Selimuti Gembalamu dengan Doa
.jpg)
Pendahuluan
Salah satu pelayanan yang paling penting sekaligus paling berat dalam gereja adalah pelayanan seorang gembala atau pendeta. Banyak jemaat melihat pendeta berdiri di mimbar setiap minggu, memimpin ibadah, berkhotbah, mengajar, mengunjungi jemaat, memberikan konseling, memimpin rapat, dan melayani berbagai kebutuhan gereja. Namun sering kali jemaat tidak melihat pergumulan yang terjadi di balik pelayanan tersebut.
Seorang pendeta bukan hanya menghadapi tantangan fisik dan emosional, tetapi juga peperangan rohani. Ia memikul tanggung jawab besar untuk memberitakan Firman Tuhan dengan setia, menjaga kemurnian doktrin, menggembalakan umat Allah, serta menjadi teladan bagi jemaat. Karena itu Alkitab berulang kali menunjukkan bahwa para pemimpin rohani membutuhkan dukungan doa dari umat Tuhan.
Salah satu bentuk kasih terbesar yang dapat diberikan jemaat kepada gembalanya adalah mendoakannya secara setia. Gereja yang mendoakan pendetanya sedang mengambil bagian dalam pelayanan Injil. Sebaliknya, gereja yang mengabaikan doa bagi para pemimpinnya sering kali tidak menyadari bahwa mereka sedang membiarkan para gembala menghadapi peperangan rohani sendirian.
Dalam tradisi Teologi Reformed, pelayanan Firman menempati posisi yang sangat penting. Karena itu para teolog Reformed seperti John Calvin, Matthew Henry, Charles Spurgeon, Herman Bavinck, John Owen, Martyn Lloyd-Jones, Sinclair Ferguson, Joel Beeke, dan R.C. Sproul secara konsisten menekankan pentingnya doa bagi para pelayan Tuhan.
Artikel ini akan membahas dasar Alkitabiah mengapa jemaat harus “menyelimuti gembalanya dengan doa,” serta bagaimana doa menjadi sarana yang Allah tetapkan untuk menopang pelayanan para pemimpin rohani-Nya.
Pelayanan Gembala Adalah Panggilan yang Mulia dan Berat
Alkitab menggambarkan pelayanan pastoral sebagai panggilan yang mulia.
Eksposisi 1 Timotius 3:1
“Siapa yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah.”
Paulus menyebut pelayanan ini sebagai pekerjaan yang indah.
Namun keindahan tersebut tidak berarti mudah.
Seorang gembala bertanggung jawab atas:
- Pengajaran Firman.
- Pemuridan jemaat.
- Penggembalaan jiwa.
- Disiplin gereja.
- Penjagaan doktrin.
- Kepemimpinan rohani.
Yakobus bahkan mengingatkan:
“Guru-guru akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.” (Yakobus 3:1)
Tanggung jawab yang besar membutuhkan dukungan doa yang besar.
Paulus Meminta Doa dari Jemaat
Salah satu fakta yang sering diabaikan adalah bahwa Rasul Paulus berkali-kali meminta doa.
Jika seorang rasul membutuhkan doa, apalagi seorang pendeta masa kini.
Eksposisi Efesus 6:18–20
Setelah menjelaskan perlengkapan senjata Allah, Paulus berkata:
“Berdoalah juga untuk aku.”
Menarik bahwa Paulus tidak meminta doa terutama untuk kenyamanan hidupnya.
Ia meminta doa agar:
“Diberikan kepadaku kata-kata yang benar.”
Paulus memahami bahwa pemberitaan Firman merupakan peperangan rohani.
Pendeta Membutuhkan Pertolongan Allah dalam Berkhotbah
Berkhotbah bukan sekadar berbicara.
Khotbah yang sejati adalah penyampaian Firman Allah kepada umat-Nya.
Karena itu seorang pendeta membutuhkan:
- Hikmat.
- Kejelasan.
- Keberanian.
- Kesetiaan.
- Kuasa Roh Kudus.
Semua itu harus dimohonkan melalui doa.
Pandangan John Calvin
John Calvin berulang kali meminta jemaat Jenewa untuk mendoakannya.
Dalam berbagai suratnya, Calvin mengakui kelemahan dirinya dan ketergantungannya kepada anugerah Allah.
Menurut Calvin, keberhasilan pelayanan bukan ditentukan oleh kemampuan manusia, melainkan oleh pekerjaan Roh Kudus yang menjawab doa umat Tuhan.
Gembala Menghadapi Peperangan Rohani
Setiap orang percaya menghadapi peperangan rohani.
Namun pemimpin rohani sering menjadi sasaran khusus serangan Iblis.
Mengapa?
Karena ketika seorang gembala jatuh, dampaknya dapat memengaruhi banyak orang.
Eksposisi 1 Petrus 5:8
“Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum.”
Iblis berusaha:
- Merusak kesaksian pendeta.
- Mengganggu keluarganya.
- Melemahkan pelayanannya.
- Menghancurkan gereja melalui pemimpinnya.
Karena itu doa jemaat menjadi perlindungan rohani yang sangat penting.
Pandangan John Owen
John Owen menulis bahwa tidak ada pelayan Injil yang kebal terhadap pencobaan.
Menurut Owen, semakin besar pengaruh pelayanan seseorang, semakin besar pula intensitas peperangan rohani yang dihadapinya.
Karena itu gereja harus menjadi komunitas yang mendoakan para pemimpinnya.
Doakan Kehidupan Pribadi Pendeta
Sering kali jemaat lebih memperhatikan pelayanan pendeta daripada kehidupan pribadinya.
Padahal pelayanan yang sehat lahir dari kehidupan rohani yang sehat.
Eksposisi Yohanes 15:5
“Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
Pendeta bukan mesin rohani.
Ia membutuhkan:
- Doa pribadi.
- Pembacaan Firman.
- Persekutuan dengan Tuhan.
- Pertumbuhan rohani.
Jemaat perlu berdoa agar gembalanya tetap tinggal di dalam Kristus.
Bahaya Pelayanan Tanpa Kedekatan dengan Allah
Seseorang dapat aktif melayani tetapi kehilangan keintiman dengan Tuhan.
Ia dapat berkhotbah kepada banyak orang tetapi jiwanya sendiri menjadi kering.
Karena itu jemaat perlu mendoakan kehidupan rohani pendetanya.
Pandangan Martyn Lloyd-Jones
Martyn Lloyd-Jones menekankan bahwa kekuatan utama seorang pengkhotbah bukan kecerdasannya, melainkan persekutuannya dengan Allah.
Menurutnya, gereja membutuhkan pendeta yang penuh Roh Kudus, bukan sekadar penuh pengetahuan.
Doakan Keluarga Pendeta
Salah satu area yang sering menjadi sasaran serangan adalah keluarga gembala.
Iblis memahami bahwa keluarga yang terganggu dapat memengaruhi pelayanan.
Eksposisi 1 Timotius 3:4–5
Paulus menghubungkan kepemimpinan gereja dengan kepemimpinan dalam keluarga.
Karena itu jemaat perlu mendoakan:
- Istri pendeta.
- Anak-anak pendeta.
- Keharmonisan keluarga.
- Kesehatan rohani keluarga.
Beban yang Tidak Selalu Terlihat
Keluarga pendeta sering menghadapi tekanan yang tidak dialami keluarga lain.
Mereka hidup dalam sorotan.
Mereka sering menerima ekspektasi yang tinggi.
Mereka membutuhkan dukungan doa dari gereja.
Pandangan Sinclair Ferguson
Sinclair Ferguson mengingatkan bahwa gereja tidak hanya menerima manfaat dari pelayanan seorang pendeta, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menopang kehidupan keluarganya melalui doa dan kasih.
Doakan Kesetiaan dalam Pengajaran Firman
Salah satu tugas utama gembala adalah memberitakan Firman dengan setia.
Eksposisi 2 Timotius 4:2
“Beritakanlah firman.”
Paulus tidak berkata:
“Beritakanlah opini manusia.”
Atau:
“Beritakanlah apa yang populer.”
Ia berkata:
“Beritakanlah firman.”
Tantangan Zaman Modern
Pendeta masa kini menghadapi tekanan besar untuk:
- Menyesuaikan diri dengan budaya.
- Menghindari doktrin yang tidak populer.
- Mengurangi pesan tentang dosa.
- Mengutamakan hiburan.
Karena itu mereka membutuhkan doa agar tetap setia.
Pandangan R.C. Sproul
R.C. Sproul menegaskan bahwa tugas seorang pendeta adalah menyenangkan Allah, bukan menyenangkan budaya.
Menurutnya, kesetiaan terhadap Firman sering kali menuntut keberanian yang hanya dapat diberikan oleh Roh Kudus.
Doakan Hikmat dalam Menggembalakan Jemaat
Menggembalakan manusia bukanlah tugas yang mudah.
Setiap jemaat memiliki:
- Karakter berbeda.
- Kebutuhan berbeda.
- Pergumulan berbeda.
Pendeta membutuhkan hikmat yang berasal dari Tuhan.
Eksposisi Yakobus 1:5
“Apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah.”
Jemaat perlu memohon agar Allah memberi hikmat kepada gembalanya dalam mengambil keputusan.
Pandangan Herman Bavinck
Herman Bavinck mengajarkan bahwa kepemimpinan gereja harus dilakukan dalam ketergantungan penuh kepada hikmat Allah.
Keputusan-keputusan gereja yang penting tidak boleh hanya didasarkan pada strategi manusia.
Doakan Ketekunan di Tengah Penderitaan
Pelayanan sering kali disertai penderitaan.
Paulus mengalami:
- Penolakan.
- Fitnah.
- Kesepian.
- Penganiayaan.
Pendeta masa kini juga dapat mengalami berbagai bentuk penderitaan.
Eksposisi 2 Korintus 4:1
“Karena kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini, maka kami tidak tawar hati.”
Paulus bertahan karena anugerah Allah.
Demikian pula pendeta masa kini membutuhkan doa agar tidak tawar hati.
Pandangan Charles Spurgeon
Charles Spurgeon secara terbuka menulis tentang pergumulannya dengan kelelahan dan depresi.
Ia sering mengatakan bahwa salah satu sumber kekuatan terbesarnya adalah doa jemaat.
Spurgeon percaya bahwa gereja yang berdoa adalah gereja yang turut melayani bersama gembalanya.
Doakan Kerendahan Hati Pendeta
Salah satu bahaya terbesar dalam pelayanan adalah kesombongan.
Keberhasilan pelayanan dapat menjadi jebakan.
Popularitas dapat merusak hati.
Pujian dapat mengaburkan ketergantungan kepada Allah.
Eksposisi 1 Petrus 5:6
“Rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat.”
Kerendahan hati adalah anugerah yang harus terus dipelihara.
Pandangan Joel Beeke
Joel Beeke menegaskan bahwa pelayan Tuhan yang paling efektif adalah mereka yang paling menyadari ketidaklayakan dirinya.
Menurutnya, kerendahan hati menjaga seorang pendeta tetap bergantung kepada Kristus.
Doakan Sukacita dalam Pelayanan
Pelayanan dapat menjadi berat.
Namun Allah menghendaki para gembala melayani dengan sukacita.
Eksposisi Ibrani 13:17
“Taatilah pemimpin-pemimpinmu ... supaya mereka dapat melakukannya dengan sukacita.”
Ayat ini menunjukkan bahwa kondisi jemaat dapat memengaruhi sukacita seorang gembala.
Jemaat yang mendukung melalui doa akan menjadi berkat bagi pemimpinnya.
Doakan Buah Pelayanan
Pada akhirnya, hanya Allah yang dapat memberikan pertumbuhan rohani.
Eksposisi 1 Korintus 3:6–7
“Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.”
Pendeta dapat berkhotbah.
Pendeta dapat mengajar.
Pendeta dapat menggembalakan.
Tetapi hanya Allah yang dapat mengubah hati manusia.
Karena itu gereja harus berdoa agar Firman menghasilkan buah.
Pandangan John Murray
John Murray menekankan bahwa seluruh keberhasilan pelayanan pada akhirnya bergantung kepada anugerah Allah yang bekerja melalui sarana yang telah ditetapkan-Nya.
Salah satu sarana tersebut adalah doa.
Bagaimana Cara Mendoakan Pendeta?
Berikut beberapa pokok doa praktis:
1. Doakan kehidupan pribadinya dengan Tuhan.
2. Doakan keluarganya.
3. Doakan kesehatan fisiknya.
4. Doakan kesetiaan dalam mengajar Firman.
5. Doakan perlindungan dari pencobaan.
6. Doakan hikmat dalam memimpin gereja.
7. Doakan sukacita dalam pelayanan.
8. Doakan buah rohani dari pelayanannya.
9. Doakan kerendahan hati.
10. Doakan ketekunan sampai akhir.
Kesimpulan
“Selimuti Gembalamu dengan Doa” bukan sekadar slogan yang indah, melainkan panggilan Alkitab yang serius bagi setiap jemaat. Para gembala dipanggil untuk memimpin, mengajar, menggembalakan, dan menjaga umat Allah, tetapi mereka melaksanakan tugas tersebut sebagai manusia yang lemah dan bergantung sepenuhnya pada anugerah Tuhan.
Rasul Paulus berkali-kali meminta doa dari jemaat. John Calvin menegaskan pentingnya doa bagi keberhasilan pelayanan Firman. John Owen mengingatkan adanya peperangan rohani yang nyata terhadap para pemimpin gereja. Herman Bavinck menekankan kebutuhan akan hikmat ilahi. Martyn Lloyd-Jones menunjukkan bahwa kuasa pelayanan lahir dari persekutuan dengan Allah. Charles Spurgeon memberikan teladan bagaimana doa jemaat menopang pelayanannya. Sinclair Ferguson mengingatkan pentingnya mendoakan keluarga pendeta. Joel Beeke menekankan kerendahan hati sebagai karakter utama seorang gembala. John Murray menunjukkan bahwa seluruh buah pelayanan bergantung pada anugerah Allah.
Pada akhirnya, salah satu pelayanan terbesar yang dapat dilakukan jemaat bagi pendetanya adalah berdoa dengan setia. Ketika gereja mendoakan gembalanya, mereka sedang mengambil bagian dalam pekerjaan Allah. Mereka sedang menopang pemberitaan Firman, memperkuat pelayanan Injil, dan berkontribusi dalam pertumbuhan Kerajaan Allah. Sebab gereja yang berdoa bagi pemimpinnya adalah gereja yang memahami bahwa keberhasilan pelayanan bukan berasal dari kekuatan manusia, melainkan dari anugerah Allah yang bekerja melalui doa umat-Nya.