Daniel 1:1–2: Ketika Allah Menyerahkan Umat-Nya ke Dalam Pembuangan
Pendahuluan
Kitab Daniel dibuka bukan dengan kisah kemenangan Israel, melainkan dengan kekalahan. Yerusalem diserang. Nebukadnezar, raja Babel, datang mengepung kota itu. Sebagian perlengkapan rumah Allah dibawa ke Babel, dan umat Yehuda memasuki suatu periode sejarah yang penuh penderitaan.
Daniel 1:1–2 berbunyi:
“Pada tahun yang ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda, datanglah Nebukadnezar, raja Babel, ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu. Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, ke dalam tangannya, dan sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah diserahkannya ke tanah Sinear, ke dalam rumah allahnya. Perkakas-perkakas itu dibawanya ke dalam perbendaharaan allahnya.” (Daniel 1:1–2)
Sekilas, teks ini tampak seperti laporan sejarah mengenai kekalahan Yehuda. Namun, bagi pembaca iman, ada sesuatu yang jauh lebih penting. Daniel tidak mengatakan bahwa Babel semata-mata berhasil mengalahkan Yehuda. Daniel berkata, “Tuhan menyerahkan”.
Inilah kunci teologis Daniel 1:1–2.
Nebukadnezar memang datang. Babel memang mengepung Yerusalem. Yoyakim memang jatuh. Perkakas Bait Allah memang dibawa pergi. Tetapi di balik seluruh peristiwa tersebut terdapat tangan Allah yang berdaulat.
Dengan demikian, Daniel 1:1–2 bukan sekadar kisah tentang Babel yang kuat dan Israel yang lemah. Ini adalah kisah tentang Allah yang tetap berdaulat ketika umat-Nya berada dalam keadaan yang tampaknya kalah.
Dalam perspektif Reformed, bagian ini sangat penting karena menunjukkan bahwa kedaulatan Allah tidak berhenti ketika umat-Nya mengalami penderitaan. Justru dalam situasi yang paling sulit, providensia Allah tetap bekerja.
1. Latar Belakang Historis Daniel 1:1–2
Daniel 1 dimulai dengan menyebut Yoyakim sebagai raja Yehuda dan Nebukadnezar sebagai raja Babel.
Yoyakim merupakan salah satu raja Yehuda pada masa akhir kerajaan Yehuda. Pemerintahannya berlangsung dalam periode ketika kekuatan politik Timur Dekat mengalami perubahan besar. Kekaisaran Asyur mulai kehilangan dominasi, sementara Babel berkembang menjadi kekuatan utama.
Nebukadnezar kemudian tampil sebagai penguasa Babel yang sangat kuat. Yerusalem menjadi salah satu wilayah yang terkena dampak ekspansi Babel.
Daniel 1:1 mengatakan bahwa Nebukadnezar datang ke Yerusalem dan mengepungnya. Ayat berikutnya menjelaskan hasil pengepungan itu. Namun Daniel tidak berhenti pada tindakan Nebukadnezar.
Ia segera mengarahkan perhatian pembaca kepada Allah:
“Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, ke dalam tangannya.”
Kalimat tersebut menentukan cara kita membaca seluruh kitab Daniel.
Jika pembaca hanya melihat aspek politik, maka Babel tampak sebagai penguasa. Tetapi jika membaca dengan perspektif iman, Babel hanyalah alat yang berada di bawah pemerintahan Allah.
Babel bertindak secara nyata dalam sejarah, tetapi tindakan Babel tidak berada di luar providensia Allah.
2. “Pada Tahun yang Ketiga Pemerintahan Yoyakim”
Daniel 1:1 menyebut waktu secara spesifik:
“Pada tahun yang ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda...”
Daniel bukan sedang menceritakan sebuah legenda yang tidak memiliki hubungan dengan sejarah. Ia menempatkan kisahnya dalam konteks sejarah tertentu.
Ini penting bagi iman Kristen.
Allah menyatakan diri-Nya bukan hanya melalui gagasan abstrak, tetapi melalui tindakan-Nya dalam sejarah. Allah yang disaksikan Alkitab adalah Allah yang bekerja dalam waktu, tempat, bangsa, kerajaan, peperangan, pembuangan, dan pemulihan.
Sejarah manusia berada di bawah pemerintahan Allah.
Dalam teologi Reformed, providensia Allah berarti bahwa Allah bukan hanya menciptakan dunia kemudian membiarkannya berjalan sendiri. Allah terus menopang, mengatur, dan mengarahkan ciptaan-Nya menuju tujuan yang telah ditetapkan-Nya.
Louis Berkhof dalam pembahasannya mengenai providensia menjelaskan bahwa pemerintahan Allah atas ciptaan mencakup pemeliharaan dan pengaturan segala sesuatu sehingga tidak ada peristiwa yang berada di luar pemerintahan-Nya.
Daniel 1 menjadi contoh konkret prinsip tersebut.
Babel tidak muncul secara kebetulan. Pembuangan tidak berada di luar pengetahuan Allah. Bahkan kekalahan Yerusalem tidak membuat Allah kehilangan kendali.
3. Nebukadnezar Mengepung Yerusalem
Daniel 1:1 melanjutkan:
“Datanglah Nebukadnezar, raja Babel, ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu.”
Secara manusiawi, ini merupakan berita buruk.
Yerusalem adalah kota yang sangat penting bagi umat Allah. Di sana terdapat Bait Allah. Di sana terdapat pusat kehidupan ibadah Israel. Kota itu memiliki nilai historis dan teologis yang sangat besar.
Karena itu, pengepungan Yerusalem dapat menimbulkan pertanyaan:
Jika Allah adalah Allah Israel, mengapa Ia membiarkan bangsa kafir mengepung kota-Nya?
Pertanyaan semacam itu tidak hanya muncul pada zaman Daniel. Pertanyaan serupa sering muncul dalam kehidupan orang percaya.
Jika Allah berdaulat, mengapa gereja mengalami tekanan?
Jika Allah memelihara umat-Nya, mengapa keluarga Kristen mengalami penderitaan?
Jika Allah menyertai pelayanan, mengapa pelayanan menghadapi kegagalan?
Jika Allah memimpin hidup kita, mengapa jalan yang ditempuh begitu sulit?
Daniel memberikan jawaban yang sangat mendalam: kedaulatan Allah tidak berarti umat-Nya tidak akan mengalami penderitaan.
Sebaliknya, penderitaan dapat menjadi bagian dari pekerjaan providensia Allah.
4. Kalimat Paling Penting: “Tuhan Menyerahkan”
Daniel 1:2 merupakan pusat teologis bagian ini:
“Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, ke dalam tangannya...”
Perhatikan subjek utama kalimat tersebut.
Bukan Nebukadnezar.
Bukan tentara Babel.
Bukan kekuatan militer Babel.
Daniel mengatakan:
“Tuhan menyerahkan.”
Ini sangat penting.
Nebukadnezar mungkin berpikir bahwa keberhasilannya merupakan hasil kekuatan militernya. Babel mungkin merasa bahwa mereka telah menaklukkan Yehuda karena keunggulan politik dan militer.
Tetapi Daniel melihat realitas yang lebih dalam.
Allah yang menyerahkan.
Dalam kerangka teologi Reformed, ini berhubungan erat dengan doktrin providensia Allah. Allah mengatur sejarah tanpa menjadi pencipta dosa.
Artinya, tindakan manusia tetap merupakan tindakan manusia. Nebukadnezar tetap bertanggung jawab atas tindakannya. Namun kedaulatan manusia tidak pernah menghapus kedaulatan Allah.
Konsep ini sejalan dengan pola Alkitab yang terlihat dalam banyak bagian lain.
Yusuf pernah berkata kepada saudara-saudaranya:
“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.” (Kejadian 50:20)
Demikian pula dalam Kisah Para Rasul 2:23, kematian Kristus dikaitkan dengan “maksud dan rencana Allah”, sekaligus manusia yang menyalibkan Kristus tetap bertanggung jawab atas tindakannya.
Jadi, Alkitab mampu mempertahankan dua kebenaran:
- Allah berdaulat sepenuhnya.
- Manusia bertanggung jawab atas tindakannya.
Daniel 1:2 berdiri dalam kerangka tersebut.
5. Pembuangan Bukan Kegagalan Allah
Salah satu kesalahan terbesar ketika membaca Daniel adalah menganggap pembuangan sebagai bukti bahwa Allah Israel telah kalah.
Bagi bangsa-bangsa kuno, ketika sebuah bangsa dikalahkan, sering kali kemenangan tersebut dipahami sebagai kemenangan dewa bangsa penakluk atas dewa bangsa yang dikalahkan.
Jika Babel mengalahkan Yerusalem, maka secara pagan kemenangan tersebut dapat dipahami sebagai kemenangan dewa Babel atas Allah Israel.
Namun Daniel justru membalikkan cara berpikir tersebut.
Allah sendiri yang menyerahkan Yoyakim.
Dengan kata lain, pembuangan bukan berarti Allah dikalahkan oleh Babel.
Allah tetap berdaulat.
Bahkan Bait Allah sendiri dapat dijarah oleh Babel tanpa berarti Allah kehilangan kuasa.
Ini merupakan tema penting dalam kitab Daniel.
Nebukadnezar tampak sangat berkuasa, tetapi sepanjang kitab Daniel pembaca terus-menerus diperlihatkan bahwa raja-raja dunia tetap berada di bawah pemerintahan Allah.
Daniel 4:17 menyatakan:
“Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”
Inilah teologi kerajaan dalam kitab Daniel.
Kerajaan manusia naik dan turun.
Raja lahir dan mati.
Kekaisaran berkembang dan runtuh.
Tetapi pemerintahan Allah tetap.
6. “Sebagian dari Perkakas-Perkakas di Rumah Allah”
Daniel 1:2 mengatakan bahwa sebagian perkakas dari rumah Allah dibawa ke tanah Sinear.
Perkakas Bait Allah bukan sekadar benda biasa. Benda-benda tersebut berhubungan dengan ibadah Israel kepada Yahweh.
Membawa perkakas Bait Allah ke Babel merupakan simbol bahwa kekalahan politik Yehuda juga memiliki dimensi religius.
Tetapi sekali lagi, pembaca harus memperhatikan bahwa teks tidak mengatakan bahwa Allah kehilangan perkakas-Nya karena ketidakberdayaan.
Sebaliknya, Daniel menempatkan tindakan itu dalam kerangka:
“Tuhan menyerahkan...”
Bahkan kehilangan benda-benda suci tersebut berada dalam providensia Allah.
Mengapa?
Konteks kitab-kitab nabi menunjukkan bahwa pembuangan merupakan bagian dari penghakiman Allah atas ketidaksetiaan umat-Nya.
Yehuda tidak sedang menjadi korban ketidakadilan Allah.
Pembuangan berkaitan dengan dosa Israel.
Mereka telah berulang kali meninggalkan Tuhan, menyembah berhala, menolak teguran para nabi, dan melanggar perjanjian.
Karena itu, Daniel 1:2 harus dibaca dalam konteks perjanjian.
Allah yang menghakimi adalah Allah yang setia terhadap firman-Nya.
7. Pembuangan Sebagai Penghakiman Allah
Kitab 2 Raja-raja dan 2 Tawarikh memberikan gambaran panjang mengenai kemerosotan Yehuda sebelum pembuangan.
Nabi Yeremia juga berkali-kali memperingatkan Yehuda mengenai ancaman Babel.
Karena itu, Daniel 1 bukan peristiwa yang muncul tanpa konteks.
Pembuangan merupakan konsekuensi dari ketidaktaatan umat.
Namun ada hal yang perlu diperhatikan.
Allah menghukum umat-Nya, tetapi Ia tidak membatalkan perjanjian-Nya.
Inilah perbedaan antara penghakiman dan penolakan total.
Yehuda dihukum, tetapi tidak dihancurkan secara permanen.
Allah masih memiliki tujuan bagi umat-Nya.
Daniel sendiri menjadi bukti bahwa Allah dapat memelihara umat-Nya bahkan di tengah pembuangan.
John Calvin, dalam komentarnya mengenai Daniel, menekankan pentingnya memahami pembuangan sebagai tindakan Allah yang berdaulat terhadap Yehuda. Menurut pendekatan Calvin, orang percaya tidak boleh melihat bangsa Babel semata-mata sebagai kekuatan independen. Allah menggunakan bangsa itu sebagai alat penghakiman, sementara Babel sendiri tetap berada di bawah penghakiman Allah atas kesombongan dan kekerasannya.
Prinsip ini sangat penting.
Allah dapat menggunakan bangsa kafir sebagai alat-Nya tanpa menyetujui dosa bangsa tersebut.
8. Allah Berdaulat Atas Bangsa-Bangsa
Daniel 1 memperkenalkan sebuah tema yang semakin jelas sepanjang kitab ini: Allah adalah Raja atas segala kerajaan.
Babel sangat kuat.
Nebukadnezar sangat berkuasa.
Namun tidak satu pun dari keduanya berada di luar kendali Allah.
Teologi Reformed secara konsisten menekankan kedaulatan Allah atas seluruh ciptaan.
Pengakuan Iman Westminster, dalam pembahasan providensia, mengajarkan bahwa Allah menopang, mengarahkan, mengatur, dan memerintah semua ciptaan serta tindakan mereka menurut hikmat, kuasa, dan kehendak-Nya yang berdaulat.
Daniel 1 memberikan ilustrasi sejarah terhadap doktrin tersebut.
Allah tidak hanya berdaulat atas hal-hal “rohani”.
Ia berdaulat atas:
- kerajaan,
- politik,
- peperangan,
- ekonomi,
- migrasi,
- kehidupan pribadi,
- pendidikan,
- bahkan perjalanan seorang pemuda bernama Daniel.
Daniel berada di Babel bukan karena Allah kehilangan kendali.
Daniel berada di Babel karena Allah memiliki tujuan.
9. Pandangan Teolog Reformed Mengenai Daniel
Beberapa penafsir Reformed memberikan perhatian besar terhadap tema kedaulatan Allah dalam kitab Daniel.
John Calvin
Calvin membaca kitab Daniel dalam kerangka pemerintahan Allah atas bangsa-bangsa. Bagi Calvin, sejarah kerajaan manusia tidak boleh dipisahkan dari providensia Allah.
Ketika Babel menang, umat Allah tidak boleh menyimpulkan bahwa Yahweh kalah.
Justru melalui peristiwa tersebut Allah sedang mendidik, menghukum, dan memelihara umat-Nya.
Matthew Henry
Matthew Henry melihat pembuangan Yehuda sebagai peristiwa yang berada dalam pemerintahan Allah sekaligus sebagai akibat dosa umat. Dalam pembacaan Henry, manusia dapat melihat kekuatan musuh, tetapi orang percaya harus melihat tangan Allah yang lebih tinggi daripada tangan manusia.
Bagi Henry, Daniel dan teman-temannya merupakan contoh bahwa seseorang dapat hidup setia kepada Allah sekalipun berada dalam lingkungan yang asing dan tidak mendukung iman.
E. J. Young
E. J. Young, seorang teolog Reformed yang banyak menulis mengenai Perjanjian Lama, menekankan pentingnya kedaulatan Allah dalam kitab Daniel. Daniel tidak terutama merupakan cerita mengenai kepahlawanan manusia. Fokusnya adalah Allah yang memerintah atas sejarah.
Daniel bukan tokoh yang berhasil karena dirinya luar biasa. Ia adalah hamba Allah yang dipelihara oleh Allah.
Derek Kidner
Kidner menaruh perhatian pada cara kitab Daniel memperlihatkan bahwa sejarah kerajaan dunia pada akhirnya berada di bawah pemerintahan Allah. Kekuasaan Babel memang nyata, tetapi kekuasaan tersebut bersifat sementara.
Tremper Longman III
Longman menekankan bahwa kitab Daniel memperlihatkan konflik antara kerajaan manusia dan pemerintahan Allah. Namun konflik tersebut tidak berlangsung antara dua kekuatan yang setara. Allah tetap menjadi Penguasa tertinggi.
Pandangan-pandangan tersebut memperlihatkan satu benang merah: Daniel 1 harus dibaca dari perspektif Allah, bukan hanya dari perspektif Babel.
10. Allah Dapat Menggunakan Penderitaan untuk Tujuan-Nya
Daniel 1:1–2 juga mengajarkan bahwa penderitaan umat Allah tidak selalu berarti bahwa Allah meninggalkan mereka.
Ini merupakan pelajaran yang sangat penting bagi gereja.
Ada kecenderungan untuk mengukur penyertaan Allah berdasarkan keadaan.
Jika hidup lancar, kita mengatakan Tuhan menyertai.
Jika usaha berkembang, kita mengatakan Tuhan memberkati.
Jika pelayanan menghasilkan banyak orang, kita mengatakan Tuhan bekerja.
Tetapi Daniel mengajarkan perspektif yang lebih dalam.
Allah juga bekerja ketika umat-Nya berada di Babel.
Bahkan ketika mereka kehilangan tanah air, kehilangan kebebasan politik, dan hidup dalam budaya asing, Allah tetap bekerja.
Penyertaan Allah tidak identik dengan kenyamanan.
Kadang-kadang penyertaan Allah justru dialami melalui jalan yang sulit.
Roma 8:28 menyatakan bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia dan yang dipanggil sesuai dengan rencana-Nya.
11. Daniel 1:1–2 dan Doktrin Providensia
Dari perspektif teologi Reformed, Daniel 1:1–2 dapat dipahami melalui tiga aspek providensia Allah.
Pertama, Allah memelihara ciptaan-Nya
Allah tidak meninggalkan dunia setelah menciptakannya.
Bangsa-bangsa tetap hidup karena Allah menopang kehidupan mereka.
Kedua, Allah mengatur sejarah
Naiknya Babel dan jatuhnya Yehuda terjadi dalam ruang sejarah yang berada di bawah pemerintahan Allah.
Ketiga, Allah mengarahkan sejarah kepada tujuan-Nya
Pembuangan bukan akhir cerita.
Daniel 1 baru permulaan.
Kemudian kita melihat Daniel melayani beberapa kerajaan. Kita melihat Nebukadnezar direndahkan. Kita melihat kerajaan-kerajaan dunia datang dan pergi. Pada akhirnya, kitab Daniel mengarahkan perhatian kepada kerajaan Allah yang kekal.
Jadi, providensia Allah tidak hanya menjelaskan mengapa sesuatu terjadi, tetapi juga mengarahkan kita kepada tujuan Allah di balik sejarah.
12. Daniel 1:1–2 dan Kristologi
Walaupun Daniel 1:1–2 berbicara mengenai pembuangan, pembacaan Kristen tidak berhenti pada Babel.
Seluruh sejarah penebusan bergerak menuju Kristus.
Pembuangan menunjukkan keseriusan dosa dan kegagalan manusia untuk hidup setia kepada Allah.
Israel memiliki tanah, Bait Allah, hukum Taurat, imam, nabi, dan kerajaan. Namun semua fasilitas tersebut tidak otomatis menghasilkan ketaatan hati.
Karena itu, masalah manusia bukan hanya lingkungan.
Masalah manusia adalah dosa.
Perjanjian Baru kemudian menunjukkan bahwa kebutuhan manusia yang paling dalam adalah keselamatan yang dikerjakan Kristus.
Yesus Kristus datang sebagai Anak yang taat secara sempurna.
Jika Israel berkali-kali tidak setia, Kristus tetap setia.
Jika manusia gagal menaati Allah, Kristus hidup dalam ketaatan sempurna.
Jika umat Allah berada di bawah penghukuman karena dosa, Kristus menanggung hukuman bagi umat-Nya.
Dalam kerangka teologi Reformed, Kristus adalah pusat karya penebusan Allah. Karena itu, Daniel 1 dapat dibaca sebagai bagian dari sejarah yang pada akhirnya mengarah kepada pekerjaan keselamatan yang sempurna dalam Kristus.
13. Daniel sebagai Teladan Hidup di Negeri Asing
Daniel 1:1–2 menjadi dasar bagi kisah Daniel yang kemudian.
Daniel berada di Babel, tetapi Babel tidak boleh masuk ke dalam hati Daniel.
Ini adalah prinsip penting.
Orang percaya dapat hidup di tengah kebudayaan yang tidak sepenuhnya sejalan dengan iman Kristen tanpa harus kehilangan identitasnya.
Daniel belajar bahasa Babel.
Daniel memahami kebudayaan Babel.
Daniel melayani dalam pemerintahan Babel.
Namun Daniel tidak menyembah allah Babel.
Ini menunjukkan bahwa adaptasi budaya tidak sama dengan kompromi iman.
Orang Kristen dipanggil untuk hidup di dunia, tetapi tidak menjadi serupa dengan dunia.
Roma 12:2 berkata:
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu...”
Daniel tidak melarikan diri dari dunia.
Ia hidup di dalamnya dengan kesetiaan kepada Allah.
14. Pembuangan dan Pemeliharaan Allah
Ada paradoks besar dalam Daniel 1.
Di satu sisi, Allah menghukum Yehuda.
Di sisi lain, Allah memelihara umat-Nya.
Keduanya tidak bertentangan.
Allah dapat menghukum dosa tanpa meninggalkan umat perjanjian-Nya.
Bahkan dalam pembuangan, Allah membangkitkan Daniel, Hananya, Misael, dan Azarya sebagai saksi iman.
Ini menunjukkan bahwa penghakiman Allah tidak berarti hilangnya kasih setia Allah.
Disiplin Allah memiliki tujuan.
Ibrani 12:6 menyatakan:
“Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya.”
Pembuangan mengajarkan bahwa kasih Allah bukan kasih sentimental yang membiarkan dosa.
Allah kudus.
Karena itu, Ia menghukum dosa.
Namun Allah juga setia.
Karena itu, Ia memelihara umat-Nya.
15. Pelajaran bagi Gereja Masa Kini
Daniel 1:1–2 sangat relevan bagi gereja masa kini.
1. Jangan mengukur kuasa Allah berdasarkan keadaan
Ketika gereja mengalami tekanan, jangan langsung menyimpulkan bahwa Allah kehilangan kendali.
Yerusalem jatuh, tetapi Allah tetap berdaulat.
2. Penderitaan tidak selalu berarti Allah meninggalkan kita
Daniel berada di Babel, tetapi Allah menyertainya.
Orang percaya dapat melewati masa sulit tanpa kehilangan kehadiran Allah.
3. Allah dapat memakai situasi yang tidak kita pilih
Daniel tidak memilih Babel.
Namun Allah menggunakan Babel sebagai tempat pelayanan Daniel.
Kita juga sering menemukan bahwa Allah membawa kita ke keadaan yang tidak pernah kita rencanakan.
4. Kesetiaan lebih penting daripada kenyamanan
Daniel tidak diberi kehidupan yang mudah.
Ia diberi kesempatan untuk tetap setia.
Demikian pula gereja dipanggil bukan pertama-tama mengejar kenyamanan, melainkan kesetiaan kepada firman.
5. Jangan memberikan kemuliaan kepada manusia
Nebukadnezar memang kuat.
Tetapi Daniel 1:2 berkata bahwa Tuhan yang menyerahkan.
Di balik sejarah manusia terdapat pemerintahan Allah.
16. Allah Tetap Berdaulat Ketika Kita Tidak Mengerti
Ada sesuatu yang sangat menghibur dalam Daniel 1.
Daniel sendiri mungkin tidak mengetahui seluruh rencana Allah.
Ketika ia dibawa ke Babel, ia tidak memiliki kitab Daniel yang bisa dibaca untuk mengetahui bagaimana ceritanya akan berakhir.
Ia harus menjalani hidupnya berdasarkan iman.
Demikian juga orang percaya.
Kita sering ingin mengetahui seluruh rencana Allah sebelum taat.
Tetapi Allah sering hanya memberikan cukup terang untuk langkah berikutnya.
Amsal 3:5–6 mengajarkan:
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”
Iman bukan berarti mengetahui seluruh rencana Allah.
Iman berarti mempercayai Allah yang mengetahui seluruh rencana-Nya.
Daniel tidak mengetahui seluruh masa depan.
Tetapi Allah mengetahuinya.
17. “Tuhan Menyerahkan” Bukan Berarti Tuhan Kehilangan Umat-Nya
Kalimat “Tuhan menyerahkan Yoyakim” dapat terdengar keras.
Namun kita harus membedakan antara menyerahkan kepada penghakiman dan meninggalkan tanpa harapan.
Allah menyerahkan Yehuda kepada Babel sebagai bagian dari disiplin dan penghakiman.
Namun Allah tidak berhenti menjadi Allah Yehuda.
Ia tetap bekerja.
Ia tetap berbicara.
Ia tetap memelihara.
Ia tetap menyatakan kuasa-Nya.
Bahkan Daniel kemudian menjadi saksi bahwa kerajaan Babel pun tidak abadi.
Inilah penghiburan terbesar kitab Daniel:
Tidak ada kerajaan manusia yang memiliki kata terakhir.
Kata terakhir berada pada Allah.
Kesimpulan
Daniel 1:1–2 merupakan pembukaan yang sederhana tetapi sangat kaya secara teologis.
Nebukadnezar datang ke Yerusalem.
Babel mengepung kota itu.
Yoyakim jatuh.
Perkakas Bait Allah dibawa ke Babel.
Secara manusiawi, semuanya terlihat seperti kekalahan.
Namun Daniel memberikan perspektif yang berbeda:
“Tuhan menyerahkan...”
Kalimat tersebut mengubah seluruh cara kita membaca peristiwa tersebut.
Babel bukan penguasa tertinggi.
Nebukadnezar bukan penguasa tertinggi.
Kerajaan manusia bukan penguasa tertinggi.
Allah adalah Penguasa tertinggi.
Dalam perspektif Reformed, Daniel 1:1–2 merupakan kesaksian kuat mengenai providensia Allah. Allah berdaulat atas bangsa-bangsa, kerajaan-kerajaan, sejarah, penghakiman, dan pemeliharaan umat-Nya.
Pembuangan tidak membuktikan bahwa Allah kalah.
Sebaliknya, pembuangan menunjukkan bahwa Allah tetap menjalankan firman-Nya, termasuk ketika firman tersebut berupa penghakiman atas dosa.
Namun penghakiman bukan akhir cerita.
Allah memelihara Daniel di Babel.
Allah memelihara umat perjanjian-Nya.
Dan seluruh sejarah tersebut akhirnya bergerak menuju penggenapan karya penebusan dalam Kristus.
Karena itu, Daniel 1:1–2 mengajarkan kepada gereja sebuah keyakinan yang sangat mendasar:
Ketika keadaan terlihat berada di luar kendali kita, keadaan itu tidak pernah berada di luar kendali Allah.
Kita mungkin tidak memahami mengapa Allah mengizinkan suatu penderitaan.
Kita mungkin tidak mengerti mengapa jalan hidup menjadi begitu sulit.
Kita mungkin tidak mengetahui bagaimana sebuah keadaan akan berakhir.
Tetapi kita dapat mengetahui siapa yang memegang sejarah.
Allah yang berdaulat tetap memerintah.
Allah yang kudus tetap benar.
Allah yang berjanji tetap setia.
Dan Allah yang memelihara Daniel di Babel adalah Allah yang tetap memelihara umat-Nya sampai pada akhirnya.
Karena itu, respons orang percaya bukanlah ketakutan terhadap Babel, melainkan kesetiaan kepada Allah di tengah Babel.
Daniel tidak dapat mengendalikan kerajaan Babel.
Ia tidak dapat mengendalikan keputusan Nebukadnezar.
Ia tidak dapat menentukan masa depan politik Yehuda.
Namun ia dapat tetap setia kepada Allah.
Demikian pula gereja tidak dipanggil untuk mengendalikan seluruh sejarah. Gereja dipanggil untuk hidup setia di dalam sejarah yang berada di tangan Allah.
Daniel 1:1–2 mengingatkan kita: ketika manusia melihat kekalahan, Allah tetap sedang menjalankan rencana-Nya.
.jpg)