God Sees Your Tears: Allah Melihat Air Matamu

Pendahuluan: Ketika Air Mata Tidak Dilihat Manusia
Ada air mata yang terlihat banyak orang. Tetapi ada juga air mata yang jatuh ketika tidak seorang pun melihatnya.
Ada orang yang menangis di hadapan keluarga. Ada yang menangis sendirian di kamar. Ada yang menahan tangis ketika beribadah karena tidak ingin orang lain mengetahui pergumulannya. Ada pula air mata yang bahkan tidak mampu dijelaskan dengan kata-kata.
Dalam keadaan seperti itu, muncul pertanyaan yang sangat manusiawi: Apakah Tuhan melihat air mataku? Apakah Dia benar-benar peduli terhadap penderitaanku?
Alkitab memberikan jawaban yang penuh penghiburan: Allah bukan Allah yang jauh dan tidak peduli. Dia mengetahui penderitaan umat-Nya. Dia melihat kesesakan, mendengar seruan, dan memelihara orang-orang yang berharap kepada-Nya.
Tema “GOD sees your tears” — Allah melihat air matamu sangat kuat ditemukan dalam kesaksian Kitab Mazmur, khususnya Mazmur 56. Mazmur ini lahir dari pengalaman nyata Daud ketika menghadapi tekanan dan ancaman.
Mazmur 56:9 dalam AYT berkata:
“Dengan demikian, musuh-musuhku akan berbalik mundur pada hari aku berseru. Ini yang aku tahu bahwa Allah besertaku!”
Ayat ini berada dalam konteks yang sangat penting. Sebelum menyatakan keyakinan bahwa Allah menyertainya, Daud berbicara mengenai air matanya di hadapan Allah.
Karena itu, kita perlu melihat ayat ini bukan sebagai slogan motivasi, tetapi sebagai pengakuan iman seorang yang sedang berada dalam penderitaan.
Konteks Mazmur 56: Daud yang Takut tetapi Tetap Percaya
Mazmur 56 memiliki keterangan yang menghubungkannya dengan pengalaman Daud ketika ia ditangkap oleh orang Filistin di Gat.
Situasinya sangat serius.
Daud bukan sedang menghadapi persoalan kecil. Hidupnya terancam. Ia berada dalam situasi yang secara manusiawi dapat membuat seseorang panik.
Namun menariknya, Daud tidak menyembunyikan ketakutannya dari Tuhan.
Ia berkata dalam Mazmur 56:4:
“Pada hari aku takut, aku akan percaya kepada-Mu.”
Perhatikan bahwa Daud tidak berkata, “Aku tidak akan pernah takut.”
Ia berkata, “Pada hari aku takut, aku akan percaya kepada-Mu.”
Ini adalah iman yang realistis.
Iman Alkitabiah bukan berarti tidak pernah menangis, tidak pernah takut, atau tidak pernah mengalami kecemasan. Iman berarti membawa ketakutan tersebut kepada Allah dan tetap menjadikan Dia sebagai tempat perlindungan.
Inilah salah satu karakter penting Mazmur: Alkitab tidak memaksa orang percaya berpura-pura kuat.
Daud boleh menangis.
Daud boleh takut.
Daud boleh mengakui penderitaan.
Tetapi Daud tidak berhenti pada ketakutan. Ia bergerak menuju iman.
“Allah Menghitung Air Mataku”
Bagian yang sangat terkenal dalam Mazmur 56 terdapat pada ayat 8. Dalam AYT:
“Engkau telah menghitung pengembaraanku; simpanlah air mataku dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya tercatat dalam kitab-Mu?”
Ayat ini merupakan salah satu gambaran paling indah mengenai perhatian Allah terhadap penderitaan umat-Nya.
Daud berkata bahwa Allah mengetahui pengembaraannya dan memperhatikan air matanya.
Tentu kita tidak perlu memahami gambaran “kirbat” secara materialistis, seolah-olah Allah secara harfiah mempunyai sebuah wadah fisik tempat menyimpan air mata manusia.
Ini adalah bahasa puitis.
Daud sedang menyampaikan kebenaran yang sangat dalam: tidak satu pun penderitaan umat Allah luput dari perhatian-Nya.
Air mata yang bagi manusia mungkin dianggap tidak penting, bagi Allah tidak pernah tidak berarti.
1. GOD SEES — Allah Melihat
Kata pertama dari tema kita sangat penting: God sees.
Allah melihat.
Dalam Alkitab, “melihat” tidak sekadar berarti memiliki pengetahuan visual. Dalam banyak konteks Alkitab, melihat penderitaan seseorang berkaitan dengan perhatian, pengenalan, dan tindakan Allah.
Contoh yang sangat jelas terdapat dalam kisah Israel di Mesir.
Allah berkata kepada Musa bahwa Ia telah memperhatikan kesengsaraan umat-Nya dan mendengar seruan mereka.
Ini menunjukkan karakter Allah.
Allah bukan seperti manusia yang melihat penderitaan lalu berkata, “Itu bukan urusanku.”
Allah memperhatikan umat-Nya.
Dalam teologi Reformed, hal ini berkaitan erat dengan doktrin providensia Allah.
Allah bukan hanya menciptakan dunia lalu meninggalkannya. Ia menopang, memerintah, dan memelihara ciptaan-Nya.
John Calvin sangat kuat dalam menjelaskan providensia. Bagi Calvin, keyakinan terhadap providensia Allah bukan sekadar doktrin intelektual. Doktrin tersebut memberikan penghiburan pastoral yang nyata.
Jika segala sesuatu benar-benar berada di luar kendali Allah, penderitaan kita pada akhirnya tidak memiliki tempat untuk ditambatkan.
Tetapi jika Allah berdaulat atas seluruh hidup kita, bahkan dalam penderitaan yang tidak kita mengerti, kita dapat berkata:
“Aku tidak memahami semuanya, tetapi aku tahu Allah melihat.”
2. GOD SEES YOUR TEARS — Allah Melihat Air Matamu
Mengapa Daud secara khusus berbicara tentang air mata?
Karena air mata adalah bahasa manusia ketika kata-kata tidak lagi cukup.
Ada penderitaan yang dapat dijelaskan.
Ada pula penderitaan yang hanya dapat ditangisi.
Daud tidak berkata bahwa Allah hanya memperhatikan doa-doa yang terucapkan dengan indah. Ia juga memperhatikan air mata.
Ini memberikan penghiburan yang sangat besar.
Mungkin orang lain tidak memahami alasan kita menangis.
Mungkin kita sendiri sulit menjelaskannya.
Namun Allah mengetahui.
R.C. Sproul, dalam banyak pembahasannya mengenai kekudusan, kedaulatan, dan providensia Allah, menekankan bahwa Allah bukanlah makhluk yang terbatas seperti manusia. Pengetahuan Allah tidak terbatas oleh keterbatasan manusia.
Karena itu, ketika manusia tidak mengetahui seluruh isi hati kita, Allah mengetahuinya.
Ketika manusia tidak melihat air mata yang tersembunyi, Allah melihatnya.
Ketika orang lain hanya melihat wajah kita yang tenang, Allah mengetahui pergumulan yang terjadi di dalam hati.
3. Allah Tidak Menganggap Air Matamu Tidak Penting
Ada saat ketika kita merasa bahwa penderitaan kita terlalu kecil untuk dibawa kepada Tuhan.
“Masalahku tidak sebesar masalah orang lain.”
“Orang lain lebih menderita.”
“Mungkin aku terlalu sensitif.”
Pemikiran semacam ini dapat membuat seseorang menjauh dari Allah justru ketika ia membutuhkan-Nya.
Mazmur 56 menunjukkan sebaliknya.
Daud membawa air matanya kepada Allah.
Ini bukan berarti setiap perasaan kita otomatis benar. Alkitab tidak mengajarkan bahwa emosi manusia selalu menjadi ukuran kebenaran.
Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa kita boleh membawa emosi kita kepada Allah.
Kita boleh berkata:
“Tuhan, aku takut.”
“Tuhan, aku terluka.”
“Tuhan, aku tidak mengerti.”
“Tuhan, aku lelah.”
“Tuhan, aku menangis.”
Doa yang jujur tidak menunjukkan lemahnya iman.
Sering kali, justru di situlah iman mulai berbicara dengan sungguh-sungguh.
4. Air Mata Tidak Berarti Allah Meninggalkan Kita
Ini merupakan salah satu kesalahan yang perlu dikoreksi.
Kadang seseorang berpikir:
“Kalau Tuhan bersamaku, mengapa aku masih menangis?”
Tetapi Mazmur 56 justru menunjukkan bahwa keberadaan penderitaan tidak otomatis berarti ketiadaan Allah.
Daud mengalami ketakutan.
Daud mengalami tekanan.
Daud menangis.
Namun kemudian ia mengatakan:
“Ini yang aku tahu bahwa Allah besertaku!”
Perhatikan urutannya.
Daud tidak berkata:
“Karena Allah besertaku, maka aku tidak akan pernah mengalami masalah.”
Sebaliknya, ia berkata bahwa di tengah masalah itu, Allah besertanya.
Inilah perbedaan besar antara iman Kristen dan optimisme dunia.
Optimisme berkata:
“Segalanya akan baik-baik saja.”
Iman berkata:
“Sekalipun aku tidak mengetahui bagaimana keadaan akhirnya, Allah tetap bersamaku.”
5. Teologi Reformed dan Realitas Penderitaan
Teologi Reformed tidak mengajarkan bahwa orang percaya akan terbebas dari penderitaan.
Sebaliknya, doktrin kedaulatan Allah memberi kerangka untuk memahami penderitaan tanpa harus menyimpulkan bahwa Allah kehilangan kendali.
John Calvin melihat penderitaan orang percaya dalam hubungan dengan pemeliharaan Allah. Allah dapat memakai penderitaan sebagai sarana untuk membentuk, mendisiplinkan, memurnikan, dan membawa umat-Nya semakin bergantung kepada-Nya.
Namun kita harus berhati-hati.
Tidak setiap penderitaan dapat dijelaskan secara sederhana dengan mengatakan, “Tuhan melakukan ini supaya kamu belajar sesuatu.”
Kadang-kadang kita tidak mengetahui alasan khusus di balik penderitaan tertentu.
Kitab Ayub memperingatkan kita mengenai kecenderungan memberikan jawaban terlalu cepat terhadap penderitaan orang lain.
Teologi yang baik tidak selalu menjelaskan mengapa seseorang menderita.
Kadang-kadang teologi yang baik pertama-tama mengatakan:
“Allah hadir bersamamu dalam penderitaan ini.”
6. Matthew Henry: Allah Memperhatikan Kesusahan Umat-Nya
Matthew Henry, dalam eksposisinya terhadap Mazmur, melihat bahasa mengenai air mata sebagai gambaran perhatian Allah yang penuh terhadap kesengsaraan Daud.
Bagi Henry, tidak ada penderitaan umat Allah yang tersembunyi dari-Nya.
Ini penting karena Daud sedang mengalami situasi di mana musuh-musuhnya mengawasinya, menekannya, dan mencari kesempatan untuk menjatuhkannya.
Namun Daud menemukan bahwa ada satu Pribadi yang memperhatikan bukan untuk menghancurkan dirinya, melainkan untuk memeliharanya.
Manusia mungkin memperhatikan kita untuk mencari kelemahan.
Allah memperhatikan kita untuk memelihara kita.
7. Charles Spurgeon: Air Mata dan Iman Berjalan Bersama
Charles Spurgeon sangat dikenal karena kemampuannya menggali pengalaman pastoral dari kitab Mazmur.
Dalam tradisi eksposisinya, air mata Daud bukanlah tanda bahwa iman telah mati. Justru air mata tersebut menjadi bagian dari pergumulan iman.
Ini sangat relevan bagi orang Kristen yang merasa bersalah karena menangis.
Ada orang yang berpikir bahwa orang beriman harus selalu kuat.
Namun Alkitab tidak menggambarkan demikian.
Yesus sendiri menangis.
Paulus mengenal air mata.
Daud menangis.
Yeremia dikenal sebagai nabi yang banyak meratap.
Air mata tidak bertentangan dengan iman.
Yang menjadi persoalan adalah kepada siapa kita membawa air mata tersebut.
8. Sinclair Ferguson: Penderitaan dalam Kesatuan dengan Kristus
Dalam perspektif Reformed yang lebih luas, penderitaan orang Kristen harus dibaca dalam terang persatuan dengan Kristus.
Sinclair Ferguson sering menekankan bahwa kehidupan Kristen tidak dapat dipisahkan dari kehidupan Kristus. Orang percaya bersatu dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, sehingga penderitaan bukanlah bukti bahwa Allah gagal membawa kita kepada keselamatan.
Sebaliknya, orang percaya dapat mengalami penderitaan sambil tetap memiliki kepastian bahwa dirinya berada dalam Kristus.
Ini memberikan dasar yang jauh lebih kuat daripada sekadar berkata, “Jangan sedih.”
Kita tidak hanya memiliki nasihat untuk menjadi kuat.
Kita memiliki Kristus.
9. J.I. Packer: Mengenal Allah di Tengah Penderitaan
J.I. Packer sangat menekankan pentingnya mengenal Allah secara pribadi, bukan sekadar mengetahui informasi tentang Allah.
Prinsip ini sangat relevan dengan Mazmur 56.
Daud berkata:
“Ini yang aku tahu bahwa Allah besertaku!”
Perhatikan kata “tahu.”
Daud tidak sedang mengandalkan suasana hatinya.
Perasaannya mungkin mengatakan, “Aku sendirian.”
Situasinya mungkin mengatakan, “Engkau berada dalam bahaya.”
Namun iman berkata:
“Aku tahu Allah besertaku.”
Inilah pengetahuan iman.
Iman tidak selalu mengubah keadaan secara langsung.
Tetapi iman mengubah cara kita melihat keadaan karena kita mengenal siapa Allah.
10. Air Mata dan Salib Kristus
Puncak penghiburan Kristen tidak ditemukan hanya dalam Mazmur 56.
Kita harus membawa seluruh tema penderitaan kepada salib Kristus.
Di salib, kita melihat bahwa Allah tidak memberikan keselamatan dari kejauhan.
Anak Allah datang ke dalam dunia.
Kristus menjadi manusia.
Ia mengalami penderitaan.
Ia ditolak.
Ia dikhianati.
Ia menangis.
Ia menderita.
Ia mati di kayu salib.
Karena itu, ketika seorang Kristen berkata, “Tuhan, apakah Engkau mengerti penderitaanku?” jawabannya bukan sekadar sebuah konsep.
Jawabannya adalah Kristus yang tersalib.
Allah mengetahui penderitaan umat-Nya, dan Injil menunjukkan bahwa Allah sendiri telah masuk ke dalam sejarah manusia melalui inkarnasi Anak-Nya.
Namun salib tidak berhenti pada kematian.
Kristus bangkit.
Karena itu, air mata orang percaya tidak memiliki kata terakhir.
Kematian bukan kata terakhir.
Penderitaan bukan kata terakhir.
Kristus yang bangkit adalah kata terakhir.
11. “Allah Besertaku”: Inti Penghiburan Mazmur 56
Puncak Mazmur 56:9 bukan sekadar bahwa musuh akan mundur.
Kalimat yang paling dalam adalah:
“Allah besertaku!”
Inilah inti penghiburan.
Bukan pertama-tama bahwa masalah akan hilang.
Bukan bahwa musuh akan langsung kalah.
Bukan bahwa air mata akan segera berhenti.
Melainkan bahwa Allah hadir.
Dalam seluruh sejarah penebusan, kehadiran Allah merupakan salah satu tema terbesar.
Nama Imanuel berarti “Allah beserta kita.”
Di dalam Kristus, janji kehadiran Allah mencapai kepenuhannya.
Karena itu, orang Kristen dapat berkata:
God sees your tears.
God knows your pain.
God hears your cry.
And God is with you.
12. Bagaimana Kita Merespons Ketika Menangis?
Mazmur 56 memberikan pola yang sangat sederhana tetapi mendalam.
Datanglah kepada Allah
Jangan melarikan diri dari Allah ketika menderita. Bawalah penderitaan itu kepada-Nya.
Akui ketakutan dengan jujur
Daud tidak berpura-pura tidak takut.
Kita tidak perlu menggunakan bahasa rohani untuk menyembunyikan keadaan hati kita dari Allah.
Percayalah kepada karakter Allah
Ketika kita tidak memahami keadaan, kembali kepada siapa Allah itu.
Ia berdaulat.
Ia baik.
Ia setia.
Ia tidak meninggalkan umat-Nya.
Ingatlah Injil
Penderitaan sekarang harus dibaca dalam terang salib dan kebangkitan Kristus.
Kita belum melihat seluruh cerita.
Tetap berjalan
Daud tidak hanya menangis. Ia terus berjalan dalam iman.
Ini juga panggilan kita.
Menangislah jika perlu.
Beristirahatlah jika lelah.
Berdoalah ketika takut.
Tetapi jangan berhenti mengikuti Kristus.
Kesimpulan: Tuhan Melihat Air Matamu
GOD sees your tears.
Kalimat ini bukan sekadar kalimat motivasi.
Ini adalah kesaksian yang berakar dalam karakter Allah.
Mazmur 56 menunjukkan seorang manusia yang takut, tertekan, dan menangis. Namun justru dalam keadaan tersebut ia menemukan alasan untuk percaya.
Allah melihat.
Allah mengetahui.
Allah mendengar.
Allah menyertai.
Dan bagi orang percaya yang hidup dalam Kristus, penderitaan bukanlah akhir cerita.
Mungkin hari ini tidak ada seorang pun yang mengetahui betapa berat pergumulanmu.
Mungkin engkau tersenyum di depan banyak orang tetapi menangis ketika sendirian.
Mungkin doamu terasa hanya terdiri dari beberapa kata.
Mungkin engkau bahkan tidak mampu berdoa dan hanya mampu menangis.
Ingatlah: air mata yang tidak dapat kaujelaskan kepada manusia tetap diketahui oleh Allah.
Jangan mengukur kasih Allah berdasarkan seberapa nyaman hidupmu hari ini.
Lihatlah kepada Kristus.
Di salib, kita melihat kasih Allah.
Dalam kebangkitan, kita melihat pengharapan.
Dalam providensia, kita melihat tangan Allah yang memegang hidup kita.
Dan dalam Mazmur 56, kita mendengar suara seorang yang pernah takut dan menangis tetapi akhirnya berkata:
“Ini yang aku tahu bahwa Allah besertaku!”
Mungkin kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok.
Tetapi kita dapat mengetahui ini:
Allah melihat air matamu.
Dan lebih dari sekadar melihatnya, Dia adalah Allah yang tidak meninggalkan anak-anak-Nya.