.”

Ketika seseorang memahami doktrin ini, ia memiliki dasar yang kuat untuk bersyukur.

Ia tahu bahwa:

  • Kesuksesan ada dalam tangan Allah.
  • Kegagalan tidak di luar rencana Allah.
  • Penderitaan tidak sia-sia.
  • Masa depan berada dalam kendali Allah.

Pandangan Herman Bavinck

Herman Bavinck menjelaskan bahwa orang percaya dapat bersyukur bahkan di tengah penderitaan karena mereka mengetahui bahwa Allah adalah Bapa yang memerintah segala sesuatu demi kebaikan umat-Nya.

Menurut Bavinck, syukur lahir dari keyakinan bahwa kehidupan tidak dikendalikan oleh kebetulan.

Syukur tumbuh ketika seseorang mempercayai providensia Allah.

Mazmur: Sekolah Syukur bagi Umat Tuhan

Kitab Mazmur penuh dengan ungkapan syukur.

Namun menariknya, banyak mazmur syukur lahir dari situasi sulit.

Eksposisi Mazmur 103:1–5

Daud berkata:

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku.”

Daud sedang berbicara kepada dirinya sendiri.

Ia mengingatkan dirinya untuk tidak melupakan kebaikan Tuhan.

Mengapa?

Karena manusia mudah melupakan berkat.

Kita sering mengingat masalah lebih lama daripada mengingat kasih karunia.

Bahaya Fokus pada Kekurangan

Keluhan tumbuh ketika perhatian kita terus diarahkan kepada apa yang tidak kita miliki.

Syukur tumbuh ketika perhatian kita diarahkan kepada apa yang telah Allah berikan.

Dua orang dapat hidup dalam keadaan yang sama.

Yang satu penuh keluhan.

Yang satu penuh syukur.

Perbedaannya terletak pada fokus hati mereka.

Pandangan Jonathan Edwards

Jonathan Edwards mengajarkan bahwa salah satu tanda pekerjaan Roh Kudus adalah meningkatnya rasa syukur kepada Allah.

Menurut Edwards, hati yang diperbarui oleh anugerah tidak lagi terpusat pada diri sendiri.

Hati tersebut mulai melihat segala sesuatu sebagai pemberian Allah.

Akibatnya syukur menjadi respons alami.

Keluhan Membutakan Mata terhadap Anugerah

Bangsa Israel adalah contoh nyata.

Mereka mengeluh tentang makanan.

Padahal manna turun setiap hari.

Mereka mengeluh tentang air.

Padahal Allah menyediakan air dari batu.

Mereka mengeluh tentang perjalanan.

Padahal Allah memimpin mereka dengan tiang awan dan tiang api.

Keluhan membuat mereka gagal melihat anugerah yang begitu besar.

Demikian pula hari ini.

Orang dapat mengeluh tentang satu masalah sambil melupakan seribu berkat yang telah diterimanya.

Eksposisi Keluaran 16:8

Musa berkata kepada Israel:

“Sungut-sungutmu bukan kepada kami, tetapi kepada TUHAN.”

Ini adalah pernyataan yang sangat serius.

Keluhan bangsa Israel terhadap Musa sebenarnya adalah keluhan terhadap Allah.

Mengapa?

Karena Allah yang memimpin perjalanan mereka.

Keluhan yang terus-menerus sering kali merupakan bentuk ketidakpuasan terhadap cara Allah mengatur hidup kita.

Syukur dan Kepuasan dalam Kristus

Eksposisi Filipi 4:11–13

Paulus berkata:

“Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.”

Paulus menulis kata-kata ini dari penjara.

Ia tidak berbicara dari istana.

Ia tidak berbicara dari tempat yang nyaman.

Namun ia telah belajar rahasia kepuasan.

Rahasia tersebut bukan keadaan yang ideal.

Rahasia tersebut adalah Kristus.

Pandangan Sinclair Ferguson

Sinclair Ferguson menjelaskan bahwa syukur sejati tidak lahir dari banyaknya berkat, tetapi dari hubungan dengan Kristus.

Menurut Ferguson, seseorang dapat memiliki sedikit tetapi tetap bersyukur jika ia memahami kekayaan rohaninya dalam Injil.

Sebaliknya, seseorang dapat memiliki banyak tetapi tetap mengeluh jika ia tidak mengenal Kristus.

Kristus: Dasar Utama Syukur Kristen

Pada akhirnya, syukur Kristen tidak terutama didasarkan pada berkat jasmani.

Dasar utama syukur adalah Injil.

Eksposisi Efesus 1:3–8

Paulus memulai surat Efesus dengan pujian kepada Allah.

Mengapa?

Karena orang percaya telah menerima:

  • Pemilihan.
  • Penebusan.
  • Pengampunan dosa.
  • Pengangkatan sebagai anak Allah.

Jika seorang percaya kehilangan segala sesuatu tetapi masih memiliki Kristus, ia tetap memiliki harta terbesar.

Pandangan R.C. Sproul

R.C. Sproul sering mengatakan bahwa masalah terbesar manusia bukan kurangnya berkat.

Masalah terbesar manusia adalah dosa.

Karena itu pengampunan dosa merupakan anugerah terbesar yang pernah diterima manusia.

Ketika seseorang memahami besarnya keselamatan yang dimilikinya, syukur akan mengalir secara alami.

Syukur Menghasilkan Sukacita

Syukur dan sukacita memiliki hubungan yang sangat erat.

Orang yang bersyukur cenderung lebih bersukacita.

Orang yang terus mengeluh cenderung kehilangan sukacita.

Mazmur 100 menghubungkan:

  • Syukur.
  • Penyembahan.
  • Sukacita.

Ketika hati dipenuhi syukur, sukacita bertumbuh.

Syukur dalam Masa Penderitaan

Salah satu ujian terbesar syukur adalah penderitaan.

Ayub kehilangan:

  • Harta.
  • Anak-anak.
  • Kesehatan.

Namun ia berkata:

“TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil.”

Ayub tidak memahami seluruh alasan penderitaannya.

Tetapi ia tetap mempercayai Tuhan.

Ini menunjukkan bahwa syukur bukan berarti memahami semua rencana Allah.

Syukur berarti mempercayai Allah meskipun kita tidak memahami semuanya.

Pandangan John Owen

John Owen menulis bahwa iman sejati memandang tangan Allah bahkan dalam penderitaan.

Karena itu orang percaya dapat bersyukur bukan karena penderitaan itu menyenangkan, tetapi karena Allah tetap memegang kendali.

Syukur adalah buah dari iman kepada providensia Allah.

Cara Memelihara Hati yang Bersyukur

1. Ingatlah Anugerah Keselamatan

Tidak ada alasan yang lebih besar untuk bersyukur selain Injil.

2. Renungkan Kebaikan Allah Setiap Hari

Mazmur 103 mengajarkan kita untuk tidak melupakan segala kebaikan-Nya.

3. Kurangi Kebiasaan Membandingkan Diri

Perbandingan sering menjadi sumber keluhan.

4. Pelihara Kehidupan Doa

Doa membantu kita melihat hidup dari perspektif Allah.

5. Percayai Kedaulatan Tuhan

Apa yang tidak kita pahami hari ini tetap berada dalam tangan Allah.

Syukur sebagai Kesaksian kepada Dunia

Dunia terbiasa dengan keluhan.

Karena itu orang Kristen yang hidup dalam syukur menjadi kesaksian yang kuat.

Ketika dunia melihat seseorang tetap bersyukur di tengah kesulitan, mereka melihat sesuatu yang berbeda.

Mereka melihat pekerjaan anugerah Allah.

Kesimpulan

Hati yang bersyukur tidak mudah diperbudak keluhan karena syukur dan keluhan berasal dari dua arah hati yang berbeda. Keluhan lahir dari ketidakpuasan, fokus pada kekurangan, dan sering kali dari ketidakpercayaan terhadap pemeliharaan Allah. Sebaliknya, syukur lahir dari iman, pengenalan akan karakter Allah, dan kesadaran akan kasih karunia-Nya yang melimpah.

Alkitab berulang kali memperingatkan bahaya bersungut-sungut melalui contoh bangsa Israel. Sebaliknya, Firman Tuhan memanggil orang percaya untuk mengucap syukur dalam segala hal. John Calvin mengingatkan bahwa keluhan adalah bentuk pemberontakan tersembunyi terhadap providensia Allah. Herman Bavinck menekankan bahwa syukur bertumbuh dari keyakinan akan kedaulatan Allah. Jonathan Edwards melihat syukur sebagai tanda hati yang diperbarui oleh Roh Kudus. Sinclair Ferguson menunjukkan bahwa kepuasan sejati ditemukan dalam Kristus. John Owen mengajarkan bahwa syukur tetap mungkin bahkan dalam penderitaan karena Allah tetap memegang kendali. R.C. Sproul mengingatkan bahwa keselamatan dalam Kristus adalah alasan terbesar untuk bersyukur.

Pada akhirnya, dasar syukur orang Kristen bukanlah keadaan yang sempurna, melainkan Injil yang sempurna. Kita bersyukur karena Allah telah mengasihi kita di dalam Kristus, mengampuni dosa-dosa kita, menjadikan kita anak-anak-Nya, dan menjanjikan warisan kekal yang tidak dapat binasa. Ketika hati terus memandang kepada anugerah tersebut, keluhan kehilangan kuasanya, dan sukacita dalam Tuhan semakin bertumbuh.

Next Post Previous Post