Hosea 12:1: Jangan Kejar Angin

Hosea 12:1: Jangan Kejar Angin

Pendahuluan

“Efraim menggembalakan angin, dan mengejar angin timur; sepanjang hari ia memperbanyak dusta dan pemusnahan; mereka mengadakan perjanjian dengan Asyur, dan minyak dibawa ke Mesir.”
— Hosea 12:1

Ada ayat-ayat Alkitab yang terasa seperti teguran langsung ke dalam kehidupan manusia modern. Hosea 12:1 adalah salah satunya. Ayat ini menggambarkan manusia yang sibuk mengejar sesuatu, bekerja keras, membangun strategi, mencari keamanan, memperluas pengaruh, dan mengumpulkan sumber daya—tetapi pada akhirnya ternyata ia hanya “menggembalakan angin.”

Gambaran tersebut sangat tajam. Angin tidak dapat digembalakan. Angin tidak dapat dikumpulkan sebagai makanan. Angin tidak dapat menjadi fondasi kehidupan. Orang yang mengejar angin mungkin bergerak sepanjang hari, tetapi ia tidak pernah benar-benar memiliki apa yang dikejarnya.

Hosea sedang berbicara kepada kerajaan Israel utara, yang disebut “Efraim”. Secara politik, Israel sedang berusaha mempertahankan diri di tengah tekanan kekuatan besar dunia kuno. Mereka menjalin hubungan dengan Asyur, pada saat yang sama membawa minyak kepada Mesir. Secara politik hal itu tampak seperti strategi yang masuk akal. Namun dari perspektif kenabian, semua itu merupakan tanda bahwa Israel telah kehilangan kepercayaan kepada Yahweh.

Dengan demikian, Hosea 12:1 bukan sekadar kritik terhadap politik luar negeri Israel. Ini adalah kritik terhadap hati manusia yang mencari keselamatan di luar Allah.

1. Efraim: Bangsa yang Diberkati tetapi Menjauh

Nama “Efraim” sering digunakan Hosea untuk menunjuk kerajaan Israel utara. Nama ini sendiri mengingatkan kita kepada sejarah yang penuh berkat. Efraim adalah salah satu anak Yusuf dan menerima berkat besar dalam sejarah Israel.

Namun dalam kitab Hosea, nama yang pernah menjadi simbol berkat justru sering menjadi simbol pemberontakan.

Inilah ironi dosa.

Allah dapat memberikan berkat kepada manusia, tetapi manusia kemudian menggunakan berkat itu untuk menjauh dari Sang Pemberi.

Israel memiliki tanah, ekonomi, sejarah, identitas perjanjian, bait-bait ibadah, dan pengalaman panjang mengenai pertolongan Allah. Namun ketika ancaman datang, mereka mencari keamanan di tempat lain.

John Calvin melihat masalah ini sebagai bentuk kepercayaan diri yang sia-sia. Menurut Calvin, Efraim “memakan angin” karena mereka menganggap berbagai persekutuan politik sebagai sumber keamanan. Mereka merasa sedang memperkuat diri, padahal sebenarnya sedang mengejar sesuatu yang kosong dan bahkan berbahaya.

Di sini kita menemukan salah satu prinsip teologi Reformed yang sangat mendasar:

Dosa bukan hanya melakukan sesuatu yang salah; dosa juga berarti menaruh kepercayaan tertinggi pada sesuatu yang bukan Allah.

Manusia dapat menjadikan uang sebagai “mesias”.

Karier dapat menjadi “mesias”.

Relasi dapat menjadi “mesias”.

Kekuasaan dapat menjadi “mesias”.

Bahkan pelayanan dapat menjadi “mesias”.

Ketika sesuatu selain Allah menjadi tempat kita mencari identitas, keamanan, dan pembenaran, kita sedang mengulangi dosa Efraim.

2. “Menggembalakan Angin”: Metafora yang Menghancurkan Ilusi

Ungkapan “menggembalakan angin” merupakan metafora yang luar biasa kuat.

Gembala mengarahkan ternak menuju sesuatu yang nyata: padang rumput, air, dan tempat aman. Tetapi Efraim menggembalakan angin. Mereka mengerahkan energi untuk sesuatu yang tidak dapat memberikan makanan.

John Calvin menjelaskan gambaran ini dengan sangat tajam: orang yang menelan angin mungkin merasa mulut dan tubuhnya penuh, tetapi sebenarnya tidak memperoleh makanan apa pun. Demikian pula Israel merasa telah memperoleh keamanan melalui strategi politik mereka, tetapi sebenarnya mereka tetap kosong.

Ini juga mempunyai kemiripan konseptual dengan tema kitab Pengkhotbah: manusia dapat menghabiskan hidup mengejar sesuatu yang ternyata tidak memberikan kepuasan sejati.

Masalah manusia bukan kurang aktif.

Sering kali manusia justru terlalu aktif mengejar hal yang salah.

Kita bekerja.

Kita merencanakan.

Kita membangun.

Kita mengejar.

Kita memperluas jaringan.

Kita mengumpulkan.

Tetapi pertanyaannya bukan hanya, “Apakah saya bekerja keras?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Untuk apa saya bekerja keras?”

Karena seseorang dapat bekerja keras demi sesuatu yang pada akhirnya kosong.

Hosea tidak sedang mengkritik kerja keras. Yang dikritik adalah arah kepercayaan.

3. “Mengejar Angin Timur”

Hosea kemudian memperkuat gambaran tersebut dengan mengatakan bahwa Efraim mengejar “angin timur”.

Angin timur dalam konteks wilayah Israel sering diasosiasikan dengan angin panas dan kering yang datang dari arah padang gurun. Angin seperti itu tidak membawa kesegaran; justru dapat merusak tanaman dan mengeringkan tanah. Calvin memahami “angin timur” sebagai angin yang kering dan merusak, sehingga metaforanya menjadi lebih kuat: Israel bukan hanya mengejar sesuatu yang kosong, tetapi mengejar sesuatu yang membawa kehancuran.

Ada perkembangan dalam gambaran Hosea:

Angin → angin timur → kehancuran.

Mereka mengejar sesuatu yang tidak dapat mereka miliki dan akhirnya sesuatu itu justru menghancurkan mereka.

Bukankah hal itu sering terjadi dalam kehidupan?

Manusia mengejar uang demi keamanan, tetapi uang kemudian menguasai hatinya.

Manusia mengejar popularitas demi penerimaan, tetapi popularitas membuatnya menjadi budak opini manusia.

Manusia mengejar kekuasaan demi stabilitas, tetapi kekuasaan menghasilkan kecemasan kehilangan posisi.

Manusia mengejar kenikmatan demi kebahagiaan, tetapi kenikmatan yang tidak terkendali melahirkan kekosongan baru.

Inilah paradoks dosa:

Apa yang kita kira akan menyelamatkan kita dapat menjadi alat kehancuran kita.

4. “Sepanjang Hari”: Kesibukan yang Tidak Menghasilkan Kehidupan

Hosea menggunakan ungkapan yang menunjukkan aktivitas terus-menerus. Efraim mengejar angin “sepanjang hari”.

Ada sesuatu yang sangat modern dalam kalimat tersebut.

Manusia kontemporer juga sibuk sepanjang hari.

Bangun pagi.

Memeriksa telepon.

Bekerja.

Mengirim pesan.

Mengejar target.

Mengurus bisnis.

Mengikuti berita.

Membangun reputasi.

Mengumpulkan uang.

Kemudian tidur dan mengulang semuanya keesokan hari.

Masalahnya bukan kesibukan itu sendiri. Masalahnya adalah kesibukan yang tidak pernah membawa kita semakin dekat kepada Allah.

Kita dapat menjadi sangat produktif tetapi sangat miskin secara rohani.

Kita dapat memperoleh banyak tetapi kehilangan jiwa.

Kita dapat memenangkan kompetisi dunia tetapi gagal mengenal Tuhan.

Hosea 12:1 menantang definisi kesuksesan kita.

Kesuksesan tidak selalu berarti semakin banyak yang kita miliki.

Kadang-kadang kesuksesan sejati adalah semakin dalam kita bergantung kepada Allah.

5. “Memperbanyak Dusta”

Setelah berbicara mengenai angin, Hosea beralih kepada dosa moral: Efraim “memperbanyak dusta”.

Di sini kita melihat hubungan antara iman yang salah dan kehidupan yang salah.

Ketika manusia meninggalkan kebenaran Allah, ia tidak berhenti pada kesalahan teologis. Kesalahan itu akhirnya masuk ke dalam perilaku.

Israel mencari keamanan melalui diplomasi dan manipulasi. Ketidakpercayaan kepada Allah melahirkan kebohongan.

Calvin melihat “dusta” dalam konteks ini sebagai tipu daya dan berbagai dalih yang dipakai Israel untuk membenarkan jalannya sendiri. Mereka membangun semacam sistem pembenaran diri agar dapat terus berjalan tanpa tunduk kepada Allah.

Ini adalah salah satu pola dosa yang paling berbahaya.

Pertama manusia melakukan dosa.

Kemudian ia membenarkan dosa.

Setelah itu ia membuat sistem untuk mempertahankan dosa.

Akhirnya hati nurani menjadi tumpul.

Dengan demikian, Hosea tidak hanya berkata, “Jangan berbohong.”

Pesan yang lebih dalam adalah:

Jangan membangun kehidupan di atas kebohongan.

6. Dusta kepada Orang Lain Berawal dari Dusta kepada Diri Sendiri

Ada kemungkinan seseorang berbohong kepada orang lain karena sebelumnya ia sudah berbohong kepada dirinya sendiri.

Efraim mungkin sungguh percaya bahwa perjanjian politik akan menyelamatkan mereka.

Mereka melihat Asyur sebagai kekuatan.

Mereka melihat Mesir sebagai alternatif.

Mereka melihat minyak, perdagangan, diplomasi, dan militer sebagai instrumen keselamatan.

Namun mereka lupa bahwa semua kekuatan tersebut berada di bawah pemerintahan Yahweh.

Di sinilah teologi Reformed mengenai kedaulatan Allah menjadi sangat relevan.

Tidak ada kekuatan politik yang berdiri di luar pemerintahan Allah.

Tidak ada kerajaan yang berdaulat secara mutlak.

Tidak ada ekonomi yang menjadi penguasa terakhir.

Tidak ada manusia yang mempunyai kendali absolut atas sejarah.

Allah adalah Tuhan atas sejarah.

Karena itu, mengandalkan ciptaan sebagai pengganti Pencipta pada akhirnya merupakan bentuk kebohongan terhadap realitas.

7. “Mengadakan Perjanjian dengan Asyur”

Bagian ini membawa kita dari metafora kepada realitas politik.

Asyur pada zaman Hosea merupakan kekuatan besar yang sangat dominan. Israel mencoba menggunakan hubungan dengan Asyur untuk memperoleh keamanan.

Namun Hosea melihatnya bukan sebagai strategi netral.

Masalahnya adalah ketergantungan.

Israel telah dipanggil untuk percaya kepada Yahweh sebagai Raja mereka. Tetapi mereka mencari perlindungan melalui kekuatan geopolitik.

Matthew Henry melihat Hosea 12 sebagai dakwaan Allah terhadap dosa Israel dan Yehuda. Dalam rangkumannya, perjanjian politik dan dosa-dosa ekonomi Israel merupakan bagian dari perkara Allah terhadap umat-Nya.

Di sini kita harus membuat pembedaan penting.

Alkitab tidak mengajarkan bahwa menggunakan diplomasi, pemerintahan, perdagangan, atau sarana manusia selalu salah.

Yang salah adalah mengubah sarana menjadi sumber keselamatan.

Allah dapat menggunakan dokter untuk menyembuhkan.

Allah dapat menggunakan pemerintah untuk menjaga ketertiban.

Allah dapat menggunakan pekerjaan untuk menyediakan kebutuhan.

Allah dapat menggunakan manusia untuk menolong kita.

Tetapi sarana tidak boleh menggantikan Allah.

Means are gifts; they are not gods.

8. “Minyak Dibawa ke Mesir”

Kalimat terakhir ayat ini memperlihatkan tindakan Israel menuju Mesir.

Minyak kemungkinan berkaitan dengan komoditas bernilai yang digunakan dalam hubungan diplomatik atau perdagangan. Secara ekonomi, tindakan itu mungkin terlihat strategis.

Namun Hosea menyajikannya sebagai bukti ketidaksetiaan.

Mengapa?

Karena Israel mencoba mencari jalan keluar dari tekanan Asyur dengan mengandalkan Mesir, sementara pada saat yang sama berhubungan dengan Asyur.

Dengan kata lain, mereka mencoba memainkan dua kekuatan besar.

Tetapi semakin banyak mereka mencoba mengendalikan keadaan, semakin jauh mereka dari kepercayaan kepada Allah.

Inilah ironi besar kehidupan rohani:

Ketika kita mencoba menjadi penguasa atas hidup kita sendiri, kita justru menjadi budak dari keadaan.

9. Perspektif Calvin: Vain Confidence

John Calvin sangat membantu kita memahami inti ayat ini.

Menurut Calvin, Efraim membangun “harapan sia-sia” dan menjadi sombong karena mengandalkan cara-cara politik mereka. Mereka merasa aman karena memiliki hubungan dengan kekuatan besar, tetapi semua itu ternyata seperti hembusan angin.

Bagi Calvin, masalahnya bukan sekadar kebodohan strategi.

Ini adalah ketidakpercayaan kepada Allah.

Teologi Calvin selalu menempatkan iman sebagai kebalikan dari kesombongan manusia. Ketika manusia mengetahui bahwa keselamatannya berasal dari Allah, ia tidak lagi mempunyai alasan untuk memegahkan diri.

Tetapi ketika manusia menganggap dirinya mampu menyelamatkan diri, ia mulai membangun “Mesir” dan “Asyur” versinya sendiri.

Kita mungkin tidak membuat perjanjian dengan kerajaan kuno.

Tetapi kita bisa membuat perjanjian dengan uang.

Dengan koneksi.

Dengan jabatan.

Dengan reputasi.

Dengan kecerdasan.

Dengan pengalaman.

Dengan strategi.

Dan tanpa sadar berkata:

“Selama aku memiliki semua ini, aku aman.”

Hosea menjawab:

Kamu sedang menggembalakan angin.

10. Duane Garrett: Israel Mengulangi Dosa Jacob

Duane Garrett, dalam Hosea–Joel dalam seri New American Commentary, membantu memperlihatkan bahwa bagian Hosea 11:12–12:6 mempunyai struktur yang menghubungkan perilaku Israel dengan kisah Yakub. Ia melihat bagaimana Hosea menggunakan sejarah Yakub untuk menggambarkan karakter Israel yang terus hidup dalam pola manipulasi dan pencarian keberhasilan dengan cara-cara yang salah.

Ini sangat penting untuk memahami Hosea 12.

Israel bukan sekadar melakukan beberapa kesalahan terpisah.

Mereka mengulangi pola nenek moyang mereka.

Yakub pernah dikenal sebagai orang yang berusaha mendapatkan berkat melalui kelicikan. Hosea kemudian menunjukkan bahwa keturunan Yakub telah mewarisi kecenderungan yang sama.

Namun ada perbedaan penting.

Yakub akhirnya berjumpa dengan Allah dan diubahkan.

Karena itu, Hosea 12 tidak hanya berisi penghukuman. Ayat 6 akan berkata:

“Engkau harus berbalik kepada Allahmu…”

Dengan demikian, teguran Hosea mempunyai tujuan pastoral:

Allah menyingkapkan dosa supaya manusia kembali kepada-Nya.

11. Derek Kidner: Anugerah yang Mengubah

Derek Kidner, dalam The Message of Hosea, melihat kisah Yakub dalam Hosea 12 sebagai bagian dari gambaran tentang manusia yang mengalami perubahan oleh anugerah. Sumber yang mengutip Kidner mencatat penekanannya bahwa perubahan Yakub merupakan karya anugerah yang tidak terduga dan bukan hasil usaha manusia semata.

Ini menjadi sangat indah bila ditempatkan setelah Hosea 12:1.

Efraim sedang mengejar angin.

Tetapi Allah masih memanggilnya kembali.

Artinya, diagnosis Hosea bukan:

“Efraim sudah terlalu jauh, maka tidak ada harapan.”

Sebaliknya:

“Efraim, lihatlah kebodohanmu. Tinggalkan jalanmu. Kembalilah kepada Allah.”

Ini adalah pola Injil.

Anugerah bukan berarti Allah mengabaikan dosa.

Anugerah berarti Allah membawa orang berdosa keluar dari dosa menuju diri-Nya.

12. Menunggu Allah: Lawan dari Mengejar Angin

Ayat 1 harus dibaca bersama ayat 6.

Ayat 1 menggambarkan:

mengejar angin.

Ayat 6 memanggil:

menunggu Allah.

Kontras ini sangat dalam.

Mengejar angin berarti manusia mengandalkan usahanya sendiri untuk mendapatkan keselamatan.

Menunggu Allah berarti manusia mengakui bahwa keselamatan berasal dari Tuhan.

Mengejar angin berarti:

“Aku harus mengendalikan semuanya.”

Menunggu Allah berarti:

“Aku percaya kepada Tuhan.”

Mengejar angin berarti:

“Aku harus mencari keamanan di tempat lain.”

Menunggu Allah berarti:

“Allah cukup.”

Inilah pusat spiritualitas Hosea 12.

13. Dari Kecemasan kepada Iman

Mengapa Israel mencari Asyur dan Mesir?

Salah satu jawabannya adalah ketakutan.

Ketika masa depan terlihat tidak pasti, manusia cenderung membangun sebanyak mungkin lapisan keamanan.

Tabungan.

Investasi.

Relasi.

Jabatan.

Koneksi.

Strategi.

Semua itu dapat menjadi hal yang baik.

Tetapi semuanya menjadi berhala ketika hati berkata:

“Tanpa ini aku tidak akan aman.”

Teologi Reformed mengajarkan pemeliharaan Allah bukan untuk membuat manusia malas, melainkan untuk membebaskan manusia dari kecemasan yang menjadikan ciptaan sebagai tuhan.

Kita bekerja, tetapi kita percaya kepada Allah.

Kita merencanakan, tetapi kita tunduk kepada providensi Allah.

Kita menggunakan hikmat, tetapi kita tidak menyembah strategi.

Kita menggunakan sarana, tetapi kita berharap kepada Tuhan.

14. Apa Arti Hosea 12:1 bagi Gereja Masa Kini?

Ayat ini sangat relevan bagi gereja modern.

Gereja dapat “menggembalakan angin” ketika menganggap pertumbuhan jumlah sebagai bukti utama berkat Allah.

Gereja dapat “mengejar angin” ketika menggantungkan masa depannya pada metode, teknologi, popularitas, atau figur manusia.

Seorang pendeta dapat “mengejar angin” ketika keberhasilan pelayanan diukur hanya berdasarkan jumlah orang yang hadir.

Seorang jemaat dapat “mengejar angin” ketika kehidupan rohani diukur berdasarkan pengalaman emosional semata.

Pelayanan dapat menjadi kosong ketika sarana menjadi lebih penting daripada Kristus.

Karena itu, gereja harus terus kembali kepada Firman, Kristus, anugerah, iman, dan kemuliaan Allah.

Ini sangat sejalan dengan prinsip-prinsip Reformed:

Sola Scriptura — Firman Allah menjadi standar terakhir.

Sola Gratia — keselamatan adalah anugerah.

Sola Fide — manusia menerima pembenaran melalui iman.

Solus Christus — Kristus adalah satu-satunya dasar keselamatan.

Soli Deo Gloria — seluruh kemuliaan kembali kepada Allah.

Tanpa fondasi tersebut, gereja pun dapat mengejar angin.

15. Kristus dan Kegagalan Manusia Mengejar Angin

Pembacaan Kristen tidak boleh berhenti pada Israel.

Kita harus melihat bagaimana teks ini mengarahkan kita kepada kebutuhan akan seorang Juruselamat.

Israel gagal.

Yakub gagal.

Manusia gagal.

Kita pun gagal.

Kita sering mencoba mendapatkan kehidupan melalui hal-hal yang tidak dapat memberikannya.

Kita mencari identitas dalam pekerjaan.

Kita mencari keamanan dalam kekayaan.

Kita mencari kepuasan dalam hubungan.

Kita mencari kemuliaan dalam pengakuan manusia.

Tetapi semua itu pada akhirnya adalah “angin”.

Hanya Kristus yang mampu memberikan apa yang dicari jiwa manusia.

Yesus berkata bahwa orang yang datang kepada-Nya tidak akan haus lagi. Ia bukan sekadar memberikan sesuatu; Ia memberikan diri-Nya sendiri.

Inilah jawaban Injil terhadap Hosea 12:1.

Jangan mengejar angin. Datanglah kepada Kristus.

16. Dari “Wind” kepada “Word”

Ada kontras yang menarik secara teologis.

Israel mengejar angin.

Allah berbicara melalui firman-Nya.

Angin berubah.

Firman Allah tetap.

Angin tidak dapat digenggam.

Firman Allah dapat dipercaya.

Angin membawa debu.

Firman Allah membawa kehidupan.

Angin timur mengeringkan.

Roh dan Firman Allah menghidupkan.

Karena itu, orang Kristen tidak dipanggil untuk hidup berdasarkan setiap perubahan keadaan. Kita dipanggil untuk hidup berdasarkan Firman Allah yang tidak berubah.

Ketika ekonomi berubah, Firman tetap.

Ketika politik berubah, Firman tetap.

Ketika manusia mengecewakan, Firman tetap.

Ketika masa depan tidak jelas, Firman tetap.

Inilah salah satu alasan gereja Reformed secara historis memberikan tempat sentral kepada pemberitaan Firman.

17. Teguran yang Sebenarnya adalah Undangan

Hosea 12:1 terdengar keras.

Dan memang keras.

Tetapi kekerasan itu merupakan bentuk kasih.

Dokter yang mengetahui penyakit tetapi tidak mengatakannya bukanlah dokter yang baik.

Demikian pula nabi yang melihat umat menuju kehancuran tetapi hanya memberikan kata-kata manis bukanlah nabi yang setia.

Hosea membongkar ilusi Israel:

“Kalian pikir kalian sedang membangun keamanan. Sebenarnya kalian sedang mengejar angin.”

Namun setelah diagnosis itu, Allah berkata dalam ayat 6 agar mereka kembali.

Jadi tujuan akhir teguran bukan kehancuran.

Tujuan teguran adalah pertobatan.

Allah ingin umat-Nya berhenti berlari menuju kekosongan dan kembali kepada sumber kehidupan.

Kesimpulan: Jangan Gembalakan Angin

Hosea 12:1 adalah gambaran tragis sekaligus relevan tentang manusia yang menghabiskan hidup mengejar sesuatu yang tidak dapat menyelamatkannya.

Efraim mengandalkan Asyur.

Mereka mencari Mesir.

Mereka membawa minyak.

Mereka membangun strategi.

Mereka memperbanyak kebohongan.

Mereka bergerak sepanjang hari.

Namun Hosea melihat semuanya dari perspektif Allah dan memberikan diagnosis yang mengejutkan:

“Efraim menggembalakan angin.”

Calvin melihatnya sebagai gambaran tentang harapan palsu dan kesombongan Israel yang mengandalkan persekutuan politik daripada Allah. Matthew Henry melihatnya dalam konteks dakwaan Allah terhadap dosa umat-Nya. Duane Garrett membantu melihat bagaimana Hosea menghubungkan perilaku Israel dengan pola kehidupan Yakub yang lama, sementara Kidner menyoroti tema anugerah yang mengubah manusia.

Semua itu membawa kita kepada sebuah pertanyaan yang sangat pribadi:

Apa yang sedang kita kejar?

Mungkin kita tidak mengejar Asyur.

Mungkin kita tidak mengirim minyak ke Mesir.

Tetapi mungkin kita sedang mengejar uang, pengaruh, keamanan, penerimaan, jabatan, kesuksesan, atau pengakuan.

Pertanyaannya bukan apakah semua itu salah pada dirinya sendiri.

Pertanyaannya:

Apakah semua itu telah menjadi tempat kita berharap?

Sebab sesuatu yang baik dapat menjadi berhala ketika kita menjadikannya sumber keselamatan.

Hosea memanggil kita untuk berhenti.

Berhenti mengejar angin.

Berhenti membangun keamanan di atas manusia.

Berhenti mencari kehidupan dari sesuatu yang tidak dapat memberi kehidupan.

Dan kemudian melakukan apa yang diperintahkan Allah dalam kelanjutan pasal ini:

kembali kepada Tuhan, berpegang pada kasih dan keadilan, dan menantikan Allah senantiasa.

Inilah jalan pertobatan.

Bukan sekadar mengurangi kesibukan.

Bukan sekadar mengganti strategi.

Bukan sekadar menjadi lebih religius.

Tetapi mengganti pusat kepercayaan.

Dari diri kepada Allah.

Dari kekuatan manusia kepada anugerah.

Dari dunia kepada Kristus.

Dari mengejar angin kepada menantikan Tuhan.

Karena pada akhirnya, manusia hanya memiliki dua pilihan: menghabiskan hidup mengejar sesuatu yang tidak dapat digenggam, atau berhenti dan menemukan bahwa apa yang sebenarnya dicari jiwa kita telah tersedia di dalam Allah.

Jangan gembalakan angin.
Jangan jadikan ciptaan sebagai tempat perlindungan.
Jangan mencari keselamatan dari apa yang tidak dapat menyelamatkan.
Kembalilah kepada Tuhan.

Sebab apa yang kita kejar akan menentukan apa yang akhirnya menguasai kita.

Dan hanya ketika Kristus menjadi tujuan tertinggi kita, hidup tidak lagi menjadi pengejaran tanpa akhir terhadap angin, melainkan perjalanan iman menuju Allah yang adalah sumber, tujuan, dan kepuasan jiwa.

Next Post Previous Post