Kisah Para Rasul 17:32–34: Ketika Injil Diberitakan

Kisah Para Rasul 17:32–34: Ketika Injil Diberitakan

Pendahuluan

Kisah Para Rasul 17:32–34 merupakan penutup dari salah satu khotbah penginjilan paling terkenal dalam Perjanjian Baru, yaitu khotbah Paulus di Areopagus, Athena. Dalam bagian sebelumnya (Kisah Para Rasul 17:22–31), Paulus berbicara kepada para filsuf Yunani yang terkenal dengan kecintaan mereka terhadap pengetahuan, filsafat, dan berbagai gagasan religius. Ia memperkenalkan Allah Pencipta, mengungkapkan kesia-siaan penyembahan berhala, dan akhirnya mengarahkan perhatian mereka kepada Yesus Kristus yang telah dibangkitkan dari antara orang mati.

Namun respons yang muncul sangat beragam. Sebagian orang mengejek. Sebagian lainnya menunda keputusan mereka. Sebagian kecil justru percaya dan menjadi pengikut Kristus.

Peristiwa ini menjadi gambaran yang sangat jelas tentang bagaimana Injil bekerja di dunia. Sejak zaman para rasul hingga hari ini, respons manusia terhadap Injil pada dasarnya tidak berubah. Ada yang menolak dengan keras, ada yang tertarik tetapi belum bertobat, dan ada yang menerima dengan iman.

Dalam perspektif Teologi Reformed, bagian ini memberikan pelajaran penting mengenai natur manusia yang berdosa, kuasa Injil, panggilan umum dan panggilan efektif, serta kedaulatan Allah dalam keselamatan. Bagian ini juga mengingatkan gereja bahwa keberhasilan pelayanan tidak diukur dari jumlah respons positif, melainkan dari kesetiaan memberitakan kebenaran.

Latar Belakang: Paulus di Athena

Athena pada abad pertama merupakan pusat kebudayaan dan filsafat dunia Yunani.

Di kota ini berkembang berbagai aliran pemikiran seperti:

  • Stoikisme.
  • Epikureanisme.
  • Skeptisisme.
  • Platonisme.

Ketika Paulus tiba di Athena, ia melihat kota yang dipenuhi berhala.

Kisah Para Rasul 17:16 mencatat bahwa hatinya sangat sedih melihat keadaan tersebut.

Namun Paulus tidak hanya mengkritik budaya Athena.

Ia masuk ke dalam percakapan intelektual mereka dan memberitakan Injil.

Ia memulai dari titik yang dapat dipahami oleh pendengarnya, tetapi akhirnya membawa mereka kepada inti Injil:

  • Allah adalah Pencipta.
  • Manusia harus bertobat.
  • Penghakiman akan datang.
  • Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati.

Justru ketika Paulus berbicara tentang kebangkitan tubuh, respons pendengar mulai terpecah.

Eksposisi Kisah Para Rasul 17:32

“Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan dari antara orang mati”

Inilah titik krusial khotbah Paulus.

Bagi banyak filsuf Yunani, gagasan tentang kebangkitan tubuh terdengar tidak masuk akal.

Filsafat Yunani umumnya memandang tubuh sebagai sesuatu yang rendah atau bahkan sebagai penjara bagi jiwa.

Karena itu mereka dapat menerima gagasan tentang kehidupan setelah kematian dalam bentuk tertentu, tetapi sulit menerima bahwa tubuh manusia akan dibangkitkan.

Namun Paulus tidak mengurangi atau mengubah pesan Injil agar lebih mudah diterima.

Ia tetap memberitakan kebangkitan Kristus.

Ini menunjukkan bahwa kebangkitan bukan tambahan dalam Injil.

Kebangkitan adalah inti Injil.

Tanpa kebangkitan:

  • Tidak ada kemenangan atas dosa.
  • Tidak ada kemenangan atas maut.
  • Tidak ada pengharapan kekal.

Kebangkitan sebagai Batu Sandungan

Paulus memahami bahwa pesan kebangkitan akan menimbulkan penolakan.

Namun ia tetap memberitakannya.

Ini mengingatkan kita pada 1 Korintus 1:23:

“Kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang bukan Yahudi suatu kebodohan.”

Injil tidak pernah dirancang untuk menyesuaikan diri dengan kebijaksanaan dunia.

Sebaliknya, Injil menantang cara berpikir dunia yang berdosa.

“Beberapa orang mulai mengejek”

Respons pertama adalah ejekan.

Mereka tidak sekadar tidak setuju.

Mereka meremehkan pesan Paulus.

Ejekan sering menjadi respons manusia terhadap kebenaran yang tidak ingin mereka terima.

Daripada mempertimbangkan kebenaran tersebut, mereka memilih menertawakannya.

Natur Dosa dan Penolakan terhadap Injil

Teologi Reformed mengajarkan bahwa manusia yang telah jatuh ke dalam dosa secara alami memusuhi Allah.

Roma 8:7 berkata:

“Keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah.”

Karena itu penolakan terhadap Injil bukan sekadar masalah intelektual.

Masalah utamanya adalah masalah hati.

Manusia berdosa tidak ingin tunduk kepada Allah.

John Calvin menjelaskan bahwa pikiran manusia setelah kejatuhan telah menjadi gelap oleh dosa. Akibatnya, manusia cenderung menolak kebenaran Allah meskipun kebenaran tersebut dinyatakan dengan jelas.

Pandangan R.C. Sproul

R.C. Sproul menekankan bahwa respons mengejek terhadap Injil menunjukkan kebutaan rohani manusia.

Menurut Sproul, banyak orang menganggap diri mereka netral terhadap Injil.

Namun Alkitab menunjukkan bahwa manusia berdosa secara aktif menolak kebenaran Allah sampai Roh Kudus bekerja dalam hati mereka.

Karena itu ejekan terhadap Injil bukanlah hal yang mengejutkan.

Itu adalah bukti realitas dosa.

“Kami ingin mendengarkanmu lagi tentang hal ini”

Respons kedua tampaknya lebih positif.

Mereka tidak mengejek.

Mereka tertarik.

Mereka ingin mendengar lebih lanjut.

Namun penting untuk dicatat bahwa ketertarikan bukanlah iman.

Mereka belum percaya.

Mereka hanya menunda keputusan.

Bahaya Menunda Respons terhadap Injil

Salah satu strategi paling efektif Iblis bukan hanya membuat seseorang menolak Injil.

Sering kali ia cukup membuat seseorang menundanya.

Banyak orang berkata:

  • “Nanti saja.”
  • “Saya perlu berpikir lebih jauh.”
  • “Belum waktunya.”
  • “Saya masih ingin menikmati hidup dulu.”

Namun Alkitab tidak pernah menjanjikan hari esok.

Panggilan Injil selalu bersifat mendesak.

Hari keselamatan adalah hari ini.

Pandangan John Owen

John Owen memperingatkan bahwa hati manusia dapat menjadi semakin keras ketika terus-menerus menunda respons terhadap Firman Tuhan.

Menurut Owen, setiap kali seseorang mendengar Injil tanpa bertobat, ia sedang mengambil risiko menjadi semakin tidak peka terhadap panggilan Allah.

Karena itu respons yang benar terhadap Injil bukanlah penundaan, melainkan pertobatan dan iman.

Eksposisi Kisah Para Rasul 17:33

“Maka Paulus pergi dari tengah-tengah mereka”

Ayat ini tampak sederhana.

Namun ada pelajaran penting di dalamnya.

Paulus tidak memaksa orang untuk percaya.

Ia memberitakan Injil dengan setia.

Setelah itu ia menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Dalam pelayanan Kristen, tugas utama hamba Tuhan bukan menghasilkan pertobatan.

Tugasnya adalah memberitakan kebenaran.

Hanya Allah yang dapat mengubah hati manusia.

Kesetiaan Lebih Penting daripada Popularitas

Jika ukuran keberhasilan pelayanan adalah penerimaan manusia, maka khotbah Paulus di Athena tampaknya kurang berhasil.

Tidak ada kebangunan rohani besar.

Tidak ada ribuan orang bertobat seperti pada hari Pentakosta.

Namun Alkitab tidak menggambarkan pelayanan Paulus sebagai kegagalan.

Mengapa?

Karena keberhasilan pelayanan diukur berdasarkan kesetiaan kepada Allah.

Pandangan John Calvin

Calvin menegaskan bahwa tugas pemberita Injil adalah menabur benih Firman.

Allah sendirilah yang memberikan pertumbuhan.

Karena itu pelayan Tuhan tidak boleh putus asa ketika menghadapi penolakan.

Penolakan manusia tidak membatalkan kuasa Firman Allah.

Eksposisi Kisah Para Rasul 17:34

“Akan tetapi”

Kata-kata ini sangat penting.

Setelah ejekan dan penundaan, muncul respons ketiga.

Ada orang-orang yang percaya.

Inilah pengingat bahwa Firman Allah tidak pernah kembali dengan sia-sia.

Meskipun banyak yang menolak, Allah tetap menyelamatkan umat pilihan-Nya.

“Beberapa orang bergabung dengannya dan menjadi percaya”

Frasa ini menunjukkan pertobatan yang nyata.

Mereka tidak hanya tertarik.

Mereka tidak hanya kagum.

Mereka menjadi percaya.

Iman yang menyelamatkan selalu melibatkan respons pribadi kepada Kristus.

Doktrin Panggilan Efektif

Dalam Teologi Reformed terdapat konsep penting yang disebut panggilan efektif (effectual calling).

Semua orang yang mendengar Injil menerima panggilan umum.

Namun hanya mereka yang dipanggil secara efektif oleh Roh Kudus yang benar-benar datang kepada Kristus.

Inilah yang terjadi di Athena.

Semua mendengar khotbah yang sama.

Namun respons mereka berbeda.

Mengapa?

Karena Allah bekerja secara khusus dalam hati sebagian orang.

Pandangan Herman Bavinck

Herman Bavinck menjelaskan bahwa Injil yang sama menghasilkan respons yang berbeda karena kondisi hati manusia berbeda dan karena Roh Kudus bekerja secara berdaulat.

Menurut Bavinck, pertobatan bukan hasil kecerdasan manusia, melainkan karya anugerah Allah.

Karena itu setiap orang yang percaya harus memberikan kemuliaan kepada Tuhan, bukan kepada dirinya sendiri.

Dionisius dan Damaris

Lukas secara khusus menyebut dua nama:

Dionisius

Ia adalah anggota Areopagus.

Ini menunjukkan bahwa Injil mampu menjangkau kalangan intelektual dan elit masyarakat.

Damaris

Meskipun informasi tentang dirinya terbatas, penyebutannya menunjukkan bahwa Allah menyelamatkan berbagai jenis orang.

Injil tidak terbatas pada kelompok sosial tertentu.

Kasih karunia Allah menjangkau siapa saja yang dipanggil-Nya.

Tiga Respons terhadap Injil

Kisah Para Rasul 17:32–34 memperlihatkan tiga respons utama terhadap pemberitaan Injil.

1. Mengejek

Kelompok pertama menolak Injil secara terbuka.

Mereka menganggap pesan salib dan kebangkitan sebagai kebodohan.

Respons ini masih terlihat hingga sekarang.

Banyak orang menertawakan iman Kristen karena dianggap tidak sesuai dengan pemikiran modern.

2. Menunda

Kelompok kedua tertarik tetapi tidak mengambil keputusan.

Mereka ingin mendengar lebih banyak.

Namun Alkitab tidak mencatat bahwa mereka akhirnya percaya.

Ini mengingatkan kita bahwa ketertarikan intelektual tidak sama dengan pertobatan.

3. Percaya

Kelompok ketiga menerima Injil dengan iman.

Mereka menjadi pengikut Kristus.

Mereka mengalami karya anugerah Allah yang menyelamatkan.

Kebangkitan Kristus sebagai Ujian Iman

Perhatikan bahwa titik pemisah ketiga kelompok ini adalah kebangkitan Kristus.

Bagi Paulus, kebangkitan bukan doktrin sampingan.

Kebangkitan adalah pusat Injil.

Jika Kristus tidak bangkit:

  • Iman sia-sia.
  • Dosa belum diampuni.
  • Tidak ada pengharapan kekal.

Karena itu respons seseorang terhadap kebangkitan Kristus pada akhirnya menentukan responsnya terhadap Injil.

Pandangan Geerhardus Vos

Geerhardus Vos melihat kebangkitan sebagai titik puncak sejarah penebusan.

Menurutnya, kebangkitan bukan sekadar mukjizat.

Kebangkitan adalah deklarasi Allah bahwa Kristus adalah Raja dan Juruselamat yang sah.

Karena itu menolak kebangkitan berarti menolak inti karya penebusan Allah.

Relevansi bagi Gereja Masa Kini

Jangan Takut terhadap Penolakan

Paulus mengalami ejekan.

Demikian pula gereja masa kini.

Penolakan bukan tanda bahwa Injil gagal.

Jangan Mengubah Pesan Injil

Paulus tidak menghilangkan bagian tentang kebangkitan agar lebih diterima.

Gereja harus tetap setia kepada seluruh Injil.

Percayalah kepada Kuasa Roh Kudus

Hanya Roh Kudus yang dapat membuka hati manusia.

Karena itu penginjilan harus disertai doa.

Jangan Meremehkan Pertobatan yang Kecil

Di Athena hanya beberapa orang yang percaya.

Namun beberapa orang itu sangat berharga di hadapan Allah.

Ingat bahwa Allah Berdaulat dalam Keselamatan

Respons manusia berbeda-beda.

Namun Allah tetap menggenapi rencana-Nya.

Tidak ada satu pun umat pilihan yang akan gagal diselamatkan.

Kesimpulan

Kisah Para Rasul 17:32–34 memberikan gambaran yang sangat jelas tentang respons manusia terhadap Injil. Ketika Paulus memberitakan Kristus yang bangkit, sebagian orang mengejek, sebagian menunda, dan sebagian percaya. Respons yang berbeda-beda ini mengungkap realitas hati manusia sekaligus menunjukkan kedaulatan Allah dalam keselamatan.

John Calvin mengingatkan bahwa tugas gereja adalah setia memberitakan Firman. Herman Bavinck menegaskan bahwa iman yang menyelamatkan adalah karya anugerah Allah. John Owen memperingatkan bahaya menunda respons terhadap Injil. R.C. Sproul menjelaskan bahwa ejekan terhadap Injil mencerminkan kebutaan rohani manusia. Geerhardus Vos menunjukkan bahwa kebangkitan Kristus merupakan pusat sejarah penebusan.

Pada akhirnya, bagian ini mengajarkan bahwa Injil selalu menghasilkan respons. Tidak ada seorang pun yang benar-benar netral ketika berhadapan dengan Kristus. Ada yang menolak, ada yang menunda, dan ada yang percaya. Namun bagi mereka yang percaya, kebangkitan Kristus menjadi dasar pengharapan, keselamatan, dan kehidupan kekal.

Maka pertanyaan yang muncul dari teks ini bukan hanya bagaimana orang Athena merespons Injil, melainkan: Bagaimana kita merespons Kristus yang telah bangkit?

Next Post Previous Post