Jagalah Mimbar

Jagalah Mimbar

Pendahuluan

Sepanjang sejarah gereja, mimbar menempati posisi yang sangat penting. Mimbar bukan sekadar furnitur gereja atau tempat seorang pendeta berdiri untuk berbicara. Dalam tradisi Kristen yang setia kepada Alkitab, mimbar melambangkan otoritas Firman Allah yang diberitakan kepada umat-Nya. Dari mimbar, Injil diberitakan, orang berdosa dipanggil kepada pertobatan, orang percaya dibangun dalam iman, dan gereja diarahkan untuk hidup sesuai kehendak Tuhan.

Karena itu, salah satu tugas terpenting gereja adalah menjaga mimbar. Ketika mimbar dipenuhi pemberitaan Firman yang murni, gereja akan bertumbuh dalam kebenaran. Sebaliknya, ketika mimbar dikuasai oleh ajaran palsu, filsafat dunia, hiburan semata, atau ambisi manusia, gereja akan kehilangan arah rohaninya.

Reformasi Protestan abad ke-16 pada dasarnya merupakan upaya untuk mengembalikan mimbar kepada tempat yang seharusnya. Martin Luther, John Calvin, dan para Reformator menegaskan kembali bahwa gereja dibangun oleh Firman Allah. Karena itu pemberitaan Firman harus menjadi pusat kehidupan gereja.

Dalam perspektif Teologi Reformed, menjaga mimbar berarti menjaga kemurnian Injil, menjaga otoritas Alkitab, menjaga doktrin yang sehat, dan memastikan bahwa Kristus tetap menjadi pusat pemberitaan. Artikel ini akan membahas tema tersebut melalui eksposisi beberapa bagian Alkitab yang relevan serta pemikiran para teolog Reformed seperti John Calvin, John Knox, Charles Hodge, Herman Bavinck, Martyn Lloyd-Jones, J.I. Packer, R.C. Sproul, Sinclair Ferguson, Joel Beeke, dan Steven Lawson.

Mimbar dan Sentralitas Firman Allah

Salah satu ciri utama gereja yang sehat adalah sentralitas Firman Tuhan.

Eksposisi 2 Timotius 4:2

“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya; nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”

Ayat ini merupakan salah satu perintah pastoral yang paling penting dalam Perjanjian Baru.

Paulus tidak berkata:

“Beritakanlah pengalamanmu.”

Atau:

“Beritakanlah tren budaya.”

Atau:

“Beritakanlah apa yang disukai banyak orang.”

Ia berkata:

“Beritakanlah firman.”

Tugas utama mimbar adalah menyampaikan Firman Allah.

Mengapa Firman Harus Menjadi Pusat?

Karena hanya Firman Allah yang memiliki otoritas ilahi.

Pendapat manusia dapat salah.

Tradisi manusia dapat menyimpang.

Pengalaman manusia dapat menyesatkan.

Namun Firman Allah tetap benar.

Yesaya 40:8 berkata:

“Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.”

Mimbar yang sehat harus tunduk kepada Firman.

Bukan Firman yang tunduk kepada mimbar.

Pandangan John Calvin

John Calvin mengajarkan bahwa ketika Firman diberitakan dengan setia sesuai maksud Alkitab, Allah sendiri sedang berbicara kepada umat-Nya.

Karena itu mimbar bukan tempat untuk mempromosikan ide pribadi pengkhotbah.

Mimbar adalah tempat di mana suara Allah harus terdengar melalui penjelasan Kitab Suci yang benar.

Bahaya Ketika Mimbar Tidak Dijaga

Alkitab berulang kali memperingatkan tentang bahaya ajaran palsu.

Eksposisi Galatia 1:8

“Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari surga yang memberitakan kepadamu suatu injil yang berbeda ... terkutuklah dia.”

Paulus menggunakan bahasa yang sangat keras.

Mengapa?

Karena Injil yang salah tidak dapat menyelamatkan.

Kesalahan di mimbar bukan sekadar kesalahan akademis.

Kesalahan di mimbar dapat memengaruhi kehidupan kekal manusia.

Sejarah Israel dan Pemimpin yang Menyesatkan

Perjanjian Lama penuh dengan contoh pemimpin rohani yang gagal.

Para nabi palsu:

  • Mengatakan damai ketika Allah berkata ada penghukuman.
  • Menyenangkan telinga manusia.
  • Mengabaikan kebenaran.

Akibatnya bangsa Israel jatuh ke dalam kebinasaan.

Eksposisi Yeremia 23:16

“Janganlah mendengarkan perkataan nabi-nabi yang bernubuat kepadamu. Mereka menyesatkan kamu.”

Allah sangat serius terhadap penyalahgunaan pelayanan Firman.

Karena itu gereja masa kini harus serius menjaga mimbar.

Pandangan Charles Hodge

Charles Hodge menulis bahwa kemurnian gereja bergantung pada kemurnian doktrinnya.

Ketika doktrin yang sehat ditinggalkan, gereja lambat laun kehilangan identitasnya sebagai gereja Kristus.

Menjaga Mimbar Berarti Menjaga Injil

Inti pemberitaan gereja adalah Injil Yesus Kristus.

Eksposisi 1 Korintus 2:2

“Aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.”

Paulus tidak mengatakan bahwa ia hanya berbicara tentang salib dalam setiap kalimat.

Maksudnya adalah seluruh pelayanannya berpusat pada Kristus.

Kristus Harus Menjadi Pusat

Mimbar yang sehat tidak berpusat pada:

  • Motivasi diri.
  • Kesuksesan duniawi.
  • Politik.
  • Psikologi semata.

Mimbar yang sehat berpusat pada Kristus.

Semua khotbah harus mengarahkan jemaat kepada:

  • Pribadi Kristus.
  • Karya Kristus.
  • Kerajaan Kristus.

Pandangan Sinclair Ferguson

Sinclair Ferguson menekankan bahwa pemberitaan yang alkitabiah selalu bersifat Kristosentris.

Menurutnya, tujuan utama khotbah bukan membuat orang kagum kepada pengkhotbah, melainkan membawa mereka kepada Kristus.

Menjaga Mimbar Melalui Eksposisi Alkitab

Salah satu cara terbaik menjaga mimbar adalah melalui khotbah ekspositori.

Khotbah ekspositori berarti menjelaskan makna teks Alkitab sesuai konteksnya dan menerapkannya kepada jemaat.

Mengapa Eksposisi Penting?

Eksposisi melindungi gereja dari:

  • Spekulasi pribadi.
  • Penyalahgunaan ayat.
  • Manipulasi emosional.
  • Pengajaran yang tidak berdasar.

Ketika teks Alkitab menentukan isi khotbah, pengkhotbah dipaksa tunduk kepada Firman.

Pandangan Martyn Lloyd-Jones

Martyn Lloyd-Jones menyebut pemberitaan Firman sebagai tugas tertinggi gereja.

Menurutnya, kebutuhan terbesar manusia bukan hiburan atau motivasi, melainkan mendengar suara Allah melalui Kitab Suci.

Menjaga Mimbar dari Tekanan Budaya

Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri.

Gereja masa kini hidup dalam budaya yang sering menolak kebenaran absolut.

Akibatnya muncul tekanan untuk menyesuaikan isi khotbah agar lebih diterima masyarakat.

Eksposisi 2 Timotius 4:3–4

“Akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat.”

Paulus sudah memperingatkan fenomena ini.

Manusia cenderung mencari pengajar yang mengatakan apa yang ingin mereka dengar.

Godaan untuk Menyenangkan Manusia

Pendeta dapat tergoda untuk:

  • Menghindari topik dosa.
  • Mengurangi pesan pertobatan.
  • Mengaburkan ajaran tentang penghakiman.
  • Menyesuaikan Injil dengan budaya.

Namun gereja dipanggil untuk setia kepada Allah.

Pandangan R.C. Sproul

R.C. Sproul sering mengingatkan bahwa gereja dipanggil untuk setia, bukan populer.

Menurutnya, tugas pengkhotbah bukan mengubah pesan agar sesuai dengan dunia, tetapi memberitakan pesan Allah kepada dunia.

Menjaga Mimbar Melalui Karakter Pengkhotbah

Kemurnian mimbar tidak hanya bergantung pada isi khotbah.

Karakter pengkhotbah juga penting.

Eksposisi 1 Timotius 3:2

“Penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat.”

Allah tidak hanya peduli terhadap apa yang dikatakan seorang pendeta.

Allah juga peduli terhadap bagaimana ia hidup.

Bahaya Ketidaksesuaian Hidup

Seorang pengkhotbah dapat mengajarkan doktrin yang benar namun hidup dalam kemunafikan.

Ketika ini terjadi:

  • Kesaksiannya rusak.
  • Gereja terluka.
  • Nama Kristus dipermalukan.

Karena itu menjaga mimbar juga berarti menjaga kehidupan para pelayannya.

Pandangan John Owen

John Owen menulis bahwa seorang pelayan Tuhan harus terlebih dahulu mengalami kuasa kebenaran yang ia khotbahkan.

Menurutnya, khotbah yang paling kuat lahir dari hati yang telah disentuh oleh Firman.

Peran Jemaat dalam Menjaga Mimbar

Menjaga mimbar bukan hanya tugas pendeta.

Jemaat juga memiliki tanggung jawab.

Eksposisi Kisah Para Rasul 17:11

“Mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari menyelidiki Kitab Suci.”

Orang Berea dipuji karena memeriksa pengajaran Paulus berdasarkan Kitab Suci.

Jika ajaran Paulus saja diuji, apalagi pengkhotbah masa kini.

Jemaat Harus Mengenal Alkitab

Gereja yang tidak mengenal Alkitab mudah disesatkan.

Sebaliknya, jemaat yang memahami Firman dapat membantu menjaga kemurnian pengajaran gereja.

Pandangan J.I. Packer

J.I. Packer menekankan pentingnya pendidikan teologi bagi seluruh jemaat.

Menurutnya, gereja yang memahami doktrin akan lebih siap melawan kesalahan dan mempertahankan kebenaran.

Doa Sebagai Benteng Mimbar

Mimbar tidak hanya menghadapi tantangan intelektual.

Mimbar juga menghadapi peperangan rohani.

Eksposisi Efesus 6:19

“Berdoalah juga untuk aku.”

Paulus meminta doa agar ia dapat memberitakan Firman dengan keberanian.

Pendeta Membutuhkan Dukungan Doa

Jemaat perlu berdoa agar para pengkhotbah:

  • Setia kepada Firman.
  • Rendah hati.
  • Berani.
  • Kudus.
  • Dipenuhi Roh Kudus.

Pandangan Joel Beeke

Joel Beeke mengajarkan bahwa gereja yang berdoa bagi mimbarnya sedang menjaga sumber utama pertumbuhan rohaninya.

Menurutnya, banyak kemunduran gereja dimulai ketika doa bagi pelayanan Firman diabaikan.

Kristus Adalah Penjaga Mimbar yang Sejati

Pada akhirnya, menjaga mimbar bukan hanya tugas manusia.

Kristus sendiri adalah Kepala Gereja.

Eksposisi Efesus 5:23

“Kristus adalah kepala jemaat.”

Karena gereja adalah milik Kristus, Ia tidak akan membiarkan umat-Nya tanpa kesaksian kebenaran.

Sepanjang sejarah:

  • Kristus membangkitkan nabi.
  • Kristus membangkitkan rasul.
  • Kristus membangkitkan reformator.
  • Kristus membangkitkan pengkhotbah yang setia.

Ia terus memelihara gereja-Nya melalui Firman.

Pandangan Herman Bavinck

Herman Bavinck menegaskan bahwa Kristus memerintah gereja-Nya terutama melalui Firman dan Roh Kudus.

Karena itu kemurnian mimbar sangat berkaitan dengan pemerintahan Kristus atas gereja.

Aplikasi Praktis bagi Gereja Masa Kini

1. Jadikan Firman sebagai Pusat Ibadah

Segala sesuatu dalam gereja harus mendukung pemberitaan Firman.

2. Dukung Khotbah Ekspositori

Biarkan teks Alkitab menentukan isi pemberitaan.

3. Tolak Injil Palsu

Ujilah semua pengajaran berdasarkan Kitab Suci.

4. Doakan Para Pengkhotbah

Pelayanan mimbar membutuhkan dukungan doa yang terus-menerus.

5. Kejar Kekudusan Hidup

Karakter dan doktrin harus berjalan bersama.

6. Tetap Setia di Tengah Tekanan Budaya

Kebenaran tidak berubah meskipun dunia berubah.

7. Tinggikan Kristus

Tujuan utama mimbar adalah memuliakan Kristus dan memberitakan Injil-Nya.

Kesimpulan

“Jagalah Mimbar” merupakan panggilan penting bagi setiap gereja yang ingin tetap setia kepada Kristus. Mimbar bukan sekadar tempat berbicara, melainkan tempat Firman Allah diberitakan kepada umat-Nya. Ketika mimbar dijaga, Injil tetap murni, gereja bertumbuh dalam kebenaran, dan Kristus dimuliakan. Ketika mimbar diabaikan, kesalahan doktrin dan penyimpangan rohani akan dengan mudah masuk ke dalam gereja.

John Calvin mengingatkan bahwa mimbar harus tunduk kepada Firman. Charles Hodge menegaskan pentingnya doktrin yang sehat. Martyn Lloyd-Jones menunjukkan sentralitas pemberitaan Firman dalam kehidupan gereja. John Owen menyoroti pentingnya karakter pengkhotbah. J.I. Packer menekankan perlunya jemaat memahami doktrin. R.C. Sproul memperingatkan bahaya kompromi terhadap budaya. Sinclair Ferguson mengarahkan pemberitaan kepada Kristus sebagai pusat Alkitab. Joel Beeke menegaskan pentingnya doa bagi pelayanan Firman. Herman Bavinck menunjukkan bahwa Kristus memerintah gereja melalui Firman dan Roh-Nya.

Pada akhirnya, menjaga mimbar berarti menjaga kesetiaan gereja kepada Kristus. Sebab gereja yang sehat lahir dari Firman yang diberitakan dengan benar, diterima dengan iman, dan ditaati dalam kehidupan sehari-hari. Ketika mimbar dipenuhi oleh kebenaran Allah, gereja akan tetap berdiri teguh di tengah perubahan zaman, menjadi terang bagi dunia, dan memuliakan Tuhan yang telah memanggilnya.

Next Post Previous Post