Call on Jesus: Berseru kepada Yesus dalam Iman, Anugerah, dan Ketergantungan
Pendahuluan
Ada sebuah kalimat sederhana yang memiliki kedalaman teologis luar biasa: “Call on Jesus”—berserulah kepada Yesus.
Di tengah kehidupan yang penuh kecemasan, penderitaan, dosa, ketidakpastian, dan kelemahan, manusia sering mencari pertolongan ke berbagai arah. Kita mencari keamanan dalam uang, kepastian dalam pekerjaan, penerimaan dalam relasi, kekuatan dalam kemampuan diri, bahkan kadang-kadang mencari keselamatan melalui usaha keagamaan.
Namun Alkitab berulang kali mengarahkan manusia kepada satu Pribadi: Tuhan.
Kisah Para Rasul 2:21 menyatakan:
“Dan akan terjadi, setiap orang yang memanggil nama Tuhan akan diselamatkan.”
Roma 10:13 mengulang kebenaran yang sama:
“Sebab, ‘Setiap orang yang berseru dalam nama Tuhan akan diselamatkan.’”
Dalam konteks Perjanjian Baru, “memanggil nama Tuhan” bukan sekadar mengucapkan nama Yesus ketika seseorang sedang berada dalam kesulitan. Ini adalah bahasa iman, penyerahan diri, pengakuan ketergantungan, dan datang kepada Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat.
Di sinilah tema Call on Jesus menjadi sangat kaya. Berseru kepada Yesus bukan teknik mendapatkan apa pun yang kita inginkan. Berseru kepada Yesus adalah tindakan seorang manusia berdosa yang menyadari bahwa dirinya tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri dan karena itu datang kepada Kristus.
Teologi Reformed menempatkan kebenaran ini di pusat Injil: keselamatan adalah anugerah Allah, diterima melalui iman, dan berpusat sepenuhnya pada Kristus.
1. Apa Artinya “Call on Jesus”?
Ungkapan “memanggil nama Tuhan” berasal dari pola bahasa Alkitab yang berhubungan dengan penyembahan, doa, iman, dan pengakuan terhadap Allah.
Kita tidak boleh mereduksinya menjadi sekadar kalimat: “Yesus, tolong saya!”
Tentu seorang percaya dapat berseru seperti itu. Bahkan doa yang sangat singkat sekalipun dapat menjadi doa iman yang sejati. Tetapi secara teologis, “memanggil nama Tuhan” jauh lebih dalam.
Memanggil Yesus berarti datang kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Roma 10:9–10 menjelaskan:
“Jika dengan mulutmu kamu mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya di dalam hatimu bahwa Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati, kamu akan diselamatkan.”
Kemudian:
“Sebab, dengan hati orang percaya dan dibenarkan; dan dengan mulut, orang mengaku dan diselamatkan.”
Jadi, memanggil Yesus berkaitan dengan iman kepada siapa Yesus itu.
Ia bukan sekadar seorang guru moral. Ia bukan hanya nabi. Ia bukan sekadar pemberi mukjizat. Ia adalah Tuhan yang bangkit dan Juruselamat.
Karena itu, “Call on Jesus” bukan terutama tentang mendapatkan sesuatu dari Yesus. Ini tentang datang kepada Yesus itu sendiri.
2. Eksposisi Roma 10:13: “Setiap Orang”
Roma 10:13 berkata:
“Sebab, ‘Setiap orang yang berseru dalam nama Tuhan akan diselamatkan.’”
Ada tiga bagian penting yang perlu diperhatikan.
“Setiap orang”
Paulus menggunakan bahasa yang sangat luas.
“Setiap orang” berarti undangan Injil tidak dibatasi oleh suku, status sosial, masa lalu, pendidikan, kekayaan, atau reputasi moral.
Orang yang merasa dirinya terlalu berdosa boleh datang.
Orang yang merasa dirinya terlalu jauh boleh datang.
Orang yang telah bertahun-tahun hidup melawan Allah boleh datang.
Orang yang baru pertama kali mendengar Injil boleh datang.
Keselamatan tidak ditawarkan berdasarkan kelayakan manusia, tetapi berdasarkan Kristus.
Ini sangat sesuai dengan prinsip sola gratia—hanya oleh anugerah.
John Calvin melihat keselamatan manusia sebagai sesuatu yang sepenuhnya bergantung pada belas kasihan Allah. Manusia tidak memiliki dasar untuk menyombongkan diri di hadapan Allah karena keselamatan bukan hasil prestasi manusia.
Karena itu, kalimat “setiap orang” menghancurkan dua kesombongan sekaligus.
Pertama, kesombongan orang yang merasa dirinya cukup baik untuk diselamatkan.
Kedua, keputusasaan orang yang merasa dirinya terlalu buruk untuk diselamatkan.
Keduanya harus datang kepada Kristus dengan cara yang sama: melalui iman.
3. “Yang Berseru”
Kata “berseru” menunjukkan tindakan yang nyata.
Iman Kristen bukan sekadar persetujuan intelektual bahwa Yesus ada.
Seseorang dapat mengetahui banyak hal tentang Yesus tetapi belum datang kepada Yesus.
Kita dapat mengetahui doktrin tentang salib tetapi belum percaya kepada Kristus yang tersalib.
Kita dapat memahami doktrin kebangkitan tetapi belum menyerahkan diri kepada Kristus yang bangkit.
Memanggil nama Tuhan berarti iman bergerak menuju Pribadi yang dipercayainya.
Bayangkan seseorang yang sedang tenggelam. Ia mungkin mengetahui bahwa ada penjaga pantai di dekatnya. Ia bahkan mungkin percaya bahwa penjaga itu mampu menyelamatkannya. Tetapi akhirnya ia harus berseru meminta pertolongan.
Demikian pula Injil tidak berhenti pada informasi. Injil memanggil kita kepada respons iman.
Namun analogi tersebut tetap memiliki keterbatasan. Dalam keselamatan, Allah bukan hanya menunggu manusia mengambil inisiatif. Bahkan kemampuan manusia untuk datang kepada Kristus merupakan karya anugerah Allah.
Di sinilah doktrin anugerah yang berdaulat menjadi sangat penting dalam teologi Reformed.
4. Anugerah Mendahului Seruan Kita
Mungkin muncul pertanyaan: jika manusia telah mati dalam dosa, bagaimana ia dapat berseru kepada Yesus?
Jawaban Reformed adalah: karena Allah terlebih dahulu bekerja dalam hati orang berdosa.
Keselamatan dimulai dari Allah, bukan manusia.
John Calvin sangat menekankan kerusakan total manusia. Ini bukan berarti setiap manusia seburuk mungkin dalam setiap aspek, tetapi bahwa dosa telah memengaruhi seluruh keberadaan manusia—pikiran, kehendak, hati, dan keinginannya.
Karena itu, manusia tidak secara alamiah mencari Allah dengan hati yang benar.
Jika seseorang datang kepada Kristus dengan iman, hal itu pada akhirnya merupakan buah pekerjaan anugerah Allah.
R. C. Sproul sering menekankan bahwa keselamatan merupakan pekerjaan Allah dari awal sampai akhir. Manusia tidak dapat mengambil kemuliaan bagi dirinya sendiri.
Ini membawa kita kepada sebuah paradoks yang indah:
Kita benar-benar dipanggil untuk berseru kepada Yesus, tetapi ketika kita akhirnya berseru, kita menemukan bahwa anugerah Allah telah lebih dahulu mencari kita.
5. Berseru Bukan Berarti Memaksa Allah
Ada bahaya lain dalam memahami “Call on Jesus”.
Ungkapan ini kadang dapat berubah menjadi semacam formula: “Jika saya menyebut nama Yesus dengan cukup kuat, Allah pasti memberikan apa yang saya minta.”
Itu bukan Injil.
Memanggil Yesus bukanlah cara memanipulasi Allah.
Doa Kristen bukanlah mantra.
Nama Yesus bukan formula magis.
Kita tidak memiliki kuasa atas Allah hanya karena kita mengucapkan nama-Nya.
Berseru kepada Yesus berarti menyerahkan diri kepada kehendak-Nya.
Yesus sendiri memberikan teladan ketika berdoa menjelang salib. Ia membawa keinginan-Nya kepada Bapa, tetapi menyerahkan diri kepada kehendak Bapa.
Jadi iman sejati dapat berkata:
“Ya Tuhan, aku meminta pertolongan-Mu. Aku memohon kesembuhan. Aku meminta jalan keluar. Aku memohon perubahan keadaan. Tetapi lebih daripada semua itu, aku membutuhkan Engkau. Kehendak-Mu jadilah.”
Ini jauh lebih dalam daripada teologi yang mengajarkan bahwa iman adalah alat untuk mendapatkan semua yang kita inginkan.
6. John Calvin: Kristus sebagai Satu-satunya Tempat Perlindungan
Dalam pemikiran Calvin, iman tidak dapat dipisahkan dari Kristus. Iman bukan sekadar keyakinan abstrak bahwa Allah ada. Iman adalah kepercayaan kepada janji Allah di dalam Kristus.
Calvin menggambarkan iman sebagai sarana yang dengannya kita menerima Kristus dan manfaat keselamatan yang ada di dalam Dia.
Ini memberikan kedalaman pada ungkapan “Call on Jesus”.
Ketika kita berseru kepada Yesus, kita tidak sedang memanggil sebuah konsep teologis.
Kita sedang datang kepada Kristus.
Kita datang kepada Dia yang hidup, mati bagi dosa, bangkit dari kematian, dan memerintah sebagai Tuhan.
Karena itu, kekuatan doa bukan terutama terletak pada kualitas kata-kata kita. Kekuatan doa terletak pada Pribadi kepada siapa kita berdoa.
Orang percaya yang hanya mampu berkata, “Tuhan Yesus, tolong aku,” tetap memiliki Juruselamat yang sempurna.
7. Herman Bavinck: Allah yang Menyatakan Diri
Herman Bavinck menekankan pentingnya penyataan Allah dalam teologi Kristen. Kita tidak mengenal Allah berdasarkan spekulasi manusia. Allah harus menyatakan diri-Nya.
Prinsip ini sangat penting untuk memahami doa kepada Yesus.
Kita dapat memanggil Yesus karena Allah telah menyatakan siapa Dia.
Yesus bukan hasil konstruksi religius manusia.
Allah menyatakan keselamatan-Nya di dalam Kristus.
Karena itu, doa Kristen tidak dimulai dengan manusia bertanya, “Allah seperti apa yang saya inginkan?”
Doa Kristen dimulai dengan menerima Allah sebagaimana Ia menyatakan diri-Nya.
Kita datang kepada Kristus bukan untuk menciptakan Yesus sesuai kebutuhan kita, tetapi untuk mengenal dan menyembah Yesus sebagaimana Alkitab menyatakan Dia.
8. J. I. Packer: Mengenal Allah dan Bersandar kepada-Nya
J. I. Packer dalam Knowing God menekankan perbedaan antara mengetahui fakta tentang Allah dan benar-benar mengenal Allah.
Seseorang dapat memiliki pengetahuan teologis yang luas tetapi hidup jauh dari Allah.
Ini relevan bagi “Call on Jesus”.
Memanggil Yesus berarti hubungan dengan Kristus menjadi nyata dalam kehidupan.
Ketika takut, kita datang kepada-Nya.
Ketika berdosa, kita datang kepada-Nya dalam pertobatan.
Ketika bingung, kita mencari hikmat-Nya.
Ketika menderita, kita mencari penghiburan-Nya.
Ketika berhasil, kita bersyukur kepada-Nya.
Ketika lemah, kita bersandar kepada-Nya.
Dengan demikian, “Call on Jesus” bukan hanya tindakan satu kali ketika seseorang bertobat. Bagi orang percaya, kehidupan Kristen menjadi kehidupan yang terus-menerus bergantung kepada Kristus.
9. R. C. Sproul: Kekudusan Allah dan Kebutuhan Akan Kristus
R. C. Sproul sangat kuat dalam menekankan kekudusan Allah.
Jika kita memahami kekudusan Allah dengan benar, kita akan semakin memahami betapa seriusnya dosa manusia.
Dosa bukan sekadar kesalahan kecil.
Dosa adalah pelanggaran terhadap Allah yang kudus.
Karena itu, seruan kepada Yesus bukanlah seruan sentimental semata. Itu adalah seruan orang berdosa yang membutuhkan Juruselamat.
Salib menunjukkan dua hal sekaligus: betapa seriusnya dosa dan betapa besar kasih karunia Allah.
Kita membutuhkan Yesus bukan sekadar agar hidup kita menjadi lebih nyaman. Kita membutuhkan Yesus karena tanpa Dia kita berada di bawah hukuman dosa.
Inilah yang membuat keselamatan begitu berharga.
10. Call on Jesus dalam Penderitaan
Ada saat-saat ketika seseorang tidak mampu menyusun doa yang panjang.
Penderitaan dapat membuat kata-kata menghilang.
Dalam situasi tertentu, doa paling jujur mungkin hanya:
“Yesus, tolong aku.”
Doa seperti itu tidak boleh diremehkan.
Mazmur penuh dengan seruan kepada Allah di tengah kesesakan. Alkitab tidak menggambarkan iman sebagai kehidupan tanpa air mata.
Iman justru membuat kita tahu kepada siapa kita harus membawa air mata.
Orang percaya tidak selalu memiliki jawaban, tetapi ia memiliki tempat untuk berseru.
Tidak selalu ada jalan keluar yang langsung terlihat, tetapi ada Kristus yang hadir.
Tidak selalu keadaan berubah, tetapi kita dapat tetap datang kepada-Nya.
Inilah salah satu kekuatan Injil: kehadiran Kristus lebih besar daripada kepastian keadaan.
11. Call on Jesus dalam Pergumulan Dosa
Tema ini juga sangat penting dalam pergumulan melawan dosa.
Sering kali kita mencoba melawan dosa dengan kekuatan sendiri.
Kita membuat resolusi.
Kita berjanji tidak akan mengulanginya.
Kemudian kita jatuh lagi.
Tentu disiplin rohani penting. Tetapi akar masalahnya adalah bahwa kita membutuhkan Kristus.
Ketika jatuh, jangan melarikan diri dari Yesus.
Larilah kepada Yesus.
Inilah perbedaan antara rasa bersalah yang membawa kepada pertobatan dan rasa malu yang membuat seseorang bersembunyi dari Allah.
Adam bersembunyi setelah jatuh ke dalam dosa. Injil memanggil orang berdosa untuk datang kepada Kristus.
Orang Kristen tidak datang kepada Yesus karena ia sudah sempurna.
Ia datang karena Yesus adalah Juruselamat bagi orang berdosa.
12. Call on Jesus dan Kedaulatan Allah
Teologi Reformed sangat menekankan kedaulatan Allah.
Tetapi kedaulatan Allah tidak berarti doa menjadi sia-sia.
Justru karena Allah berdaulat, doa memiliki tempat yang penting.
Allah menetapkan bukan hanya tujuan, tetapi juga sarana untuk mencapai tujuan-Nya. Doa adalah salah satu sarana yang Allah gunakan dalam karya-Nya.
Karena itu, kita berdoa bukan untuk mengubah Allah yang tidak tahu apa-apa menjadi Allah yang mengetahui kebutuhan kita.
Kita berdoa karena Allah telah memerintahkan kita untuk datang kepada-Nya.
Doa merupakan ekspresi iman.
Ketika kita berkata, “Yesus, aku membutuhkan-Mu,” kita sedang mengakui sesuatu yang sangat mendasar:
Aku bukan penyelamat bagi diriku sendiri.
13. Call on Jesus dan Keselamatan
Puncak dari Roma 10:13 adalah kata:
“diselamatkan.”
Tujuan seruan kepada Tuhan bukan sekadar memperoleh ketenangan psikologis.
Tujuan akhirnya adalah keselamatan.
Keselamatan dalam Perjanjian Baru memiliki makna yang sangat luas: pembebasan dari dosa, pengampunan, pembenaran, pendamaian dengan Allah, dan kehidupan baru di dalam Kristus.
Karena itu, “Call on Jesus” harus selalu ditempatkan dalam konteks Injil.
Kita tidak berseru kepada Yesus karena Dia adalah “solusi” untuk semua masalah duniawi kita.
Kita berseru kepada-Nya karena Dia adalah Tuhan dan Juruselamat.
Jika Dia memberikan kekayaan, kita bersyukur.
Jika Dia tidak memberikan kekayaan, Dia tetap Tuhan.
Jika Dia memberikan kesembuhan, kita memuji-Nya.
Jika dalam providensi-Nya Dia mengizinkan kita melewati penderitaan panjang, kita tetap dapat berpegang kepada-Nya.
Karena yang terutama bukanlah pemberian.
Yang terutama adalah Sang Pemberi.
14. Gereja yang Memanggil Nama Yesus
Menarik bahwa 1 Korintus 1:2 menggambarkan orang-orang percaya sebagai mereka yang memanggil nama Tuhan kita Yesus Kristus.
Ini menunjukkan bahwa “Call on Jesus” bukan hanya pengalaman individual.
Gereja adalah komunitas orang yang bersama-sama memanggil nama Kristus.
Gereja berkumpul untuk menyembah Kristus.
Gereja berdoa kepada-Nya.
Gereja memberitakan Injil-Nya.
Gereja berharap kepada kedatangan-Nya.
Gereja mengakui bahwa keselamatan tidak ditemukan di dalam manusia, sistem, atau institusi, tetapi di dalam Tuhan Yesus Kristus.
Karena itu, gereja yang sehat bukanlah gereja yang paling banyak berbicara tentang dirinya sendiri.
Gereja yang sehat mengarahkan manusia kepada Kristus.
15. Aplikasi Praktis: Bagaimana Kita “Call on Jesus”?
Pertama, berserulah kepada Yesus ketika takut.
Jangan biarkan ketakutan menjadi tuhan dalam hidup kita. Bawalah ketakutan kepada Kristus.
Kedua, berserulah kepada Yesus ketika berdosa.
Jangan bersembunyi. Datanglah dalam pertobatan.
Ketiga, berserulah kepada Yesus ketika bingung.
Kita tidak mengetahui masa depan, tetapi Kristus mengetahuinya.
Keempat, berserulah kepada Yesus ketika lemah.
Kelemahan bukan alasan untuk menjauh dari Kristus. Kelemahan justru memperlihatkan kebutuhan kita akan anugerah.
Kelima, berserulah kepada Yesus ketika berhasil.
Jangan hanya mencari Yesus ketika membutuhkan pertolongan. Pujilah Dia ketika keadaan berjalan baik.
Keenam, berserulah kepada Yesus dalam kehidupan sehari-hari.
Doa bukan tombol darurat yang hanya digunakan ketika masalah muncul. Doa adalah napas kehidupan orang yang bergantung kepada Allah.
Kesimpulan: Jangan Hanya Mencari Jawaban—Carilah Yesus
“Call on Jesus” adalah panggilan yang sederhana tetapi radikal.
Ketika kita takut, panggillah Yesus.
Ketika kita berdosa, panggillah Yesus.
Ketika kita tidak tahu jalan, panggillah Yesus.
Ketika kita menderita, panggillah Yesus.
Ketika kita lemah, panggillah Yesus.
Tetapi lebih dalam lagi, jangan hanya memanggil Yesus untuk mendapatkan sesuatu dari-Nya.
Datanglah kepada Yesus karena Dia sendiri adalah harta terbesar orang percaya.
Teologi Reformed mengingatkan kita bahwa keselamatan berasal dari anugerah Allah, melalui iman, dan berpusat pada Kristus. Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Karena itu, seruan iman bukanlah pengumuman bahwa kita cukup kuat. Sebaliknya, seruan iman adalah pengakuan bahwa kita membutuhkan Juruselamat.
“Setiap orang yang berseru dalam nama Tuhan akan diselamatkan.”
Kalimat itu menghancurkan kesombongan dan sekaligus menghancurkan keputusasaan.
Jika kita merasa terlalu baik, kita harus datang kepada Kristus.
Jika kita merasa terlalu buruk, kita juga harus datang kepada Kristus.
Jika kita merasa terlalu kuat, kita harus datang kepada Kristus.
Jika kita merasa terlalu lemah, kita harus datang kepada Kristus.
Karena keselamatan tidak ditemukan dalam kemampuan kita untuk memegang Kristus dengan sempurna.
Keselamatan ditemukan dalam Kristus yang sempurna, yang memegang umat-Nya dengan anugerah-Nya.
Maka, ketika dunia bertanya, “Ke mana kita harus pergi?” Injil memberikan jawaban yang jelas:
Call on Jesus. Berserulah kepada Yesus.
Bukan karena kita tahu semua jawaban.
Bukan karena hidup akan selalu mudah.
Bukan karena setiap doa akan dijawab sesuai keinginan kita.
Tetapi karena Yesus adalah Tuhan, Yesus adalah Juruselamat, dan di dalam Dia orang berdosa menemukan anugerah, pengampunan, pengharapan, dan keselamatan.
