GOD’s Love is Forever: Kasih Allah Selamanya

GOD’s Love is Forever: Kasih Allah Selamanya

Pendahuluan

Ada satu kebenaran yang terus diulang dalam Mazmur 136: “kasih setia-Nya untuk selama-lamanya.”

Pengulangan ini bukan kebetulan. Mazmur 136 menggunakan kalimat tersebut sebagai respons berulang terhadap berbagai karya Allah. Pemazmur mengingat penciptaan, pembebasan Israel dari Mesir, perjalanan di padang gurun, kemenangan atas musuh, pemeliharaan umat, bahkan pemberian makanan bagi semua makhluk. Setelah setiap tindakan Allah, umat menjawab dengan pengakuan yang sama: kasih setia-Nya tidak berakhir.

Inilah dasar pengharapan Kristen.

Kita hidup dalam dunia yang berubah. Hubungan manusia dapat berubah. Kondisi ekonomi berubah. Tubuh menjadi tua. Perasaan naik dan turun. Bahkan kesetiaan manusia sering tidak bertahan ketika keadaan menjadi sulit.

Tetapi ada satu Pribadi yang tidak berubah:

Allah.

Mazmur 136:1-3 membuka nyanyian ini dengan tiga panggilan:

“Mengucap syukurlah kepada TUHAN karena Dia itu baik, karena kasih setia-Nya untuk selama-lamanya.”

“Mengucap syukurlah kepada Allah segala ilah, karena kasih setia-Nya untuk selama-lamanya.”

“Mengucap syukurlah kepada Tuan segala tuan, karena kasih setia-Nya untuk selama-lamanya.”

Ayat-ayat ini memperlihatkan bahwa kasih Allah bukan sekadar emosi. Kasih-Nya adalah kasih setia perjanjian, kasih yang berakar dalam karakter-Nya dan tidak pernah gagal.

Konteks Mazmur 136

Mazmur 136 termasuk kelompok mazmur yang sangat menonjolkan ucapan syukur.

Ciri khasnya adalah pengulangan kalimat:

“karena kasih setia-Nya untuk selama-lamanya.”

Pengulangan tersebut kemungkinan berfungsi secara liturgis, sehingga pemimpin ibadah dapat menyebut karya Allah dan jemaat memberikan respons.

Dengan demikian, mazmur ini bukan hanya untuk dibaca secara pribadi.

Ini adalah mazmur komunitas.

Umat Allah mengingat bersama-sama siapa Allah dan apa yang telah dilakukan-Nya.

Hal tersebut penting secara rohani.

Iman mudah melemah ketika kita hanya mengingat masalah yang sedang kita hadapi.

Mazmur mengajar kita untuk mengingat karya Allah.

“Mengucap Syukurlah kepada TUHAN”

Ayat pertama dimulai dengan panggilan:

“Mengucap syukurlah kepada TUHAN.”

Ucapan syukur dalam Alkitab bukan sekadar berkata “terima kasih” setelah mendapatkan sesuatu yang menyenangkan.

Ucapan syukur adalah respons terhadap pengenalan akan Allah.

Kita bersyukur karena mengetahui siapa Dia.

Pemazmur tidak memulai dengan keadaan manusia.

Ia memulai dengan Allah.

Ini merupakan pola yang sangat penting.

Ketika hidup menjadi sulit, kita sering memulai dengan pertanyaan:

“Bagaimana keadaan saya?”

Mazmur mengajar kita memulai dengan pertanyaan:

“Siapakah Allah?”

Jika kita benar-benar mengenal Allah, keadaan tidak lagi menjadi satu-satunya dasar pengharapan kita.

“Karena Dia Itu Baik”

Mengapa umat harus bersyukur?

Karena:

“Dia itu baik.”

Kebaikan Allah adalah bagian dari karakter-Nya.

Allah tidak menjadi baik karena Ia melakukan sesuatu yang baik.

Sebaliknya, Ia melakukan yang baik karena Ia memang baik.

Ini merupakan perbedaan penting.

Manusia dapat melakukan perbuatan baik dalam satu situasi dan melakukan kesalahan dalam situasi lain.

Tetapi Allah tidak memiliki cacat moral.

Tidak ada sisi gelap dalam karakter-Nya.

Tidak ada ketidakadilan dalam tindakan-Nya.

Tidak ada kebohongan dalam perkataan-Nya.

Allah baik.

Karena itu kasih-Nya dapat dipercaya.

John Calvin: Kebaikan Allah sebagai Dasar Syukur

John Calvin menempatkan pengenalan akan karakter Allah sebagai dasar kehidupan iman.

Manusia tidak seharusnya memandang berkat hanya berdasarkan apa yang diterimanya.

Jika kita hanya bersyukur ketika keadaan menyenangkan, maka ucapan syukur kita sebenarnya bergantung pada keadaan.

Mazmur 136 membawa kita lebih dalam.

Kita bersyukur karena Allah baik.

Bahkan ketika kita tidak memahami providensia-Nya, kita tetap dapat percaya kepada kebaikan-Nya.

Ini bukan optimisme kosong.

Ini adalah iman kepada karakter Allah.

“Kasih Setia-Nya untuk Selama-lamanya”

Inilah pusat Mazmur 136.

Kata yang diterjemahkan sebagai “kasih setia” berkaitan dengan konsep Ibrani hesed.

Istilah ini sangat kaya.

Ia dapat mengandung gagasan tentang kasih, kesetiaan, kemurahan, kebaikan, dan kasih perjanjian.

Jadi ketika kita mengatakan “God’s Love is Forever”, kita tidak sekadar berbicara tentang perasaan kasih Allah.

Kita berbicara tentang kasih Allah yang setia kepada perjanjian-Nya.

Kasih yang tidak berhenti.

Kasih yang tidak berubah-ubah.

Kasih yang tetap bekerja dalam sejarah.

Kasih yang memegang umat-Nya.

Kasih Allah Bukan Kasih yang Rapuh

Kasih manusia sering dipengaruhi keadaan.

Seseorang dapat berkata:

“Aku akan selalu mengasihimu.”

Tetapi beberapa tahun kemudian hubungan tersebut dapat berubah.

Mengapa?

Karena manusia terbatas.

Emosi manusia berubah.

Komitmen manusia dapat gagal.

Tetapi kasih setia Allah berbeda.

Allah tidak mengasihi seperti manusia yang tidak sempurna.

Kasih-Nya berakar pada diri-Nya sendiri.

Karena itu pemazmur berulang kali berkata:

“untuk selama-lamanya.”

Bukan hanya untuk hari ini.

Bukan hanya ketika kita berhasil.

Bukan hanya ketika kita taat sempurna.

Kasih setia-Nya berlangsung selamanya.

Herman Bavinck: Allah yang Tidak Berubah

Herman Bavinck menekankan ketidakberubahan Allah sebagai salah satu dasar penting teologi Kristen.

Jika Allah dapat berubah dalam karakter-Nya, maka tidak ada kepastian mutlak dalam iman.

Namun Allah tidak berubah.

Ia tidak menjadi lebih baik karena pengalaman.

Ia tidak menjadi kurang baik karena keadaan.

Kesempurnaan-Nya tidak mengalami fluktuasi.

Karena itu kasih Allah juga tidak bergantung pada perubahan suasana hati.

God’s love is forever karena Allah sendiri tidak berubah.

Louis Berkhof: Kesetiaan Allah

Dalam teologi sistematik Reformed, Louis Berkhof menghubungkan kesetiaan Allah dengan fakta bahwa Allah selalu bertindak sesuai dengan karakter dan janji-Nya.

Allah dapat dipercaya.

Apa yang dijanjikan-Nya tidak akan gagal.

Apa yang ditetapkan-Nya tidak akan digagalkan oleh manusia.

Apa yang dimulai-Nya akan diselesaikan sesuai dengan tujuan-Nya.

Karena itu iman Kristen bukan iman kepada kemungkinan.

Iman Kristen adalah kepercayaan kepada Allah yang setia.

Mazmur 136:2 — “Allah Segala Ilah”

Pemazmur kemudian berkata:

“Mengucap syukurlah kepada Allah segala ilah, karena kasih setia-Nya untuk selama-lamanya.”

Ini tidak berarti pemazmur mengakui adanya banyak allah yang setara dengan Yahweh.

Sebaliknya, konteks Alkitab secara keseluruhan menegaskan keunikan dan supremasi Allah Israel.

Ungkapan tersebut menyatakan bahwa Tuhan berada di atas segala sesuatu yang disebut ilah.

Tidak ada kuasa yang dapat menandingi-Nya.

Tidak ada berhala yang dapat menyelamatkan.

Tidak ada kekuatan politik yang berada di luar pemerintahan-Nya.

Tidak ada kuasa spiritual yang setara dengan-Nya.

Allah Tidak Memiliki Saingan

Dalam dunia kuno, bangsa-bangsa memiliki berbagai dewa.

Israel pun terus-menerus digoda untuk mengikuti penyembahan berhala.

Namun Mazmur 136 menegaskan:

TUHAN adalah Allah yang tertinggi.

Ini penting bagi iman.

Jika Allah hanya salah satu pilihan di antara banyak kuasa, maka kita tidak mempunyai alasan untuk memberikan seluruh hidup kepada-Nya.

Tetapi jika Dia adalah Allah segala ilah, maka seluruh keberadaan kita harus tunduk kepada-Nya.

R.C. Sproul: Allah yang Kudus dan Berdaulat

R.C. Sproul berkali-kali menekankan bahwa Allah bukan makhluk yang lebih besar dari manusia.

Ia adalah Pencipta.

Kita adalah ciptaan.

Ia berdaulat.

Kita bergantung kepada-Nya.

Pemahaman tersebut justru memberikan penghiburan.

Jika dunia berada dalam tangan manusia, kita memiliki alasan untuk takut.

Tetapi dunia berada di tangan Allah.

Karena itu kasih-Nya bukan kasih yang pasif.

Kasih-Nya bekerja melalui providensia.

Ia memelihara ciptaan.

Ia memimpin sejarah.

Ia menggenapi rencana penebusan.

Mazmur 136:3 — “Tuan Segala Tuan”

Ayat 3 memperluas pengakuan:

“Mengucap syukurlah kepada Tuan segala tuan, karena kasih setia-Nya untuk selama-lamanya.”

Allah bukan hanya Tuhan Israel.

Ia adalah Tuan segala tuan.

Ini menunjuk kepada supremasi absolut-Nya.

Raja-raja memiliki kekuasaan.

Pemerintah memiliki otoritas.

Manusia memiliki jabatan.

Tetapi semua otoritas manusia bersifat terbatas dan berada di bawah otoritas Allah.

Tidak ada seorang pun yang dapat berkata kepada Allah:

“Aku tidak tunduk kepada-Mu.”

Kedaulatan Allah dan Kasih-Nya

Di sinilah teologi Reformed memberikan perspektif yang sangat penting.

Kedaulatan Allah dan kasih Allah tidak boleh dipisahkan.

Allah yang mengasihi adalah Allah yang berdaulat.

Allah yang berdaulat adalah Allah yang mengasihi umat-Nya.

Jika kasih Allah tidak disertai kedaulatan, kita dapat bertanya apakah Ia mampu menolong.

Jika kedaulatan Allah tidak disertai kebaikan, kita mungkin takut bahwa kuasa-Nya akan digunakan melawan kita.

Namun Alkitab menyatakan keduanya:

Allah berkuasa dan Allah baik.

Karena itu umat-Nya dapat beristirahat dalam pemeliharaan-Nya.

Geerhardus Vos dan Sejarah Penebusan

Geerhardus Vos menolong gereja membaca karya Allah secara progresif dalam sejarah penebusan.

Mazmur 136 sebenarnya merupakan ringkasan sejarah.

Pemazmur melihat kembali tindakan Allah.

Allah menciptakan.

Allah memilih.

Allah membebaskan.

Allah memimpin.

Allah mengalahkan musuh.

Allah memberikan warisan.

Allah menyediakan makanan.

Semua itu memperlihatkan satu hal:

Allah bekerja dalam sejarah untuk menggenapi tujuan-Nya.

Kasih setia Allah bukan teori abstrak.

Kasih tersebut terlihat dalam tindakan konkret.

Kasih Allah Terlihat dalam Penciptaan

Dalam bagian-bagian berikutnya Mazmur 136 berbicara tentang penciptaan langit, bumi, matahari, bulan, dan bintang.

Artinya, kasih Allah sudah terlihat bahkan sebelum manusia memikirkan keselamatan.

Penciptaan sendiri merupakan tindakan kemurahan Allah.

Kita hidup karena Allah menghendaki kehidupan.

Kita menikmati dunia karena Allah menciptakannya.

Matahari terbit karena providensia-Nya.

Hujan turun dalam sistem yang Dia tetapkan.

Seluruh keberadaan kita bergantung kepada-Nya.

Kasih Allah Terlihat dalam Pembebasan

Mazmur kemudian bergerak dari penciptaan menuju sejarah Israel.

Allah mengingat pembebasan dari Mesir.

Ini sangat penting.

Allah yang menciptakan adalah Allah yang menebus.

Allah tidak menciptakan dunia lalu meninggalkannya.

Ia masuk ke dalam sejarah.

Ia mendengar jeritan umat-Nya.

Ia membebaskan mereka.

Ia memimpin mereka.

Ia memelihara mereka.

Itulah kasih setia.

Kasih Allah dan Providensia

Teologi Reformed sangat menekankan doktrin providensia.

Allah bukan hanya menciptakan segala sesuatu.

Ia memelihara dan mengarahkan ciptaan menuju tujuan-Nya.

Karena itu ketika kita berkata “God’s Love is Forever”, kita juga berbicara tentang pemeliharaan Allah.

Kasih Allah bekerja melalui berbagai sarana.

Kadang melalui mujizat.

Kadang melalui pekerjaan biasa.

Kadang melalui orang lain.

Kadang melalui pintu yang terbuka.

Kadang melalui pintu yang tertutup.

Kadang melalui keberhasilan.

Kadang melalui penderitaan.

Kita tidak selalu memahami caranya.

Tetapi kita dapat mempercayai Pribadi yang bekerja.

Ketika Allah Tidak Menjawab Sesuai Harapan

Salah satu ujian terbesar iman adalah ketika kita berdoa tetapi jawabannya tidak sesuai harapan.

Kita mungkin bertanya:

“Jika Allah mengasihi saya, mengapa ini terjadi?”

Mazmur 136 tidak mengajarkan bahwa kasih Allah berarti hidup selalu bebas dari masalah.

Israel yang mengalami kasih setia Allah juga mengalami padang gurun.

Mereka menghadapi musuh.

Mereka mengalami kelaparan.

Mereka mengalami disiplin.

Namun semua itu tidak membuktikan bahwa kasih Allah berhenti.

Sebaliknya, kasih Allah sering bekerja melalui proses yang tidak segera kita pahami.

Kasih yang Mendisiplin

Kasih Allah bukan kasih yang permisif.

Allah tidak membiarkan umat-Nya terus berjalan menuju kehancuran tanpa teguran.

Ibrani 12 menjelaskan bahwa Tuhan mendisiplin orang yang dikasihi-Nya.

Ini penting.

Kasih sejati bukan sekadar memberikan apa yang kita inginkan.

Kasih sejati mengarahkan kita kepada apa yang benar.

Kadang kasih Allah hadir sebagai penghiburan.

Kadang sebagai teguran.

Kadang sebagai disiplin.

Tetapi semuanya berada di bawah karakter-Nya yang baik.

Puncak Kasih Allah: Kristus

Mazmur 136 akhirnya harus dibaca dalam terang keseluruhan Alkitab.

Kasih setia Allah mencapai puncaknya dalam Kristus.

Yohanes 3:16 berbicara tentang kasih Allah yang memberikan Anak-Nya.

Roma 5 menunjukkan kasih Allah dinyatakan ketika Kristus mati bagi orang berdosa.

Di salib, kita melihat bahwa kasih Allah bukan sentimental.

Kasih itu mahal.

Allah tidak sekadar berkata bahwa Ia mengasihi.

Ia bertindak.

Ia memberikan Anak-Nya.

Salib dan “Forever”

Mengapa orang Kristen dapat yakin bahwa kasih Allah benar-benar kekal?

Karena keselamatan kita tidak didasarkan pada perasaan kita.

Keselamatan didasarkan pada karya Kristus.

Kristus mati.

Kristus bangkit.

Kristus menjadi Pengantara.

Kristus berdoa bagi umat-Nya.

Kristus akan datang kembali.

Karena itu pengharapan kita tidak berubah ketika emosi kita berubah.

Hari ini kita mungkin merasa dekat dengan Tuhan.

Besok kita mungkin mengalami kekeringan rohani.

Namun dasar keselamatan kita tetap sama:

Kristus telah melakukan karya yang sempurna.

John Calvin dan Union with Christ

Dalam teologi Calvin, persatuan dengan Kristus (union with Christ) memiliki tempat yang sangat penting.

Berkat keselamatan tidak berdiri terpisah dari Kristus.

Orang percaya menerima kehidupan, pembenaran, pengudusan, dan pengharapan melalui persatuan dengan Kristus.

Karena itu kepastian kasih Allah harus dilihat dalam hubungan kita dengan Kristus.

Jika kita berada di dalam Kristus, keselamatan kita tidak berdiri di atas performa manusia.

Kita berdiri di atas anugerah.

Apa Arti “God’s Love is Forever” bagi Kita?

Ketika kita gagal

Kembalilah kepada Tuhan dalam pertobatan.

Jangan menganggap kegagalan kita lebih besar daripada anugerah Allah.

Ketika kita takut

Ingat bahwa Allah adalah Tuan segala tuan.

Keadaan tidak berada di luar kendali-Nya.

Ketika kita menderita

Jangan menyimpulkan bahwa penderitaan berarti Allah berhenti mengasihi.

Lihat kepada salib.

Ketika kita diberkati

Jangan melupakan sumber berkat.

Ucapkan syukur.

Ketika masa depan tidak jelas

Percayalah kepada karakter Allah.

Kita mungkin tidak mengetahui rencana-Nya, tetapi kita mengetahui bahwa Dia baik dan setia.

Kasih Allah Mengubah Cara Kita Mengasihi

Jika kita telah menerima kasih Allah, kita dipanggil untuk mengasihi orang lain.

Kasih Kristen bukan sekadar perasaan.

Ia diwujudkan dalam pengampunan.

Kesabaran.

Pengorbanan.

Kebenaran.

Pelayanan.

Kerendahan hati.

Kasih Allah kepada kita menjadi pola bagi kasih kita kepada sesama.

Kita tidak mengasihi karena orang lain selalu layak.

Kita mengasihi karena terlebih dahulu telah menerima kasih karunia.

Kesimpulan

GOD’s Love is Forever: Kasih Allah Selamanya

Mazmur 136:1-3 memberikan fondasi yang kuat bagi pernyataan tersebut:

“Mengucap syukurlah kepada TUHAN karena Dia itu baik, karena kasih setia-Nya untuk selama-lamanya.”

Allah baik.

Allah adalah Allah segala ilah.

Allah adalah Tuan segala tuan.

Dan kasih setia-Nya berlangsung selama-lamanya.

John Calvin mengarahkan kita untuk melihat kebaikan Allah sebagai dasar ucapan syukur. Herman Bavinck menolong kita memahami bahwa ketidakberubahan Allah memberikan kepastian bagi kasih-Nya. Louis Berkhof menekankan kesetiaan Allah terhadap karakter dan janji-Nya. R.C. Sproul mengingatkan kita akan kedaulatan dan kekudusan Allah. Geerhardus Vos menolong kita melihat kasih tersebut dalam keseluruhan sejarah penebusan.

Kasih Allah bukan sekadar slogan.

Kasih itu terlihat dalam penciptaan.

Terlihat dalam providensia.

Terlihat dalam pemilihan dan pemeliharaan umat-Nya.

Terlihat dalam pembebasan Israel.

Dan mencapai puncaknya di dalam Yesus Kristus.

Salib adalah bukti bahwa kasih Allah bukan sekadar kata.

Kebangkitan adalah bukti bahwa rencana keselamatan-Nya tidak dapat digagalkan.

Karena itu, ketika kehidupan berubah, jangan membangun kepastian di atas keadaan.

Bangunlah kepastian di atas karakter Allah.

Ketika perasaan berubah, Firman-Nya tetap.

Ketika manusia mengecewakan, Allah tetap setia.

Ketika masa depan tidak diketahui, Allah tetap berdaulat.

Ketika kita jatuh, anugerah-Nya memanggil kita kembali kepada pertobatan.

Ketika kita menghadapi kematian, Kristus tetap menjadi pengharapan.

Dan ketika sejarah dunia mencapai akhirnya, kasih setia Allah tidak akan berakhir.

“Kasih setia-Nya untuk selama-lamanya.”

Itulah lagu gereja.

Itulah penghiburan orang percaya.

Itulah dasar ucapan syukur.

Dan itulah pengharapan kita:

God’s Love is Forever.

Soli Deo Gloria.

Previous Post